
Keterkejutan yang di rasakan Zhen benar-benar membuat pria itu mematung cukup lama. Ia membiarkan Moa mencumbu bibirnya tapi mata Zhen menatap dalam wajah cantik di penuhi birahi Moa.
"B..bagaimana mungkin?!" Batin Zhen berkecamuk tak percaya ini.
Ia menjauhkan wajahnya dari Moa hingga mata wanita itu terbuka karena tak lagi bisa meraup bibir manis sensual itu.
"Z..Zhen!" Lirih Moa benar-benar sudah terlampau jauh menikmati sentuhan pria ini.
"Siapa yang pertama?" Tanya Zhen seakan masih meyakinkan dirinya. Dalam posisi sedekat ini Zhen bisa melihat jika Moa tengah menahan hasrat.
"Moa! Jawab aku? Siapa yang pertama?"
"Kau, sialaan!! Singkirkan jarimu dari sanaa!!" Frustasi Moa merasa Zhen hanya mempermainkan tubuhnya.
Mendengar jawaban tegas dan keras Moa, tentu saja wajah Zhen yang tadi di landa kebingungan berubah jadi berbinar. Bibirnya menipis membentuk senyum memikat beralih menatap bagian inti Moa.
"A..aku yang pertama," Batin Zhen tak percaya ini sampai rasa senang itu memenuhi dadanya.
Melihat Zhen senyam-senyum sendiri menatap bagian intinya, Moa segera mencabikan bibir sinis. Tubuhnya memang sudah panas dingin tapi pria ini justru berhenti di tengah jalan.
"Singkirkan jarimu!!"
Dengan pelan Zhen manarik kembali jarinya yang basah dengan senyum masih mekar walau tak berlebihan karena masih Zhen tahan.
"Cih. Aku harus menuntaskan ini," Gumam Moa tapi dapat di dengar oleh Zhen yang seketika berubah emosi.
"Pada siapa kau mau menuntaskan hasratmu?" Intimidasi Zhen seakan-akan tak terima itu.
Jiwa posesifnya semakin naik kala mengetahui Moa masih di segel apalagi, ia yang pertama menyentuh tubuh seksi ini.
"Kenapa aku harus memberitahumu?" Sinis Moa mengangkat satu alisnya.
"Mulai sekarang. Kau tak boleh keluar tanpa seizinku!"
"Gila! Memangnya kau siapa??" Pekik Moa tapi Zhen tak peduli.
Zhen turunkan kedua kaki Moa lalu menaikan kembali celana Moa sampai ke pinggang menutupi area bawah wanita itu.
Zhen beralih membuka ikatan seatbelt di tangan Moa lalu mengambil jas yang tadi ia lepas dan di balutkan ke tubuh Moa dengan rapat.
"Sialaan!!"
Moa masih tampak kesal dan marah. Tapi, melihat bra yang ia pakai sudah terkoyak dan tak mungkin di gunakan lagi, jadilah Moa memakai dengan terpaksa jas kebesaran ini.
"Jika kau ingin lagi, kita tuntaskan di apartemen!" Ucap Zhen frontal cemas jika Moa mencari kepuasan di luar.
"Melihat wajahmu aku sama sekali tak berminat," Ketus Moa memeluk dirinya sendiri dan merapat ke pintu mobil.
Zhen hanya mengulum senyum datar. Ia memberi pesan pada asisten Jio untuk kembali masuk ke mobil melalui ponsel hingga pria itu bergegas.
"Tampaknya kali ini tuan sedang senang," Batin asisten Jio duduk di kursi kemudi seraya memperbaiki kaca spion yang ia turunkan tadi.
Di sana jelas Zhen tengah senyam-senyum sendiri dan sesekali menatap Moa yang enggan bicara padanya.
"Tuan! Apa langsung ke apartemen?"
"Hm."
Asisten Jio mengangguk. Mobil itu kembali melaju stabil dan kali ini suasana mobil sunyi. Zhen terhanyut akan kabar gembira yang baru saja ia dapatkan sementara Moa merutuki Zhen yang berani mempermainkan tubuhnya.
"Kau lapar?" Tanya Zhen karena tak nyaman dengan suasana sunyi ini.
Moa tetap acuh. Jangankan menjawab, memandang Zhen saja ia enggan dan lebih fokus ke area jalan.
Merasa Moa benar-benar marah dan sulit di bujuk, Zhen segera mengeluarkan dompetnya berniat untuk memberikan sumber kehidupan wanita itu.
"Ini! Jika kurang kau bisa ambil sendiri di dompetku!" Menyodorkan kartu belanja yang tentu tak main-main isinya.
"Astaga! Tuan benar-benar terlalu memanjakan wanita iblis ini," Batin asisten Jio merasa jika Zhen terlalu royal.
Namun, seakan benda yang Zhen sodorkan sama sekali tak menarik perhatiannya, Moa tak menoleh sedikit-pun.
"Lagi?"
Moa tetap diam. Alhasil Zhen menghela nafas dalam mengeluarkan dompetnya. Ia mengambil kartu identitas dan beberapa syarat penting lalu menyimpan ke dalam saku celana.
"Ambilah!"
Moa terkejut saat tiba-tiba Zhen meletakan dompetnya ke atas pangkuan Moa. Asisten Jio hampir tersedak dengan semua itu tapi Zhen tak menunjukan keterpaksaan atau sekedar omong kosong.
"Tuan benar-benar sudah gila. Aku sudah lama bekerja dengannya tapi satu kartu-pun belum-ku dapatkan tapi dia.."
Batin asisten Jio pucat. Antara iri dan dengki akan nasib baik Moa yang hanya perlu merajuk untuk menjadi kaya raya dalam sekejap.
"Kau yakin?" Tanya Moa dengan wajah seakan memastikan.
"Hm. Gunakan sesukamu tapi, aku tak ingin kau minta pada orang lain!" Tegas Zhen membuat Moa tersenyum getir dan tak percaya ini.
__ADS_1
Karena memang tak tahan dengan godaan uang dan kekayaaan, Moa segera melihat isi dompet Zhen dan semua kartu di dalam sini benar-benar membuatnya merinding.
"Satu kartu yang dia berikan kemaren saja sudah membuatku kewalahan menghabiskan isinya dan di tambah ini..."
Batin Moa benar-benar tak salah pilih bank. Zhen benar-benar membuatnya bertahan lama bahkan tak akan melirik ke lain dompet.
"Ehmm!" Dehem Moa menyimpan dompet itu ke dalam saku celananya.
Lirikan mata Zhen menangkap sikap menggemaskan Moa hingga hanya mengulum senyum kembali melihat ke luar jendela.
Setelah beberapa lama, mobil ini mulai masuk ke area apartemen yang memang khusus untuk Zhen.
Pemandangan kota Shanghai begitu indah dan tampak jelas dari sini membuat Moa nyaman.
"Kenapa kau tak kembali ke kediaman Ming saja?" Tanya Moa beralih memandang Zhen yang menghela nafas.
"Memangnya kenapa?"
"Tidak ada. Hanya bosan melihat wajahmu," Ketus Moa turun dari mobil.
Seperti biasa Zhen tak mengambil hati ucapan ketus Moa. Ia mengambil bra merah yang tadi ia robek dan memasukannya ke saku celana agar tak ada yang melihat pakaian dalam istrinya.
"Tuan!" Asisten Jio menurunkan kursi roda.
Zhen di bantu turun dari mobil beralih duduk di kursi roda sementara Moa menikmati sajian panorama indah lampu-lampu apartemen yang menyala.
Apalagi, saat malam hari udara dingin Shanghai memang membuat siapapun takjub.
"Tuan! Saya akan mengantarmu ke lantai atas!"
"Biarkan Moa yang mendorong kursi rodaku!" Pinta Zhen hingga asisten Jio mendecah kesal namun tak begitu berani membantah.
"Moaa!!!"
Suara asisten Jio melengking tapi Moa acuh. Ia berjalan lebih dulu masuk ke pintu apartemen hingga membuat asisten Jio mendidih.
"Lihat, tuan! Dia sangat menyebalkan!"
"Abaikan saja!" Sahut Zhen tak begitu peduli sikap angkuh Moa.
Alhasil, asisten Jio mendorong kursi roda Zhen masuk ke apartemen melewati para pengawal mereka yang hanya menunduk.
Moa memasuki lift seraya menunggu Zhen. Karena bosan akhirnya Moa membuka layar ponselnya.
"Nomor siapa ini?" Gumam Moa saat ada kontak asing yang tiba-tiba masuk memberi pesan stiker love.
"Salah sambung."
"Jangan macam-macam," Tekan Zhen lagi-lagi membuat Moa membelo jengah segera menyimpan ponsel mengabaikan pesan baru itu.
"Kapan aku bisa pergi ke tempat orang itu? Jangan menunda lagi!"
"Besok tidak bisa," Jawab Zhen tampak berat.
"Kenapa?" Tanya Moa agak kesal.
"Aku harus ke perusahaan."
"Bukan kau tapi aku. Masalah perusahaan itu urusanmu!" Ketus Moa benar-benar tak sabaran.
"Kau tenang saja. Bawahanku selalu memantau mereka dan belum ada tindakan yang besar. Apalagi, mereka jarang keluar dari daerah itu dan kemukiman kita akan bergerak saat mereka sudah keluar."
Moa hanya diam. Jika menunggu Zhen maka terlalu lama karena pria itu terlalu mempertimbangkan keselamatan dan banyak lagi hal lainnya.
"Aku hanya butuh informasi darimu. Selebihnya, aku yang urus," Batin Moa tapi tak mengatakan itu.
Ia tak bisa hanya menunggu karena tipe serangannya adalah memancing dan bukan mengawasi.
Setelah keluar dari lift, mereka langsung masuk ke pintu ruangan Apartemen Zhen dimana ada dua penjaga di sana seperti biasa.
Setibanya di dalam mereka melihat baby Zoe yang bermain dengan Chan. Pelayan muda bersifat keibuan yang di pilih oleh nyonya Ming beberapa hari lalu.
"Tuan, nona!" Sapanya berdiri menggendong baby Zoe yang tampak berbinar melihat Zhen dan Moa.
"Daddy!! Singaa!!"
"Dia sudah makan?" Tanya Moa mendahului Zhen.
Jas yang Moa pakai kebesaran hingga beberapa kali bagian bahunya melorot menampakan separuh punggung mulus lentik Moa dan bekas ciuman ganas Zhen tadi.
"Apa-apaan itu?!" Batin asisten Jio mendengus dan Chan hanya tersenyum malu.
"Nona Zoe sudah makan dan minum susu, nona! Dia sedari tadi memanggil daddy nya dan singa."
"Benarkah? Ternyata kau memang calon menantuku," Gemas Moa segera membawa baby Zoe pergi ke kamar Zhen.
Ruang apartemen ini sama luasnya dengan yang di Amerika. Hanya saja, dekorasi lebih kental akan budaya China dan kayu yang mendominasi.
__ADS_1
"Tuan! Jika tak ada yang perlu saya bantu maka saya akan mengurus pekerjaan lain."
"Hm. Pergilah!"
Asisten Jio pamit pergi dan tinggallah Zhen bersama Chen si gadis asli tionghoa dengan poni di dahi.
Ia tampak menunduk dan malu karena Zhen memang sangat tampan. Walau berada di kursi roda hawa pria itu tetap mendominasi.
"Tuan! A..ada yang bisa saya bantu?"
"Bereskan ruangan ini!" Titah Zhen lalu pergi dengan kursi rodanya tanpa menatap Chen dengan berlebihan.
Kepergian Zhen membuat wajah gadis itu memerah. Impiannya adalah bekerja dengan seorang pria tampan dan terbukti, idolanya benar-benar mengesankan.
"Tak-ku sangka hari ini aku akan melihat presdir Zhen dari dekat. Aaaa...rasanya seperti mimpi," Jerit tertahan Chan memeggangi pipinya sendiri.
Sementara di dalam kamar sana. Moa tengah asik bermain dengan baby Zoe yang ia gelitiki di atas ranjang hingga tawa si kecil itu pecah.
Jas yang Moa pakai sudah terlepas tepat di depan pintu kamar yang terbuka lebar memperlihatkan Zhen baru datang.
"Dia memang benar-benar," Rutuk Zhen buru-buru menutup pintu karena Moa dengan lancangnya tak memakai atasan hingga dua aset berharganya itu terlihat sangat seksi.
"Pergilah mandi!! Jangan mengotori mata putrikuu!!" Seru Zhen seraya membawa jasnya masuk.
"Cih. Jelas-jelas kau yang sedang cuci mata!" Ketus Moa bangkit dari ranjang lalu melenggang pergi ke kamar mandi tak peduli jika mata Zhen selalu tertuju pada area dadanya.
"Zoee!!
"Yaaah!!!" Sahut baby Zoe langsung duduk di atas ranjang. Si kecil itu merangkak turun dari tempat tidur dengan mudah karena ada kursi yang sengaja di taruh di samping ranjang agar ia bisa turun sendiri.
Zhen tersenyum melihat putrinya berjalan ke arah kamar mandi karena panggilan Moa seakan seperti ultimatum baginya.
"Persis seperti ibu dan anak," Gumam Zhen menyukai kedekatan Moa dan Zoe.
Di dalam kamar mandi sana, Moa minta di gosokan punggungnya seraya berendam di bathub. Baby Zoe yang sudah mengerti rutinitas sang singa jika mandi selalu berendam jadi ikut masuk ke bathub dimana airnya tak begitu penuh.
Membiarkan ibu dan anak sambung itu mandi bersama, Zhen kembali fokus pada urusan penyelidikan mereka terhadap dokter Wenliang.
Zhen membuka layar tab miliknya yang ada di laci lalu melihat kembali laporan baru yang di kirim bawahannya tadi.
"Ada yang tak beres disini. Mereka seperti tengah menghindari sesuatu sampai tinggal di pelosok daerah," Gumam Zhen mencerna setiap laporan anggotanya.
Dreett..
Ponsel Zhen berbunyi. Itu panggilan dari Bastian anak buah Zhen yang bertugas untuk mengawasi tiga tempat yang kemaren mereka prioritaskan.
"Katakan!"
"Tuan! Pria paruh baya yang tinggal di rumah pelosok hutan itu adalah ayahnya dokter Wen. Kami melihatnya sedang keluar malam ini dan seperti menerima pasokan bahan makanan dari luar!" Jelas Bastian terdengar masih mengawasi adegan itu dari kejahuan.
"Bagaimana keadaan pria itu?" Tanya Zhen seraya menggulir tab ke arah halaman biografi ayah dokter Wen.
"Dia tampak waspada. Kemungkinan ada campur tangan orang luar soal hilangnya dokter Wen. Tempat mereka juga di lindungi, tuan! Kami sempat hampir ketahuan."
Zhen diam. Ia curiga jika kasus hilangnya pasien dokter Wen dan pria itu juga ada sangkut pautnya dengan ancaman seseorang atau masalah internal keluarga.
"Kau singkirkan pria yang berinteraksi dengan ayahnya dokter Wen dan ganti dengan anggota kita. Pastikan tak ada satupun yang melihat kalian menghabisinya!"
"Baik, tuan!"
Panggilan itu terputus. Zhen terus memperdalam hasil laporan anggotanya sampai tak sadar kala Moa dan baby Zoe sudah selesai mandi.
Dua mahluk spesial di hidup Zhen itu kompak keluar menggunakan handuk hingga tampak imut tapi beda aura.
Baby Zoe berjalan di samping Moa memeggangi belitan handuk di dadanya sedangkan Moa sangat enteng keluar dengan tampilan seseksi itu.
"Apa itu laporan baru anggotanya?" Batin Moa melihat Zhen sangat fokus.
Timbul ide di benak Moa yang segera membisikan sesuatu ke telinga baby Zoe hingga si kecil itu mulai berjalan dan duduk di kaki daddynya.
"Zoe!" Sentak Zhen kala si mungil cantik itu terlihat mencengir ke arahnya.
"Daddy!"
"Kenapa, hm? Dingin?" Tanya Zhen meletakan layar tabnya di atas ranjang lalu mengambil alih baby Zoe ke pangkuannya.
Baby Zoe memeluk leher kokoh Zhen yang segera membawanya ke kamar ganti melewati Moa yang awalnya pura-pura sibuk tapi segera beraksi.
Moa mengambil tab Zhen dan menyalakan layar benda itu.
"Siall!! Dia menguncinya," Umpat Moa kala sistem keamanan benda ini di luar dugaannya. Beberapa kali Moa mencoba membuka kunci dan mencari cara membobol perangkat namun nihil.
Tanpa Moa sadari, semua hasil percobaan dan aksi pembobolan paksa itu langsung masuk ke ponsel Zhen yang ada di kamar ganti.
"Cih. Kau pikir aku tak tahu isi kepalamu?!" Gumam Zhen melihat banyak notif peringatan di layar ponselnya.
....
__ADS_1
Vote and like sayang