
Bagaimana bisa tak terkejut? Seorang Marco bisa mengatakan hal yang membuat prinsipnya selama ini goyah bahkan Marco melawan takdir hidup yang ia buat sendiri.
Yah, Marco bersedia memberikan jantung adiknya pada Noah. Ntah bagaimana Zhen menyikapi ini antara senang tapi juga curiga jika Marco memberi secara percuma.
Jelas dengan karakter licik dan tak ingin rugi, Marco akan meminta hal yang lebih besar dari ini. Jika masalah harta,Zhen tak akan memusingkan itu lalu bagaimana jika Moa?
"Kau kenapa? Nak!" Tanya nyonya Ming memeggang bahu putranya yang sedari tadi melamun.
Zhen duduk di kursi tunggu sedangkan Moa masih terjaga bersandar di dadanya. Mereka menunggu para team medis selesai melakukan operasi pada Noah.
"Tenang saja. Noah pasti akan baik-baik saja. Hm?"
Zhen mengangguk. Matanya beralih pada Moa yang tak bicara sedari tadi dan terus memandang pintu ruang operasi dengan baby Zoe yang ada di pangkuannya.
"Tuan!"
Asisten Jio datang membawa makanan. Tadi Zhen menyuruhnya membeli makanan karena mengingat ini sudah malam sedangkan Moa belum makan sesuatu apapun sedari siang.
"Jio! Ambil juga baju ganti untuk Zhen. Kalian perlu membersihkan diri dan istirahat," Pinta nyonya Ming yang diangguki asisten Jio setelah meletakan plastik makanan itu di kursi samping nyonya Ming.
"Saya permisi!"
"Kau juga, jangan lupa makan!" Peringat nyonya Ming pada asisten Jio yang mengangguk dengan sopan lalu pergi.
"Zhen! Bawa istrimu istirahat dan makan. Mommy pulang dulu bersama Zoe dan besok kami datang lagi. Hubungi mommy jika operasinya sudah selesai!"
"Iya, mom!" Jawab Zhen memberikan baby Zoe pada nyonya Ming.
Wajah cantik si kecil itu tampak tak rela lepas dari Moa tapi Zhen mengusap kepalanya dengan lembut.
"Pulanglah. Besok kesini lagi!"
"Singa!" Gumam baby Zoe masih ingin memeluk Moa yang mulai menoleh padanya. Dengan paksa Moa menarik senyum karena bagaimana-pun Zoe juga putrinya.
"Besok kita bermain dengan Noah. Hm?"
Baby Zoe mengangguk patuh. Nyonya Ming tersenyum kembali memperingatkan Zhen untuk mengurus Moa lalu barulah ia pergi dijaga dua bawahan Zhen.
"Ayo makan!" Ajak Zhen mengusap kepala Moa yang menggeleng lemah.
"Kau saja. Aku tak lapar."
"Noah akan sedih jika tahu kau seperti ini. Saat dia sadar maka kaulah yang akan masuk rumah sakit. Mau?" Tegas Zhen memaksa.
"Tapi, aku tak lapar. Aku.."
"Noah lapar. Kau harus makan!" Tekan Zhen segera mengambil plastik makanan itu.
Moa menarik diri dari sandarannya. Zhen membuka kotak makanan itu. Seafood adalah makan kesukaan Moa dan itu yang ia aduk sekarang.
"Makan!"
"Aku bisa sendiri," Gumam Moa kala Zhen mendekatkan sendok ke mulutnya. Tapi, pria tampan ini tak bergeming membuat Moa luluh segera menerima suapan itu.
Zhen dengan telaten menyuapi Moa yang meminta Zhen juga makan hingga keduanya bisa saling menyuapi dan Zhen sesekali menyeletuk menghibur Moa agar tak berlarut-larut.
"Nanti, saat Noah dan Zoe besar. Kau yakin ingin menikahkan mereka? Zoe tak akan tahan dengan mertua galak sepertimu."
"Zoe itu calon menantuku satu-satunya."
"Lalu siapa mommynya?"
"A.."
Ucapan Moa terhenti kala sadar jika Zhen mengerjainya. Terbukti dengan senyum puas Zhen yang menipiskan bibir seraya membuka botol air.
Mata Moa menyipit menatap Zhen yang menyerahkan botol itu pada Moa.
__ADS_1
"Sekarang kau mulai menunjukan sifat burukmu, hm?" Sinis Moa lalu menegguk botol air itu.
"Tidak ada. Aku tak punya sifat buruk."
"Sudah berapa banyak wanita yang jatuh karena mulut manismu? Katakan!"
Zhen menghela nafas. Ia mengambil alih botol di tangan Moa lalu meminumnya dalam beberapa tegukan. Leher kokoh dan jakun seksinya naik turun dengan jantan membuat Moa mematung.
Kenapa dia selalu membuatku kagum?! Secara fisik dan batin dia pria yang nyaris sempurna. Tapi, apa pernikahan kami akan selesai?
"Setelah Noah sembuh. Aku berencana membawanya pergi!"
Zhen diam tapi wajahnya lebih serius dari sebelumnya.
"Kau akan pergi kemana?"
"Kemanapun asal Noah senang. Dia sudah lama di rumah sakit dan sangat ingin melihat dunia luar. Aku akan membawanya kemanapun dia mau," Jawab Moa terlihat menanti moment itu.
Zhen diam tak bicara apapun dan Moa belum sadar akan perubahan aura wajah Zhen.
"Aku akan membawanya berkeliling dunia. Hanya kami berdua dan itu pasti sangat menyenangkan dan.."
Kalimat Moa terhenti kala Zhen tak menanggapi ucapannya. Pria itu termenung seperti tengah memikirkan sesuatu dan botol yang ia teguk tadi sudah di remas tanpa sadar menumpahkan airnya.
"K..kau kenapa?" Tanya Moa tapi pintu rumah sakit sudah terbuka memperlihatkan dokter Wen dan dokter Corner keluar dengan raut wajah lega walau berkeringat.
"Dok!" Moa berdiri diikuti Zhen.
"Operasinya berhasil. Untung jantung itu di dapatkan tepat waktu jika tidak, ntah apa yang akan terjadi?!" Jelas dokter Wen tak tahu menahu soal jantung itu.
Moa seketika lega langsung memeluk Zhen karena tak bisa membendung rasa bahagianya. Zhen juga ikut senang dan sejenak menepis pikiran buruknya.
"Noah selamat, Zhen! Putraku hidup."
"Hm. Dia akan kembali," Gumam Zhen mengusap kepala Moa.
"Sekarang semuanya sudah membaik. Semoga Noah bisa hidup seperti anak seusianya."
"Terimakasih!" Ucap Moa tulus pada dokter Wen dan dokter Corner yang mengangguk.
"Noah akan di pindahkan ke ruang rawat. Dia tak bisa di jenguk dulu karena harus istirahat total. Jadi, kalian juga bisa tenang," Jelas dokter Wen lalu pamit pergi diikuti dokter Wen.
Senyum Moa melebar bahkan kali ini ia sampai kembali memeluk Zhen dengan kebahagiaan tiada tanding.
"Zhen!! Terimakasih. Kau..kau menyelamatkan putraku!" Ucap Moa menangkup kedua pipi Zhen dengan bahagia.
Tapi, perlahan Zhen menurunkan kedua tangan Moa dan menggenggamnya.
"Bukan aku."
"M..maksudmu?" Tanya Moa bingung karena ia tak tahu apapun soal jantung itu.
"Marco! Dia memberikan jantung adiknya."
"A..apa? Marco?" Tanya Moa tak percaya itu. Marco yang selama ini memberinya kesulitan ternyata memberinya hal yang sangat besar artinya..
"Jantung adiknya masih aktif di bantu alat medis. Dia memberikan itu pada Noah."
Moa diam. Ekspresi wajahnya seperti masih belum percaya ini.
"Aku ingin menemuinya."
"Untuk apa? Yang penting Noah sudah selamat. Untuk apa lagi, ha?" Tanya Zhen dengan nada tak suka.
"Zhen! J..jika memang dia melakukan itu aku ingin berterimakasih padanya. Dia sudah sangat membantu hidup putraku."
"Hm. Pergilah!" Gumam Zhen dengan wajah membeku dan pergi tanpa penjelasan apapun.
__ADS_1
"Zhen!!" Panggil Moa tapi Zhen tak menjawab. Dia menghilang begitu saja padahal Moa ingin mengatakan sesuatu.
"Memang aku ingin berterimakasih tapi Marco itu licik. Bisa saja dia meminta sesuatu yang lebih besar dari ini," Gumam Moa tak bisa menelan mentah kebaikan Marco padanya.
Moa mengusap wajahnya frustasi. Ia berdiri di depan ruang operasi dimana para team medis sudah mengeluarkan bangkar Noah yang tampak pucat dan masih menggunakan banyak kabel dan selang medis.
"Noah!" Moa berjalan beriringan dengan bangkar itu sampai ke ruang rawat yang sudah di siapkan sebelumnya.
"Nona! Mohon beri waktu pasien untuk istirahat total," Ucap salah satu suster dan diangguki Moa.
Ia hanya berdiri di luar ruangan memandang dari kaca di depan pintu. Namun, Moa tersigap akan kedatangan seseorang yang tadi membuat hawa Zhen berubah.
"Bagaimana dengan putramu?" Tanya Marco mendekati Moa.
"Terlepas dari apapun niatmu, aku berterimakasih sudah membantu putraku," Tegas Moa tak bermulut manis atau sekedar memuji-muji Marco.
Mendengar itu Marco tersenyum kecut. Ia pikir Moa akan memeluknya dan mencium penuh rasa terimakasih seperti yang ia lakukan pada Zhen sebelumnya tapi tidak, Moa masih menatapnya seperti musuh.
"Kau tak ingin menciumku?"
"Kau sehat?!" Tanya Moa menyelipkan nada emosi.
Marco tersenyum kecut. Ternyata, Zhen memang punya nasib yang lebih baik darinya.
"Aku sudah tahu. Kau menikah dengan Zhen karena putramu, bukan?"
"Bukan urusanmu," Ketus Moa dengan wajah menahan emosi.
Marco memiringkan bibir sinis. Anggotanya menyelidiki soal pernikahan Zhen dan Moa. Ternyata, memang keduanya tak saling mencintai.
"Aku yang menyelamatkan putramu dan seharusnya kau menikah denganku."
"Dalam mimpimu," Ketus Moa lalu pergi meninggalkan Marco dengan rasa kesal mengubun.
Marco tersenyum tipis. Ia tadi berpapasan dengan Zhen dan raut wajah pria itu benar-benar mengajak perang dunia ketiga dengannya.
"Sepertinya, aku harus memberimu hadiah pernikahan," Gumam Marco berniat memanfaatkan rasa cemburu Zhen.
...
Sementara di dalam ruang istirahat sana, Zhen tak bisa tenang. Berpapasan dengan Marco membuat pikirannya semakin kacau dengan rasa takut jika Moa benar-benar akan mengidolakan Marco.
"Tuan! Ada apa?" Asisten Jio memberanikan untuk bertanya walau agak gugup.
"Pantau setiap cctv di rumah sakit ini. Jangan sampai Moa dan Marco hilang dari pantauan!"
"Apa mereka berkhianat?" Tanya asisten Jio dan Zhen hanya bisa menjawab dengan deru nafas yang menahan emosi.
"Tuan! Ini yang selama ini aku takutkan. Wanita itu hanya ingin menguras harta tuan. Sekarang ada Marco, biarkan saja pria itu mengambilnya dan tuan.."
"KAU MEMANG BOSAN BEKERJA DRNGANKU??" Geram Zhen berapi-api membuat asisten Jio menelan ludah.
"M..maaf, tuan!"
"Moa istriku! Sampai kapan-pun dia tetap istirku, paham?" Tekan Zhen emosi.
Asisten Jio mengangguk. Ia sangat kesal dengan Moa dan apalagi dia akan mendampingi Zhen seumur hidup, bisa saja umurnya semakin pendek melihat wanita itu terus.
..
Vote and like sayang
Visual babi jantan sama belut betina udah launching di IG and TikTok author ya😊
Ig:Toonovel
Tiktok:Willycar5
__ADS_1