Impoten Husband

Impoten Husband
Ayo berbaikan


__ADS_3

Mendapat kabar baby Zoe mengalami demam tinggi membuat Zhen langsung datang ke resort tempat Moa menginap. Tanpa peduli akan sapaan para bawahannya, Zhen menerobos masuk dengan langkah lebar menuju kamar yang di arahkan Bastian padanya.


Brakk..


Pintu di buka kasar hingga terlihatlah Moa yang tengah menenangkan baby Zoe di dalam gendongannya. Tapi, tangis si kecil itu tak pernah reda sampai suaranya terdengar serak dan parau.


"Untuk apa kau datang kesini?" Ketus Moa menatap tajam Zhen.


Tapi, di mata pria itu tak ada amarah atau kebencian seperti tadi pagi. Zhen mendekat tapi baby Zoe semakin mengencangkan tangisannya kala melihat Zhen berdiri di dekat Moa.


"S..Singaa, hiks!"


"Susst!! Tenanglah. Kau akan baik-baik saja," Bisik Moa menepuk-nepuk lembut punggung baby Zoe.


Zhen memandang sendu wajah pucat sembab baby Zoe yang masih menangis. Sungguh, hatinya terasa perih melihat anak itu ketakutan kala memandangnya.


Tak ingin memperburuk suasana, Moa membawa baby Zoe ke balkon. 


"Singaa, hiks! Singa!"


"Dia tak akan menyakitimu. Aku berjanji," Gumam Moa mengusap kepala baby Zoe yang masih terasa panas.


Padahal dokter Petter tadi sudah memberikan obat penurun panas tapi Zoe masih belum menunjukan pemulihan.


Zhen terus memandangi Moa dari dekat ranjang bahkan telinganya masih mendengar suara tangis baby Zoe.


"Uncle kenapa datang?"


Zhen menoleh pada Noah yang masuk ke kamar membawa baskom air dingin dan handuk kecil. Mungkin Moa memintanya melakukan itu.


"Sebaiknya uncle tak perlu datang lagi jika hanya untuk menyakiti adik Zoe!" Tegas Noah menunjukan sikap dewasanya.


Zhen hanya bisa membisu. Pandangannya mengikuti Noah yang meletakan baskom menengah itu di atas ranjang lalu berjalan menghampiri Moa yang masih menenagkan baby Zoe.


"Mom!" Memeggang pinggir blazer gaun malam yang Moa pakai.


"Sudah?"


"Sudah, mom! Berikan adik Zoe padaku. Mommy peras handuknya!" Pinta Noah tampak sangat siaga membantu Moa merawat baby Zoe.


Moa percaya pada putranya. Selain luka yang sudah membaik Noah juga kuat menggendong baby Zoe dengan tulus.


"Duduk disini. Mommy akan kembali!"


"Iya, mom!" Jawab Noah duduk di atas sofa balkon sementara baby Zoe ada di pangkuannya.


Tangis baby Zoe yang semula melengking perlahan reda karena usapan lembut Noah di kepalanya. Lengan mungil itu membelit leher Noah dengan tubuh bergetar sesenggukan.


"Kakak disini. Kami akan selalu menyayangimu," Bisik Noah mengecup puncak kepala baby Zoe yang nyaman dengan Noah.


"Ka..kakak, hiks!"


"Susst!! Kau punya kakak dan mommy. Kita bertiga keluarga," Jawab Noah sangat terlihat menyayangi baby Zoe seperti adik kandungnya sendiri.


Zhen dapat mendengar pembicaraan mereka. Bahkan, hatinya mencolos melihat Noah begitu memperlakukan Zoe dengan lembut bahkan sikap dewasanya dapat mengalahkan orang tua pada umumnya.


Namun, pandangan Zhen beralih pada Moa yang berjalan ke arahnya.


"Moa!" Lirih Zhen tapi Moa tak menjawab atau menganggapnya ada.


Moa acuh mengambil baskom dan handuk itu lalu berjalan kembali ke balkon.


Sosok suram yang beberapa hari ini menghukum semua orang atas kegundahan hatinya tiba-tiba di kucilkan dan terasa sangat sakit.


Perlahan Zhen mendekat ke balkon. Ia berdiri tepat di balik sofa melihat jelas baby Zoe tengah demam tinggi.


"Mom! Sepertinya adik Zoe butuh di infus. Dia kehilangan banyak cairan karena berkeringat tapi tak mau minum," Cemas Noah membaringkan baby Zoe ke pahanya yang masih tergolong kecil namun tangguh.


"Dokter Petter sedang menyiapkannya. Untuk saat ini kita kompres dulu kening adikmu."

__ADS_1


"Kasihan adik Zoe, mom! Tubuhnya sangat lemah," Gumam Noah mengusap pipi gembul baby Zoe yang sembab dan pucat.


Mata Zhen memanas melihat peri kecil itu kembali merengek kala rasa panasnya naik lagi.


"Berikan padaku!" Pinta Zhen tapi baik Moa atau Noah seperti tak mendengarnya.


"Moa! Biarkan aku menggendongnya!"


Moa tak menghiraukan Zhen. Ia mengambil alih baby Zoe dari pangkuan Noah dan saat itu tangis baby Zoe kembali memuncak.


Tapi, bukan karena Moa melainkan mata bening emasnya melihat Zhen dengan ketakutan.


"K..kakak!!" Pekik baby Zoe bersembunyi di pelukan Noah yang mendekap erat sang adik.


Melihat baby Zoe ketakutan Zhen langsung merasa di rajam keras. Matanya tak lagi menunjukan kebencian tapi lebih rasa sesal akan sikapnya beberapa hari ini.


"Z..Zoe!"


"Ikut aku!" Moa menarik lengan Zhen keras masuk kembali ke dalam kamar.


Wajah Moa benar-benar sudah sangat marah bahkan tatapannya kian menusuk.


"Puas kau sekarang, ha?"


"Aku...."


"Aku tahu kau sangat kecewa pada mereka tapi Zoe bukanlah bagian dari rasa sakit yang kau terima!! Dia tak memilih dilahirkan dari rahim wanita itu apalagi menjadi buah hubungan kotor mereka!! Tapi kauu.."


Moa menggeleng na'as. Zhen menunduk tahu akan salahnya. Tak ada kata pembelaan diri atau menyangkal apa yang Moa katakan.


"Kenapa kau sangat egois??! Kau mengacuhkannya!! Kau membuatnya takut padamu dan sekarang kau datang ingin membentaknya lagi?"


Zhen menggeleng. Wajahnya benar-benar murung dan suram tak bisa di alihkan sama sekali.


"Pergilah!"


"M..Moa!" Menatap lemah Moa yang membuang pandangan.


Seakan tersambar petir di malam hari Zhen di buat meneggang dengan perkataan Moa. Matanya mulai menunjukan rasa tak suka dan berontak.


"Aku tahu aku salah! Tapi, aku tak mau kita seperti ini."


"Zhen! Jangan pikir aku bodoh tak tahu jika kau begitu mencintai Cellien dan itu karenanya kau larut dalam rasa sakit hatimu," Desis Moa membuat Zhen kacau bahkan apapun yang Moa lontarkan seakan menjadi mesin penghancur baginya.


"Moa! Aku hanya kecewa dan..dan tak ada hubungannya dengan cinta. Aku.."


"Sudah cukup. Pergilah dari sini!" Tegas Moa kembali melangkah ke balkon.


Zhen tak bisa tenang. Ia mengikuti Moa lalu berdiri di dekat sofa Noah yang menghela nafas menduga dua manusia dewasa ini kembali bertengkar.


Tapi, Zhen sadar jika sekarang bukan waktunya ia membujuk Moa.


"Berikan dia padaku!" Pinta Zhen duduk di sofa samping Noah.


Moa hanya diam melihat baby Zoe semakin membenamkan tubuhnya ke pelukan Noah karena takut dengan Zhen.


"Dia tak ingin bertemu dengan monster seperti-mu!" Ketus Moa bersidekap dada.


Noah memperbaiki handuk di kening baby Zoe yang menyembunyikan setengah tubuhnya di ketiak sang kakak angkat.


"Zoe!" Panggil Zhen tapi baby Zoe masih enggan menyapanya.


Noah mengusap kepala baby Zoe lalu mendudukan si kecil itu dengan benar. Handuk kecil di keningnya lepas segera Zhen ambil tapi baby Zoe seketika kembali berontak menjauh.


"K..kakak!" Lirihnya menyembunyikan wajah ke dada Noah.


"Zoe rindu daddy-kan?"


Baby Zoe hanya diam mencengkram pinggiran kaos Noah dengan erat.

__ADS_1


Zhen semakin merasa bersalah sudah melakukan hal yang membuat peri kecilnya tak lagi berani memandang atau mendekatinya.


"Daddy Zoe disini. Jangan nangis lagi!" Bujuk Noah hingga perlahan wajah baby Zoe menoleh pada Zhen.


Kedua matanya mengigil panas mulai berair melihat wajah tampan Zhen dengan pandangan hangat seperti biasa. Kedua bibir mungil pucatnya bergetar seakan-akan ia ingin berhambur ke pelukan kokoh itu tapi keberaniannya sudah hilang sejak Zhen membentaknya tadi pagi.


"Zoe!" Panggil Zhen mengulur satu tangannya perlahan mengusap kepala baby Zoe lembut sampai tangis si kecil itu pecah.


"Daddy!!!"


Zhen tak tahan. Ia segera mengambil alih tubuh mungil itu kedalam dekapannya, menghujami puncak kepala baby Zoe dengan kecupan penuh sesal dan kasih sayang seperti biasa.


"Maafkan daddy! Maaf!"


"D..daddy, hiks! Da..daddy malaa..cama Zoee?"


"Tidak, sayang! Daddy yang salah. Maaf!" Ucap Zhen mengusap punggung baby Zoe dengan sangat lembut bahkan tubuh kecil itu tak tampak lagi karena pelukan lengan kekar Zhen.


"Daddy, sakit, ya?" Dengan sesenggukan melanda.


"Tidak lagi. Daddy sembuh, sangat sehat!" Jawab Zhen menggenggam tangan mungil baby Zoe yang memeggang dadanya sesuai perkataan Yoshep kala itu.


Moa hanya diam dengan wajah lebih bersahabat dari sebelumnya. Zhen sudah kembali dan Zoe tak akan merasa sedih lagi.


"Mom!" Lirih Noah beralih duduk di pangkuan Moa yang memangku dagu ke kepala sang putra.


"Kenapa? Juga mau punya daddy?"


Noah tersenyum kecil akan godaan Moa. Ia sudah sangat senang bisa hidup seperti ini apalagi bersama wanita yang sedari dulu ia sayangi.


"Mommy saja sudah sangat cukup. Aku sangat puas!"


"Jangan puas dulu. Mommy belum mewujudkan keinginanmu untuk liburan. Simpan kepuasan Noah untuk nanti, hm?!" Mengecup pelipis Noah yang tersenyum semangat.


"Nanti aku memasak untukmu, mom!"


"Yakin sudah sembuh?" Tanya Moa sesekali memandang Zhen yang masih melepas rindu dengan baby Zoe.


"Yakin. Lagi pula banyak dokter yang uncle tampan siapkan untuk mengawasi kesembuhanku."


Moa hanya tersenyum mendengar kekaguman Noah pada Zhen. Tapi, ntah kenapa ia masih kesal dengan babi jantan itu. Rasanya ia ingin bertengkar dan selalu bertengkar dengannya setiap saat.


Setelah beberapa lama, baby Zoe sudah tidur di pelukan Zhen sedangkan Noah-pun sama. Tinggallah Zhen dan Moa yang memangku anak mereka tapi wajah Moa tak menunjukan keramahan sama sekali.


"Apa kau lihat-lihat?!" Ketus Moa kala Zhen mencuri-curi pandang padanya.


Zhen hanya diam merasa Moa bahkan lebih menyeramkan dari pada saat pertama mereka bertemu dulu.


"Aku minta maaf!"


"Lalu?" Sinis Moa menaikan satu alisnya sarkas.


"Ayo berbaikan!" Ajak Zhen merendahkan egonya tapi Moa justru mencibir.


"Tak perlu banyak tingkah. Kau sudah seperti berandalan dengan menghisap rokok!"


Degg..


Zhen terkejut dengan mata agak melebar tapi sedetik kemudian ia bisa menguasai ketenangannya kembali.


"B..bagaimana dia tahu aku mencoba rokok?!" Batin Zhen menegguk ludah dengan susah payah.


Moa mengabaikan Zhen. Ia memilih membawa Noah masuk ke kamar diikuti Zhen yang menggendong baby Zoe dengan hati-hati.


"Moa!" Panggil Zhen kala Moa berlalu keluar kamar tanpa peduli padanya.


Zhen segera membaringkan baby Zoe ke atas ranjang yang sama dengan Noah. Ia memperbaiki handuk di kening anak itu lalu bergegas pergi mengejar Moa yang tiba-tiba saja jadi cenayang.


...

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2