
Perkataan nyonya Ming tadi sampai terngiang-ngiang di kepala Zhen sampai malam ini. Ia yang tengah duduk di ruang kerja melihat dokumen perusahaan sampai tak fokus dan beberapa kali melamun jauh.
Menikah?
Benak Zhen terus melafalkan kata itu. Rasanya, keinginan untuk menikah lagi masih belum muncul dan Zhen belum berani memulai rumah tangga kembali setelah kehancuran sebelumnya.
"Moa dan aku. Menikah?!" Zhen terus mempertanyakan itu dengan senyum jenaka seakan tak percaya itu.
Ia belum tahu, apa posisi Moa di hatinya karena jujur Zhen sendiri tak percaya diri untuk mengait seorang wanita lagi untuk bersamanya.
"Kau masih sibuk?" Nyonya Ming muncul di depan pintu ruangan membawa piring buah.
"Masuklah, mom!"
Nyonya Ming berjalan mendekati meja kerja Zhen. Wanita paruh baya bermata sipit dan rambut sebahu itu meletakan piring buahnya di meja kerja lalu menarik kursi duduk di samping putranya.
"Ini sudah larut malam. Kau harus istirahat dengan benar agar cepat pulih."
"Aku masih ada banyak pekerjaan. Mommy duluan saja," Jawab Zhen memakan satu potong buah apel lalu memeriksa laporan keuangan perusahaan.
"Zhen! Apa kau selalu seperti ini?"
"Ada apa?" Tanya Zhen merasakan sebuah kegelisahan dari intonasi nyonya Ming.
"Mommy selalu tak tenang meninggalkan kalian disini. Apalagi, tak ada yang mengurus-mu, nak!"
Zhen menghela nafas. Ia tahu maksud nyonya Ming tapi, untuk sekarang Zhen tak mau membuka hati.
"Mom! Aku bisa mengurus diriku sendiri. Lagi pula, ada asisten Jio disini."
"Zhen! Mommy mengkhawatirkan kau. Baiklah, kalau memang urusan membantu kegiatanmu itu di lakukan asisten Jio tapi, apa akan selamanya begini?!" Tanya nyonya Ming semakin gelisah melihat putranya bekerja tanpa ada yang mendampinginya.
"Atau, kau masih memikirkan wanita itu?"
"Mom!" Gumam Zhen dengan wajah tak suka membahas Cellien.
Nyonya Ming menghela nafas dengan tatapan mulai sangat serius.
"Mommy tak bisa terus mengunjungimu tapi meninggalkanmu disini akan semakin membuatku tak tenang."
"Sudahlah. Aku..."
"Mommy ingin kau MENIKAH dengan Moa!"
Sontak saja Zhen kembali tercekat. Kata menikah itu saja sudah tak mungkin baginya dan Moa.
"Mom! Moa itu wanita yang bebas dan tak mau terikat. Dia tak akan mau dan..mommy lihat kondisiku saat ini! Dia tak akan sudi, mom!" Decah Zhen benar-benar belum ingin ke arah sana apalagi dengan Moa. Itu sangat mustahil.
"Kau tak butuh di cintai bukan?"
"Yah. Aku tak perlu di perhatikan atau semacamnya. Apalagi, Moa bukan wanita yang seperti itu," Jawab Zhen masih dengan nada menolak.
"Kalau begitu. Kau menikah dengannya tapi atas kesepakatan."
"Mom!" Decah Zhen benar-benar tak mau mempermainkan hidup seseorang apalagi soal menikah.
Nyonya Ming tak peduli. Selama Moa mau menjaga putranya maka, ia akan lakukan apapun.
__ADS_1
"Zhen! Sekali ini turuti mommy. Dulu kau menikahi wanita lintah itu dan memohon padaku untuk setuju tapi, sekarang aku yang akan mengatur pernikahanmu."
"Tidak. Aku tak mau MENIKAH, mom! Apalagi, Moa! Itu tidak mungkin."
"Kalau bukan Moa, kau mau siapa?"
Sontak kerongkongan Zhen tercekat. Ia memijat pelipisnya pusing memikirkan wanita selain Moa yang bisa di ajak kerjasama.
"Pernikahan ini tak seperti pada umumnya. Mommy tak menuntut-mu untuk melakukan hal yang tak kau suka pada Moa tapi, Moa punya kewajiban untuk mengurus-mu. Paham?"
"Tidak. Aku tak ingin menikah," Tegas Zhen sudah ngeri membayangkan jika Moa benar-benar menjadi istrinya.
Akan ada makian, pertengkaran bahkan bisa jadi ia tak akan tertidur nyenyak karena di rampok setiap hari.
"Baik. Jika kau tak mau menikah dengan Moa maka, menikah dengan wanita lain!"
"Mom! Aku.."
"Tak ada bantahan. Aku sudah menuruti permintaanmu tahun lalu dan sekarang lihat! Apa yang terjadi pada wanita pilihanmu itu," Tekan nyonya Ming benar-benar tak segan mengulik masa lalu Zhen yang pahit demi membawa putranya kembali bangkit.
Nyonya Ming berdiri dari duduknya. Ia menatap tegas Zhen yang diam merenung.
"Saat pulang ke China perusahaan hampir di pengaruhi oleh Hupent."
"Dia?" Gumam Zhen seketika memancarkan kemarahan.
"Yah. Dia ingin mempengaruhi dewan direksi tentang jabatanmu di perusahaan yang akan di gantikan oleh adikmu. Kau harus cepat kembali atau semuanya akan terlambat."
Nyonya Ming pergi setelah mengatakan hal yang kembali mengaduk benak Zhen. Pria tampan itu mematung diam memikirkan rencana kedepan.
Zhen membuka laptopnya. Di sana ada rincian soal anak buah tuan Dario yang tertangkap dan yang tewas. Tapi, sejauh ini belum ada suruhan tuan Hupent menampakan diri atau bergerak secara terang-terangan.
"Dia sudah mengirim orang untuk menghabisi ku tapi, sampai sekarang belum ada tanda-tanda penyerangan. Apa yang dia rencanakan sebenarnya?!" Gumam Zhen menebak arah pergerakan tuan Hupent.
Pikiran Zhen kembali mengingat ucapan nyonya Ming tadi. Moa bisa di andalkan untuk menjaga baby Zoe dan wanita itu cukup licik di ajak berkompromi.
"Jika aku hanya menggunakan ancaman dia tak akan bertahan lama dan setelah itu bisa jadi berbalik menyerang ku tapi, jika-ku tahan sampai masalah keluarga Ming selesai aku rasa, ini tidak buruk."
Zhen menimbang-nimbang keputusannya. Beberapa waktu kemudian Zhen mulai menghubungi Moa untuk bicara dengan wanita itu.
"Shitt! Betapa sibuknya wanita ini," Umpat Zhen saat sudah tiga kali memanggil tak ada jawaban.
Panggilan ke lima barulah Moa mengangkat sambungan Zhen.
"Kirim saja ke rekeningku!" Suara Moa terdengar sayup-sayup dengan hentakan musik.
"Kau dimana?" Tanya Zhen agak risih dengan suara musik yang keras ini.
"Jika tak ingin mengirim uang, tak perlu menghubungiku!!"
Zhen mendengus. Otak wanita ini memang sudah di cuci oleh uang.
"Kau di club?"
"Apaa?? Aku tak dengar," Teriak Moa pada Zhen yang mengambil nafas dalam-dalam berusaha sabar.
"Keluar dari sana. Aku ingin bicara!"
__ADS_1
"Besok saja." Tolak Moa terdengar sangat sibuk.
"Moa!! Kau jangan menguji kesabaranku. Kau.."
Kalimat Zhen tercekat saat sambungan itu di putus Moa sepihak.
"Sialan!" Umpat Zhen melempar ponselnya agak kasar ke atas meja dengan nafas naik turun cukup emosi.
.....
Di dalam club yang heboh dan bergairah sana, tampaklah Moa yang duduk di atas sofa paling sudut menikmati wine di gelasnya.
Suara musik dan lampu yang berkedip lincah tak membuat Moa risih melainkan ia suka itu.
"Siapa yang menelfon?" Tanya Ebner selalu mendampingi Moa hingga para lelaki yang melihat dari kejahuan hanya bisa menelan kekecewaan.
"Tidak penting. Bukan soal uang," Santai Moa meneguk gelas wine dengan elegan dan kedua kaki bersilang angkuh.
Ebner yang mendengar itu hanya tersenyum kecil melihat ke area panggung dimana banyak wanita tanpa busana menari erotis.
"Pergilah!"
"Untuk apa?" Tanya Ebner kala Moa menyuruhnya naik ke panggung.
"Jangan di tahan. Wajahmu sudah merah," Ucap Moa tahu Ebner cukup berhasrat sekarang.
Ebner tertawa kecil. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah panggung yang sedang heboh dan berguncang.
"Selamat bersenang-senang," Ucap Moa melambaikan satu tangannya halus pada Ebner.
Sofa panjang yang Moa duduki tentu saja khusus untuk dirinya. Tak ada yang berani mendekat atau menyapa Moa sekedar bertanya kontak.
"Sangat membosankan."
Moa mengeluarkan black card yang tadi Zhen berikan padanya.
"Aku harus menguras isi kartu ini lalu merampok yang baru. Lihat saja, kau tak akan setenang itu lagi," Gumam Moa menyeringai segera berdiri.
Tangan jenjangnya meraih botol wine di atas meja lalu melemparkan benda itu ke arah susunan gelas yang tertata di dekat panggung.
Suara pecahan yang keras itu membuat keramaian menyusut sunyi. Musik terhenti dan semua mata menyorot Moa yang masih berdiri memeggang gelasnya elegan.
"Apa yang akan dia lakukan?"
"Wanita iblis itu lagi."
Moa tersenyum tipis menunjukan black card di tangannya membuat mata mereka terbelalak dan Ebner hanya menggeleng halus saja.
"Pesan apapun yang paling mahal. Aku akan membayarnya!"
Sontak saja satu club ini heboh dengan apa yang Moa katakan. Mereka kembali berpesta dan kali ini lebih gila lagi.
"Cih, kita lihat. Apa kau masih bisa tersenyum atau tidak setelah ini?!"
....
Vote and like sayang
__ADS_1