
Pandangan tegang Zhen beradu dengan layar laptop yang sedari tadi memperlihatkan semua situasi semenjak Moa berangkat sampailah pada terperangkap di ruangan bersama seorang pria.
Kepalannya menguat kala tampak wajah sesosok pria yang tergolong tampan tengah beradu dengan ujung pistol Moa di keningnya.
"Tembak! Tembak, Moa!" Geram Zhen benar-benar lupa waktu padahal sekarang sudah larut.
Yoshep dan asisten Jio yang ada di sofa sana saling pandang lalu mendekati meja kerja Zhen seperti menonton final Mobile Lagend.
"Kenapa sedari tadi kau sangat heboh?" Tanya Yoshep berdiri di belakang kursi Zhen dan diikuti asisten Jio.
Mereka melihat seorang pria seumuran Zhen yang sedang diam di bawah acungan pistol seseorang.
"Lumayan!"
"Lumayan? Dia bahkan lebih buruk dari seekor monyet," Geram Zhen panas karena Moa satu ruangan dengan pria asing yang tampak lumayan dan tak biasa.
Terlihat jelas pria itu menatap ke arah mata Moa dengan intens dan ada rasa kagum di sana. Dia seakan-akan telah menemukan seseorang yang lama membuatnya menunggu.
"Mereka sepertinya saling kenal. Apa itu mantan kekasih wanita seksi?"
"Istriku tak punya kekasih," Bantah Zhen menahan emosi. Ia berkeringat karena terlalu naik darah akan kenakalan Moa yang tak memakai alat komunikasi di telinga hingga Zhen tak bisa mendengar pembicaraan di sana.
"Kau yakin? Tapi, tatapan pria itu sangat dalam. Dia juga lumayan," Pancing Yoshep langsung mendapat lirikan membunuh dari Zhen.
Yoshep diam tersenyum kecut lalu fokus melihat ke area laptop dimana pria itu mulai menyeringai penuh arti dan Moa tampak menurunkan pistolnya.
"Tembak!! Seharusnya kau langsung menembaknya!! Apa yang kau tungguu??" Geram Zhen memukul meja kerjanya sampai tiga kaleng vodka yang kosong di pinggir meja jatuh tapi Zhen tak peduli.
Tangannya kembali meraih vodka ke empat yang menjadi sasaran emosinya. Untung asisten Jio sudah menyediakan 5 kaleng vodka di atas meja, jika tidak ntah apa yang akan terjadi.
"Apa yang mereka bicarakan? Aku tak bisa mendengarnya."
"Tenang saja. Dia pasti bisa menyelamatkan diri," Ucap Yoshep tapi bukan itu yang Zhen cemaskan.
Moa itu pecinta pria tampan berdompet tebal. Ada rasa khawatir kala Moa bertemu dengan orang yang juga berada seperti pria ini.
Sementara di ruangan yang sekarang mereka tonton. Moa masih diam dengan tatapan waspada masih memeggang pistol yang ia turunkan tadi.
"Kau mengenalku?" Tanya Moa sadar akan arti seringaian pria bermata sipit dengan lesung pipi ini.
"Kau tak ingat aku?" Tanyanya tak lagi menyimpan emosi seperti tadi.
"Tidak."
"Sangat menarik," Gumam pria itu segera mengeluarkan dompetnya.
Dahi Moa mengernyit namun, kala sadar dompet itu sama dengan yang di lemper Zhen kala bertengkar dulu sontak saja ia meneggang.
"Jangan-jangan dia pria yang di club itu? Haiss..bagaimana bisa aku tak ingat dia? Kau sangat ceroboh, Moa!" Batin Moa merutuki kebodohannya.
Melihat reaksi terkejut Moa senyum tipis pria itu semakin mekar. Duduknya semakin di buat gagah dengan kedua kaki bertopang tindih.
"Kau nona yang mendorongku di bar, bukan?"
"A..itu..aku tak tahu jika kau bos tempatku bekerja," Jawab Moa mempertahankan wajah juteknya.
"Hm, aku baru tahu anggotaku secantik dan seberani ini."
"Siapa suruh kau menyembunyikan identitasmu? Jika aku tahu kau bos besar disini aku pasti.."
Moa menjeda kalimatnya karena tak tahu harus mengatakan apalagi untuk mencari jalan aman.
__ADS_1
"Apa kau akan menerimaku?"
"Sebaiknya aku bersikap lebih lembut. Jika tidak, aku tak akan menemukan dokter Wen disini," Batin Moa membuat rencana.
"Bisa jadi. Apalagi, aku pecinta pria tampan berdompet tebal," Jawab Moa membuat pria itu semakin menyukainya.
Gaya bicara dan pembawaan Moa sangat khas dan berani. Tak jauh berbeda dari yang ia temui kala itu. Sangat menantang.
"Marco! Itu namaku!"
"Oh." Singkat Moa tak begitu tertarik.
"Namamu?"
"Abaikan soal nama. Sekarang aku ingin bertanya padamu," Tegas Moa beralih duduk di sofa berhadapan dengan Marco yang diam melihat kelancangan Moa.
"Kau tak takut padaku?"
"Kau ingin aku takut?" Tanya Moa menaikan satu alisnya. Marco diam tak mempermasalahkan sikap berani Moa yang membuatnya sangat tertarik.
"Baiklah. Sekarang aku takut," Imbuh Moa tapi wajah cantik datar dan tatapan berani itu sama sekali tak menyimpan ketakutan.
Adakah seorang yang mengatakan dirinya takut tapi tak terlihat seperti itu sama sekali. Benar-benar konyol.
"Kapan kau bergabung dengan anggotaku?"
"Baru saja. Aku butuh uang dan sedang mencari seseorang. Aku rasa organisasi sebesar ini mudah untuk menemukannya," Jawab Moa merubah sedikit alur permainannya.
Marco mangut-mangut mengerti. Wajah yang sulit di tebak sama halnya dengan Zhen ketika sedang merencanakan sesuatu.
"Dokter Wen?"
"Untuk apa kau mencarinya?" Tanya Marco dengan tatapan sedikit melepas amarah.
"Aku butuh dia. Kau cukup katakan saja dimana pria itu."
Marco tak menjawab. Ia mengetuk-ngetuk peggangan sofa dengan ujung jarinya dan terlihat berpikir.
"Aku tahu."
"Dimana dia? Apa ada disini?" Tanya Moa buru-buru.
"Sayangnya, aku tak mudah membocorkan informasi."
Jawaban Marco membuat kedua tangan Moa mengepal. Pria ini benar-benar licik bahkan bisa menyulut emosinya.
"Aku tak ingin meminta secara gratis. Katakan apa maumu?"
"Jadilah kekasihku!"
Degg..
Moa terkejut bukan main. Tiba-tiba saja bulu kuduknya merinding seakan-akan ada monster yang sedang memantau mereka dan siap menelannya hidup-hidup.
Aku rasa Zhen tak mendengar pembicaraan kami. Dia tak mungkin akan mengamuk, bukan?
Pikir Moa berdehem agak ngeri jika Zhen sampai marah padanya.
"Hanya itu?"
"Yah. Jika kau setuju, apapun bisa-ku berikan. Uang atau pria itu," Jawab Marco menyeringai.
__ADS_1
Moa diam. Marco tidaklah sama dengan Zhen dari segi ketulusan. Yah, keduanya sama-sama mendominasi di wilayah masing-masing apalagi sama-sama pandai membuat kesepakatan.
Bedanya, Zhen bisa di percaya dan bertanggung jawab sedangkan pria ini punya seribu niat buruk yang tersembunyi di balik tatapan santainya.
"Jika menolak-pun dia pasti akan membawa hal buruk untukku. Pria ini harus di permainkan," Batin Moa tak menyukai Marco.
Menurutnya, membuat kesepakatan dengan Zhen lebih menguntungkan dan ia dapat bonus ketampanan pria itu. Sedangkan Marco, dia terlalu impulsif dan Moa lebih nyaman dengan Zhen si babi jantannya.
"Kau menolak?"
"Apa aku bisa?" Tanya Moa mulai menaikan satu alisnya sinis.
Ia tak berniat menggoda Marco karena pria ini tak akan tahan.
"Kau cerdas. Itu yang-ku suka."
"Katakan! Dimana pria itu?" Tanya Moa mendesak.
Marco menyeringai. Ia menepuk pangkuannya sebagai isyarat yang nyata meminta Moa agar duduk di sana.
"Duduk di pangkuan kekasihmu!" Ucap Marco memang sangat gila.
Tapi, perasaanya agak aneh seperti tengah mengibarkan peperangan pada seorang musuh yang setimpal dengannya. Waspada dan terancam.
Bagaimana tidak? Dari layar laptop yang menyala di ruang kerja sana ada sosok pria tampan yang sedang meremas kaleng vodkanya sampai remuk dengan kedua mata berkobar emosi.
Yoshep dan asisten Jio menelan ludah mulai menjaga jarak dari Zhen. Mereka tahu arti tepukan di paha itu dan senyum mesum Marco yang mengundang bangkitnya iblis di tubuh Zhen.
"Ini sudah malam. Aku pulang!" Ujar Yoshep buru-buru mengambil jaketnya di sofa.
"S..saya juga tak ada pekerjaan lagi. Saya.."
"BRENGSEEK!!" Amuk Zhen memukul meja itu sampai patah karena terbuat dari kayu mahal yang berkualitas tapi na'as tinju Zhen sangat kuat menghantam.
"T..tuan!" Gugup asisten Jio mulai merasa tak aman. Yoshep-pun sama, ia pelan-pelan mundur menuju area pintu keluar.
"Apa maksudnya ini?? Dia seharusnya menembak pria itu!! Bukan berkencaan!!"
"T..tuan! Mungkin dia punya rencana sendiri," Ucap asisten Jio tapi segera terperanjat kala Zhen melempar kaleng yang ia remas ke arah asisten Jio.
"Rencana?? Apa ini rencana dadakan?? Pria itu tersenyum mesum dan meminta duduk di pangkuannya!! Moa..diaa.."
Zhen tak bisa berkata-kata meremas rambutnya sendiri. Ia ingin sekali baku hantam dengan pria ini dan menyeret Moa pergi dari sana tapi, kedua kakinya masih belum stabil.
"Dia memang sangat menguji kesabaranku," Gumam Zhen segera membuka ponselnya dan menghubungi Moa untuk yang ke berapa puluh kali di mulai sejak pertama datang ke pulau tadi.
Nafas Zhen naik turun seperti baru saja lari berkilo-kilo meter.
Tapi, sampai sekarang ponsel Moa tak aktif membuat Zhen naik pitam nyaris menghancurkan ruang kerjanya bahkan tak ada yang berani mengusik pria itu lagi.
"Dia tak mengangkatnya! Dia tak MENGANGKATNYA!!" Geram Zhen merah dalam mengeraskan rahangnya kala panggilannya terus terputus.
Asisten Jio melirik Yoshep yang merasa Zhen mulai tak waras. Pria yang biasa tenang dan selalu angkuh itu seperti sedang memergoki istrinya selingkuh.
"Kau hadapi sendiri. Aku tak punya energi lagi," Pamit Yoshep pergi.
Tinggallah asisten Jio yang mau tak mau tinggal karena Zhen belum menyuruhnya pulang. Pria itu masih sibuk menghubungi Moa lalu memaki para bawahannya yang membiarkan Moa masuk ke markas utama tanpa memakai alat komunikasi apapun.
...
Vote and like sayang
__ADS_1