Impoten Husband

Impoten Husband
Noah keritis


__ADS_3

Setelah merasa nominal uang yang ada di dalam kartu hitamnya berkurang drastis, barulah Moa kembali ke apartemen Zhen pagi-pagi sekali karena ingin melihat reaksi pria itu.


Moa tak sabar untuk bertengkar dengan Zhen apalagi menyaksikan sungut pria itu melebar.


"Pagii!!" Sapa Moa pada baby Zoe yang seperti biasa duduk di atas meja.


Di ruang makan ini tak hanya ada baby Zoe melainkan nyonya Ming yang duduk di kursi berhadapan dengan Moa.


"Kau sudah makan?" Nyonya Ming menunjukan perhatian yang tak biasa bagi Moa.


"Belum. Itu karenanya aku datang."


"Duduklah. Zhen juga akan tiba sebentar lagi," Ujar nyonya Ming menyodorkan piring berisi makanan pada Moa.


Baby Zoe masih asik memakan buburnya walau kedua bola mata keemasan bocah imut itu tak bisa meredam kekagumannya pada Moa.


Ia duduk di kursi yang biasa ia tempati seraya menunggu Zhen yang belum datang. Karena bosan dan sangat luang akhirnya Moa memakan steak di piringnya dengan sadar jika nyonya Ming terlihat menatapnya.


"Ibu dan anak sama seja. Suka merusak pagi orang lain," Batin Moa tapi wajah datar santai itu tak berubah.


Tak berselang lama mereka menunggu datanglah Zhen dengan kursi roda yang bergerak otomatis ke dekat meja makan.


Moa menoleh ringan dan cukup terkesima melihat tampilan rapi nan gagah Zhen yang di baluti stelan jas melekat mantap di tubuh kekarnya. Wajah tampan tanpa cacat pria itu cukup membuatnya tertarik.


"Pagi, mom!"


"Pagi, nak! Kau ada pertemuan di luar?" Tanya nyonya Ming pada Zhen yang melirik Moa duduk di sampingnya.


"Ada beberapa urusan perusahaan yang harus ku kerjakan di luar."


"Baiklah. Makan lebih dulu!" Pinta nyonya Ming sudah sejak tadi menyiapkan piring putranya.


Baik Zhen atau Moa belum ada interaksi. Mereka hanya saling lirik dengan mata acuh seakan tak berniat menyapa sama sekali.


Zhen fokus dengan makananya dan Moa seperti biasa makan tapi, tak serapi Zhen. Ia sesekali main perang-perang sendok dengan baby Zoe tanpa peduli pandangan orang lain padanya.


"Kenapa dia tak marah sama sekali?! Seharusnya dia tahu kondisi kartunya sekarang," Batin Moa menunggu kemarahan Zhen.


"Mom! Aku titip putriku dulu."


"Kau sudah selesai?" Tanya nyonya Ming saat Zhen mengelap mulutnya dengan serbet seraya mengangguk seadanya.


Moa hanya diam tapi lirikan matanya tertangkap oleh manik elang Zhen yang sama datarnya dengan Moa.


"Apa?"


"Ikut aku!" Titah Zhen memerintah dengan kursi roda berbalik tapi sayang, Moa tak bergeming bahkan pura-pura menuli.


"Kau tuli?"


"Aku bukan pelayanmu," Jawab Moa melipat tangan di depan dada dengan wajah angkuh dan memberontak.


Nyonya Ming diam memperhatikan lekat interaksi Zhen dan Moa sampai matanya bertemu dengan Zhen yang jengah kala nyonya Ming mengisyaratkan agar lebih lembut pada Moa.


"Ikut aku! Ada yang ingin-ku katakan!"


"Kau meminta atau sedang memerintah?" Tanya Moa menaikan satu alisnya menyulut kemarahan Zhen namun, karena nyonya Ming masih disini jadilah Zhen meredup.


"Ini masalah kerjasama kita."


"Cih, menyebalkan," Decah Moa segera bangkit dan berjalan mendahului Zhen yang hanya menghela nafas berat mengikuti Moa dari belakang.


Setibanya di ruang tamu yang tak begitu luas tapi terlihat rapi dan mewah ini, Moa segera menjatuhkan bokong seksinya yang terbalut celana jeans itu ke atas sofa singel.


Kedua kakinya bersilang angkuh dengan satu tangan menopang kepala di lengan sofa.

__ADS_1


"Katakan! Berita baik apa yang kau punya."


"Aku punya tawaran bagus untukmu," Ucap Zhen tapi ia berusaha mengendalikan rasa enggannya untuk membahas pernikahan. Sungguh, jika bukan karena desakan nyonya Ming dan keadaan, Zhen tak akan sudi meminta Moa menikah dengannya.


"Tawaran?"


"Hm, ini menguntungkan kedua belah pihak. Kau tak akan di rugikan."


Moa menyipitkan kedua netra emeraldnya menyelidik ke arah Zhen. Kewaspadaan tampak jelas dan masih ragu-ragu akan perkataan babi jantan yang licik ini.


"Kau jangan coba-coba mempermainkan-ku!" Tegas Moa lebih serius sampai Zhen menghela nafas.


"Aku tak sedang bermain. Kau tahu sendiri jika hidupku tak pernah luput dari yang namanya musuh dan pembunuhan. Aku membutuhkanmu untuk melindungi putriku dan banyak hal lagi ketika aku kembali ke negara asalku."


"Jadi?" Moa tak begitu tertarik tapi kedua telinganya mendengarkan.


"Aku akan membantumu dalam segi apapun. Baik keuangan, perawatan medis dan hal lain yang mungkin kau susah dapatkan."


"Langsung ke intinya! Kau terlalu membual," Ketus Moa membuat leher Zhen meneggang dengan urat kemarahan tapi sekuat tenaga ia tak meladeni sifat arogan wanita ini.


"Menikahlah denganku!"


Ajakan Zhen barusan membuat Moa terpaku kosong dengan satu tangan yang tadi menopang kepalanya seketika terkulai seperti cukup terkejut.


Melihat respon Moa yang ambigu Zhen mengalihkan pandangan ke arah lain karena cukup malu dan jengkel membahas ini.


"Kau jangan terlalu banyak berpikir. Aku tak memiliki niat apapun padamu."


"Menikah? Dengan-mu?" Tanya Moa tak bisa menahan tawa gelinya sampai terdengar di ruang makan tempat nyonya Ming dan baby Zoe berada.


Wajah tampan Zhen seketika menebal beku saat Moa tertawa sangat keras sampai menepuk-nepuk pahanya.


"Sungguh, ya tuhan! Apa yang baru saja terjadi pada babi jantan ini."


"Berhenti tertawa!" Suara Zhen mendidih tapi rendah.


Aura Zhen sudah tak bisa di ajak bercanda hingga Moa beralih serius dan bersitatap tajam.


"Aku memang bersedia bekerjasama denganmu tapi, untuk yang satu itu aku tak bisa."


Zhen diam. Ia melihat kedua kakinya yang masih lumpuh dengan tatapan cukup menyimpan emosi terpendam. Moa sadar jika pasti Zhen juga dalam kondisi cukup memaksa.


"Karena aku lumpuh?" Tanya Zhen dengan sorot mata penuh kebencian.


Ia kembali teringat dengan pengkhianatan Cellien padanya dan itu sangat membekas di hati Zhen yang benci dengan itu.


Merasa ia mulai emosi, Zhen segera membalikan kursi rodanya pergi tak ingin berurusan panjang dengan Moa yang terdiam.


"Apa aku keterlaluan padanya?!" Gumam Moa merasa sedikit bersalah.


Ia diam mencerna dimana letak salahnya sampai nyonya Ming datang dengan wajah lebih tenang tapi terselip kesedihan dari rona pandangannya.


"Zhen sudah bicara denganmu?"


"Soal menikah?" Tanya Moa kala nyonya Ming duduk di sofa yang berhadapan dengannya.


Nyonya Ming mengangguk. Wanita elegan dan berhawa mahal itu masih mengingat wajah dingin Zhen saat keluar dari ruangan ini tadi.


"Kau mungkin terkejut dan menganggap itu lucu tapi putraku tak pernah menganggap pernikahan sebagai permainan. Dia sangat serius dalam segala hal."


Moa hanya diam. Dari wajah cantiknya yang membisu orang akan melihat jika Moa berpikir keras.


"Dia pernah mencintai seorang wanita dan setiap saat memikirkan wanita itu. Walau Zhen terus mengatakan dia membenci Cellien dan baik-baik saja tentang pengkhianatan itu maka aku sadar putraku juga sekuat mungkin menyembunyikan kekecewaan hatinya."


"Kenapa wanita itu berkhianat?" Tanya Moa cukup heran.

__ADS_1


Setelah beberapa lama mengenal Zhen, ia rasa pria itu sangat sempurna dalam berbagai aspek. Wajah sangat tampan, tubuh gagah dan aset tak bisa di remehkan. Sungguh, ia bingung akan hal itu.


"Cellien adalah wanita hiper-****. Dia memang terobsesi pada Zhen tapi kondisi Zhen saat ini tak bisa memuaskan birahinya dengan sempurna."


"Bodoh," Umpat Moa menertawakan kecil kelakuan Cellien.


Jika di bandingan Cellien, birahi Moa bahkan lebih besar. Dia wanita liar, bebas dan menantang hanya saja, Moa bisa mengontrol dirinya agar tak di tunggangi hawa naf*su yang buas terpendam itu.


"Zhen bukan pria jahat. Banyak orang ingin membunuhnya karena dia bisa mengalahkan siapapun yang ingin menduduki posisinya saat ini. Zhen berdiri sendiri tanpa siapapun yang bisa ia andalkan lebih jauh. Aku tak ingin putraku terlalu hanyut dalam rencana dan rencana setiap saat. Aku ingin dia punya sesuatu yang bisa melindunginya dan.."


"Dia tak selemah itu," Sela Moa membuat nyonya Ming terdiam.


"Dia memang sangat menyebalkan dan aku ingin mematahkan lehernya tapi, dia pria yang bertanggung jawab dan bisa melindungi diri sendiri," Imbuh Moa menjabarkan pandangan yang lain terhadap Zhen.


"Aku tahu. Tapi, walau-pun begitu aku tak bisa tenang. Kau lihat dia lumpuh dan sendirian. Ada Zoe dan banyak hal yang harus ia lindungi. Aku hanya percaya padamu!"


Wajah nyonya Ming berubah sendu dan miris. Kecelakaan pesawat yang menimpa Zhen membuat sadar jika setiap detik ada predator yang ingin melenyapkan putranya.


"Masalah putramu aku akan membantunya. Kau cukup lindungi Zhen dan Zoe."


"Aku permisi," Ucap Moa bangkit dan keluar dari ruang tamu.


Saat ingin berjalan ke arah ruang depan ia tak sengaja melihat Zhen yang duduk di kursi roda tepat di dekat pintu ruang makan. Baby Zoe masih ada di dalam sana tertangkap oleh netra elang Zhen yang bertambah mendingin.


Karena tak tahu akan kemana, langkah Moa menarik diri mendekati Zhen walau akan terhenti dengan suara pria itu.


"Kau tak perlu mengasihaniku. Anggap saja kau tak mendengar apapun!"


Moa termenggu diam. Ia agak kaku ingin bicara karena sekarang Zhen benar-benar terlihat menakutkan jika di ajak bertengkar.


"Aku..aku tak bermaksud untuk.."


"Tuan!"


Asisten Jio yang baru saja datang dan rutinitasnya saat bertemu Moa selalu melempar pandangan tak suka.


"Tuan! Mobil sudah siap."


Zhen tak menjawab. Ia pergi dengan kursi rodanya tanpa bicara sepatah-katapun pada Moa seakan suasana hatinya sedang sangat labil untuk di usik.


Karena melihat tuannya sangat tak bersahabat tentu asisten Jio menatap tajam Moa yang segera membela diri.


"Bukan aku."


"Kau memang selalu membuat ulah," Gumam asisten Jio mengusik harga diri Moa.


"Bicaramu terlalu lancang. Salahkan tuanmu yang tiba-tiba mengajakku menikah. Dia pikir hidupku ini bisa di tawar-tawar begitu saja?!"


"Wanita tak tahu diri," Maki asisten Jio lalu pergi.


Moa yang syok tak bisa mengendalikan kemarahannya tapi, suara panggilan ponsel itu membuat Moa teralihkan.


Moa mengangkat dengan gebuan emosi yang siap meledak di apartemen ini.


"ADA APA??"


"Moa! Kau baik-baik saja?" Suara Ebner terkejut mendengar bentakan Moa.


Sadar jika ia salah sasaran Moa segera mengambil nafas dalam.


"Hm, ada apa?"


"Cepatlah ke rumah sakit. Keadaan Noah kritis!"


"Shitt!!" Umpat Moa segera menyimpan ponselnya dan berlari menuju pintu keluar dengan dada di hantam rasa cemas sekaligus panik.

__ADS_1


....


Vote and like sayang


__ADS_2