
Moa sudah sampai di sebuah pesisir pulau yang sebelumnya sudah di jelaskan oleh Zhen bagaimana keadaanya. Ia menepikan Jet sky itu di area yang gelap dan tersembunyi oleh bebatuan dan beberapa tumbuhan liar di dekat air.
Moa mengendap turun melihat sekeliling dimana sangat sunyi. Pulau ini seperti tak di jaga tapi, Moa faham betul jika keheningan inilah yang sangat mematikan.
"Aku yakin di sini banyak kamera pemantau. Zhen bilang di setiap sisi akan ada pengawasan dan aku harus menyamar menjadi salah satu dari mereka," Gumam Moa seraya berjalan menapaki pasir pulau yang menempel di sepatunya.
Berjalan bak seorang intel dengan mata waspada ke seluruh penjuru. Moa hati-hati memijak beberapa bagian rumput karena bisa saja ada ranjau atau sejenisnya.
Selang beberapa lama Moa masuk ke hutan yang sangat gelap tapi beruntung cahaya rembulan masih dapat memberinya bantuan. Sesekali Moa mendengar suara lulungan binatang buas tapi itu tak membuatnya gentar atau mundur.
"Periksa area selatan!!"
Suara pria dan beberapa kelompok di depan sana berpencar seperti tengah berpatroli.
Muncul satu ide di kepala Moa yang langsung bersembunyi di balik pohon besar dan mengeluarkan pisau yang ada di balik jaketnya.
"Ayolah. Mendekat padaku," Batin Moa membidik satu wanita yang ada diantara team patroli itu.
Ketika mereka berpencar, Moa mengikuti wanita itu dengan keahlian mengintai yang tak mendua.
"Sepertinya tak ada siapapun disini," Gumam wanita itu mengarahkan pistol ke beberapa penjuru waspada.
Saat ia ingin berbalik tiba-tiba saja mata pisau seseorang sudah mencabik area lehernya hingga tumbang dalam sekejap.
"Hanya ini?" Sinis Moa menatap pisaunya yang berlumuran darah lalu menyeringai iblis.
Ia menarik mayat wanita itu ke dekat semak-semak yang rimbun lalu mengambil pisau dan menggeledah apa ada kartu khusus disini.
Tangan Moa yang lincah menemukan kartu identitas yang tak begitu terlihat jelas.
"Sepertinya tanda pengenal untuk memasuki wilayah ini," Gumam Moa menyimpan kartu itu di balik jaketnya lalu menyalakan senter ponsel untuk melihat apa ada tato khusus atau tidak.
Nyatanya tidak. Moa buru-buru menyembunyikan mayat itu sampai suara seseorang mengejutkannya.
"Siapa itu?"
Moa diam dengan tenang keluar dari semak-semak dan melihat jika team patroli tadi mengarahkan pistol padanya.
"Siapa kau? Apa kau salah satu dari kami?"
"Berarti mereka tak saling mengenal dan hanya melihat kartu identitas," Batin Moa beruntung.
"Aku sedang berpatroli dan memeriksa di area semak-semak. Disini aman!"
Mereka saling pandang segera menurunkan pistolnya. Moa menghela nafas lega, wajahnya tak begitu terlihat karena senter ponsel itu menyorot ke arah mereka.
"Matikan senter mu. Kita berpatroli di area lain!"
"Baik!" Jawab Moa mematikan senter ponselnya dan bergabung dengan mereka.
Ditengah perjalanan semuanya berpencar dan begitu juga Moa. Hanya saja, ia menyelinap keluar dari area hutan menyusuri area jalan setapak dan penampakan samar lampu-lampu di beberapa tempat.
"Semuanya ada kamera inframerah. Pasti sedang memantau sekarang," Batin Moa menjalankan perannya dengan baik.
Sesekali Moa mengecoh seperti sedang berpatroli pada umumnya mengantarkan Moa ke depan sebuah gerbang besar yang di tumbuhi lumut dan akar.
"Sedang apa kau di situ?"
Salah satu penjaga gerbang menyeru Moa yang segera menoleh.
"Saya dari team patroli ingin melaporkan hal penting pada atasan!" Ucap Moa tegas.
Pria berpakaian serba hitam dan bersenjata laras panjang itu diam sejenak.
"Tunjukan kartumu!" Pintanya waspada.
__ADS_1
Moa mengeluarkan kartunya lalu memberikan benda itu pada pria kekar ini. Senter yang dipegangnya mengarah pada kartu identitas Moa namun, saat melihat ke area foto ada kecacatan yang membuat foto itu tak jelas.
Yah, Moa sengaja merusak foto itu dengan kukunya agar lebih aman.
"Perbaiki kartumu!" Menyorot wajah cantik Moa dengan senternya sampai mata lensanya agak panas.
"Saya mengerti!"
"Apa informasi yang ingin kau sampaikan? Tak sembarang orang yang bisa masuk ke markas utama. Aku akan mengatakan itu pada bos nanti!"
Moa diam sekaligus lebih lega kala senter itu tak lagi menyorot wajahnya.
"Ada laporan penyerangan dari team patroli. Kami gagal menangkap musuh dan pasti bos akan sangat marah."
Pria itu mematung. Terlihat jelas ia takut menyampaikan berita kegagalan ini karena bos-nya tak akan mentolerir.
"Aku bertanggung jawab atas itu. Biarkan aku masuk agar hanya aku yang akan di bunuh."
"Kalian mencari masalah," Gumam pria itu segera membuka gerbang.
Moa menyeringai samar masuk ke dalam tempat ini dimana ada beberapa lampu yang cukup terang namun di dalamnya hanya ada semak-semak dan pepohonan tinggi.
"Apa ini markas utama mereka? Semuanya hanya semak dan hutan rimbun," Batin Moa menapaki jalan kecil yang mengantarnya menerobos hutan.
Namun, saat sudah ada di penghujung jalan tiba-tiba saja langkah Moa terhenti melihat satu pohon besar yang benar-benar sangat besar bisa melingkari 10 manusia sekaligus.
Ada dua penjaga bersenjata di sana membuat Moa waspada.
"Apa keperluanmu?" Tanya mereka tak menanyakan kartu karena siapapun yang sudah sampai ke area ini pasti sudah di periksa di depan.
"Saya ingin melaporkan hasil patroli malam ini. Ada kejanggalan yang hanya dapat di katakan langsung pada bos olehku!"
"Masuklah!"
Moa tercengang sesaat kala pohon besar itu ternyata bukanlah pohon biasa. Saat mereka menempelkan kartunya maka tampaklah lift baja besi sementara di luarnya seperti pohon asli.
"Apa yang kau tunggu?"
"Baik!" Jawab Moa masuk ke dalam lift berbentuk tabung besar ini lalu menatap ke area atas kala cctv menyorot.
"Gila! Pengamanannya memang sangat ketat. Mereka bukan organisasi sembarangan," Batin Moa bersikap santai sampai lift itu membawanya ke bawah tanah.
Saat lift terbuka, lagi-lagi Moa di kejutkan dengan sebuah ruang bawah tanah bak laboratorium besar dimana banyak tenaga medis bekerja disini.
Dinding baja dan banyak lagi ruangan dengan para pekerja berjas putih bak seorang profesor tengah sibuk dengan tugas masing-masing.
Tapi, yang membuat mata Moa memerah emosi adalah deretan tabung di segala penjuru memperlihatkan banyak bayi dari balita, anak-anak sampai remaja yang di awetkan dalam tabung kaca dengan beberapa sempel keterangan.
"Cepat!! Kita harus memasok lebih banyak. Bawa beberapa sempel ke ruang bedah!" Ucap salah satunya memencet tombol pengendali di dinding dekat tabung itu hingga satu persatu anak-anak itu masuk ke sebuah ruangan dengan mesin penggulir yang di program khusus.
"Bajingaan!! Mereka sama sekali tak punya hati nurani!!" Geram Moa mengepalkan tangannya erat.
Tak ingin berlarut-larut disini akhirnya Moa melanjutkan perjalanan. Ia tak tahu kemana tembusnya ruangan-ruangan dan lorong disini tapi yang jelas, di setiap ruangan maka akan ada hal yang menyayat hati.
"Bos! Pasokan hari ini meningkat. Penjualan kita juga tak main-main dan sangat menguntungkan," Suara seseorang yang ada di sebuah ruangan berpintu besi tapi agak terbuka sedikit.
Moa mengintip dari cela pintu dan melihat jika di dalam sana ada ruang santai dimana ada sofa, meja dan beberapa furniture bak di rumah biasa. Dindingnya juga sudah di lapisi kayu asli.
Ada tiga pria di sana. Salah satunya berkepala plontos dengan usia masih sekitar 30 tahun berkulit hitam dan satunya lagi bermata sipit khas China.
Namun, Moa tak bisa melihat pria satunya karena duduk membelakanginya.
"Mereka petinggi disini. Pasti ada banyak rahasia di tempat ini," Batin Moa namun tak sadar jika ada penjaga yang datang di belakangnya.
"Sedang apa kau?"
__ADS_1
Suara pria itu mengundang perhatian para pria di dalam sana. Moa berbalik menatap seorang pria pengawas di dalam yang menyelidik padanya.
"Ini area khusus. Apa kau tak melihat pemberitahuan di depan?" Sarkasnya menarik lengan Moa untuk pergi.
"Ada apa?" Sosok pria berkepala plontos tadi keluar.
Moa menoleh dan sesaat pria itu terpana akan kecantikan Moa yang memang punya auranya sendiri.
"Ouh, aku baru tahu salah satu anggotamu secantik ini!"
"Siapa?" Sahut pria bermata sipit tadi keluar. Seketika mereka saling pandang dan tersenyum mesum pada Moa.
"Lepaskan dia! Mungkin ada yang perlu dia sampaikan!" Ucap pria bermata sipit itu membuat Moa di lepaskan.
"Saya permisi, tuan!"
Pria pengawas tadi pergi dan tinggallah Moa yang masih tetap tenang walau sekarang ia ada di kandang musuh.
"Kau dari mana? Cantik!"
"Team patroli. Ada yang ingin-ku sampaikan pada bos besar!" Ucap Moa tegas tanpa ada wajah menggoda sama sekali.
Dua pria mesum itu saling pandang dan mempersilahkan Moa masuk. Saat melewati mereka, lirikan mata tajam Moa melihat dua tangan nakal ingin meremas bokongnya hingga Moa mempercepat langkah menghindari itu.
"Bos!" Berdiri di belakang sofa dimana pria yang menjadi bos besar disini memunggunginya.
"Bos! Ada wanita cantik ingin melapor!" Seru pria berkepala plontos itu menggoda bosnya.
"Bukankah sudah jelas jika yang berhak menemuiku hanya kalian berdua?" Suaranya agak familiar di telinga Moa yang mengingat-ingat sesuatu.
"Benar juga. Bos-kan tak pernah mau menunjukan ketampanannya," Gumam mereka mendekati Moa.
"Baiklah. Katakan apa yang ingin kau laporkan?" Tanya pria bermata sipit itu berubah tegas.
"Ini hanya dapat saya sampaikan pada bos besar!"
"Carlos! Dia terlalu berani," Desis pria bermata sipit itu pada rekannya Carlos si pria berkulit hitam.
"Saya serius!"
Tegas Moa dan kali ini benar-benar mengusik sosok di sofa itu. Suara Moa terdengar sangat akrab dan juga menggetarkan hatinya.
"Kami kaki tangannya. Tak ada siapapun yang boleh tahu tentang bos kami dan termasuk kau. Jika hanya bermain-main, pergilah keluar!!" Geram Carlos mengira Moa sama dengan para anggota wanita mereka yang ingin sekali melihat wajah bos besarnya.
"Yah, lagi pula aku juga tak kalah tampan dari bosku!" Timpal Mubai si pria bermata sipit hingga keduanya tertawa.
Moa geram dan emosi tapi sekuat tenaga ia tahan.
"Cepat katakan atau kau akan habis disini!" Sarkas Carlos kehilangan kesabaran.
"Polisi sedang mencari dokter Wenliang! Saya mendapat laporan jika mereka akan kesini!"
Ucapan Moa sontak membuat mereka terkejut. Ekspresi wajah Mubai dan Carlos berubah pucat menatap ke arah tuannya.
"Pergi!" Moa di seret keluar tapi Moa memanfaatkan itu dengan cepat mendorong mereka keluar dari ruangan lalu menutup pintu.
"Bos! Ini sangat penting. Jika polisi berhasil menemukan tempat ini maka semuanya akan hancur."
"Kau kesini!" Suara pria itu terdengar menahan emosi.
Moa segera mendekat dan berdiri di hadapan pria itu dengan lancang tapi Moa sigap mengeluarkan pistolnya dan membidik tepat di kening sosok itu.
"Dimana dokter Wen?"
.....
__ADS_1
Vote and like sayang