Impoten Husband

Impoten Husband
J..jangan rebut dia dariku!


__ADS_3

Rumah sakit besar di Shanghai. Baik Moa atau Zhen sudah kembali ke kota dengan perasaan campur aduk.


Tujuan mereka adalah di ruang medis. Dokter Corner tampak berbicara serius dengan beberapa team medis lain yang bersiaga di luar ruangan operasi sedangkan dokter Wen masih bekerja di dalam.


"Bagaimana dengan Noah?" Panik Moa datang mendekat bahkan wajahnya sudah tak bisa di katakan tenang.


Zhen yang ada di dekat Moa selalu berusaha menenagkan wanita itu agar tak drop.


"Kami tak bisa menjamin. Dokter Wen masih berusaha mempertahankan Noah dan berpacu dengan waktu. Kita hanya punya waktu 20 menit."


Mendengar itu kepala Moa terasa di hantam batu besar. Ia meremas rambutnya sendiri karena rasanya sudah tak mungkin.


"Moa!"


"B..bagaimana dengan jantungku? Bisa, pasti bisa-kan?" Tanya Moa tak bisa berpikir jernih membuat Zhen mengeram.


"Jangan asal bicara!!"


"Putraku di dalam sana dan dia butuh akuu!!" Keras Moa mendorong bahu Zhen karena rasa takutnya sudah melampaui batas.


"D..dokter! Kau bisa mengambil jantungku. Coba..coba periksa jantungku kembali. Ayo!"


"Ini mustahil. Lagi pula, pendonor jantung itu harus sudah tiada dan bukan orang bernyawa," Jawab dokter Corner merasa Moa terlalu gila.


"A..aku..aku bisa. Kau tak perlu mencemaskan yang lain. C..cukup..cukup selamatkan putraku dia.."


"Moa!" Sela Zhen membawa Moa kedalam pelukannya.


Tangis Moa pecah dan baru kali ini Zhen melihat sekaligus mendengar isak tangis wanita yang biasa selalu menunjukan taringnya.


"Z..Zhen hiks! Noaah!! Dia..dia akan meninggalkan aku!!"


"Jangan bicara seperti itu. Dia pasti akan selamat, aku sudah memerintahkan Jio dan Bastian pergi ke semua tempat mencari jantung untuk Noah."


Moa menggeleng. Waktunya hanya 20 menit dan mustahil bisa mendapatkan jantung manusia sesingkat itu.


"N..Noah! Dia tak bisa meninggalkan aku, hiks! Tak bisa!!"


"Tenanglah! Dia akan baik-baik saja," Gumam Zhen membawa Moa untuk duduk di kursi tunggu.


Dokter Corner paham bagaimana perasaan Moa karena selama ini Moa hidup sepenuhnya untuk Noah. Anak itu adalah jantungnya.


Pintu ruang operasi terbuka memperlihatkan dokter Wen yang memakai masker. Moa sigap bangkit berdiri dengan tatapan penuh harap.


"Putraku! Dia..dia baik-baik saja-kan? Iya, kan?"


Dokter Wen dan dokter Corner saling pandang membuat Moa semakin tak bisa mengendalikan dirinya.


"ADA APA DENGAN PUTRAKUU??? JANGAN DIAM SAJAA!!!" Histeris Moa mengguncang lengan dokter Wen yang sudah sering melihat banyak orang menggila akan pasien di dalam ruang operasi.


Zhen mengepalkan tangannya. Ia kira masalah ini akan selesai tapi tidak, ia tetap tak berguna.


"Nona! Tenanglah. Kita masih punya waktu 15 menit."


"N..Noah!!" Isak Moa melemah. Energinya tiba-tiba hilang bahkan untuk menopang tubuh saja Moa kesulitan jika tak di tahan Zhen.


Yah, selama ini ia berjuang menyokong hidup putranya sampai bisa ke tahap ini. Tapi, sekarang ia tak bisa berbuat apapun bahkan memberi kehidupan sehari saja pada putranya itu mustahil.


"A..aku..aku tak bisa. Aku..aku harus p..pergi. N..Noah butuh aku!" Racau Moa ingin masuk ke ruang operasi tapi Zhen langsung menahannya.


"Lepaaas!!! Aku ingin menemani putrakuu!!"


"Moa, tenanglah!"

__ADS_1


"AKU TAK BISAA!!" Histeris Moa mendorong Zhen hingga ia terduduk di lantai.


Ia tak tahu lagi bagaimana cara bernafas normal bahkan pikirannya hanya dihantui rasa takut akan kehilangan.


"D..dia..dia putraku, Zhen! D..dia..hidupku. Jangan..jangan rebut dia!" Gemetar Moa terlihat sangat kacau.


Sungguh, dada Zhen terasa di remas-remas bahkan ia bisa merasakan bagaimana sakit dan ketakutannya Moa memikirkan Noah.


"D..dia anakku! D..dia.."


"Dia juga anakku!" Tegas Zhen membuat kedua mata Moa yang mengigil berair beralih memandangnya dengan sorot kacau.


Zhen berjongkok memeggang kedua bahu Moa dengan tatapan tegas dan yakin.


"Kau istriku dan dia anakku. Aku berjanji akan melakukan yang terbaik untuk anak kita, hm? Kau harus tenang dan tunggu disini!" Zhen mengiring Moa untuk duduk di kursi tunggu dan berjongkok seraya menggenggam kedua tangan Moa yang sudah sedingin es.


"Ingat! Noah anak yang kuat dan dia putra kita. Dia kuat sepertimu."


Bibir Moa bergetar bahkan ia tak bisa menahan derasnya air mata yang keluar. Moa benar-benar tak bisa menyembunyikan lukanya yang begitu dalam.


Sakit, perih bercampur ketakutan.


"Aku akan pergi. Jangan melakukan hal yang membuatku ingin menghancurkan rumah sakit ini," Ucap Zhen melabuhkan kecupan ke bibir Moa lalu berdiri menatap tegas dua dokter itu.


"Berjuanglah disini. Aku akan mendapatkan jantung itu!"


"Baik, tuan!" Jawab dokter Wen memandang kepergian Zhen tapi, ia tak sengaja melihat Marco yang juga berpapasan dengan Zhen tapi Zhen tak ada waktu menyapa.


"Aku ke dalam!" Gumam dokter Wen kembali ke ruang operasi.


Dokter Corner diam. Ada rasa senang yang membuncah bisa bertemu dengan senior yang ia kagumi tapi heran kala pria itu seperti menghindar dari seseorang.


Melihat sosok Marco yang berjalan mendekati Moa, dokter Corner segera pergi ke dalam.


Dia seperti mayat hidup pucat, kosong tak berjiwa.


"Dia pasti selamat."


Moa hanya diam. Tak satu kata-pun yang keluar dari sela bibir pucatnya atau sekedar merespon membuat Marco terdiam beberapa saat.


"Dia satu-satunya yang ku miliki."


Tiba-tiba suara parau rendah Moa terdengar walau sesekali tercekat. Marco menoleh dengan tatapan sulit di baca tapi yang jelas, ia tertarik mendengar itu.


"Selama ini, usianya bergantung pada tangan dokter dan belas kasih tuhan."


Marco diam mendengarkan ucapan Moa dengan baik. Rasanya ia ingin membantah jika dokter itu sama sekali tak berguna tapi, lidahnya tercekat.


"S..sekarang dia di sana. A..aku tak tahu kapan aku bisa membawanya keluar dari tempat ini."


"Kau percaya pada pria itu?" Tanya Marco dan Moa tahu dia bicara tentang dokter Wen.


"Kau percaya?" Imbuhnya lagi dan Moa tersenyum getir samar.


"Apa aku ada pilihan?"


Seketika Marco diam. Moa mengusap kedua pipinya yang basah karena sekarang ia hanya bisa berharap.


"Ayahmu bukan malaikat tapi dia berusaha menjadi perantara tuhan. Aku sudah banyak bertemu para dokter dan mereka juga berjuang secara mental dan fisik mempertahankan hidup seseorang. T...termasuk putraku."


Marco tetap membisu. Rasa marah dan dendam yang selama ini ia pupuk bergetar mendengar kalimat Moa.


"H..hanya mereka yang memahami keluh kesahku. M..mereka berusaha memberi kehidupan putraku, p..pada Noah-ku," Gemetar Moa lalu memejamkan matanya yang memanas.

__ADS_1


Sedetik kemudian mulai terjadi keramaian di dalam ruang operasi. Moa dan Marco berdiri dala melihat beberapa team medis keluar dan berlari kecil pergi dengan wajah sangat panik.


"Detak jantungnya berhenti! Kita tak bisa menunggu lagi!"


"Tekan area nadinya!!"


Suara berkecamuk di dalam membuat Moa terduduk tak bernyawa. Marco mendekat ke pintu ruang operasi dan melihat dari cela benda itu bagaimana ketegangan di dalam sana.


"Tekan nadinya! Perhatikan monitor!!" Dokter Wen tampak berjuang keras mempertahankan Noah bahkan wajah putus asa dari semua team medis tak bisa mengugurkan semangatnya.


"Senior! Denyut nadinya menurun. Ini bahaya!"


"Kita..kita tak bisa."


Dokter Wen masih tetap berusaha bahkan terlihat berulang kali asistennya mengusap keringat yang berjatuhan.


Marco mengepalkan tangannya erat melihat bagaimana kerasnya pria tua yang selama ini ia kurung melawan maut orang lain.


"Jangan putus asaa!! Kalian jangan lengaah!!" Tegas dokter Wen karena wajah mereka memucat kala nadi Noah semakin melemah.


Waktu seakan terhenti untuk Marco. Dadanya seperti terasa di aduk-aduk bahkan matanya mulai merah membayangkan jika itu adiknya.


"Sialaan!!" Umpat Marco tak tahan berada disini hingga segera pergi.


Seraya berjalan menjauh, Marco melirik Moa yang sudah tak bisa di ajak berkomunikasi hingga Marco berpapasan dengan nyonya Ming yang datang dengan baby Zoe menuju ruang operasi di kawal penjaga khusus.


"Moa!!"


Nyonya Ming mendekati Moa dan memeluk wanita itu dengan baby Zoe yang turun dari gendongannya ikut memeluk kaki Moa.


"Dia akan baik-baik saja. Semua dokter ahli ada di dalam sana, nak!" Menenagkan Moa yang tak bisa lagi bersuara.


.....


Sementara Zhen. Ia benar-benar berusaha keras mencari jantung yang cocok dengan Noah ke seluruh rumah sakit di Shanghai bahkan Zhen nekat membuat sebuah pengumuman besar di media.


SIAPAPUN YANG BERSEDIA MENDONORKAN JANTUNG UNTUK ANAK USIA 7 TAHUN MAKA, 30% ASET PERUSAHAAN AKAN DI SERAHKAN.


Hal itu tentu sangat menggiurkan karena jangankan 30%, satu persen-pun mereka akan jadi kaya mendadak.


"Tuan! Mustahil kita bisa mendapatkannya. Apalagi, banyak kriteria jantung yang di minta. Jika orang bernyawa yang memberikan maka kita akan terkena sanksi pemerintah."


"Aku tak peduli. Dapatkan itu sesegera mungkin," Tekan Zhen pada asisten Jio.


Mereka ada di salah satu rumah sakit di kota ini dan akan terus mencari sampai mendapatkannya.


Asisten Jio mau tak mau pergi. Zhen mengusap wajahnya kasar memutar otak untuk berpikir keras.


"Shitt!! ****!!" Umpat Zhen meninju dinding beberapa kali.


Nafas Zhen memburu karena juga sangat cemas jika Noah sampai pergi. Ia akan sangat merasa tak berguna.


Dreett..


Ponsel Zhen berdering dan ada nomor asing di sana.


"Hm!" Gumam Zhen berusaha tenang.


Namun, eskpresi wajahnya berubah kala mendengar jawaban dari si penelpon.


...


Vote and like sayang..

__ADS_1


__ADS_2