Impoten Husband

Impoten Husband
Penangkapan Hupent


__ADS_3

Setelah mendapat panggilan dari Cellien tadi, tiba-tiba saja Zhen jadi diam. Ia bekerja tapi pikirannya merayap kemana-mana. Masalahnya, Cellien menyebutkan nama Zoe. Peri kecil yang teramat sangat ia sayangi.


Zhen masih di sofa. Tapi, ia lebih banyak melamun setelah memberi pesan pada asisten Jio untuk melaporkan kondisi Cellien di penjara sana.


Moa yang tadi menidurkan baby Zoe dan Noah mulai tak bisa memendam kebingungannya. Ia menyelimuti kedua anaknya yang sudah terlelap dengan posisi baby Zoe memeluk bonekanya tapi satu kaki tetap terangkat ke atas paha Noah.


"Ini sudah sore. Masih ada pekerjaan?" Tanya Moa duduk di samping Zhen yang tersadar.


"Anak-anak sudah tidur?" Menatap ke arah ranjang.


"Yah. Mereka lelah bermain."


Moa diam sejenak menatap layar laptop Zhen yang masih menyala. Ia merasakan jika setelah mengangkat panggilan beberapa jam lalu Zhen jadi banyak diam seperti biasanya ketika bermasalah.


"Ada apa?"


"Hm. Hanya masalah kecil," Jawab Zhen tapi pandangan Moa tak berkedip padanya pertanda dia tak percaya.


"Ada apa?"


Zhen menghela nafas. Ia tak ingin menyembunyikan apapun pada Moa karena ia sudah bertekad serius dengan pernikahan mereka.


"Zhen! Aku tak akan bertanya tiga kali."


"Tadi Cellien menelfonku dengan nomor asing," Ucap Zhen menyandarkan tubuhnya ke sofa seraya menatap wajah serius Moa.


"Dia mengganggumu?" Intonasi yang sangat misterius.


"Tidak. Tapi, dia seperti ketakutan dan menyuruhku membawa Zoe pergi."


Dahi Moa mengkerut. Langit akan runtuh dan bumi berguncang jika sampai Cellien berbuat baik pada baby Zoe. Ntah apalagi rencana licik bajingan satu itu.


"Apa perlu aku membunuhnya?" Desis Moa mengepal.


Zhen beralih menggenggam hangat tangan Moa yang mencengkram kuat pahanya sendiri.


"Dia sebelumnya tak pernah menghubungiku setelah di penjara. Tapi, setelah berbulan-bulan baru kali ini dia muncul dan tiba-tiba membahas Zoe."


"Apa memang ada yang ingin menyakiti, Zoe kita?"


Zhen menggeleng pelan. Ia masih mempertimbangkan semua ini menunggu laporan asisten Jio dulu. Dia tak boleh bertindak gegabah jika berhubungan dengan putrinya.


"Belum tahu. Aku tak bisa percaya pada omong kosongnya lagi."


"Jangan-jangan dia ingin membalas dendam atas semua yang kau lakukan padanya melalui baby Zoe!" Tebak Moa dan seketika wajah Zhen membeku kelam.


"Sampai kapanpun aku tak akan memberikan Zoe padanya!"


"Hm. Zoe masih punya ibu, coba saja macam-macam dengan putriku. akan-ku kebiri dia," Geram Moa membuat wajah Zhen kembali tenang.


Bibirnya tertarik tipis mendengar ucapan Moa yang menangkap senyum samar Zhen yang tak lagi semurung tadi.


"Kenapa senyum? Ada yang lucu?"

__ADS_1


Zhen menggeleng. Ia meletakan tangan Moa ke atas pahanya dan dengan lembut mengusap punggung tangan wanita itu.


"Aku serius. Lagi pula Zoe itu calon menantuku. Tak ada siapapun yang boleh menyakitinya."


"Hm. Mommy yang baik," Ucap Zhen mendapat cubitan di pahanya dari Moa karena kesal.


Zhen merengkuh leher Moa hingga tubuh wanita itu membungkuk tepat di bawah jepitan lengan Zhen yang mengacak-ngacak rambut Moa dengan gemas.


"Kauu.."


"Susts!! Anak-anak sedang  tidur," Bisik Zhen menjilati belakang telinga Moa yang kesal bukan main segera mengigit paha Zhen.


"Aa..sss," Desis Zhen pura-pura sakit padahal Moa tak begitu menggunakan kekuatannya.


"Cih. Drama!"


Kembali duduk dengan benar seraya merapikan rambutnya.


"Nanti malam aku ada pekerjaan di luar."


"Ikut!" Pinta Moa tapi Zhen menghadiahkannya usapan kacau di puncak kepala.


"Haiss..aku sudah merapikannya!!"


"Aparat kepolisian sudah menemukan keberadaan Hupent. Aku akan turun tangan sendiri untuk menangkapnya."


"Kau yakin?" Tanya Moa dan diangguki Zhen.


"Yah. Aku harus menyelesaikan satu persatu masalah ini. Membiarkan dia bebas di luar sana hanya akan menambah masalah baru."


"Pergilah! Serahkan anak-anak padaku."


"Tuan!" Suara asisten Jio datang ke ruangan. Pandangannya tertuju pada Moa tapi segera ia alihkan pada Zhen.


"Tuan!"


"Tunggu di luar!" Titah Zhen dan asisten Jio berbalik namun, sebelum itu Moa sempat menunjukan jari tengahnya pada asisten Jio yang kesal bukan main segera beranjak pergi.


"Babi!"


"Hm?" Berdiri seraya menutup laptopnya.


"Aku rasa asisten Jio itu mengidap kelainan."


"Maksudmu?" Tanya Zhen melepas jas di tubuhnya menatap Moa yang tampak mencurigai asisten Jio dengan penuh keyakinan.


"Dia menyukaimu."


Zhen menghela nafas. Ia menganggap ucapan Moa hanya sekedar luapan kekesalan terhadap pria itu.


"Sudahlah. Jio itu memang sangat berbeda. Apalagi, dia tak punya keluarga selain aku."


"Dia yatim piatu?" Tanya Moa agak tersentak.

__ADS_1


"Yah. Kedua orang tuanya meninggal saat usianya masih kecil. Selama ini dia yang mengurus keperluanku, jangan selalu bertengkar. Hm?"


Moa hanya diam menerima kecupan singkat di bibirnya oleh Zhen yang pergi keluar dari ruangan.


"Tapi dia itu sangat aneh dan menyebalkan. Posesifnya melebihi seorang wanita," Umpat Moa memilih bermain ponsel.


......


Zhen sudah berdiri di hadapan asisten Jio yang terlihat punya sesuatu yang begitu penting untuk di sampaikan.


"Katakan!"


"Tuan! Bawahan kita melaporkan soal keadaan Cellien di penjara. Wanita itu berulang kali memberontak dan mengatakan ingin bertemu nona kecil. Dia berteriak mengatakan jika nona kecil dalam bahaya besar dan menyuruh tuan membawanya pergi dari sini."


Zhen diam. Apa yang sebenarnya Cellien lakukan? Apa benar wanita itu sudah menyesal?


"Malam ini aku akan pergi ke Amerika! Kau pimpin anggota untuk menangkap Hupent."


"Tuan! Bisa saja Cellien hanya ingin mengganggu hidup tuan. Sebaiknya kita fokus pada Hupent lebih dulu," Ucap asisten Jio dan Zhen mempertimbangkan itu.


"Selama nona kecil di jaga oleh Moa pasti akam baik-baik saja. Ayo pergi, tuan!"


Alhasil Zhen mengurungkan niatnya untuk bertemu Cellien. Ia menempatkan penjagaan di rumah sakit ini agar tak ada hal buruk yang akan terjadi ketika ia tak ada disini.


"Kita bergerak terpisah dari aparat kepolisian. Pastikan kita lebih dulu membekuk Hupent."


"Saya mengerti, tuan!" Jawab asisten Jio mengikuti langkah lebar Zhen keluar dari rumah sakit.


Pakaian ganti Zhen sudah ada di mobil dan pistol rakitan pria itu juga sudah siap siaga. Rumah sakit ini lumayan ramai tapi tak ada yang berani mengganggu Zhen karena mereka sudah di beritahu oleh para penjaga disini sebelumnya.


"Tuan! Dia ada pemukiman pinggir kota. Bawahan kita sudah lebih dulu di sana mencegah komplotan lain ikut campur."


"Hm. Kejar sampai kepelosok manapun!" Tegas Zhen masuk ke mobilnya dengan asisten Jio mengemudi.


....


"Sialaan!!! Bagaimana dia bisa tahu tempat persembunyaian ku??" Geram tuan Hupent memukul meja.


Jendela kaca di depan memperlihatkan gelapnya situasi pemukiman yang hanya di pasang beberapa lampu tak cukup terang.


Kondisi alam juga tengah menangis lirih membuat tanah lembab dan dingin.


"Tidak. Dia pasti sudah mengirim bawahannya kesini. Aku harus melakukan sesuatu," Gumam Hupent memutar benaknya berpikir keras.


Tuan Hupent menghubungi seseorang dari ponselnya tapi nihil, nomor yang tak aktif seakan-akan menghilang sesaat.


"Tunggu saja. Jika sampai aku tertangkap, kau akan menerima akibatnya!" Geram tuan Hupent kembali menendang meja lalu pergi mengemasi koper uang yang tadi di antar pria kemaren.


Ia harus menyelamatkan uang-uang ini sebelum mereka menemukannya.


"Kau ingin menangkap ku, hm?! Tak semudah itu."


...

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2