
WARNING..
......
Sontak tubuh Moa meneggang hebat. Nafas tercekat di kerongkongan dengan mata tak berani berkedip sekalipun saat Zhen ternyata menyadari keberadaanya.
Pria gagah nan tampan itu masih berdiri di bawah guyuran shower menatapnya dengan datar seakan itu bukan hal yang mengejutkan.
"A..apa yang harus-ku lakukan?!" Batin Moa panik bukan main tapi wajahnya berusaha tenang.
Tatapan Zhen tak bisa ia hindari hingga dengan kaku Moa masuk ke kamar mandi seakan-akan hal yang tadi terjadi itu biasa saja. Santai dan tak masalah.
"Aku tadi ingin buang air kecil. Tak-ku sangka kau sedang mandi dan aku terkejut melihat kau sudah bisa berdiri," Ucap Moa berusaha senatural mungkin menyembunyikan kegugupannya.
Tapi, sangat di sayangkan Zhen sama sekali tak menggubris itu. Sorot mata elangnya semakin mengintimidasi Moa yang berani berpakaian semini itu di hadapan laki-laki.
Yah, mereka memang sudah menikah tapi hubungan itu tak bisa di katakan layak untuk saling mengekspos tubuh.
"Kau kekurangan pakaian?" Tanya Zhen terdengar dingin dengan shower berhenti mengeluarkan air.
Moa mematung melihat pakaian yang sekarang ia kenakan. Gaun malam berwarna abu yang tipis dan pendek tak bisa menutupi pangkal pahanya secara utuh.
Bahkan, daleman hitam Moa terlihat dengan porsi tubuh yang sangat seksi. Pria mana yang akan tahan dengan pemandangan seperti ini kecuali Zhen dan itupun tak akan berselang lama.
"Pergi ke kamarmu dan pakailah yang lebih tertutup!"
"Siapa kau mau mengaturku?" Tanya Moa memicingkan kedua netra emerald-nya hanya untuk mempertahankan harga diri.
Zhen masih diam membuang pandangan. Cara yang selalu ia lakukan untuk menghindari pikiran negatif.
"Tuan Zhen yang tak terhormat! Lagi pula aku ingin tidur. Apa perlu aku memakai jas hujan atau rompi anti peluru?!" Sinis Moa tapi Zhen tak meladeninya.
Kesal tak di tanggapi sama sekali oleh Zhen, Moa naik pitam segera berjalan dan berdiri di hadapan Zhen yang sontak terkejut dengan aksi berani Moa.
Tapi, itu hanya beberapa saat karena Zhen kembali memperlihatkan ketenangan.
"Keluar!" Suara tegas dengan pandangan teralihkan ke arah pintu kamar mandi.
Moa menyeringai tipis. Kedua tangannya terlipat di depan dada menaikan satu alis sinis melihat sikap munafik dan angkuh Zhen yang terlalu menjaga pandangannya.
"Jangan munafik jadi laki-laki. Bilang saja kau mau, apa susahnya?!"
"Kau tak tahu apapun," Pungkas Zhen masih tak memandang Moa.
"Apa yang tak ku tahu? Katakan! Apa karena kau pria lemah? Kaku? Tak bisa apa-apa dan.."
Moa terkejut saat pinggangnya tiba-tiba di tarik oleh lengan kekar Zhen hingga tubuh Moa langsung menubruk dada bidang dan kegagahan pria itu keras.
Kedua tangan Moa berada di dada basah keras Zhen. Jarak diantara mereka sangat tipis bahkan, Moa bisa merasakan dinginnya kulit pria ini.
"K..kau.."
"Jangan memancingku!" Tekan Zhen dengan sorot mata menakutkan. Bukan seperti psikopat tapi lebih pada monster kelamin yang di selimuti birahi.
Seketika sekujur tubuh Moa gemetar merinding. Dagu Zhen tepat ada di kening Moa karena memang Zhen lebih tinggi darinya.
"T..tidak. Aku tak boleh terlihat takut. Dia..dia akan semakin angkuh," Batin Moa berusaha mengendalikan dirinya.
Ntah sebesar apa keberanian Moa, ia mengadah hingga wajah mereka begitu dekat terbukti dengan hembusan nafas masing-masing terasa satu sama lain.
Bahkan, tetesan air yang menelusuri rahang tegas dan dagu Zhen jatuh tepat ke bibir seksi Moa yang ranum dan pink alami.
__ADS_1
"Kau terpancing?" Moa menaikan satu alisnya dengan wajah nakal yang lekat padanya.
Zhen merapatkan rahang kala kedua tangan lentik Moa yang tadi ada di dadanya mulai mengusap sensual menjelajahi dua tompel merah muda milik Zhen yang anti di peggang.
Keduanya masih saling menatap tapi kali ini Moa benar-benar hilang akal. Ia tak tahu resiko apa yang akan terjadi jika tangannya terus mengusap nakal spot itu lebih lama lagi.
"Kau sangat ahli!" Desis Zhen meremas pinggul Moa dengan satu tangan sedangkan tangan kirinya naik mengusap paha mulus Moa yang masih mengusap dada bidangnya sensual.
"Tentu. Aku sangat ahli menahlukan pria ANGKUH sepertimu."
"Kau akan menyesal," Gumam Zhen dengan pandangan mulai berkabut hasrat dan gairah.
"Kau tak bisa melakukan apapun," Desis Moa memancing jiwa jantan Zhen keluar.
Tanpa aba-aba sama sekali Zhen menyambar bibir Moa ganas bahkan Moa sempat tersentak karnanya. Tapi, itu tak berselang lama.
Ciuman Zhen benar-benar mendominasi seakan menunjukan jika ia bukan lelaki yang bisa di remehkan.
Seakan tak ingin kalah, Moa membalas tak kalah lihai. Kedua tangannya terangkat berkalung ke leher kokoh itu dengan mulut tak berhenti mendecap rasa manis bahkan berulang kali merasa gila dengan semua ini.
"Ehmm!!" Akhirnya geraman lemah Moa lolos kala kedua tangan Zhen meremas bagian belakangnya dengan raupan kedua tangan kekar besar itu.
Karena pergerakan kepala Zhen yang miring kanan kiri untuk cumbu bibir manis Moa tanpa sadar menyentuh sensor otomatis di dinding hingga benda itu kembali menyala.
Ciuman keduanya terlepas kala air dari shower meluncur bebas membasahi tubuh keduanya. Gaun malam yang Moa pakai seketika basah kuyup dan berubah transparan mencetak jelas lekukan tubuh dan daleman yang ia pakai.
Sungguh, Zhen terpaku kosong melihat dua gundukan sintal terbungkus bra hitam menempel erat ke dadanya. Mata Zhen gelap di penuhi birahi yang melambung tak karuan.
Putih mulus, padat dan menyesakkan sampai keluar dari hapitan bra. Apalagi, tetesan air di shower terus membasahinya membuat Zhen tak tahan.
"Lanjut?" Tanya Zhen menatap penuh damba Moa karena sudah kepalang tanggung.
"B..bukankah kau itu...t..tak bisa.."
Moa sedikit memundurkan tubuhnya untuk melihat ke bawah karena terhalang oleh dadanya tadi. Kedua tangan Zhen belum melepas bokong Moa yang kenyal dan padat membuat tangannya nyaman bermain di sana.
"Dia bangun?" Tanya Moa agak pucat melihat boxer hitam Zhen membengkak dan ukurannya benar-benar membuat Moa merinding.
Betapa besar dan kokohnya anak conda yang selama ini tidur nyaman di dalam sana. Pikir Moa jadi ngeri.
"Kau ingin mencoba?" Tawar Zhen benar-benar sudah dikuasai birahi. Ia jadi tak berpikir dua kali seperti biasanya.
"Kau yakin?" Tanya Moa beralih menatap ragu Zhen.
"Mungkin tak akan lama."
"Berapa lama bertahan?" Tanya Moa mulai menunjukan sisi polosnya.
"Kau akan tahu setelah mencobanya."
"Kauu.."
Moa tak bisa melengkapi kalimatnya karena Zhen sudah kembali membungkam mulutnya dengan ciuman. Tubuh mereka merapat bahkan kali ini sangat erat sampai Moa berjinjit kecil mengimbangi brutalnya Zhen menjelajahi rongga mulutnya.
"Ehm!" Lenguh Moa kala Zhen beralih menciumi leher jenjangnya.
Tak peduli akan air yang mengalir dan kondisi tubuhnya yang separuh lumpuh. Kedua kaki Zhen tak bergerak tapi kedua tangan pria itu yang berkeliaran kemana-mana.
"Z..Zhen!" Lirih Zhen terengah mencari cela untuk bernafas. Kedua tangan Moa naik meremas rambut basah harum Zhen yang asik menghisap lehernya hingga menyisakan tanda ganas beberapa kali.
Puas mencumbu leher wanita itu Zhen mengangkat kecil tubuh Moa agar lebih naik agar ia mudah menjangkau dua aset berharga itu.
__ADS_1
Dengan kedua tangan menahan pinggang seksi Moa, Zhen ingin mngeksekusi dua bola kehidupan itu namun tiba-tiba Moa menahan kepalanya.
"Kau.."
"Aku akan coba yang di bawah!" Ucap Moa sadar jika mereka ingin melihat kondisi anak conda di bawah sana.
Zhen yang masih ingin menikmati dua gudukan penuh itu merasa berat tapi tak bisa berkutik kala Moa sudah berjongkok di hadapanya.
"Kita lihat berapa lama adik kecil-mu akan bertahan."
Zhen menelan ludah berat menyandarkan kepalanya ke dinding dengan air masih mengalir. Kedua tangan Moa terulur menurunkan boxer Zhen hingga benda berukuran sepergelangan tangan dan panjang menantang itu sontak menyapa wajahnya yang merah.
"Siall! Ini sangat sempurna," Batin Moa kagum dan menelan ludahnya.
Ntahlah. Moa memang pecinta benda ini tapi selalu pilih-pilih. Untuk pertama kalinya melihat MILIK seseorang segagah ini tanpa ramuan apapun.
"Kau sanggup?" Tanya Zhen agak geli melihat reaksi Moa.
"T..tentu saja."
"Cepatlah. Dia tak akan lama bertahan!" Serak Zhen merasakan gelenjer aneh di bagian sana.
Moa menepis pikiran anehnya. Tujuannya sekarang ingin meneliti bukan berfantasi.
"Kecilkan suara. Zoe sedang tidur!"
"Hm," Gumam Zhen mengigit bibir bawahnya kala Moa sudah menggenggam anak conda nakal itu dengan kedua tangan.
Sumpah demi apapun Zhen merasa akan gila karena denyutan hebat itu. Ia berharap jika Moa akan berkaroke tapi, sekali peggang saja sudah membuat Zhen kelimpungan apalagi sampai bergerak dengan semestinya.
"K..kau tak bisa cepat?"
"Hitung waktunya. Jangan terlalu menikmati," Ucap Moa menipiskan bibir.
Untuk pertama-tama ia hanya memijat anak conda ini dengan kedua tangannya. Zhen merapatkan mulutnya agar tak bersuara dengan wajah tampan merah padam dan kedua mata terpejam menikmati senasi gila di bawah sana.
"S..Shitt!" Umpat Zhen dengan dada naik turun. Ia akui Moa memang pandai memijat anak conda itu sampai tubuhnya berulang kali menggelinjang.
Moa tersenyum. Ia masih beraktifitas di bawah sana hingga selang 40 detik Zhen mulai kehilangan ereksinya.
Anak conda yang tadi tegap menjulang gagah seketika perlahan melemas seakan kehilangan daya dan upaya untuk hidup.
"E...empat puluh detik!" Lirih Zhen dengan wajah merah padam sekaligus frustasi.
Moa tahu Zhen pasti merasakan sakit karena tak mencapai pelepasan. Karena kasihan melihat pria tampan ini uring-uringan akhirnya Moa kembali berdiri.
"Ciuman?" Tawar Moa dan tanpa menunggu lagi Zhen menyambar bibirnya.
Kali ini sangat buas seakan-akan Zhen melepaskan birahinya yang meluap-luap. Bisa di katakan Moa sangat pandai memuaskan laki-laki hanya dengan ciuman dari bibir seksinya.
"Daddy!"
Duarr..
Seketika suara itu langsung membuat kedua bola mata mereka terbuka lebar. Hasrat yang menggunung seketika pupus berganti keterkejutan hebat kala baby Zoe berdiri berpeggangan ke pintu menatap mereka polos.
"Moaaa!!" Teriak Zhen merutuki Moa yang selalu lupa mengunci pintu.
"M..maaf," Gagu Moa berbalik menutupi bagian bawah Zhen dengan tubuhnya.
.....
__ADS_1
Vote and like sayang..
Maaf ya.. Jarang balas komen kk-kk semua. Soalnya ndak sempat bukak novel langsung di aplikasi.. Tapi, nanti aku pasti baca kok kalau santai🥲🙏