
Perjalanan menuju pemukiman yang jauh dari keramaian dam hiruk pikuk kota itu berlangsung selama satu jam. Jalan yang terjal dan hutan lebat yang harus mereka lalui membuat perjalanan jadi terhambat tapi tetap saja mereka sudah sampai di pemukiman yang jadi tempat persembunyian Hupent.
Suasana sepi dan nuansa remang pemukiman ini membuat Zhen dan asisten Jio waspada. Keduanya berdiri di dekat mobil dengan balutan jaket, jeans dan topi serta pistol tergenggam erat di tangan masing-masing.
"Sepertinya sudah terjadi penyerangan disini," Gumam Zhen melihat hawa tempat ini begitu misterius seperti kedatangan mereka sudah di tunggu.
Rumah-rumah yang saling berdempet itu sunyi bak tak berpenghuni. Hanya ada beberapa lampu itu-pun dapat menyinari sekeliling bangunan itu saja.
"Tuan! Kita tak akan bisa menghindari baku tembak disini!" Mewaspadai seluruh area.
Tatapan Zhen juga menyapu satu persatu rumah penduduk di sekeliling mereka sampai fokusnya jatuh pada satu rumah kayu yang tak jauh darinya.
"Dimana anggota yang lain?"
"Mereka belum memberi kabar. Sinyal disini sangat buruk," Umpat asisten Jio tak mendapat pesan apapun dari bawahan mereka yang sudah di kirim ke sini sedari tadi.
Indra pendengaran Zhen menajam. Ia diam sejenak membiarkan angin dingin malam ini mengalir berhembus di telinganya lalu menatap ke arah rumah kayu itu lagi.
"Jio!" Panggil Zhen dengan pistol bersiap.
Asisten Jio diam memandang ke arah Zhen hingga keduanya saling lirik.
Sedetik kemudian Zhen dan asisten Jio bergerak ke balik mobil seraya menembak bersamaan ke arah rumah kayu yang Zhen pandang lama tadi.
Dua tembakan beruntun keluar dari masing-masing pistol menembus permukaan kayu lembab itu.
"Keluarlah pecundaang!!" Maki asisten Jio masih mengacungkan pistol ke rumah kayu itu.
Zhen diam penuh ketenangan. Netra hazel tajamnya melihat satu persatu pria berbadan kekar keluar dari balik rumah-rumah penduduk dengan memeggang senjata.
"Cih. Sudah mencari bantuan rupanya," Gumam asisten Jio memiringkan senyum sarkas.
"Selamat datang, putraku!"
Ekspresi Zhen langsung berubah dingin kala tuan Hupent keluar dari rumah kayu yang ia tembaki tadi. Yah, prediksi Zhen tak salah. Ia merasa ada yang mengawasi mereka sejak datang kesini.
"Sudah lama tidak bertemu dan aku sungguh tak menyangka kau sudah bisa berjalan dan mencari ku."
"Sudahi bualanmu!!! Aku muak mendengarnya," Ketus asisten Jio penuh kebencian yang tak bisa di jelaskan.
Tatapan pria paruh baya itu beralih padanya. Seringaian licik mekar seakan melupakan kegelisahannya beberapa waktu yang lalu.
"Anak yatim piatu sepertimu tahu apa, hm?"
"Kauu!!"
Zhen menahan bahu asisten Jio yang ingin menembak. Emosi dan perasaan sangat bisa di permainkan oleh pria tua ini.
"Jangan dengarkan perkataan orang yang akan mati. Tak ada gunanya."
"Baik, tuan!" Jawab asisten Jio lega karena ia tak gegabah.
Mendengar ucapan angkuh dan tak beradab Zhen tentu saja tawa tuan Hupent pecah. Mulut anak laki-lakinya ini memang sangat tajam seperti otaknya.
"Zhen putraku! Kau memang tak pernah puas sama sekali. Apa tak cukup merasakan lumpuh dan impoten sekaligus, hm? Ingin cacat lagi?" Sarkasnya begitu menohok.
__ADS_1
Yah, Zhen tahu jika kecelakaan itu di susun oleh pria bajingan ini tapi, ia masih menyelidiki siapa saja yang ikut campur dalam peristiwa kelam itu.
"Apa kau ingin lumpuh seumur hidup? Atau..kau ingin sekarat dan menyaksikan perusahaan Group Ming jatuh ke tanganku?"
"Jangan bermimpi. Kau terlalu berharap lebih," Desis Zhen masih dengan ketenagan yang sama tapi wajahnya tak bisa berbohong jika sosok ini memang sudah sangat ia benci.
"Pria sepertimu hanya hidup dalam rasa kasihan dan rasa jijik semua orang. Satupun tak ada yang akan kau dapatkan apalagi itu perusahaan keluarga Ming. Cih, kau terlalu BERKHAYAL," Imbuh Zhen memberi senyum penuh kemenangan.
Sontak saja kedua tangan tuan Hupent mengepal. Membunuh Zhen sekarang adalah tujuannya. Apalagi, anak buah Zhen yang ada di sekitar sini sudah di bereskan lebih dulu oleh para suruhan sekutunya di luar.
"Zhen! Sekarang tak terlambat bagimu untuk bekerja sama denganku menguasai keluarga Ming!" Bujuknya membuat rahang Zhen mengetat dan raut wajah semakin beku diantara kegelapan malam.
"Mereka hanya menjadikanmu pion untuk memajukan bisnis keluarga dan setelah kau tua nanti, mereka akan mencampakkan mu. Percayalah!!"
"Sepertimu?" Sambar Zhen dengan sorot mata membunuh.
"Tapi tidak. Kau tak pernah melakukan apapun kepada keluarga Ming selain membawa KEBURUKAN."
"ANAK SIALAN!!" Maki tuan Hupent tak tahan lagi dengan keangkuhan Zhen yang membuatnya muak.
"Bunuh merekaa!!! Jangan sisakan satu daging pun!!" Serunya pada para pria yang mengepung Zhen dan asisten Jio lalu dia masuk ke dalam rumah itu mengawasi dari dalam.
Sedetik kepergian tuan Hupent, mereka langsung menembak brutal ke arah mobil.
Zhen dan asisten Jio membungkuk dengan siaga tapi keduanya saling pandang memberi isyarat.
"Mereka sangat banyak dan kemungkinan masih ada yang bersembunyi. Usahakan jangan lakukan sekarang!"
"Mengerti!" Jawab asisten Jio menembak ke arah beberapa pria yang menyerbu mereka melindungi Zhen yang bergerak sangat cepat ke arah pohon besar di samping mobil.
Suara baku tembak itu tak menarik perhatian para penduduk. Ntah apa yang terjadi Zhen harus berhati-hati dengan kelicikan Hupent.
Kepalan tangan Zhen menguat. Matanya melirik bayangan seseorang yang mengacungkan pistol seraya berjalan ke arah pohon ini sementara peluru masih melesat ke arahnya.
Ketika bayangan itu semakin dekat, Zhen segera menarik lengan pria itu lalu menembak bagian kepalanya secepat kilat.
Darah menciprat jaketnya tapi Zhen tak peduli. Ia menjadikan tubuh pria itu tameng bergerak ke arah rumah yang berjarak 5 meter dari pohon ini.
"Bunuh dia!! Jangan sampai lepaas!!" Histeris tuan Hupent karena mulai gelisah saat Zhen berhasil membalikan situasi dalam sekejap.
Asisten Jio memanfaatkan lengahnya para suruhan Hupent itu dengan cepat melepaskan beberapa tembakan ke arah kepala mereka tanpa meleset sedikit-pun.
"Siaall! Mereka sama sekali tak bisa diandalkan," Gumam tuan Hupent panik. Hanya tinggal 5 suruhan yang bertahan.
Selang beberapa menit lagi Zhen akan mudah menangkapnya.
Tiba-tiba saja Hupent buntu otak. Ia mengacak rambutnya frustasi lalu mengeluarkan pistol dari dalam ransel uang yang ia kemas tadi.
"Jangan sebut namaku Hupent jika aku tak bisa menembak mu," Desis Hupent berdiri di sela pintu menunggu peluang.
Zhen terlihat sangat lihai bergerak diantara kegelapan dan menarik pelatuk penembus daging itu.
Satu persatu anak buahnya tumbang bahkan tak membuat luka apapun di tubuh Zhen maupun asisten Jio.
"Sialaan!!" Umpatnya dengan tangan gemetar memeggang pistol.
__ADS_1
Zhen berdiri diantara hamparan mayat para bawahannya bahkan tatapan pria itu sekarang mengarah padanya.
"Sudahi KEBUSUKAN-mu ini," Geram Zhen menembak ke sela pintu itu mengenai lengan tuan Hupent yang langsung melepaskan pistolnya.
Asisten Jio tak menyia-nyiakan kesempatan segera melesat masuk ke dalam rumah itu membuat Zhen terkejut.
"Jioo!! Jangan gegabah!!"
Tapi, ntah kenapa asisten Jio lebih emosi melihat Hupent dari pada Zhen seakan-akan niat membunuhnya sudah lama terpendam.
"Akhirnya aku bisa melenyapkan mu," Desis asisten Jio berapi-api mengarahkan pistolnya ke arah kepala tuan Hupent yang berdiri tepat di hadapannya.
Tapi, tawa tuan Hupent meledak kala melihat betapa bencinya asisten Jio padanya.
"Ayolah. Kau hanya asisten putraku tapi lagak-mu sudah seperti adiknya!"
"Pergilah kau ke neraka!" Geram asisten Jio meninju wajah tuan Hupent sampai terlempar keras ke lantai.
Zhen masuk dan terdiam melihat kemarahan asisten Jio yang baru ini ia lihat kehilangan kendalinya.
"Bajingan kau!!" Kembali menerkam tubuh pria itu dan bak kesetanan menghantam tubuh tuan Hupent dengan terjangan kakinya.
Tak puas hanya memukuli pria ini, asisten Jio segera mengangkat pistol ke arah kening tuan Hupent.
Namun, Zhen melihat jika ada senyum aneh di bibir tuan Hupent yang berdarah.
"Shitt!!" Umpat Zhen segera menarik bahu asisten Jio untuk segera keluar namun terlambat karena tuan Hupent sudah meraih kembali pistolnya.
"Pergilah kalian ke nerakaa!!"
Menembak sebanyak dua kali ke arah mereka.
....
Sementara di rumah sakit sana Moa benar-benar tak bisa tidur. Baru kali ini ia merasa gelisah dan tak tenang padahal jam sudah naik ke arah pukul 9 malam.
"Hupent itu sangat licik. Dia pria yang punya banyak cara untuk bertahan hidup," Gumam Moa duduk di sofa ruangan.
Noah dan baby Zoe sudah tidur walau tadi sempat terbangun karena lapar tapi Moa kembali menidurkan anak-anaknya.
Jika saja aku punya kebebasan seperti biasa. Aku benar-benar akan menyusul-mu.
Batin Moa berharap Zhen baik-baik saja. Moa bangkit kembali melihat baby Zoe dan Noah yang terlelap sangat nyenyak.
Baby Zoe memang tak suka memakai selimut hingga kakinya selalu naik ke atas paha Noah atau tidak perut sang kakak. Jadilah Moa selalu berjaga agar luka di dada putranya tetap aman.
"Tak akan-ku biarkan mereka melukai kalian walau nyawaku taruhannya. Zoe juga putriku sampai kapanpun akan seperti itu," Gumam Moa mengusap kepala baby Zoe yang sangat nyenyak memeluk boneka kelincinya.
Jujur Moa sempat gusar kala Zhen mendapat panggilan dari Cellien. Mengingat jika Cellien pernah mengisi relung hati Zhen sebelumnya Moa jadi gelisah dan sedikit takut.
"Dia pasti berusaha mendekati Zhen karena tak tahan hidup di penjara. Dia tahu Zhen sangat menyayangi Zoe dan itu karnanya dia menjadikan putri sendiri sebagai alasan."
Nafas Moa naik turun setiap membayangkan Cellien.
"Aku benar-benar ingin membunuhnya," Geram Moa dengan sorot mata tajam.
__ADS_1
.....
Vote and like sayang