Impoten Husband

Impoten Husband
Aku tak mengenalmu!


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu. Zhen menyibukkan diri dengan pekerjaannya bahkan ia jarang pulang cepat. Pagi-pagi sekali sudah pergi lalu pulang larut malam tanpa siapapun yang terjaga untuknya.


Awalnya Moa kira Zhen akan bisa melupakan semuanya seiring berjalannya waktu tapi tidak, perusahaan milik keluarga Pathros sudah dikabarkan gulung tikar bahkan semua asetnya terjual dengan harga rendah.


Kabar menggemparkan ini benar-benar menjadi berita hangat di kalangan media terutama kondisi mengenaskan dari Cellien yang mengalami kritis akibat penyiksaan di penjara kemaren.


Hal itu membuat Moa yang sekarang duduk di meja makan jadi diam. Zhen ada disana karena terpaksa sarapan pagi bersama atas permintaan Moa yang tak dapat ia tolak.


"Daddy!" Suara baby Zoe menyapa Zhen dengan gembira.


Baru kali ini baby Zoe bisa melihat wajah tampan datar Zhen setelah satu minggu yang lalu di tinggalkan.


"Daddy sakit?" Imbuhnya lagi dengan tatapan penuh kerinduan pada sosok hangat yang sudah tak ia jumpai lagi.


Moa melihat Zhen tak bergeming dan tetap fokus pada makananya. Duduk-pun Zhen memilih didekat Noah hanya diam melihat kejanggalan yang terjadi dalam beberapa hari ini.


"Mom!" Lirih Noah karena Moa ada di dekatnya dan ia berada di tengah-tengah orang dewasa ini.


"Kenapa? Ada yang tak nyaman?" Tanya Moa mengusap kepala Noah yang diam.


"Ada apa dengan uncle?" Bisiknya lirih takut di dengar Zhen yang acuh.


Moa menghela nafas melirik baby Zoe yang masih makan di atas meja tapi mata jernih itu menatap sendu ke arah Zhen yang sudah mengacuhkannya.


"Sudahlah. Habiskan makananmu cepat, hm?!"


Noah mengangguk meredam suasana aneh ini. Zhen sudah menyelesaikan makannya lalu berdiri.


"Aku pergi!" Pamitnya beralih mengecup bibir Moa lalu ingin pergi tapi tangan baby Zoe memeggang bahunya.


"Daddy!!" Panggil baby Zoe dengan mata penuh harap ingin di cium juga.


Namun, Zhen hanya memberinya sorot tajam yang penuh kebencian menepis tangan baby Zoe kasar hingga si kecil itu berkaca-kaca.


"D..daddy! D..daddy masih sakit?" Tanya-nya dengan suara bergetar.


Zhen tak menjawab. Ia ingin pergi tapi Moa menahan lengannya agar tetap disini.


"Jangan seperti ini!" Lirih Moa memelas tapi Zhen tak mau memandang matanya.


"Sudah untung aku mau makan semeja dengannya!"


"Zhen! Kau.."


"Daddy!" Panggil baby Zoe lagi dan kali ini ia menahan tangisnya dengan tangan yang tadi saling meremas terulur untung memeggang tangan Zhen hingga kesabaran pria itu habis.


"Enyahlah dari hadapanku!!"


Memukul meja itu sampai baby Zoe terpekik keras ketakutan langsung berhambur ke arah Moa yang sigap menggendong baby Zoe yang menangis lantang.


"Daddy, hiks!"


"Zhen!! Apa-apaan kau, haa??" Emosi Moa berdiri menggendong baby Zoe yang gemetar pucat.


Noah yang melihat Zhen seperti itu segera menjauh karena merasa asing. Noah memilih berdiri di samping Moa yang menatap tajam Zhen.

__ADS_1


"Sudah cukup kau berlaku kasar pada Zoee!!!"


"Kenapa?? Kau lebih membelanya?" Tanya Zhen tapi kedua tangannya mengepal mendengar suara tangis si kecil itu.


"Zhen! Aku pikir kau bisa tenang setelah beberapa hari tapi tidak, kau semakin aneh dan asing bagiku!"


"Asing? Bukankah sudah-ku katakan aku tak ingin melihat wajahnya tapi kau ingin dia tetap tinggal disini. Kalau bukan karena mu sudah lama aku hancurkan dia seperti keluarga ibunya yang bajingan ituu!!" Keras Zhen membuat tangis baby Zoe semakin melengking ketakutan.


Moa kehabisan kesabaran. Ia menurunkan baby Zoe yang langsung di ambil alih Noah.


"Bawa Zoe ke kamar!" Pinta Moa dan Noah mengangguk menarik tangan baby Zoe yang tak bergeming masih berharap Zhen akan memeluknya.


"D..daddy, hiks! Z..Zoe..Zoe calah, ya? Zoe nakal?" Tanya baby Zoe memberanikan diri kembali memeluk kaki Zhen yang semakin mengeratkan kepalan tangannya.


"Noah!" Panggil Moa tegas dan Noah segera menarik lengan baby Zoe yang memeluk erat kaki Zhen dengan lengan mungilnya.


"Daddy!! D..daddy maaf!"


"KAU BISA DIAM!!" Bentak Zhen menarik kakinya kasar hingga baby Zoe terjerumus ke lantai dengan kepala membentur kaki meja makan.


"Zoee!!" Pekik Moa syok dan Zhen terdiam melihat itu.


Baby Zoe menangis keras bersembunyi di pelukan Moa yang seketika mengepalkan tangannya erat melihat memar di pelipis Zoe.


"Noah! Kemasi barang-barangmu!"


"Kau ingin kemana?" Tanya Zhen tapi Moa tak menjawab.


Ia menggendong baby Zoe keluar ruang makan sementara Noah berlari ke kamar menyiapkan pakaian mereka.


"Kau ingin apa?"


Moa tak menjawab. Ia menghubungi nomor seseorang dan melihat itu sontak Zhen langsung merampas ponsel Moa yang emosi.


"Berikaan!!"


"Kau ingin pergi?" Geram Zhen dan Moa hilang kesabaran.


"Yaah!! Aku tak tahan dengan sikapmu yang seperti ini!!" Keras Moa menatap penuh amarah ke arah manik tajam Zhen yang meremas ponsel itu kuat dengan dada bergemuruh.


"Kau tak menerima Zoe sedangkan dia putriku. Jika disini tak ada tempat untuk ANAKKU maka, secara tak langsung kau juga mengusirku" Tekan Moa semakin sakit mendengar tangis baby Zoe setiap saat.


Walau baby Zoe bukan darah dagingnya tapi ia bukan orang yang berhati sempit. Jika sudah ia anggap anak, maka sampai kapanpun tetaplah anak baginya.


"Mom!" Noah sudah siap dengan ransel besar yang tadi ia seret ke arah pintu kamar Moa.


"Ayo pergi!" Ucap Moa tegas ingin berlalu tapi Zhen mencengkal lengannya.


"Kau tak bisa pergi kemanapun," Desis Zhen tapi Moa bukan wanita yang penurut.


"Bukan kau yang mengatur hidupku. Jika aku ingin pergi, siapapun di dunia ini tak akan mampu mencegahku."


"Kauu.."


Moa menyentak kasar tangannya dari genggaman Zhen yang tak bisa tenang.

__ADS_1


"Moa!! Kau tak bisa pergi kemanapun!! Kau akan tetap disini!!"


Moa tak peduli. Ia raih ransel di samping Noah lalu mengiring dua anak-anak yang bukan dari bagiannya itu keluar dari kamar.


"Moaa!!! Selangkah saja kau keluar, akan-ku pastikan kau tak akan bisa melihatnya lagi!!" Ancam Zhen tapi Moa menuli.


Matanya berair karena merasa Zhen sudah berbeda. Pria itu bukan lagi babi jantannya yang penuh kehangatan tapi diselimuti kebencian.


"Moaa!!" Mengejar Moa yang sudah mencapai pintu keluar tapi Zhen sigap menarik lengan Moa sampai baby Zoe terus memekik memeluk leher Moa erat.


Tatapan Zhen terlihat gusar dan kacau mencengkram lengan Moa kuat dengan rasa takut menyeruk ke seluruh batinnya.


"Kau tak bisa pergi!! Jika ada yang pergi, itu dia!! Dia yang.."


Plakkk..


Moa langsung menampar Zhen sampai Noah terkejut dan para bawahan yang tadi melihat dari sela pintu di luar sana juga syok dengan apa yang terjadi.


Suasana masih menegangkan tapi bercampur sendu akan tangisan baby Zoe yang benar-benar takut melihat semua ini.


"K..kau menamparku?" Lirih Zhen menatap kosong kedua sorot mata penuh kekecewaan Moa yang mendominasi.


"Aku sudah tak mengenalmu lagi!"


Degg..


Jantung Zhen seakan terlepas mendengar suara tegas bergetar Moa yang seakan menjadikannya sosok asing tak tersentuh.


Moa menyentak tangannya kasar dari cengkraman Zhen yang masih diam mematung tak bersuara atau memang tidak punya keberanian untuk itu.


Moa tak berkata-kata banyak. Ia berjalan kembali ke arah luar dengan dada terasa sakit merasakan tubuh baby Zoe lemah dan gemetar.


"Aku menikah dengan Zhen yang begitu mencintai putrinya dan dia pria yang sangat hangat. Tapi kau.."


Moa menjeda kalimatnya melirik Zhen dari ekor mata indah sendunya.


"Kau bukan Zhen yang-ku kenal!"


Lagi-lagi Zhen di buat tercekat dengan apa yang Moa katakan.


"Jangan temui aku karena kau orang asing dan jika Zhen kembali, suruh dia datang menjemput kami!" Imbuh Moa lalu memboyong anak-anaknya keluar dari sini.


Tatapan Zhen menyorot kepergian Moa dengan kacau dan berkabut emosi. Antara marah, benci dan tak sanggup memenuhi batinnya.


Perkataan wanita itu sukses memberi bekas di benak Zhen yang mulai mengusap wajahnya kasar lalu meninju pintu itu keras meluapkan emosinya.


Kenapa??? Kenapa aku tak bisa melupakan semua ini???


Batinnya merasa berantakan dengan sikapnya sendiri. Ia sudah berusaha melupakan tapi akhirnya Zhen jadi marah-marah tak jelas bahkan sering melampiaskan semua emosinya pada pekerjaan.


Bahkan, asisten Jio sudah lama Zhen pecat dan di blacklist dari perusahaan seakan ia benar-benar ingin menghancurkan setiap orang yang telah berani menusuknya dalam kegelapan.


Tapi ntah kenapa ia tak pernah puas dan tenang. Kebenciannya semakin terpupuk hingga berdamai dengan masa lalu terasa sulit dengan perasaan yang kacau balau.


...

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2