Impoten Husband

Impoten Husband
Tak pandang bulu


__ADS_3

Masih di restoran yang sama. Ming Yue tampak memaki-maki Zhen yang sudah ia siram dengan segelas air putih sampai jas dan wajah tampan itu basah namun tak mengurangi kadar ketampanannya.


Hanya saja, Zhen tak ingin main tangan pada Yue tapi pandangan dinginnya beradu dengan tuan Hupent yang menyeringai iblis padanya.


"Nyatanya kau begitu rakus!! Kenapa kau tak mati saja saat kecelakaan itu, haa??" Masih dengan nada kasar dan meninggi.


Dua pengawal yang ada di belakang Zhen jadi mematung. Mereka ingin sekali mengoyak mulut Ming Yue tapi Zhen belum memberi perintah seakan membiarkan sang adik memaki sesukanya.


"Kenapa kau diam?? Kau terlalu malu sampai tak bisa bicaraaa??"


"Yue! Jangan terlalu kasar. Dia kakakmu!" Ucap tuan Hupent bertopeng seorang ayah tapi wajahnya sangat puas melihat Zhen di maki habis-habisan oleh adiknya sendiri.


"Dad! Dia tak pantas di sebut kakak. Dia bahkan memusuhi kita yang jelas-jelas keluarganya."


"Jaga bicaramu, nona!" Geram dua pengawal di belakang Zhen yang hanya diam tapi kepalan tangannya menguat.


Moa yang sedari tadi menahan emosi menunggu Zhen bertindak. Tapi, tampaknya pria itu segan untuk melawan tuan Hupent di depan Ming Yue yang akan semakin membencinya.


"Kau bahkan merebut mommy dariku. Mommy ingin berpisah dari daddy dan itu semua karena hasutan darimu!!" Maki Ming Yue meraih piring bekas makanan di atas meja lalu di lemparnya ke arah Zhen.


Namun, siapa sangka piring itu langsung di tangkap oleh satu ayunan tangan lentik Moa yang sigap berdiri dengan wajah merah madam.


Zhen yang sadar jika Moa sudah mengobarkan hawa membunuhnya segera angkat bicara.


"Kau pergilah!" Pinta Zhen pada Ming Yue tapi bocah ingusan di mata Moa itu terlihat sangat keras kepala.


"Siapa lagi wanita ini? Apa ja**langmu?"


"YUEE!!" Bentak Zhen dengan keras membuat Ming Yue terkejut hampir ciut.


Tuan Hupent menatap Moa dengan penuh selidik. Ia tak begitu mengenal Moa tapi, menurut laporan anggotanya ada wanita buas mendampingi Zhen kemanapun dan itu pasti sosok cantik ini.


Merasa Ming Yue bukan tandingan Moa, tuan Hupent segera mengajak putrinya pergi.


"Yue! Tak ada gunanya memaki mereka yang tak pantas kau temui. Ayo pergi!"


"Tidak, dad! Aku tak ingin membuat dia semakin melunjak," Bantah Ming Yue mencari mati.


Moa semakin mendidih. Sudah lama ia tak memukul dan menguliti manusia dan sekarang jiwa pembunuh itu benar-benar menguasai pandangannya.


"Yue! Ayo pergi!"


"Dad! Pria cacat tak tahu diri ini harus di beri pelajaran. Dia.."


Moa langsung menghantamkan piring di tangannya ke wajah Ming Yue yang langsung membuat mereka terkejut.

__ADS_1


"Yuee!!" Panik tuan Hupent kala Ming Yue tersungkur ke lantai dengan wajah di penuhi sisa makanan dan hidungnya berdarah.


Melihat keadaan adiknya begitu menyedihkan, Zhen langsung mencengkram tangan Moa dengan emosi.


"Jangan menyakitinya!!"


Moa tak peduli. Wajah penuh amarah bahkan sangat mendidih panas itu tak beralih sedikitpun dari Ming Yue yang berdiri.


"Ja**lang sialaan!!" Maki Ming Yue mengambil garpu di meja samping dan bersiap ingin menusuk Moa yang lebih dulu menangkap pergelangan tangannya.


Dalam waktu singkat Moa memutar pergelangan tangan Ming Yue yang memekik hebat karena persendiannya bergeser kuat menjatuhkan garpu yang langsung berpindah ke tangan Moa.


"Lepaskan putrikuu!!" Tuan Hupent ingin menyerang Moa tapi ayunan kaki jenjang itu langsung menerjang perutnya.


Zhen yang tak bisa tenang melihat adiknya kesakitan segera ingin menarik Moa tapi sayang, Moa tengah tak terkendali menyeret Ming Yue ke arah kamar mandi restoran.


"L..lepass!! Lepaskan tanganku!!"


Moa diam tapi aura wajahnya benar-benar menakutkan. Para koki dan pelayan yang melihat itu segera menciut tak berani menegur aksi brutal Moa.


Setibanya di kamar mandi, Moa menutup pembuangan wastafel dengan tangan beralih mencengkram rambut Ming Yue sampai kepala gadis itu mendongak.


"K..kau..kau ingin apa?"


"Air panas lebih baik untuk gadis INGUSAN sepertimu!" Desis Moa langsung membenamkan wajah Ming Yue ke wastafel yang terisi penuh.


"Emmm!!!" Memukul-mukul sisi wastafel tapi Moa tak kasihan sama sekali.


Amarahnya terlalu mendominasi sampai tak lagi berpikir dua kali untuk membunuh sialan ini.


Berani kau memaki suamiku!! Hanya aku yang bisa memaki dan menghinanya dan siapapun tak LAYAK sama sekali!!


Batin Moa membenamkan Ming Yue lebih dalam. Garpu yang ia peggang bersiap menggorok leher gadis itu tapi suara Zhen menggelegar ke arahnya.


"MOAA!!!"


Zhen sudah mendidih di depan pintu kamar mandi melihat adiknya akan tewas jika tak di lepaskan oleh belut betina ini.


"Moaa!! Lepaskan!"


Moa tetap diam. Tapi, saat melihat pandangan Zhen semakin dingin akhirnya Moa menarik kepala Ming Yue yang ia dorong hingga jatuh tepat di bawah kaki Zhen.


"Yue!" Cemas Zhen melihat Ming Yue terbatuk-batuk bak kesetanan mengisi rongga dadanya kembali bahkan wajah cantik itu merah bak baru keluar dari air rebusan.


"S...sesak uhukk.."

__ADS_1


"Yuee!!" Tuan Hupent baru datang segera menarik Ming Yue menjahui Moa.


Ia benar-benar tak menyangka Moa seberani ini bahkan tak ada takut-takutnya sama sekali menyentuh penerus keluarga Ming.


"Wanita gilaa!! Berani kau menyentuh putriku!!"


"Kenapa aku harus tak berani?" Tanya Moa dengan intonasi menakutkan.


Dua pengawal yang melihat itu dari belakang kursi Zhen benar-benar puas melihat kondisi Ming Yue sekarat.


"Aku tak peduli baik dia ratu kerajaan inggris atau dewi yunani sekalipun tapi, di hadapanku dia tetap gadis INGUSAN yang tak tahu diri!!"


"Lihat!! Lihat apa yang dia lakukan pada adikmu dan kau diam saja. Apa kau memang tak menyayangi Yue?" Provokasi tuan Hupent pada Zhen yang diam beralih menatap Ming Yue yang terlihat menyedihkan.


"Kau memang kakak yang tak bisa di andalkan!"


"Pengemis sialan!! Aku akan menghabisimu!!" Geram Moa ingin melesat ke arah tuan Hupent tapi Zhen dengan cepat menahan lengannya.


Tuan Hupent lega dan buru-buru membawa Ming Yue pergi sebelum nyawa mereka lenyap oleh monster itu.


"Lepass!! Aku ingin merobek mulut pengemis sialan ituu!!"


"CUKUUP!!" Suara Zhen meninggi hingga membuat Moa terdiam.


Keduanya bersitatap dengan marah tapi Zhen lebih dari itu.


"Aku tak menyuruhmu melukai adikku!" Geram Zhen meremas pergelangan tangan Moa kuat sampai lengan wanita itu memucat.


"Kau tak bisa menyakitinya!!"


"Kenapa tak bisa?" Tanya Moa menyentak tangannya kasar dari cengkraman Zhen.


Tatapan sangat tak terima dan bahkan Moa membuktikan jika ia hidup bebas dan bergerak sesuai keinginannya.


"Aku memukulnya atas keinginanku sendiri. Terserah kau ingin memusuhiku tapi jika itu terjadi di hadapanku maka aku tak akan segan MEMBUNUH adikmu," Tekan Moa dengan wajah serius tak main-main.


"Dan lagi. Aku tak peduli jika dia ingin MELUDAHI wajahmu atau MENGINJAK kepalamu tapi, ..."


Moa menjeda kalimatnya dengan rahang mengetat erat.


"Jangan sampai terlihat oleh mataku!" Imbuh Moa lalu melenggang pergi.


Zhen terdiam dengan ucapan Moa barusan. Yah, ia marah dengan perlakuan Moa pada Yue yang selama ini Zhen sangat hindari bertemu agar tak bertengkar tapi, Zhen sadar jika ia tak bisa menyalahkan Moa karena sedari awal nyonya Ming memang sudah mempercayakannya pada Moa.


....

__ADS_1


Vote and like sayang..


__ADS_2