
Siang ini Moa dan Zhen kembali ke rumah sakit untuk menjenguk Noah. Untuk pekerjaan, Zhen memilih untuk bekerja dari rumah sakit karena belum mau menduduki kursi presdir yang sudah sering ia tinggalkan demi bergabung dengan keluarga kecil mereka.
Lagi pula, asisten Jio sangat bisa diandalkan. Dalam kondisi seperti ini Zhen ingin lebih banyak menghabiskan waktu bersama Moa dan dua anak mereka,begitulah pikir Zhen.
"Tebak mommy bawa apa?" Ucap Moa menyembunyikan dua paper-bag di belakang punggung.
Matanya menatap pada Noah dan baby Zoe yang ada di atas ranjang.
"Apa mom?"
"Tebak! Jika tidak benar, jangan harap bisa mendapatkannya," Jawab Moa tersenyum perhitungan.
Noah menghela nafas akan tingkah kekanak-kanakan Moa yang memang selalu begini dari dulu ketika bersama orang tersayang baginya.
"Makanan?"
"No!" Menggeleng dengan wajah serius.
"M..akanan!" Tebak baby Zoe lagi mengikuti ucapan Noah tadi.
Moa gemas dengan putri kecilnya ini hingga mencium pipi gembul si cantik itu dengan penuh penekanan membuat baby Zoe tertawa girang.
"Singaa!!"
"Baiklah. Isinya adalah.."
Moa menunjukan dua paper-bagnya dengan semangat memberikan satu warna pink untuk baby Zoe dan warna coklat lembut untuk Noah.
"Buka!"
Noah membuka paper-bag itu begitu juga baby Zoe hingga mata Noah seketika membelo malas melihat kotak makanan yang masih hangat.
"Mom! Ini makanan," Dengusnya sedikit kesal.
Moa menunjukan senyum tanpa rasa bersalah.
"Itu mommy yang buat. Cobalah, sesuai resep dokter, bukan?"
"Benarkah?" Tanya Noah berbinar cerah.
Moa mengangguk mengusap kepala Noah yang sangat bersemangat. Sementara baby Zoe justru mengeluarkan satu boneka kelinci merah muda yang lebih kecil dari tubuhnya tapi nyaman di peluk.
"Suka?" Tanya Moa pada baby Zoe yang memeluk boneka itu erat tampak senang.
"Kelinci!"
"Emm..pintar. Besok kita berburu kelinci. Aku akan ajarkan cara mengoyak telinganya dengan benar."
"Mom!" Tegur Noah jadi semakin mengikuti sifat Zhen yang selalu menegur ucapan psiko itu.
Moa hanya tersenyum. Ia duduk di tepi ranjang membuka tempat makanan itu. Ada nasi, wortel yang diukir jadi bentuk kepala singa dengan tambahan tomat dan sayuran yang lengkap dengan kuahnya.
"Aku tak yakin mommy yang buat," Curiga Noah karena semuanya tertata rapi dan terlihat lezat.
"Kau meragukan kemampuan memasak? Mommy!"
"Sedikit."
Akhirnya Moa pasrah. Ia mengambil sendok dan mulai menyuapi Noah dan baby Zoe secara bergantian.
"Uncle tampanmu yang buat!"
"Benarkah?" Berbinar semakin mengunyah lahap.
"Yah. Tapi, timun ini mommy yang mengukirnya. Cantik-kan?" Ucap Moa tak mau kalah menunjukan timun berpotongan bulat tanpa seni sama sekali.
Terlihat jelas si pembuat memang tak punya keahlian dalam hal ini.
Namun, Noah dan baby Zoe terlihat lahap memakannya. Mereka bercanda hingga tawanya sampai keluar ruangan terdengar oleh Zhen dan nyonya Ming yang sedang duduk bicara.
"Mommy hanya khawatir jika Hupent akan datang, nak!" Nyonya Ming memandangi pintu ruang rawat itu.
Wajah Zhen tetap tenang seakan ia tak akan mundur dengan pria itu.
"Mommy tenang saja. Dia tak akan bisa menyentuh anak-anak dan istriku!"
"Mommy tahu itu tapi, ntah kenapa perasaan mommy tak enak, Zhen!" Mengungkapkan kekhawatirannya.
Zhen menghela nafas ringan. Tak akan ia biarkan siapapun mengacaukan kebahagiaan keluarga mereka saat ini.
"Mom! Apapun yang terjadi aku tetap akan melindungi kalian. Zoe masih kecil dan Noah butuh perawatan. Mereka prioritasku."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu. Perhatikan juga dirimu, hm?"
Zhen mengangguk. Ia juga akan terus memantau Hupent sampai semuanya bisa terungkap jelas.
"Mom!"
"Yah? Bagaimana hubunganmu dan Moa?" Tanya nyonya Ming pura-pura tak tahu.
Melihat leher Zhen yang dipenuhi bekas ciuman tentu ia tahu bagaimana situasi saat itu.
Dan yah, wajah Zhen sedikit menunjukan rona malu. Bibir sensualnya menipis dengan aura senang terpancar jelas.
"Baik. Mom!"
"Jika nanti kondisi sudah membaik pergilah honeymoon. Kalian perlu liburan," Ucap nyonya Ming menepuk-nepuk bahu kokoh Zhen yang di baluti stelan jas yang gagah di tubuhnya.
Zhen hanya mengangguk halus membiarkan nyonya Ming pergi ke dalam ruang rawat Noah. Bayangan pertempuran mereka semalam dan pagi tadi membuat Zhen ingin mengulangnya kembali.
"Kenapa senyam-senyum?" Suara ketus Moa bersandar ke ambang pintu dengan mata menyipit.
Zhen merubah wajahnya datar dengan kaki bertopang angkuh bahkan ia selalu mendominasi dimanapun.
"Apa yang kau pikirkan?" Penuh selidik.
"Yang jelas bukan tentangmu." Dengan seringaian tipis menggoda Moa.
Wanita cantik berambut blonde itu berjalan duduk di samping Zhen. Ia agak kesusahan karena bagian bawahnya masih terasa kurang nyaman.
"Memikirkan lintah haus belaian itu?" Tebak Moa bersedekap dada.
Dahi mulus Zhen mengkerut. Lintah haus belaian? Spesies apalagi itu? Sepertinya belum ditemukan Ilmuan.
"Presdir! Saya tak mengerti bagian ini. Bisa tolong jelaskan?" Pinta Moa mengcosplay Fuyen wanita di rapat hari itu.
Suara di buat manja serak-serak basah dan membusungkan dadanya ke arah Zhen yang mengigit bibir bawahnya gemas melihat tingkah Moa yang sedang cemburu.
"Kau begitu mendalami perannya."
"Cih. Peran apa?! Dia bahkan tak layak sama sekali," Jengkel Moa kembali ke mode galaknya.
Zhen menatap penuh cinta Moa yang cemberut. Rambutnya terurai jatuh dengan memakai baju rajut berleher panjang menutupi tanda keperkasaan sang suami.
"Tapi, terimakasih!" Gumam Moa dengan ekspresi serius.
"Untuk?" Seraya menyisir rambut Moa dengan jarinya membuat wanita itu menoleh.
"Semuanya!"
Keduanya saling tatap intens. Seakan terpikat oleh dua manik emerald Moa yang indah tentu Zhen perlahan mendekatkan wajahnya ingin mencium bibir seksi Moa.
Saat keduanya ingin mencumbu tiba-tiba saja seseorang datang menganggu.
"Tuan!"
Wajah Zhen langsung berubah beku melempar sorot tajam pada Bastian yang segera menunduk.
"Maaf, tuan! Saya akan kembali lagi nanti."
"Tidak perlu," Cegat Moa paham jika pasti ada yang ingin Bastian katakan pada Zhen dan itu penting.
"Bicaralah! Aku akan lihat anak-anak dulu."
Zhen hanya diam dengan wajah dongkol melepaskan Moa kembali ke ruang rawat Noah.
"Katakan!" Kembali ke posisi awal yang berkuasa.
"Tuan! Bawahan yang mengawasi keluarga Pathros melaporkan tentang apa yang terjadi pada keluarga itu baru-baru ini."
"Ada pergerakan?" Tanya Zhen serius.
"Beberapa jam yang lalu perusahaan keluarga Pathros menjual Remayon Disney salah satu aset perusahaan mereka dengan harga rendah. Kemungkinan mereka sangat butuh uang hingga menjual beberapa aset yang dulu mereka pertahankan, Tuan!"
Zhen terdiam cukup lama. Remayon Disney adalah salah satu tempat wahana besar yang dimiliki perusahaan keluarga Pathros. Tempat itu selalu menarik investor bahkan menjamin keuntungan besar yang di dapat.
Jika sampai seperti ini artinya ada masalah besar yang tengah terjadi.
"Apa berhubungan dengan biaya rumah sakit dan ada hutang lain?" Tanya Zhen menyelidik.
"Sepertinya tidak, tuan! Biaya rumah sakit tuan Dario tak mungkin sampai menjual aset besar mereka. Saya rasa, ada sesuatu yang mereka sembunyikan."
"Terus selidiki itu semua. Jangan ada yang terlewatkan!" Titah Zhen dan Bastian mengangguk paham segera pergi.
__ADS_1
Zhen diam mencerna semua ini. Kerajaan bisnis keluarga Pathros termasuk besar dan apa kebutuhan yang membuat mereka sampai segila ini?
"Daddy!!" Suara cempreng baby Zoe memanggil Zhen yang tadi melamun.
Si kecil itu berdiri di depan pintu dengan senyum merekah tengah memeluk boneka kelinci pemberian Moa.
"Daddy! Singa!" Berlari memeluk kaki Zhen yang tahu kebiasaan sang anak.
"Singa memberi ini?"
"Iya. Kelinci," Jawabnya tampak sangat menyukai boneka itu.
Zhen mengangkat tubuh mungil baby Zoe ke gendongannya lalu membawa anak itu masuk kedalam ruangan.
Pandangan Zhen tertuju pada Moa yang sedang memulai perang dengan Noah. Yah, wanita itu kembali mengcosplay jadi ibu mertua sekaligus mommy yang tak sabar menimang cucu.
"Ingat! Pastikan calon menantu mommy selalu terjaga. Jangan biarkan dia bertemu banyak lelaki karena nanti kau.."
Noah membekap mulut Moa lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sampai ke puncak kepala pertanda malas.
"Aku tidur!"
"Heyy!! Dengarkan mommy yang bicara untuk masa depanmu!"
Noah menutup kedua telinganya rapat-rapat membuat mereka semua menertawakan Moa yang kesal bukan main.
"Awas saja nanti!" Rutuk Moa menarik selimut Noah sampai ke dada agar anak itu tak sesak.
Nyonya Ming yang duduk di sofa hanya menggeleng saja dengan tabiat wanita itu.
"Zhen! Kau tak ke perusahaan?"
"Aku bekerja dari sini," Jawab Zhen melirik mommy-nya yang mengangguk.
"Bekerjalah. Biarkan anak-anak mommy yang urus."
"Aku sudah disini dan akan menjaga mereka. Istirahatlah!" Sambar Moa masih belum memanggil nyonya Ming dengan sebutan mommy karena ia tak biasa dan canggung.
Zhen tahu itu tapi ia tak ingin memaksakan apapun pada Moa. Wanita itu bukan tipe yang bisa di tekan terus.
"Kau yakin?"
"Iya. Aku akan mengurusnya," Sanggup Moa lalu memandang Zhen yang tak ikut campur dengan interaksi mereka.
Nyonya Ming bangkit dengan wajah tampak lebih bahagia dari biasanya.
"Grandma pulang ya, sayang! Jangan merepotkan ibumu. Hm?" Pamitnya pada Noah dan baby Zoe yang mengangguk.
Nyonya Ming mengusap kepala Noah dan baby Zoe bergantian lalu pergi di jaga pengawal.
"Kau bekerjalah!"
"Jaga aku juga. Siapa tahu ada pengganggu seperti rapat kemaren?!" Sindir Zhen mengedipkan satu matanya pada Moa yang bersemu memandangi Zhen tengah duduk di sofa.
Zhen mengambil laptop-nya di atas meja sofa yang tadi sempat ia bawa ke sini setelah memasak di dapur perusahaan.
Wajahnya kembali serius melihat layar benda itu sementara Moa menemani dua anaknya. Sesekali Zhen menimpali candaan Moa lalu kembali fokus pada pekerjaan yang sudah menanti.
Drett..
Ponsel Zhen berdering. Tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya Zhen mengangkat panggilan itu.
"Hm."
"Zhen!! Zhen tolong aku! A..aku mohon!" Isak tangis yang familiar di telinganya.
Zhen terdiam mendengar suara ketakutan seorang wanita dan mengigil hebat.
"T..tolong! Tolong bawa Zoe pergi! Bawa dia pergi cepat!!"
"Apa maksudmu?" Tanya Zhen dengan suara dingin membeku.
"A..aku..aku akan di.."
Panggilan itu terputus. Zhen melihat nomor asing yang masuk dengan tatapan begitu serius dan mencerna semua ini.
"Kenapa Cellien menelfonku?" Batin Zhen berpikir keras sampai tak sadar jika Moa melihat perubahan raut wajahnya.
...
Vote and like sayang
__ADS_1