Impoten Husband

Impoten Husband
Hanya ingin mommy


__ADS_3

Langkah Moa begitu cepat turun dari mobilnya dan langsung memasuki rumah sakit yang berbeda dari tempat Noah di rawat.


Rasa khawatir itu jelas tergambar di wajah Moa sampai ia menerobos keramaian para manusia di lantai bawah lalu pergi ke resepsionis.


"Nona! Ada yang bisa di bantu?" Tanya resepsionis wanita yang seumuran dengan Moa tapi tentu kecantikan Moa terlalu langka untuk di saingi.


"Pasien bernama Ebner. Dimana?"


"Sebentar, nona!"


Wanita itu memeriksa nama yang Moa sebutkan. Tak berselang lama ia menemukan ruangan rawat pria itu.


"Di lantai dua block A ruangan 7. Nona!"


"Terimakasih."


Moa segera naik ke lift menuju lantai dua. Ada rasa marah sekaligus bersalah di hatinya kala Ebner mengalami kecelakaan dan ia tak bisa menemani pria itu.


"Seharusnya aku beritahu dia sebelum aku menikah dengan Babi itu," Gumam Moa merutuki dirinya.


Saat pintu lift terbuka, Moa bergegas pergi ke block A dan mencari ruangan rawat Ebner. Kala sudah menemukannya Moa segera masuk.


"Ebner!" Panggil Moa dengan tatapan langsung tertuju pada Ebner yang terbaring lemah di ranjang rawat dengan kening dan satu kaki di perban.


"Moa!"


"Astaga! Kau ingin cepat tiada, ha?!" Ketus Moa berdiri di samping ranjang.


Wajah Ebner tampak sedikit pucat dan tak sekuat yang biasa. Moa jelas khawatir karena tak biasanya Ebner begitu ceroboh.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau lalai berkendara?"


"Saat di jalan kemaren kepalaku pusing dan tak sengaja menabrak pembatas jalan."


"Kau ini memang sangat ceroboh. Masih untung kau tak tewas di sana!" Marah Moa membuat bibir Ebner menipis.


Ada rasa senang yang teramat kala melihat kedatangan Moa apalagi ocehan kekhawatiran wanita itu. Dadanya yang sesak dan pikiran kacau yang semula menghantui Ebner berganti dengan taburan kebahagiaan.


"Sekarang, bagaimana? Apa kakimu bermasalah?"


"Satu kakiku mengalami keretakan. Tapi, aku baik-baik saja," Jawab Ebner membuat wajah Moa lega.


"Syukurlah! Aku tak ingin kau jadi Noah yang harus di rawat di rumah sakit terlalu lama."


"Kau datang sendiri?" Tanya Ebner karena ingin tahu bagaimana keadaan hubungan Moa dan Zhen.


"Yah. Kau ingin aku datang dengan siapa?" Tanya Moa duduk di tepi ranjang seraya meraih buah jeruk yang ada di meja nakas.


Ebner terdiam dengan ekspresi wajah tak bersahabat tapi Moa tak menyadari hal itu.


"Suamimu."


"Zhen sedang ada urusan. Saat kau menelfon tadi aku langsung ke sini," Jawab Moa seakan tak menangkap ketidaksukaan Ebner saat ia menyebut nama itu.


Setelah mengupas penuh jeruknya, Moa membelah menjadi dua bagian lalu memberikannya ke tangan Ebner yang memakannya dengan senang hati.


"Oh yah. Apa kata dokter? Kau akan di rawat berapa lama?"


"Mungkin satu minggu. Kau bisa menemaniku?" Tanya Ebner penuh harap.


Moa terdiam. Ia yang tadi mengunyah satu potong jeruk jadi agak ragu untuk mengatakan hal ini.


"Disini sepi. Aku hanya bertemu dokter dan suster setiap hari."


"Ebner! Aku akan pergi malam ini."


Ucapan Moa sejenak membuat keheningan. Ebner diam dengan ekspresi bingung sekaligus heran dengan perkataan Moa.


"Maksudmu?"


"Zhen sudah menemukan informasi soal dokter itu. Kami akan ke sana untuk memeriksa secara langsung," Jawab Moa membuat hati Ebner tak tenang.


"Aku akan ikut dan.."

__ADS_1


"Ebner! Kau masih harus di rawat. Lagi pula aku akan baik-baik saja. Bawahan Zhen juga banyak yang akan melindungi ku," Jelas Moa tak ingin Ebner marah lagi padanya.


Mendengar nama Zhen dan bagaimana Moa begitu mengandalkan pria itu tentu saja dada Ebner semakin panas. Nafasnya cukup memburu menahan emosi tapi ia berusaha tak menunjukannya pada Moa.


"Jangan terlalu percaya pada pria itu!"


"Sudahlah. Kau mulai lagi," Jengah Moa melanjutkan makan buahnya.


Namun, ia tercekat saat kedua tangannya di peggang lembut oleh Ebner dan ini membuat Moa tak nyaman hingga segera menarik diri.


"Ebner!" Berdiri di samping ranjang.


"Moa! Percayalah. Zhen itu tak sebaik yang kau kira. Dia membantumu karena ada maunya," Ucap Ebner dengan suara penuh keyakinan.


Ebner berharap jika dengan mengatakan itu Moa akan benar-benar menjauhi Zhen dan yang paling hebat lagi mereka akan berpisah.


Tapi, harapan Ebner pupus kala Moa tampak memijat pelipisnya pusing seraya meletakan sisa jeruk di tangannya ke atas meja.


"Kami menikah dan dekat memang karena ingin saling menguntungkan dan kau benar. Zhen tak sebaik itu ingin memberiku bantuan gratis. Dia pria yang licik dan perhitungan."


"Moa! Dia.."


"Aku mohon sudah cukup. Aku tahu kau sangat peduli padaku selayaknya saudara tapi Ebner, hidupku hanya untuk Noah. Jika dengan berhubungan dengan Zhen aku bisa menyelamatkannya maka aku siap untuk itu."


Seketika kedua tangan Ebner mengepal. Wajahnya tak lagi bersahabat bahkan Moa bisa merasakan amarah Ebner yang baru kali ini ia lihat sangat emosi.


"Dan sekarang. Aku ingin kau sembuh seperti sedia kala. Selama aku di sana aku mempercayakan Noah padamu," Ucap Moa tegas menepuk halus bahu Ebner yang masih membisu lalu pamit pergi.


Tatapan nanar Ebner mengiring kepergian Moa. Dadanya kembali di hantam rasa sakit bahkan kedua matanya sampai merah menahan emosi yang meluap-luap.


"Aku tak menganggap-mu sebagai saudariku," Gumam Ebner dengan buku tangan memucat.


Tak bisa menahan amukan itu lagi, Ebner meraih gelas air di atas nakas dan melemparnya ke lantai hingga pecah berserakan.


"AKU MENCINTAIMU!!! AKU MENCINTAIMU, MOAA!! KAU BUKAN ADIK BAGIKUU!!" Teriak Ebner menggila dengan perasaan yang tak bisa ia kendalikan ini.


Dokter yang melihat dari arah kamera pemantau segera ke ruangan Ebner dan sontak terkejut melihat barang-barang disini sudah di lempar dengan emosi meledak-ledak.


Wanita cantik bertubuh seksi itu memasang kacamatanya lalu berjalan dengan lengok sempurna ke arah mobil tanpa ekspresi apapun.


"Aku harus menemui Noah."


Moa masuk ke mobilnya lalu mengemudi keluar rumah sakit. Sebelum pergi malam ini ia ingin melihat keadaan belahan jiwanya itu agar ia bisa bernafas di tempat lain.


30 menit berkendara di perjalanan. Moa sudah sampai di rumah sakit yang berbeda dan kali ini lebih besar dari yang tadi.


Hanya saja tak begitu ramai karena tidak di buka untuk umum. Hanya pasien khusus yang bisa masuk ke area ini.


Moa melepas kacamata lalu pergi ke lantai ruang rawat putranya hingga melihat dokter Corner baru saja keluar dari pintu itu.


"Dokter!"


"Nona!" Sapa dokter Corner dan dua suster yang biasa memantau Noah.


"Aku ingin menemui putraku. Apa dia baik-baik saja?" Tanya Moa masih dengan rasa khawatir karena ia tak pernah tenang jika sudah disini.


"Dia baru saja tidur. Lihatlah ke dalam!"


"Terimakasih," Ucap Moa segera masuk sementara dokter Corner memboyong para perawat itu untuk pergi.


Moa mendekati ranjang rawat Noah yang masih dalam keadaan sama. Tubuh mungil di penuhi kabel dan selang membuat hati Moa teriris bukan main.


Wajah lemah dan rapuh itu langsung Moa tunjukan kala sudah duduk di kursi samping ranjang.


"Mommy datang!" Lirih Moa menggenggam hangat tangan mungil Noah yang di infus.


Begitu kurusnya Noah sampai Moa tak merasakan daging dan otot empuk sama sekali ketika menggenggam satu tangan putranya.


"Maafkan mommy, ya? Sampai sekarang mommy masih belum bisa membuatmu keluar dari sini. Tapi...tapi mommy janji, mommy akan berusaha agar Noah bisa lepas dari semua alat medis yang menyiksa ini. Mommy janji!" Ucap Moa dengan suara gemetar menghujani punggung dan lengan tirus itu dengan kecupan hangat darinya.


Tanpa sadar air mata Moa lolos. Hanya disinilah ia menunjukan sisi rapuh yang teramat menyedihkan itu.


Rasa sakit melihat Noah terbaring tanpa daya dan upaya membuat hatinya hancur. Apalagi, kala Noah meminta pulang dan mengatakan jika ia tak mau di sini lagi. Saat itu Moa merasa akan hilang dari dunia ini.

__ADS_1


"Maafkan, mommy!" Menunduk terus mencium punggung tangan Noah yang terusik dan membuka mata satu.


"M..mom!"


Sontak Moa segera menghapus lelehan bening di kedua mata dan pipinya lalu dengan wajah galak tapi hangat memandangi si tampan itu.


"Apa??" Ketus Moa membuat senyum di bibir pucat Noah melebar.


"Menangis lagi?"


"Tidak. Mommy hanya kelilipan. Disini banyak debu," Jawab Moa mengedipkan matanya beberapa kali.


Noah hanya tersenyum kecil. Ia masih memakai alat bantu nafas hingga sulit untuk bicara.


"Mommy sudah makan?"


"Sudah."


"A..apa enak?" Tanya Noah membuat Moa terus berkaca-kaca akan perhatian bocah kecil ini.


"Biasa saja. Tak seenak buatanmu."


"N..nanti, Noah memasak," Jawab Noah susah payah bicara karena sulit bernafas.


"Sudahlah. Jangan bicara lagi! Kau harus sembuh dulu dan barulah mommy izinkan ke dapur."


Noah diam. Ada rasa putus asah terpancar di kedua bola matanya yang mengiring batin Moa dengan kejam.


Buru-buru ia menghapus cairan bening di sudut mata Noah karena ia tak akan sanggup melihat anak ini menangis.


"Mommy mau pamit sama Noah."


Noah menautkan alisnya dengan wajah berkecamuk lemah.


"M..Mommy pergi?"


"Hanya sebentar. Mommy ingin menemui dokter yang akan menyelamatkan-mu. Setelah mommy kembali kita akan keluar dari rumah sakit, bagaimana?"


Noah tetap diam. Dia bukan lagi anak kecil yang berpikiran polos dengan mudah percaya dengan kata-kata orang dewasa. Noah hidup di tempa oleh kenyataan pahit dan berbagai ujian menyakitkan hingga mengasah pola pikirnya.


"M..mom! Sudahlah. Noah hanya ingin menghabiskan waktu denganmu."


"Kau bicara apa?! Jangan membuat mommy kesal, Noah!" Marah Moa tapi tak meninggikan suaranya.


Kedua mata Noah berkaca-kaca. Keluar dari rumah sakit dan lepas dari semua alat-alat medis yang tertanam di tubuhnya itu hanyalah sebuah khayalan.


Bertahun-tahun ia disini dan harapan sudah tak ada lagi. Hanya sebuah keinginan dimana hidup sebentar menghabiskan waktu dengan mommynya.


"N.Noah hanya ingin mommy."


"Mommy tahu dan Noah jangan banyak bicara. Apapun yang terjadi, Noah harus sembuh dan tak peduli bagaimana-pun hasilnya, mengerti?" Tekan Moa tak sanggup membayangkan hal buruk kedepannya.


Moa berdiri dan segera memeluk Noah dengan hati-hati karena ada beberapa kabel dan selang medis di dada dan kerongkongan Noah yang terpasang.


"Mommy pergi. Jaga diri baik-baik dan jangan sampai ada kabar buruk. Saat mommy kembali kau harus menyambut dengan senyuman dan mata bahagia."


"M..mom! T..temani, Noah!" Pinta Noah setengah terisak karena takut tak akan bertemu lagi dengan wanita ini.


Dengan dada terasa terbakar akan kesesakan yang hebat, Moa menghujani wajah putranya dengan kecupan penuh cinta dan kasih.


"Kita akan bersama dan keluar dari sini. Mommy janji," Bisik Moa memeluk Noah beberapa saat bahkan ia bisa mendengar suara tangis putranya.


Jika nanti aku tak membawa dokter itu maka, aku akan mati bersamamu. Kita tak bisa bersama di dunia maka dimanapun tempatnya agar bisa bahagia, aku akan ikut.


Batin Moa benar-benar menyerahkan hidupnya pada si kecil ini.


Moa menemani Noah sampai bocah malang itu tertidur. Setelah merasa waktu mulai beranjak sore, Moa segera pergi setelah kembali menciumi wajah putranya.


Selepas kepergian Moa. Tiba-tiba saja pintu ruang rawat Noah terbuka dan memperlihatkan sesosok pria tampan dengan tatapan misterius ke arah ranjang rawat itu.


....


Vote and like sayang

__ADS_1


__ADS_2