
Hari yang di nantikan nyonya Ming akhirnya tiba. Sebuah altar pernikahan yang sudah di siapkan di gedung ternama di negara ini tampak sudah sangat indah di hiasi dekorasi mewah nan megah.
Tak ada tamu luar sesuai permintaan Zhen dan Moa. Yang hadir hanya para pengawal dan orang-orang kepercayaan Zhen itu-pun mereka hanya diam berdiri bak patung menyambut kedatangan Moa dan Zhen yang baru masuk ke gedung.
Tanpa gaun pengantin atau tuxedo formal, keduanya naik ke atas altar seakan hanya ingin menjalankan kesepakatan saja.
Nyonya Ming tak masalah. Ia sudah sangat senang saat Zhen dan Moa setuju menikah dan tak peduli soal yang lain.
"Jangan bertengkar, ya?! Walau-pun terpaksa tapi kalian tengah bersumpah di hadapan tuhan!" Ucap nyonya Ming berdiri diantara Zhen di kursi roda dan Moa yang hanya diam.
Kecantikannya tak bisa di tepis. Balutan dress selutut dengan kedua lengan panjang yang elegan menambah kesan manis namun wajah cantik paripurna itu memang sudah sejak lahir ia miliki.
"Dimana Zoe?" Tanya Zhen lebih peduli pada putrinya.
"Zoe kursi belakang bersama pengawal. Kau fokus saja dengan pernikahanmu."
Zhen tak menggubris nyonya Ming yang mempersilahkan pendeta untuk menikahkan dua mahluk mempesona itu.
Nyonya Ming turun kembali duduk di kursi pertama dekat altar dimana Zoe juga ada di sana.
"Baik. Apa prosesinya sudah bisa di mulai?" Tanya pendeta dan Zhen hanya melirik Moa yang diam tapi wajahnya tak keberatan.
"Silahkan!" Jawab Zhen tak begitu memusingkan keheningan gedung ini.
"Tuan Zhen Xiveng Ming. Maukah anda bersumpah atas nama yang kuasa untuk memperistri Nona Moa Velvet Pricillia dan menerima di dalam semua keadaan?"
Zhen diam. Walau ini bukan yang pertama untuknya tapi tetap saja. Zhen bukan pria yang mudah mempermainkan kesakralan pernikahan.
Mendengar suara pendeta yang beberapa tahun lalu juga berdenging di telinganya tentu saja Zhen agak merasa aneh. Bukan sebuah rindu tapi lebih kecemasan akan gagal kedua kalinya.
"Tuan Zhen Xiveng Ming! Maukah anda memperistri nona Moa Velvet Pricillia dan menerima dia dalam keadaan apapun sebagai suaminya kelak?"
"SAYA BERSEDIA!" Tegas Zhen dapat di dengar oleh semua orang terutama nyonya Ming.
Wanita paruh baya itu menatap sendu punggung kekar putranya yang dulu juga pernah berada di posisi itu. Wajah bahagia tak berlebihan tapi, ada keseriusan yang terpancar kala itu membuat batinnya teriris.
"Zhen! Mommy harap kau tak kecewa untuk kedua kalinya, nak! Kau pria yang baik dan mommy tahu itu. Maafkan mommy sudah memaksamu tapi, mommy berharap Moa bisa menjaga dan melindungimu. Bukan seperti Cellien!" Batin nyonya Ming sampai berkaca-kaca.
Moa melihat dari pantulan kaca di depan. Nyonya Ming mengusap air matanya seraya memangku baby Zoe.
"Sepertinya, rumah tangga babi jantan ini benar-benar buruk," Pikir Moa menghela nafas.
"Nona Moa Velvet Pricillia! Maukah anda menerima tuan Zhen sebagai suami anda dan menjalankan kewajiban seorang istri dalam keadaan apapun?"
"SAYA BERSEDIA!" Jawab Moa tanpa beban karena baginya ini memang hanya acara biasa.
Moa tak terlalu menganggap serius semua yang di katakan Pendeta barusan. Yang Moa tahu, janji dan kesepakatannya dengan Zhen.
"Baik. Kalian bisa bersumpah atas nama masing-masing!" Pinta pendeta itu mengiring prosesi janji terikat.
Kursi roda Zhen bergerak menyamping berhadapan dengan Moa yang menatapnya datar begitu juga dirinya. Para pengawal yang melihat mereka dari bawa sana merasa menonton dua patung pemimpin perang dimana hanya ada raut tangguh dan perkasa tak terbantahkan.
"SAYA AKAN MENJALANKAN SEMUA KEWAJIBAN DAN MEMBERIKAN HAK KEPADA PENDAMPING HIDUP SAYA SESUAI JANJI DAN SUMPAH SAAT INI. APAPUN YANG TERJADI DI MASA DEPAN, KAMI AKAN SELALU BERSAMA DAN TAK AKAN MENGKHIANATI SATU SAMA LAIN!!"
Janji itu di ambil dengan sepenuh hati oleh Zhen maupun Moa. Ntahlah, walau keduanya hanya menikah karena kesepakatan tapi untuk yang satu itu batin menolak berkompromi.
"Aku tak akan mengkhianatimu," Imbuh Moa lirih karena tahu Zhen pasti sakit hati saat Cellien mengkhianatinya.
"Baik, silahkan pasangkan cincin untuk mengikat jiwa dan raga masing-masing mempelai satu sama lain!"
__ADS_1
Asisten Jio yang tadi berdiri di bawah segera naik ke altar membawa satu kotak cincin berdesain mewah namun tak begitu heboh.
Wajahnya masam namun diam saja tak bicara apapun.
"Ini tuan!"
Zhen mengambil satu cincin untuk Moa dan begitu juga sebaliknya. Moa menatap penuh binaran rakus pada permata bening di cincin yang Zhen peggang.
"Singkirkan otak kotormu!" Ketus Zhen tahu isi kepala Moa sekarang.
"Cih, lagi pula itu juga akan jadi milikku."
Moa menyodorkan jemari lentiknya yang terawat cantik. Zhen memakaikan cincin permata mahal itu ke jari manis Moa dengan wajah datar terkesan dingin.
"Jangan menjualnya!" Tegas Zhen membuat Moa tersenyum sempit beralih memakaikan cincin ke tangan Zhen.
"Tenang saja suamiku. Selagi gajiku lancar aku tak akan mengusik benda mahal ini."
Zhen menatap tajam Moa yang terus mengusap-usap permata itu dengan kasih sayang melebihi suaminya sendiri.
"Berikan tepuk tangaan!!" Ucap salah satu pengawal karena merasa adegan di atas altar sana seperti transaksi jual beli.
Mereka semua bersorak heboh tapi tidak dengan asisten Jio yang merasa kesal dengan Moa.
"Baik. Putraku sudah menikah dan acara yang pasti kita tunggu akan terjadi!" Nyonya Ming memancing-mancing suasana canggung diantara Moa dan Zhen.
Buktinya, saat semua orang menatap mereka dengan penuh arti keduanya langsung saling buang pandangan.
"Silahkan tuan Zhen dan Nona Moa berciuman menunjukan kasih sayang dan kebahagiaan!" Pinta pendeta mewakili keinginan semua orang yang ada di sana.
"A..itu, seharusnya tak perlu."
"Apanya yang tak perlu?" Sambar nyonya Ming pada Moa yang diam tak bisa berkutik.
"CIUUM!! CIUUM!!" Bersorak heboh bukan main bahkan baby Zoe ikut-ikutan dengan senyum imutnya.
"Apa aku akan berikan ciuman pertamaku padanya? Yang benar saja?!" Umpat Moa hanya dia yang bisa mendengar.
Zhen terlihat cukup gugup. Walau sering bertengkar dan beradu pendapat dengan Moa, ia tak pernah berniat akan berciuman.
"DADDY!!!" Baby Zoe sampai memanggil Zhen karena ikut senang dengan keramaian ini.
Baik Zhen atau Moa keduanya tak ada yang mau bergerak. Moa pura-pura sibuk dengan cincin barunya dan Zhen berkeringat dingin seperti biasa.
"Shitt! Kalian ini memang tak bisa di andalkan," Gumam nyonya Ming segera berdiri masih menggendong baby Zoe dan naik ke atas altar.
"Mom! Cukup sampai disini. Kami.."
"Kau duduk disini!" Nyonya Ming menarik lengan Moa yang tersentak saat di paksa duduk di atas pangkuan Zhen yang lebih meneggang lagi.
Saat kedua bokong bulat seksi Moa menekan pahanya, Zhen seperti merasa akan pingsan namun sensasi itu samar-samar ia rasakan.
"Lakukan! Kita juga akan mengambil foto."
"M..Mom!" Gugup Zhen tapi nyonya Ming sudah turun dari altar.
Ada fotografer profesional yang sedia mengabadikan momen canggung mereka dan terlihat jelas Zhen gelisah dan berkeringat.
"Punyamu tegang?"
__ADS_1
"Jaga bicaramu," Umpat Zhen setengah menggeram dengan pertanyaan frontal Moa.
Moa merasa cukup aneh. Biasanya tak segugup ini saat di pangkuan Zhen tapi, sekarang jantungnya sedang memompa keras.
"Kita lakukan?"
"Bisa menolak?!" Datar Zhen masih pusing dengan penantian para manusia disini. Mereka seakan tak berkedip menunggu momen langka itu hadir.
"Hanya sekedar ciuman. Santai saja!" Ucap Moa tertawa getir tak sejalan dengan kondisinya saat ini.
Karena tak ada pilihan lain akhirnya Moa dan Zhen pasrah. Wajah Moa mulai berhadapan dengan Zhen yang terlihat cukup tegang dengan keringat di pelipis dan lehernya.
"Saling pejamkan mata dan anggap sedang mimpi!" Lirih Moa tahu Zhen juga sedang tak baik-baik saja.
Moa memejamkan kedua mata indahnya tapi Zhen justru masih tak bergeming. Wajah Moa sekarang begitu dekat dengannya bahkan ia bisa melihat kecantikan wajah mulus tanpa cacat dengan semua porsi pas ini dari jarak dekat.
Hembusan nafas saling beradu. Bulu mata lentik Moa bergetar halus kala mendengar Zhen menegguk ludah.
Bagaimana tidak? Moa terpejam tapi karena hal itu aura wajahnya jadi semakin seksi. Bibir berbentuk sangat sempurna dan glossy.
Merah natural dengan polesan pewarna bibir yang tak berlebihan. Sungguh, Zhen sampai lupa diri akan ini.
"Cepatlah!" Desak Moa tak bisa menahan gugup.
Zhen menyiapkan mental. Ia mendekatkan wajahnya pada Moa dan secara pelan menyatukan bibir mereka sampai sengatan aneh itu menjalar di tubuh masing-masing.
Semua orang menahan nafas dan suasana yang tadi heboh seketika sunyi. Tak ada yang berani berkedip melihat dua bibir menyatu dengan cara yang lembut.
"Aku akan pingsan!" Batin Zhen merasa bibir Moa begitu terasa menyengat ke tubuhnya.
Moa-pun sama. Pendekatan Zhen yang lembut membuat kedua tangannya meremas ujung dress yang ia pakai.
Ntah sinyal dari mana Moa tiba-tiba melu**mat bibir Zhen dengan sensual membuat semua orang terbelalak termasuk Zhen yang seakan terhipnotis dengan serangan mendadak.
"Tutup mata, sayang!" Bisik nyonya Ming membekap kedua mata baby Zoe yang tak tahu menahu soal tontonan di atas sana.
Zhen yang ingin menolak tapi munafik jika ia tak mau. Serangan Moa benar-benar merobohkan pertahanan bajanya.
"Ouhh!! Panas!" Desis mereka kala Zhen mulai membalas pangutan Moa hingga mereka berdua seperti lupa dunia.
Zhen tanpa sadar memejamkan mata dengan kedua tangan yang tadi ada di peggangan kursi roda perlahan membelit pinggang Moa mesra.
Ciuman yang erotis dan begitu lihai itu membuat mereka merinding sampai asisten Jio syok melihat tuannya bisa luluh dengan godaan setan betina itu.
"G..Gila!" Ngeri asisten Jio kala sepasang pengantin itu mulai memanas.
Moa mulai bermain lidah dengan sangat profesional tak main-main menikmati bibir penerus perusahaan raksasa keluarga Ming itu.
"Ini tak aman lagi!" Gumam nyonya Ming cukup terkejut tapi sangat bahagia.
Ia diam-diam memboyong semua orang keluar gedung termasuk pendeta yang tadi sempat mengalihkan pandangan karena syok akan keberanian dua pengantin baru itu.
Baik Zhen atau Moa tak ada yang sadar jika gedung sudah kosong. Mereka berciuman panas sampai tangan Moa yang memang nakal seakan punya nyawa sendiri turun mengusap dada bidang Zhen secara sensual lalu perlahan kian ke bawah meremas halus sesuatu yang sudah lama tidur dengan tenang di dalam sana.
Remasan gemang tapi penuh keahlian itu membuat Zhen merasakan getaran dan gelenjer birahi sampai ia mencengkram pinggang Moa lembut menahan sensasi yang akan meledakan kepalanya.
Namun, kala Moa sudah kebablasan sampai bertukar saliva melalui rongga mulut mereka tiba-tiba saja bentakan seseorang menarik mereka ke dunia nyata.
"HENTIKAAN!!"
__ADS_1
....
Vote and Like sayang