
Permintaan Marco sama sekali tak di hiraukan Moa. Bahkan, ia tak bergerak dari tempat duduknya secuil-pun seakan titahan Marco hanya sekedar angin lalu di telinganya.
Hal itu membuat Marco semakin tertantang. Ia ingin melihat sejauh mana Moa menolaknya.
"Kau tak menginginkan pria itu?"
"Tak perlu basa-basi. Tanpa kau beritahu-pun aku akan tetap mencarinya," Jawab Moa segera bangkit dari duduknya.
Sudut bibir Moa tertarik samar. Ingin main tarik ulur denganku, hm? Boleh juga.
Kala Moa ingin keluar pintu, suara Marco kembali berkumandang menghentikan langkahnya.
"Kau sudah menjadi kekasihku."
"Lalu?" Tanya Moa tanpa berbalik begitu juga Marco yang saling memunggungi.
"Kau tak akan bisa keluar dari sini."
"Kau yakin?" Tanya Moa seperti mempermainkan Marco yang merasa Moa benar-benar sulit untuk di hadapi tapi ia tak akan menyerah begitu saja.
"Apa hubunganmu dengan tuan muda keluarga Ming?"
Pertanyaan Marco membuat Moa terdiam. Dengan ranah kekuasaan dan luasnya jaringan Marco, dia pasti sudah tahu jika ia ada hubungan spesial dengan Zhen.
"Dia musuhmu?" Tanya Moa penasaran.
"Rival!"
Moa tersentak. Tatapan tak percaya dengan apa yang Marco katakan seakan-akan Zhen dan dia ada hubungan yang spesial.
"Rival? Apa Zhen juga punya organisasi sepertimu?" Berbalik dan kembali mendekat.
"Hm. Tidak! Dia tak pernah tertarik terjun ke dunia gelap tapi, keberadaanya sangat menganggu."
"Keren," Gumam Moa bertambah kagum dengan babi jantannya itu.
Melihat ekspresi wajah Moa yang mengagumi Zhen, tentu saja satu alis Marco terangkat sinis.
"Kau kekasihnya?"
"Tidak. Lebih tepatnya kami rival sejati," Jawab Moa mengkilahkan kata suami istri agar Marco tak marah atau pria ini punya niat buruk pada Zhen.
Marco diam. Ia tak begitu menyukai Zhen karena pria itu sering merebut pasar bisnis bersih di wilayah yang menjadi target penjualan perusahaan bersihnya.
Kelihaian Zhen dalam mengelola dan menarik para investor membuat perusahaan yang Marco pimpin jadi merangkak mengejar di belakang.
"Jadi, kalian pesaing bisnis?"
"Hm. Dia pria yang tenang tapi juga berbahaya," Jawab Marco sebaik mungkin tak menyinggung Zhen karena tak ingin berperang dingin lagi.
Moa mangut-mangut mengerti. Marco menatap intens Moa seakan-akan mencari cela untuk menembus pikiran dan rahasia wanita ini.
"Kau salah satu orangnya? Ingin memata-mataiku?"
"Untuk apa dia memata-matai orang yang jelas tak bisa mengalahkannya," Sinis Moa membuat rahang Marco mengetat.
"Aku bisa. Lihat saja, aku akan merebut para investor miliknya."
Tawa Moa terbahak lepas. Jawaban Marco terdengar pasti tapi Moa hanya berusaha memancing pria ini bicara lebih banyak.
"Ayolah. Kau memang mahir berbisnis hingga bisa di sebut rival dengan Zhen. Tapi, apa kau bisa melampauinya?" Ejek Moa memanas-manasi Marco yang langsung menarik lengan Moa hingga nyaris jatuh ke pangkuannya tapi buru-buru Moa meletakan tangan di peggangan sofa menahan tubuh.
"Jangan meremehkan ku!" Desisnya ingin menyambar bibir Moa tapi dengan sigap Moa menyentak tangannya lalu menendang tepian sofa hingga benda itu terhuyung ke belakang dan Marco cepat berdiri.
Tatapan tajam keduanya beradu. Marco menyeringai mesum tapi lebih tepatnya merasa puas akan perlawanan Moa.
"Kau sudah menjadi kekasihku. Jangan harap bisa keluar dari sini."
"Ingin taruhan?" Tanya Moa menunjukan senyum iblisnya.
Marco diam dan berjalan mendekat. Tubuh tinggi kekar ini cukup mengintimidasi Moa yang bersikap biasa tapi ia tahu akan sulit melepaskan diri dari sini.
"Aku akan memberikan apapun yang kau mau, asal kau tunduk padaku."
"Dokter itu bekerja denganmu?" Tanya Moa menggali informasi.
"Tak ada informasi gratis," Desis Marco semakin mendekat.
"Kau tahu?" Tanya Moa kala sudah di pepet ke dinding dan jarak mereka sangat dekat tapi tak bersentuhan.
Kedua tangan Marco mengurung tubuh Moa dinding dengan tatapan saling bertaut.
__ADS_1
"Kau tak takut padaku?"
"Takut. Tapi.."
Moa menjeda kalimatnya dengan gelagat ingin mencium bibir Marco yang tentunya terhanyut. Ketika ia mendekatkan wajahnya dengan eskpresi melemah Moa langsung menyeringai.
"Berciuman-lah dengan dinding!" Desis Moa segera merendahkan tubuhnya dan lolos dari sela lengan Marco.
"Kau.."
Belum sempat Marco bicara, Moa mengayunkan kaki jenjangnya menendang punggung kekar itu sampai terhantam ke dinding.
Ada waktu 5 detik bagi Moa menertawakan Marco lalu berlari keluar ruangan dan dengan cepat menutup pintu dengan kuncian dari luar.
Untung Mubai dan Carlos tak ada di depan pintu. Moa mengeluarkan alat komunikasi dari jaketnya lalu memakai benda itu ke telinganya.
"Zhen!" Panggil Moa berjalan menyusuri lorong besi dengan banyak cctv disini.
Moa mengeluarkan pistol dan memasang peredam. Dalam langkah tegas tanpa henti itu Moa menembak semua cctv di sekitar tempat ini.
"Zhen! Kau mendengarku?" Tanya Moa sesekali bersembunyi kala ada penjaga yang tengah melewati lorong.
"Zheen!! Jangan main-main!!" Geram Moa hingga barulah ada sahutan.
"Puas bermain?" Suara Zhen terkesan mengintimidasi.
"Belum. Aku akan memasuki beberapa ruangan disini dan kau coba pantau ada keanehan apa yang terlihat!"
"Hm."
Moa mengambil nafas dalam lalu pergi ke beberapa ruangan. Karena mengingat dokter Wen adalah dokter bedah jantung spesial jadilah Moa mengincar beberapa ruangan operasi.
"Mereka sedangkan melakukan operasi pembedahan. Sangat menjijikan," Geram Moa melihat dari kaca pintu dan tak ada yang mirip dengan dokter Wen.
Ada 7 ruangan operasi dan masing-masing aktif telah di periksa Moa yang tak menemukan apapun.
"Coba kau cari seseorang yang bisa kau mintai informasi!" Pinta Zhen karena melihat di tempat itu banyak orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan masing-masing jadi tak ada yang memperhatikan Moa.
"Apa disini ada ruang bawah tanah?"
"Hm. Tapi, biasanya bukan di bagian ini. Cari tempat yang terlihat di jaga ketat tapi hati-hati. Pasti ada sistem sensor!" Jelas Zhen bisa melihat dari lensa kontak yang Moa pakai.
"Babi! Tadi, aku bicara dengan rivalmu," Goda Moa seraya mencari seluk-beluk markas ini.
"Ayolah. Tapi, jujur dia lumayan."
"Moaa!!" Geram Zhen membuat Moa tertawa kecil mempersiapkan pistolnya karena sudah berada di area yang tampak di jaga ketat.
"Berhentii!!" Suara Zhen hingga langkah Moa terhenti di pertengahan lorong dimana ada ada belokan lain di depan sana.
"Apa?"
"Mundur dua langkah!" Pinta Zhen tengah menyipitkan mata melihat di berbagai sudut dinding baja itu.
Moa yang berdiri kaku di tempat menunggu perintah Zhen selanjutnya seraya waspada dengan para penjaga yang akan datang lagi ke sini.
"Cepatlah!!"
"Di depanmu ada sensor suhu. Jika kau lewat maka alarm akan berbunyi mengaktifkan keamanan hingga lantai di bawahmu akan turun membawamu ke ruang bawah tanah paling ujung," Jelas Zhen melihat semua segi lorong yang ada garis kotak-kotak seperti ubin dan ia hafal dengan jebakan seperti ini.
"Lalu? Aku harus apa?" Tanya Moa benar-benar kagum akan pengetahuan pria ini.
"Lemparkan jaket mu lebih dulu!"
Moa perlahan melepas jaketnya hingga hanya mengenakan tank top hitam yang kontras dengan kulitnya.
"Lempar?"
"Yah. Saat itu kau lempar, berlarilah dengan cepat agar sistem tak bisa mendeteksi suhu tubuhmu!" Jawab Zhen memantau terus dari layar laptopnya.
Moa mengambil ancang-ancang. Jaket itu ia lempar lalu berlari cepat mengikuti dari belakang hingga cahaya merah seperti benang tipis itu muncul tapi hanya mengenai jaket Moa sedangkan Moa lebih dulu menunduk sampai ke ujung.
Benar saja. Alarm tak berbunyi dan semuanya aman.
"Lumayan!"
"Mereka hanya bisa mendeteksi suhu tubuh mahluk hidup. Jika kau lempar benda mati dia tak akan menangkap sinyal apapun," Jelas Zhen membuat Moa bangga berkenalan dengan pria ini.
"Jika begini, aku.."
"Bersembunyi!!" Pinta Zhen karena menangkap kehadiran para penjaga di lorong belakang Moa yang tadi melirik ke sana.
__ADS_1
Sontak Moa segera masuk ke sebuah ruangan yang ada di dekatnya. Ia menutup pintu membiarkan 3 penjaga itu lewat memastikan keamanan.
"Mereka melihatmu?" Tanya Zhen agak cemas.
"Tidak."
Moa berbalik melihat ke dalam ruangan ini hingga terkejut kala disini adalah ruang penyimpanan berkas. Terbukti dengan tumpukan kertas dan lemari serta loker tinggi yang bertumpuk.
"Brilian! Ini ruang berkas mereka!" Decah Moa merasa beruntung.
"Kau cari berkas-berkas penting yang bisa menambah informasi kita!"
Moa menjalankan semuanya dengan baik. Ia membuka banyak dokumen di ruangan itu satu persatu dan semuanya rangkap medis beberapa pasien rumah sakit di luar markas.
Rata-rata dokumen ini adalah data diri anak-anak yang mereka eksekusi.
"Sepertinya mereka mengambil korban kebanyakan dari rumah sakit. Memang bajingan!" Umpat Moa meremas kertas-kertas itu.
"Jangan hiraukan. Kau fokus pada berkas dokter Wen atau yang lain!"
Moa menahan emosinya. Ia beralih pada lemari yang lain dan masih menemukan banyak data pasien rumah sakit. Hampir 20 menit berlalu dan Moa tak menemukan apapun yang bisa di jadikan panduan mencari dokter Wen.
"Tidak ada."
"Tenang. Kau harus tenang dulu," Pinta Zhen karena Moa terlihat frustasi.
Moa mengambil nafas dalam. Ia berdiri diantara hamparan kertas-kertas yang tadi ia acak-acak.
"Coba cari loker atau benda yang tersembunyi di sana."
"Kau hanya bisa memerintah. Coba kau yang cari sendiri!" Ketus Moa menendang-nendang dokumen di lantai seraya merotasikan mata ke arah lemari-lemari di sekitar.
"Tidak ada! Marco sialan itu memang sangat licik," Geram Moa mengobrak-abrik loker yang isinya hanya deretan kertas sampai Zhen melihat ada brangkas yang tersembunyi di loker bawah karena pintunya terbuka.
"Loker bawah!!!"
"Bawah?"
"Loker paling bawah. Cepat buka!" Pinta Zhen ikut merasakan ketegangan Moa yang membuka pintu loker bawah lebar.
Matanya melihat brangkas tua yang sepertinya sangat penting sampai di beri sandi seperti ini.
"Bisa di buka?" Tanya Zhen melihat tangan Moa mengotak-atik tombol di brangkas itu.
"Aku bisa membobol bank keluarga Ming. Ini bukan masalah untukku."
Jawaban Moa membuat Zhen mencabikan bibir sinis. Moa menempelkan telinganya ke pemutar di depan brangkas itu dan mendengarkan suara putaran dari alat pengunci di dalam sana.
"Bisa?"
"Sabar!" Desis Moa hingga 2 menit kemudian brangkas itu berhasil di bobol.
Zhen tercengang. Ntah ilmu apa yang wanita ini pelajari sampai urusan bobol membobol selalu terdepan.
"Lumayan," Gumam Zhen mengembalikan kefokusannya.
Moa melihat jika di dalam sini ada dokumen dan satu album foto lama. Moa mengambil dokumen itu dan membukanya.
Degg..
Mata Moa melebar kala membaca isi dokumen ini.
"J..jadi...jadi Marco itu anaknya dokter Wen?" Syok Moa tak percaya ini. Pantas tadi ekspresi Marco seperti terusik saat dirinya membahas dokter Wen.
Belum lepas keterkejutan Moa, tiba-tiba alarm bahaya berbunyi. Hal itu menyadarkan Moa yang segera mendengar suara heboh di luar.
"Cari dia!!! Jangan sampai lolos!"
Moa segera mengambil dokumen dan album foto itu tapi pintu di belakangnya sudah di buka kasar dengan banyaknya penjaga yang berkumpul mengacungkan pistol ke arah Moa yang membelakangi mereka.
"Serahkan dirimu!!"
Moa diam. Perlahan-lahan ia mengoyak kertas di dalam dokumen itu lalu memasukkannya ke dalam bra. Tak itu saja, Moa membuka album foto yang tadi ia dekap dengan hati-hati mengambil satu foto keluarga yang cukup mudah di simpan.
"Jatuhkan barang-barang di tangan muu!!!"
"Baiklah!" Jawab Moa menjatuhkan barang-barang itu termasuk pistolnya.
Zhen yang memantau dari arah laptopnya seketika mengepal. Jika seujung kuku saja wanitanya terluka, sumpah demi apapun ia akan mengebom tempat itu.
....
__ADS_1
Vote and like sayang