
Zhen pergi ke apartemen yang dulunya terbakar akibat penyerangan Marco tapi tak begitu na'as karena hanya sebagian kecil yang dijadikan pemancing anggota pria itu.
Disinilah Zhen duduk tanpa bicara apapun. Kamar lama yang masih sangat kental dengan kenangan masa lalu yang semakin memupuk rasa sakit, kecewa dan kebenciannya semakin menghitam.
Sementara Moa, dia tak pergi kemanapun dan hanya berdiri di depan pintu melihat dari remang kamar dan sela benda itu.
"Kau kenapa?!" Batin Moa merasakan sesak yang teramat tapi ia tak tahu penyebabnya apa.
Tak ingin buta terlalu lama, Moa segera beranjak beberapa langkah cukup untuk meredam suaranya yang tengah menghubungi asisten Jio.
"Tuan baik-baik saja?" Pertanyaan asisten Jio khawatir tapi Moa justru naik pitam.
"Apa yang terjadi, ha?! Kenapa Zhen seperti ini?" Geram Moa masih menahan intonasi.
"Dia sudah tahu jika aku pernah berkhianat padanya dan ikut campur dalam kecelakaan itu dan.."
"Sialan kau!!" Maki Moa ingin sekali mencekik leher pria ini sekarang juga.
"Tak hanya itu saja. Tuan pasti sangat terpukul atas pengkhianatan Cellien dengan Hupent bajingan itu."
"Maksudmu?" Tanya Moa mengernyit heran.
"Zoe bukan anak kandung Zhen. Dia hasil hubungan kotor Cellien dan Hupent."
Duarr..
Bagai di sambar petir Moa mematung berdiri dengan kejutan tak pernah di duga ini. Matanya melebar dengan wajah kosong dan ponsel yang ia peggang nyaris jatuh karena keterkejutannya.
"Z..Zoe.."
"Aku menculik Zoe untuk melenyapkannya agar tuan tak akan mengetahui soal ini tapi, akhirnya dia tetap akan tahu semuanya. Zoe memang bukan putrinya, Moa!"
Penjelasan asisten Jio benar-benar langsung menusuk hati Moa. Ia diam sejenak mendengar semua cerita asisten Jio dan semuanya benar-benar membuatnya naik pitam sekaligus ikut sakit.
Tapi, asisten Jio tak mengatakan jika ia anak Hupent karena baginya itu bukan sebuah kebanggaan.
"Temanilah dia walau pasti memintamu pergi!"
Moa mematikan sambungan. Untuk sesaat ia mematung lama mencerna semua kebenaran ini lalu memaksakan langkah yang berat ke arah pintu kamar dimana Zhen masih duduk di lantai bersandar ke pinggir ranjang.
Satu kaki di tekuk menopang lengan dengan satu kaki lurus sementara kepalanya mendongak tertopang ke belakang seakan benar-benar lelah ia memejamkan mata.
"Kenyataan ini terlalu mengejutkan, Zhen!" Batin Moa juga ikut merasakan apa yang membuat Zhen sampai seperti ini.
Langkahnya di tarik masuk mendekati Zhen yang tak bergeming sama sekali. Suasana remang membuat kegundahan hati menjadi lebih terasa pekat.
Perlahan Moa duduk di tepi ranjang tepat di samping kepala Zhen yang masih mengadah.
Walau hanya mengandalkan cahaya rembulan dari balkon, Moa bisa melihat pesona Zhen masih tak berkurang. Dengan rambut berantakan dan pakaian berlumuran darah itu ia jadi seperti iblis berdarah dingin.
"Zhen!" Panggil Moa setelah cukup lama diam. Zhen masih tak bergeming sama sekali.
__ADS_1
"Kau bau amis. Apa tak mandi dulu? Akan-ku mandikan. Bagaimana?" Tawar Moa dengan tangan mulai mengusap rahang tegas Zhen dan turun ke leher kokoh itu.
Zhen membuka matanya. Sorot mata dingin tapi lelah lebih mendominasi.
"Bagaimana? Mau mandi?" Tanya Moa lagi dengan suara yang lembut dan tak pernah sehalus ini sebelumnya.
Zhen menoleh tapi tak memandang wajah Moa melainkan menyorot paha Moa yang terbalut dress selutut dengan lengan panjang tertutup.
"Kalau begitu ayo kita.."
Ajakan Moa terhenti kala Zhen menyandarkan kepalanya kepalanya ke paha Moa dan memeluk satu kaki jenjang itu dengan posisi masih sama.
"Z..Zhen!"
"Apa kau juga akan mengkhianati-ku?" Lirih Zhen terdengar sangat kecil tapi Moa bisa dengar itu.
"Kau akan sama seperti mereka?" Imbuhnya lagi datar tapi jika itu terjadi maka Zhen sepenuhnya akan kehilangan jati diri.
Dengan lembut tangan Moa berpindah mengusap kepala Zhen yang berada di titik paling labil sekarang. Emosinya bisa berubah kapan saja dan Moa harus bisa meredam itu.
"Aku tak akan menyuruhmu melupakan soal itu karena aku yakin itu sulit. Tapi, semuanya sudah berlalu dan tak bisa kau apa-apakan lagi," Ucap Moa meresapi kekacauan batin pria ini.
"Soal Zoe.."
Moa terhenti karena Zhen meremas betisnya dengan sorot mata berubah tajam.
"Dia bukan putriku."
"Yah. Dia bukan putrimu secara biologis tapi dia masih tetap Zoe kita. Peri kecilmu yang sangat kau sayangi dan.."
"Mereka menertawakan-ku, Moa!!! Mereka semua bajingan," Gumam Zhen mengepalkan tangannya erat.
Bayangan bagaimana Hupent dan Cellien mengolok-olok harga dirinya bahkan dengan tega melakukan hal serendah ini membuat Zhen semakin benci.
Moa menghela nafas dengan tangan masih mengusap kepala Zhen meredupkan api emosi yang tadi tersulut.
"Apa kau akan membenci Zoe?"
Zhen tak menjawab. Ia membisu seakan hatinya masih berperang dengan akal sehat dan kekecewaannya.
Moa melihat Zhen masih belum bisa mengambil keputusan pertanda kasih sayangnya pada Zoe masih menghalangi niat membunuhnya.
"Sudahlah. Jangan di bahas lagi. Aku akan pergi ke.."
"Pergi kemana?" Tanya Zhen menahan paha Moa kala ingin berdiri.
Mata Zhen penuh kecemasan seakan ia benar-benar takut sendirian. Sudut bibir Moa terangkat melihat sekarang Zhen akan semakin lengket padanya.
"Pergi kemana?" Tanyanya lagi tak berkedip memandang Moa.
"Ke..." Moa gencar memancing Zhen yang terlihat mulai marah.
__ADS_1
"Kau ingin pergi?? Kau sudah memiliki yang lain? Kau .."
Cup..
Moa melabuhkan kecupan cukup lama di bibir Zhen yang tadi ingin mengamuk padanya tapi seketika redup bak pelita kehabisan energi.
Moa yang membungkuk sedikit memberi jarak pada bibir mereka melihat wajah kosong Zhen diam mematung.
"Selagi dompetmu tebal dan barangmu bagus, aku akan tetap ada di sisimu, hm?" Goda Moa melabuhkan kecupan berulang kali ke bibir Zhen hingga di kecupan terakhir Zhen langsung menahan tengkuk Moa dengan mel**muat bibir wanita itu posesif.
Ciuman yang penuh penekanan seakan-akan Zhen mengatakan jika Moa hanya miliknya dan tak ada siapapun yang bisa mengambil wanita ini darinya.
Satu tangan Zhen mulai merayap ke dalam dress Moa membelai paha mulus itu tapi, aroma amis darah di tubuh Zhen membuat Moa tak tahan segera menarik diri.
"S..sayang!" Lirih Zhen tak rela.
"Bersihkan dulu darah di tubuhmu. Aku tak mau bercinta dengan psikopat," Ucap Moa berdiri dengan satu tangan menarik Zhen untuk ikut ke kamar mandi.
Bak anak ayam yang patuh pada induknya Zhen mengikuti Moa masuk ke kamar mandi. Moa memperlakukan Zhen sama seperti mengurus baby Zoe.
Pria ini tiba-tiba saja jadi sangat manja dan tak mau di tinggal sendirian bahkan tak khayal Moa harus bersabar kala Zhen terus memeluknya padahal masih ada darah di pakaian pria itu.
"Lepaskan pakaianmu! Aku akan siapkan air."
Zhen tak bergeming hanya terus memeluk Moa erat sampai helaan nafas Moa tertuai ringan.
"Babi jantanku tersayang dan tertampan. Bisa lepaskan belut betina-mu ini dulu, hm?" Tanya Moa menatap Zhen yang menggeleng.
"Baiklah. Jadi anak yang patuh!" Menepuk-nepuk kepala Zhen lalu mengiring pria itu ke bawah shower.
Satu persatu Moa menanggalkan pakaian di tubuh kekar Zhen. Ia tak takut atau-pun ngeri dengan darah yang melumuri seluruh pakaian Zhen tapi lebih tersadar dengan luka di perut Zhen yang terbuka.
"lukamu.."
Namun, seakan tak punya kesabaran lagi Zhen menarik lengan Moa kembali jatuh dalam pelukannya lalu mencumbu bibir wanita itu penuh kepemilikan.
Moa memberontak. Tapi Zhen enggan melepasnya hingga Moa pasrah menjaga luka di perut Zhen agar tetap aman.
"Setidaknya kau tak menghukum diri sendiri lagi," Batin Moa melayani Zhen dengan sangat baik dan penuh ketulusan.
Air shower menyala membasahi keduanya. Sesekali Zhen berlaku kasar lalu kembali melembut seperti benaknya tengah berkelana sekarang.
"Lupakan semua yang kau rasakan. Aku akan menerimanya," Bisik Moa bersedia berbagi apapun itu.
Zhen memejamkan matanya membiarkan air itu jatuh membasahi kepala dan seluruh tubuhnya dengan Moa. Kedua lengan Zhen masih membelit pinggang Moa tak memberi jarak sama sekali padanya.
"Kau istriku dan selamanya milikku!" Gumam Zhen membuka mata dengan sorot menajam kembali mencumbu Moa yang juga mampu melayani birahi Zhen tiba-tiba melonjak tinggi dan cara bercintanya bahkan lebih ganas dari biasanya tak peduli akan perban di perut.
Disetiap hentakan tubuh beradu maka ada racauan Zhen yang meluapkan semua isi hatinya dapat di dengar Moa yang kadang di buat tersenyum mendengarnya.
"Kau milikku!! Sampai kapan-pun milikku!!"
__ADS_1
.....
Vote and like sayang