Impoten Husband

Impoten Husband
Kenapa kau masih hidup?


__ADS_3

Pagi ini adalah waktu yang paling di nantikan oleh tuan Hupent. Hari ini perdana mereka akan bertemu dengan Mr Flondmir klien penting perusahaan Group Ming.


Ming Yue sudah melenggang dengan ayunan kaki jenjangnya memasuki lantai perusahaan bersama tuan Hupent.


Tatapan mata sipit yang angkuh dengan wajah tirus dan definisi cantik itu lengkap pada Ming Yue menyapu para karyawan perusahaan yang hanya bisa saling pandang tak berani berkutik dengan matanya.


"Kerjakan tugas kalian!!" Suara Ming Yue tak suka di sorot dengan mata berkecamuk orang-orang.


Tuan Hupent hanya tersenyum puas. Ming Yue memang sangat arogan dan keras kepala. Para penjaga di depan sudah melarang mereka masuk tapi Ming Yue mengancam akan membuat scandal untuk perusahaan jika tak di izinkan mengambil alih klien satu itu.


Saat memasuki lift, Ming Yue menoleh pada daddy-nya.


"Dad! Kau yakin kakak tak akan datang?"


"Yah. Dia masih ada di Amerika," Jawab tuan Hupent mengira Zhen masih di Amerika.


Karena keterbatasan fisik dan kondisi mental Zhen yang pasti trauma naik penerbangan hingga menahan pria itu di negara orang.


"Baguslah, dad! Aku tak ingin usaha kita gagal. Kak Zhen tak boleh kembali ke perusahaan. Dia tak bisa mengatur-ngatur daddy seenaknya."


"Yue memang putri kesayangan daddy," Ucap tuan Hupent mengusap kepala putrinya lembut.


Ming Yue hanya tersenyum kecil menunggu pintu lift terbuka. Saat tiba di lantai ruang meeting mereka langsung keluar dari lift dan melihat sekretaris Xiho tampak menghubungi seseorang di depan ruang meeting.


Dengan cepat Ming Yue mendekat dan merampas ponsel itu.


"N..nona Yue!"


"Jangan coba-coba menghubungi kak Zhen!" Geram Ming Yue segera melempar ponsel itu ke lantai.


Sekretaris Xiho benar-benar emosi tapi ia tak akan menang melawan Ming Yue. Gadis berumur 18 tahun lebih ini tak akan mau kalah bahkan bisa menyakiti orang lain dengan cara apapun.


"Nona Yue! Mohon jaga sikap anda."


"Ouh, kau berani melawanku?! Apa kau tak sayang pekerjaanmu?" Sarkas Ming Yue mengancam dengan nada marah.


Sekretaris Xiho masih berusaha santai dan tenang. Apalagi, keberadaan tuan Hupent menambah kekesalannya tapi tak akan gegabah.


"Nona! Saya bawahan langsung dari presdir Zhen. Yang berhak memberhentikan saya hanya tuan muda Zhen seorang."


"Kauu.."


"Yue!" Sela tuan Hupent memeggang bahu putrinya yang tadi mengangkat tangan ingin menampar sekretaris Xiho.


"Dad! Dia sudah mulai berani padaku," Emosi Ming Yue meledak-ledak.


"Biarkan saja. Jika nanti kau sudah menduduki kursi pemimpin perusahaan maka, buat dia menyesal bertemu denganmu hari ini." Memandang remeh sekretaris Xiho.


"Daddy benar. Untuk apa aku membuang tenaga dengan wanita rendah seperti ini."


Kedua tangan sekretaris Xiho mengepal. Ingin sekali ia membahas Ming Yue tapi memikirkan dari mana gadis ini berasal ia jadi menahan diri.


Tak mungkin ia mengasari adik atasan yang sangat ia hormati.


"Dimana Mr Flondmir? Katakan jika aku sudah menunggu."


"Mr Flondmir dalam perjalanan," Jawab sekretaris Xiho lalu mengambil ponselnya yang tadi di banting Ming Yue.


Layar benda itu retak parah tapi untung masih bisa hidup.


"Aku tak boleh membiarkan mereka berhasil sampai presdir bisa membereskan masalah ini," Batin sekretaris Xiho kembali melihat Ming Yue yang masuk ke ruang meeting bersama tuan Hupent.


"Aku akan menahan mereka disini sampai semuanya teratasi oleh presdir."


Sekretaris Xiho melangkah pergi ke ruangannya yang juga ada di atas lantai ini.


Sementara Ming Yue yang duduk di kursi pimpinan rapat dengan tuan Hupent di sampingnya tampak sibuk dengan ponsel.


Wajah cantiknya tampak bahagia dengan senyum malu-malu membalas pesan dari seseorang dan dapat di sadari oleh tuan Hupent.


"Yue sudah pacaran?"


"Tidak, dad!" Jawab Ming Yue menyembunyikan kedekatannya pada tuan Hupent karena pasti pria itu tak suka Yue pacaran atau dekat dengan lelaki tanpa sepengetahuannya.

__ADS_1


"Yue! Daddy hanya tak ingin kau terganggu. Tak masalah kau ingin punya kekasih tapi fokus dulu pada tujuan kita." Mengusap rambut hitam legam Ming Yue yang terdiam.


Tatapan sendunya beralih pada layar ponsel dimana Yoshep sedang menggodanya dengan rayuan mematikan dan tentu bisa meluluhkan hati Yue yang dulu juga menyukai Yoshep.


Saat pria itu tiba-tiba datang kembali setelah dulu menghilang membuat Yue senang bukan main tapi, ia takut daddynya marah.


"Yue mengertikan?"


"Mengerti, dad!" Jawab Ming Yue mengangguk.


Ia mematikan layar ponselnya agar tuan Hupent tak curiga. Tapi, sekuat apapun Ming Yue berbohong tentu Tuan Hupent tak bodoh untuk tahu jika ada yang sudah mendekati putrinya.


"Tak akan-ku biarkan orang asing merusak rencanaku. Jika, Yue sudah punya tujuan lain maka dia akan mundur dari perebutan kekuasaan ini. Aku harus membunuh pria-pria itu," Batin tuan Hupent dengan tatapan yang misterius.


Sudah satu jam mereka menunggu kedatangan Mr Flondmir tapi belum ada kabar.


"Dad! Kenapa mereka tak datang?" Ming Yue bingung.


"Ada yang tak beres," Gumam tuan Hupent segers menghubungi anggotanya yang ia suruh mengawasi Zhen di luar sana.


Saat panggilan tersambung tuan Hupent segera mencecer pertanyaan dengan amarah.


"Bagaimana dengan pria cacat itu? Apa dia memulai pergerakan?"


"Kau begitu perhatian dengan tuanku ternyata."


Degg..


Tuan Hupent terkejut hebat sontak berdiri dengan wajah berubah kelam. Yang barusan bicara adalah suara asisten Jio dengan intonasi sarkas dan dinginnya.


"Kauu!!! Kauu sialaan!!"


"Jangan menganggap tuanku lemah tak bisa memenggal kepalamu, bodoh!"


Tuan Hupent segera mematikan panggilan dengan kasar. Nafas memburu dan emosi kian mengubun membuat Ming Yue pucat segera berdiri.


"D..Dad!"


"Pria cacat itu menangkap mata-mata yang ku tempatkan di sekitarnya. Dia sudah bergerak selangkah di depan kita!!"


"Semuanya beres! Mereka ada di ruang meeting dan.."


Tamparan keras melayang ke wajah sekretaris Xiho yang tadi ingin berbalik tapi tak menyangka Ming Yue ada di sini.


"Sialaan!! Kau memang sangat beraniii!!" Menjambak rambut sekretaris Xiho brutal.


Tuan Hupent yang tadi menyusul segera menarik putrinya dari sekretaris Xiho yang sudah di cakar habis.


"Katakan dimana mereka?"


"S..saya.."


"Jika tidak, kau akan habis disini," Ancam tuan Hupent menunjukan senyum menakutkan.


Karena sekretaris Xiho seorang wanita tentulah ia takut tuan Hupent berbuat kejam padanya seperti yang dulu pernah dia lakukan pada beberapa karyawan perusahaan.


"JAWAAB!!!"


"D..Di restoran Star Food."


Tuan Hupent menarik Ming Yue untuk bergegas pergi sebelum Zhen sialan itu menggagalkan segalanya.


......


Di restoran Star Food.


Dua pria berstelan jas tapi beda usia dan derajat ketampanan itu tengah berjabat tangan tanda kesepakatan dan kerjasama yang berjalan sangat lancar.


Mr Flondmir terlihat sangat senang bertemu dengan Zhen. Walau dalam keadaan masih duduk di kursi roda, Zhen bisa membuktikan kualitas diri dan kemampuannya sama sekali tak berkurang.


Bahkan, Zhen semakin mendominasi membuat para klien yang bertemu dengannya kian segan dengan sosok muda jenius itu.


"Awalnya saya kira presdir Zhen benar-benar tak dapat menjalankan bisnis lagi. Tapi, ternyata ini sangat luar biasa."

__ADS_1


"Hanya kedua kaki yang lumpuh tapi bukan otak," Jawab Zhen dengan tegas dan penuh percaya diri.


Asisten Mr Flondmir menyerahkan proposal dan beberapa berkas penting pertemuan kali ini pada Zhen yang di jaga oleh dua pengawal di belakangnya.


"Presdir! Saya merasa jika perusahaan Group Ming harus melihat anda. Beberapa bulan ini suasana jadi ambigu dan agak kacau membuat kami jadi khawatir," Ucap Mr Flondmir menyatakan kecemasannya.


Zhen dengan tenang mengangguk seraya menandatangani beberapa kembar berkas itu lalu di serahkan pada pengawalnya.


"Saya mengerti. Maaf, jika itu membuat anda tak nyaman."


"Bukan masalah yang besar, presdir! Saya hanya mencemaskan anda."


Keduanya berbincang serius soal kerjasama bisnis dan beberapa proyek besar. Zhen terlihat sangat berwibawah dan mempertimbangkan setiap keluhan dan pujian dari Mr Flondmir yang selalu mengaguminya.


Tanpa sadar, Moa yang tengah duduk tepat di kursi belakang Mr Flondmir jadi mengulum senyum.


Moa menyamar agar tak terlalu mencolok bagi Mr Flondmir dengan topi dan pakaian serba hitam menyedu teh di atas meja. Kebetulan restoran ini sepi karena di booking Zhen jadilah ia bersantai.


"Jika sedang bekerja seperti itu dia jadi sangat-sangat tampan," Batin Moa mengigit bibir bawahnya seraya curi-curi pandang ke arah Zhen yang berbicara tegas tapi saat mata mereka bertemu Moa langsung merubah wajah jadi datar membuang pandangan.


"Baiklah. Saya rasa cukup sampai disini!" Ucap Zhen menyudahi pertemuannya karena sudah hampir dua jam membahas bisnis.


Mr Flondmir berdiri dan kembali berjabat tangan dengan Zhen dengan wajah terus memancarkan keramahan.


"Terimakasih untuk pertemuan kali ini, presdir! Saya menantikan kabar baik soal anda!"


"Hm, semoga saja," Jawab Zhen membiarkan Mr Flondmir pergi dengan asistennya.


Sekarang tinggallah mereka berdua dan pengawal di belakang. Zhen memandang datar Moa yang pura-pura tak peduli.


"Kesini!"


"Untuk?" Moa menarik satu alis sinis dengan kedua tangan bersikedap dada.


Namun, mata Moa seketika berbinar saat Zhen mengeluarkan kartu dari dompetnya hingga jiwa matre Moa seketika keluar.


"Haiss!! Kenapa tak bilang jika kau ingin berbagi rezeki?!" Decah Moa bangkit dan berjalan mendekati Zhen yang mengulum senyum dengan tingkah belut ini.


Namun, saat Moa ingin mengambil kartu itu Zhen kembali memasukan dalam dompetnya.


"Kauu!!"


"Duduk!" Titah Zhen telah berhasil menipu Moa yang seketika naik darah.


Tapi, ia tetap duduk di kursi Mr Flondmir tadi membuat wajah Zhen mendingin.


"Siapa yang menyuruhmu duduk di situ?" Suara tak bersahabat.


"Lalu dimana? Di lantai?" Kesal Moa bukan main.


Salah satu pengawal Zhen peka dengan isyarat tangan tuannya. Ia mengambil kursi di meja lain dan di bawa ke samping Zhen.


"Silahkan, nona!"


"Cih. Masalah duduk saja sampai merepotkan orang lain!" Umpat Moa mau tak mau duduk di kursi yang baru.


Wajah kesal Moa tak Zhen hiraukan. Begitu jengkelnya Moa pada Zhen, ia segera mengambil gelas teh pria itu lalu meminum sampai tandas.


Tak hanya itu saja, Moa memakan apapun yang ada di atas meja tapi saat ingin mengambil piring Mr Flondmir tadi seketika di larang Zhen.


"Pesan yang lain!"


"Kauu!!" Moa mendidih dan bangkit dari duduknya.


Ia berjalan ke arah meja pesanan dengan rasa ingin menguras habis kekayaan babi jantan itu.


"Makanan termahal, terenak dan bisa membuat orang jatuh miskin mendadaak!!" Pinta Moa dapat di dengar oleh Zhen yang menipiskan bibirnya.


Namun, tiba-tiba saja tanpa mereka duga seseorang datang dan langsung menyiram wajah Zhen dengan segelas air yang ada di atas meja.


"KENAPA KAU MASIH HIDUP?? KENAPA TAK MATI SAJA, HAA??"


....

__ADS_1


Vote and like sayang


__ADS_2