
Setelah bertengkar dengan Ming Yue tadi, Zhen jadi menyibukkan diri di ruang kerjanya. Ia tak marah pada Moa atau siapapun tapi lebih tepatnya dihantui pikiran sendiri.
Bahkan, baby Zoe yang bersandar ke dada Moa yang memangkunya di atas sofa berhadapan dengan meja kerja Zhen juga ikut murung kala daddynya tak bersuara dari tadi.
"Daddy!" Gumam baby Zoe berbalik memeluk leher Moa dengan bibir mengerucut ingin menangis.
"Susst! Daddy hanya sibuk. Jangan di dekati dulu, hm?"
"Daddy!" Gumamnya lagi masih dengan ekspresi yang sama.
Moa menghela nafas. Menatap Zhen lekat dan terlihat jelas Zhen hanya berusaha menyibukkan dirinya mengusir pikiran yang rumit di jelaskan.
"Dia pasti tertekan karena baru saja memukul adiknya. Walau Ming Yue salah tetapi tetap saja dia tubuh dipangkuan Zhen. Aku paham perasaanya," Batin Moa yang sadar itu.
Lirikan mata Moa beralih pada gelas air dan tablet obat di meja. Tampaknya Zhen belum meminum obatnya sama sekali.
"Zoe!"
"Ha?" Tanya baby Zoe terkesiap saat Moa menepuk pantatnya ringan.
Si gembul cantik dengan dua bola mata emas bak barbie hidup itu menatap serius wajah cantik Moa.
"Pergilah ganggu daddymu!"
"Daddy?"
"Yah. Ambil tablet obatnya dan suruh dia minum!"
Moa menjelaskan dengan rinci dan hati-hati. Baby Zoe yang sudah sering bekerjasama dengan mommy barunya itu segera turun dari sofa lalu dengan langkah pendek setengah berlari menuju meja Zhen.
"Daddy!!" Pekiknya seperti biasa menyelip di bawah meja dan segera memanjat ke pangkuan Zhen.
"Kenapa? Daddy sedang sibuk. Pergilah bermain!" Ucap Zhen membelit pinggang baby Zoe agar tak jatuh tapi matanya masih fokus ke layar laptop.
"I..itu.." Menunjuk deretan kurva saham yang ada di laptop Zhen dan berbagai rincian yang tak ia mengerti.
"Daddy sedang bekerja. Bermain dengan singa-mu, Zoe!" Pinta Zhen menurunkan baby Zoe ke lantai lalu kembali fokus ke laptop dan beberapa berkas penting yang harus ia periksa.
Melihat daddynya tak ingin bermain, jemari mungil baby Zoe saling meremas beralih memandang Moa yang menunjukan wajah angkuh pantang menyerah.
Jadilah si kecil itu termotivasi dan kembali memanjat ke pangkuan Zhen.
"Zoe!" Tegur Zhen masih dengan suara yang lembut memeggang pinggir meja agar kepala putrinya tak terbentur.
"Main, daddy!"
"Main dengan singa-mu. Daddy bekerja, hm?" Mengusap kepala putrinya lembut dan melabuhkan ciuman di sana.
Melihat itu dada Moa dijalari rasa hangat. Zhen memang tipe pria penyayang pada orang-orang terdekatnya. Ia punya jiwa pemimpin dan melindungi, juga sangat sayang keluarga. Pria idaman.
Dia sangat pantas menjadi ayah Noah. Putra kecilku akan sangat bahagia.
Tunggu..
Moa tersadar akan lamunannya. Kedua pipi Moa bersemu merah segera memukul kecil kepalanya yang mulai konslet.
"Apa yang terjadi padamu, hm? Sangat menjijikan," Geli Moa senyam-senyum sendiri tapi tercekat saat sadar jika ternyata Zhen sedari tadi memandangnya penuh curiga.
"Ehmm!" Deheman kegugupan berusaha menetralkan suasana hati.
"Apa yang kau pikirkan?" Tanya Zhen menyelidik sementara baby Zoe ada di pangkuannya.
"Tidak ada."
Ekspresi Zhen masih menaruh rasa curiga. Dia belum pernah melihat Moa senyam-senyum seperti itu dan apa mungkin Moa tengah membayangkan pria lain?!
"Kesini!"
"Cih. Tak jelas," Acuh Moa bersandar ke sofa dengan kaki bertopang tindih memilih bermain ponsel.
Hal itu membuat Zhen semakin tak tenang segera menggerakan kursi rodanya mendekati sofa.
Tanpa banyak bicara Zhen merampas ponsel Moa yang terkejut.
"Kau ini apa-apaan, haa?? Berikan ponselku!!" Pekik Moa ingin meraih benda itu dari tangan Zhen yang memeriksanya.
Mata Zhen menyorot tajam kala melihat di menu pesan ada nomor asing yang memberi Moa stiker love yang menjijikan.
"Ini siapa?" Menunjukan layar ponsel dengan nada marah.
"Bukan siapa-siapa."
"Kau jangan main-main, Moa!! Ini siapa??" Keras Zhen hampir membanting benda itu jika tak sigap Moa rampas.
Raut wajah Moa seketika jadi kesal karena Zhen terlihat sangat marah padahal hanya sebuah pesan sesat.
"Aku tak tahu. Lagi pula, kenapa kau marah? Aku bebas ingin berhubungan dengan siapapun baik lelaki atau perempuan. Jangan mengaturku," Ketus Moa menyembunyikan benda itu di dalam tasnya.
Zhen diam tapi wajahnya benar-benar tak bersahabat memandang Moa yang mulai risih.
"Kenapa kau jadi aneh begini?! Tidak jelas!"
"Kau lupa perkataanku dulu?" Tanya Zhen dengan intonasi menekan.
__ADS_1
Yah, Moa ingat jika Zhen pernah mengatakan kalau pernikahan mereka ini memang sekedar kesepakatan tapi masih sakral.
Selama Moa masih berstatus sebagai istrinya maka tak di perbolehkan berhubungan dengan lelaki lain.
"Aku.."
Zhen kembali ke tempat kerjanya. Ia pergi tanpa berkata apapun membuat Moa kesal tapi juga merasa bersalah.
"Mereka benar. Zhen memang pria paling serius di dunia," Umpat Moa pusing jika pria itu sudah mendiaminya.
Zhen beralih bekerja bahkan baby Zoe tak berani berkutik. Ia menjadi batu karena tahu hawa daddynya sedang tak bersahabat.
"Bermainlah sendiri!" Menurunkan baby Zoe yang agak ngeri segera berlari kecil ke arah Moa.
"Daddy mallaa!" Cadelnya berdiri di samping sofa tapi mata tertuju pada Zhen.
"Biar aku yang urus. Kau pergilah cari uncel Jio dan bermain dengannya!"
"Umuaa!" Baby Zoe mencium pipi Moa yang sengaja di dekatkan padanya lalu berlari kecil dengan ayunan kaki pendek imutnya. Baby Zoe bergelantungan ke gagang pintu hingga terbuka dan barulah ia pergi ke ruangan asisten Jio yang tak jauh dari sini.
Sekarang, tinggallah Zhen dan Moa. Seketika ruangan jadi agak canggung dan sunyi apalagi Zhen tak bicara atau memandang ke arahnya.
"Apa dokter itu sudah di temukan?" Tanya Moa mencari pembahasan seraya berjalan mendekati meja Zhen dan duduk di pinggirnya.
Zhen menuli seakan tak dengar sama sekali.
"Aku akan menyelinap ke sana dan kau tinggal berikan informasinya padaku. Hm?"
Zhen tetap diam. Alhasil Moa memutar otak mencari pembahasan yang menarik.
"Bagaimana kalau kita berlatih berjalan? Aku lihat kau sering menggerakan kakimu ketika di pagi hari."
Lagi-lagi hal yang sama terjadi membuat Moa kesal bukan main. Moa segers menutup paksa laptop Zhen lalu menyingkirkan banyak berkas di meja sampai berjatuhan di lantai dan beralih duduk tepat di tengah-tengah meja.
"Sekarang kau bisa melihatku?" Tanya Moa duduk tepat di hadapan Zhen tanpa rasa bersalah setelah menjatuhkan barang-barang di atas meja.
"Bereskan!" Titah Zhen tampak emosi.
"Kau punya sekretaris bukan? Dia di gaji untuk itu."
"Kauu.."
"Susss!! Singkirkan pekerjaan dan sekarang kita bahas tentang KITA," Sela Moa memang sangat suka bersikap semaunya.
Zhen yang di buat darah tinggi akhirnya diam membuang pandangan ke arah lain.
"Katakan! Sejauh mana perkembangan kakimu?"
"Babi!! Masalah pesan itu aku-pun tak tahu menahu siapa yang mengirimnya. Kau pikir aku ini wanita murahan, haa??" Pekik Moa sampai ingin mengacak-ngacak rambutnya tapi Moa urungkan karena akan menggangu pesona ilahinya nanti.
"Ayolah. Aku hanya punya teman satu orang dan itu Ebner. Mantan kekasih tidak punya bahkan aku tak pernah berpacaran. Apa yang lebih buruk dari itu? Katakan!" Imbuh Moa suram.
Mendengar itu barulah Zhen memandang Moa tapi masih belum bersahabat.
"Kenapa?"
"Apanya?" Tanya Moa mendecah kesal.
"Kenapa kau tak berpacaran?"
Tawa getir Moa lolos tapi seketika wajah cantiknya masam. Tangannya meraih gelas air di atas meja yang belum jatuh dan meneguknya setegah.
"Bagaimana bisa berpacaran? Melihatku saja mereka langsung ketakutan. Aku akui pesonaku benar-benar luar biasa tapi tak ada yang berani mendekatiku," Jawab Moa bangga hampir membuat Zhen tersedak walau perkataan itu benar adanya.
"Selain babi sepertimu. Kau yang pertama berani mendekatiku tanpa takut mati dan yang lebih penting.."
Moa menjeda kalimatnya dengan kedipan mata nakal.
"Kau tak takut jatuh miskin," Imbuh Moa tertawa kecil sampai Zhen-pun ikut tersenyum kecut.
Nasibnya jadi bank berjalan bagi gadis perawan ini.
"Cih, merepotkan," Gumam Zhen tak lagi merasa kesal.
Moa memandang Zhen yang tampak lebih baik dari tadi.
"Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri!" Ucap Moa tenang.
"Pukulan yang kau berikan hanyalah pukulan saudara pada adiknya. Bukan seperti musuh. Kau hanya menghukum adikmu yang berbuat salah," Imbuh Moa menenagkan Zhen.
"Aku tak merasa bersalah karena dia layak di pukul. Tapi, aku hanya tak menyangka kalau hari ini aku akan memukul si kecil yang dulu ku suapi dengan tanganku sendiri," Gumam Zhen merasa sesak setiap mengingat.
Mata Zhen menatap objek lain menyembunyikan kemalut di hatinya.
"Memiliki adik itu sangat menyenangkan karena aku bisa merawatnya dengan tanganku sendiri tapi, aku ..aku tak menyangka jika tanggung jawabnya akan sebesar ini," Jelas Zhen terlihat marah pada dirinya sendiri.
Moa merasa kasihan. Tanpa di suruh kedua tangannya terulur menarik kepala Zhen untuk terbenam ke dadanya yang empuk dan menenagkan.
"Jika saat itu aku tahu kalau Hupent akan memperalat Yue, aku tak akan membiarkan dia membawa adikku. Tak akan-ku biarkan!"
Moa hanya diam mengusap kepala keangkuhan itu. Masalah ini memang terkesan remeh dan berlebih-lebihan bagi seseorang yang tak punya rasa tanggung jawab seperti Zhen.
Sejak kecil ia sudah melihat banyak kepicikan ayahnya dan masih syukur Zhen tak menjadi jahat sama sekali. Justru ia ingin melindungi adik dan ibunya dari monster satu itu.
__ADS_1
"Sekarang. Dia jadi buronan polisi. Aku tak akan melepaskannya sama sekali," Geram Zhen sangat membenci pria itu.
"Hm. Setelah semuanya selesai dan kejahatan tuan Huprnt terungkap di depan mata Yue, pasti dia akan kembali pada kalian. Dia hanya sesat sesaat."
Zhen diam. Ia memejamkan matanya menikmati belaian tangan Moa ke sela rambutnya. Aroma mawar di tubuh Moa sangat menenagkan pikiran Zhen yang tadi bergelut resah.
"Dokter yang kau cari itu sudah di temukan."
Degg..
Sontak Moa terkejut dan antara senang bukan kepalang sekaligus tak percaya akan secepat ini.
"Benarkah? Dia sudah di temukan?" Tanya Moa membuat Zhen mengangkat kepalanya dari bantalan empuk itu.
"Hm. Tapi jangan senang dulu."
"A..ada apa?" Tanya Moa agak gugup.
"Salah satu bawahanku menyusup ke markas seseorang yang kemungkinan dalang dari hilangnya dokter Wen. Saat di sana dia melihat satu organisasi ilegal yang bergerak dalam perdagangan organ ke seluruh asia dan eropa."
"Jadi, menurutmu dokter Wen ada di sana?"
"Hm. Bawahanku tak bisa masuk ke dalam markas utama dan hanya berkeliaran di luar. Tempat mereka juga ada di sebuah pulau yang cukup terpencil dan di sana mereka melakukan perdagangan ilegal."
Moa diam. Tak ada rasa takut mendengar organisasi gelap seperti itu tapi justru ia tak sabaran.
"Dimana tempatnya?"
"Jangan gegabah. Mereka punya jaringan yang luas. Berurusan dengan organisasi seperti itu kau tak boleh terlihat langsung. Mereka akan sangat merepotkan kehidupan nyatamu," Jelas Zhen bermain dengan hati-hati.
"Jadi? Apa yang harus di lakukan? Apa bekerjasama dengan polisi?"
Zhen menggeleng penuh pertimbangan. Ia menatap Moa serius dengan tangan terangkat menarik lepas tali di leher Moa hingga pakaian wanita itu terbuka terutama di depan dada.
"Organisasi sebesar itu pasti punya banyak jaringan. Baik pemerintahan atau dari segi wilayah. Kita akan menyusup dalam diam."
"Menyusup? Kau yakin?"
Zhen mengangguk. Ia menurunkan dress Moa sampai ke pinggang lalu melepas tali bra wanita itu. Moa yang sadar jika bagian atasnya sudah polos sontak langsung memukul bahu Zhen agak kesal.
"Kau menjelaskan tapi tanganmu sangat susah di kondisikan!"
"Melepas pakaian istri tak akan masuk penjara," Santai Zhen yang ketagihan untuk menge**mut puncak bukit kembar itu.
Moa ingin menolak tapi Zhen sudah meraup salah satunya dengan hisapan sensual jadilah ia hanya bisa menikmati mode nakal pria tampan ini.
Menghisap bergantian seakan-akan ia benar-benar candu dan tak bisa lepas dari kesempurnaan ini.
"K..kau ingin melatih itumu?" Tanya Moa dengan nafas terengah karena Zhen sangat membuatnya panas dingin.
Tanpa banyak bicara lagi Zhen berdiri dari duduknya. Ia masih bisa berdiri tapi belum bergerak lebih.
Ciuman erotis itu beralih menyusuri leher jenjang Moa dan berlabuh di bibir pink segar glossy yang sangat manis.
Satu tangan Zhen menurunkan tangan Moa dan mengarahkan belut betina itu meremas bagian bawahnya yang sudah on.
Shitt. Sepertinya akan lebih dari 40 detik.
Pikir Zhen karena kali ini ia lebih berhasrat dari yang kemaren.
Tahu jika Zhen menginginkan lebih, Moa beralih mencumbu dengan hebat dan liar. Ia ingin membangkitkan keperkasaan itu lagi agar Zhen lebih percaya diri.
"Ehmm!" Zhen menggeram nikmat saat tangan nakal Moa benar-benar ajaib mengobrak-abrik kelelakiannya di bawah sana.
Moa mencumbu bibir, rahang dan leher kokoh itu membuat nafas Zhen semakin tak beraturan.
"Dua menit cukup, hm?" Goda Moa menjilati kuping Zhen sampai pria tampan itu tersengat hebat akan permainan nakal sang istri.
Zhen pasrah. Kepalanya mengadah membiarkan Moa mencumbu lehernya dan menanggalkan satu persatu pakaian di tubuh kekar Zhen.
Jas jatuh tanpa beban dan satu persatu kancing kemeja terbuka mempertontonkan tubuh atletis Zhen yang sempurna.
"Emm...Moa!" Serak Zhen meremas remang rambut Moa kala wanita nakal itu bergerak liar menjelajahi dadanya.
Moa menyeringai kala merasakan bagian bawah Zhen sudah sangat keras dan kokoh.
"Bertaruh?"
"Hm?" Tanya Zhen menatap Moa dengan telinga merah dan mata di selimuti kabut hasrat.
"3 menit. Bagaimana? Jika bisa aku harus pergi malam ini ke tempat itu!"
Zhen diam. Ia ingin menolak tapi Moa lagi-lagi meremas area bawah sana hingga kepala Zhen terasa berdenyut jika menahan hasratnya.
"Jangan khawatir. Aku akan menjaga diri!"
"Hm." Gumam Zhen kembali menyambar bibir Moa rakus dan Moa tak menolak.
Ia sudi melayani Zhen karena apa yang pria ini berikan padanya memang setimpal.
...
Vote and like sayang
__ADS_1