
Rapat penting yang tadi berlangsung selama berjam-jam akhirnya selesai. Zhen benar-benar sibuk karena proyek baru mereka sudah 95% berjalan. Ia harus bertemu banyak investor dan klien yang bekerjasama atas proyek besar satu itu.
Satu persatu manusia di ruangan meeting keluar setelah pamit pada Zhen yang hanya mengangguk seadanya kembali memeriksa berkas-berkas penting selesai rapat.
"Rangkapan hasil meeting ini kau simpan di ruangan Jio!"
"Apa tuan langsung pulang?" Tanya Bastian menerima dokumen yang di sodorkan Zhen.
"Tidak. Aku akan lembur. Sisanya serahkan pada sekretaris Xiho!" Tegas Zhen berdiri dari duduknya.
Zhen berjalan keluar ruangan dengan kedua tangan masuk ke dalam saku celananya. Ia lupa membawa ponsel yang tadi ada di ruang kerja.
Setelah beberapa lama Zhen tiba di ruangan khusus presdir miliknya. Wajah lelah Zhen cukup terlihat karena ia harus menandatangi banyak berkas penting yang menumpuk di mejanya.
Tapi, Zhen lebih dulu duduk di kursi kerja sejenak menghela nafas bersandar rileks.
"Apa yang dia lakukan sore ini?!" Gumam Zhen kepikiran soal Moa.
Zhen mengambil ponselnya yang tadi tertinggal di meja lalu membuka benda itu. Dahi mulus Zhen mengkerut kala ada panggilan tak terjawab dari Moa.
Karena cemas Zhen kembali menghubungi Moa tapi ponsel wanita itu tak aktif.
"Kemana dia?!" Gumam Zhen ingin mengirim pesan hingga matanya tertuju pada pesan tertimbun email milik Moa.
BABI! AKU MENJEMPUT ANAK-ANAK DULU, YA! KAU SIBUK SAMPAI TAK MENJAWAB PANGGILANKU. AWAS SAJA NANTI
Pesan itu diakhiri dengan emot marah hidung berasap.
"Seharusnya dia sudah pulang. Lalu, kenapa ponselnya tak aktif?!" Cemas Zhen segera berdiri lalu menghubungi Elio.
Tapi, ponsel pria itu juga tidak aktif membuat Zhen berubah panik dipenuhi kekhawatiran.
"Bastiaaan!!!"
Dalam satu panggilan keras Bastian masuk. Wajah terkejut dan ikut gelisah.
"Iya, tuan?"
"Ponsel Elio dan istriku tak aktif. Apa yang terjadi?" Tanya Zhen dengan sorot mata tajam mengintimidasi.
Bastian memeriksa ponselnya. Tak ada laporan apapun dari anggota mereka.
"Saya akan menghubungi pelayan di rumah, tuan!"
"Cepat cari!!"
Bastian menghubungi para bawahan mereka dan pelayan di apartemen. Mereka bilang Moa sudah keluar sejak siang tadi dan sampai sore ini belum kembali.
"Tuan!"
"Apa yang terjadi?" Tanya Zhen kelut.
"Nyonya sudah keluar sedari siang dan sampai sekarang belum kembali."
Sontak saja Zhen langsung bergegas keluar dengan jantung berdegup kencang. Takut dan sangat takut jika Moa dan calon anak mereka terluka atau dalam bahaya mengingat kondisi mereka saat ini di pantau musuh.
Zhen masuk ke lift diikuti Bastian. Ketika sampai di lantai bawah ia tak menghiraukan sapaan para karyawan yang merasa Zhen sedang dalam mood yang buruk terbukti dengan wajah dingin bercampur panik pria itu.
"Hubungi Gregor! Periksa seluruh cctv di jalan yang di lalui istriku terutama sekolah Zoe dan Noah!"
"Saya mengerti, tuan!"
Membiarkan Zhen masuk ke dalam mobil dan mengemudi sendiri sementara Bastian memakai mobil para bawahan mereka yang berjaga disini.
Zhen memacu mobilnya cepat menuju sekolah Noah. Moa tak ada di apartemen dan kemungkinan wanita itu masih ada di sana.
"Satu-pun dari kalian tak ada melaporkan padaku!! Sialan!!" Umpat Zhen memukul kemudi karena emosi dengan para bawahannya.
Kecepatan mobil itu sangat tinggi membawanya ke depan gerbang sekolah Noah yang sudah tutup. Di sana terlihat sepi tapi Zhen tahu jika orang-orang berbadan kekar tengah berkeliaran di pekarangan sekolah elite ini adalah bawahannya.
Buru-buru ia turun dari mobil lalu masuk ke dalam gerbang.
"Tuan!" Mereka terkejut melihat Zhen datang dengan wajah mengeras.
Tanpa bicara sama sekali Zhen menghadiahkan pukulan ke wajah salah satu dari mereka sampai keadaan berubah tegang.
"ISTIRKU TAK KEMBALI DARI SIANG DAN KALIAN TIDAK MELAPORKANNYA PADAKUU!!" Emosi Zhen dengan nafas memburu panas.
"T..tuan! Kami..kami sudah melaporkannya. Bahkan sedari siang kami berusaha menghubungi tuan dan Bastian tapi tak ada yang menjawab."
Zhen diam masih dengan amarah yang menggumpal di dadanya. Bastian bilang tak ada yang melapor sedangkan para bawahannya menunduk pucat setelah mengatakan itu.
"Zhen!"
Suara Yoshep yang baru datang bersama Noah. Ntah bagaimana mereka bisa bersama Zhen juga bingung?!
__ADS_1
"Uncle!"
"Dimana mommy-mu?" Tanya Zhen pada Noah.
"Tadi siang aku di tunggu uncle Elio! Kami pergi ke sekolah adik Zoe tapi, ketika disana mereka bilang adik Zoe sudah di bawa mommy pulang. Tapi, saat pulang mereka tak ada. Dua pelayan di rumah juga bingung karena mommy nyatanya tak pulang sama sekali," Jelas Noah juga menahan kepanikannya.
"Aku tadi mampir ke apartemen mu dan melihat Noah panik mencari di sekitar apartemen. Saat tahu Moa dan Zoe hilang aku langsung ingin ke perusahaan tapi Bastian bilang kau sudah keluar." Yoshep menimpali.
"Lalu, dimana Elio?" Tanya Zhen mencerna setiap penjelasan Noah dan Yoshep.
"Setelah mengantar ke apartemen uncle Elio pergi mencari mommy tapi, dia juga hilang," Jawab Noah bertambah kelut.
Zhen mengusap wajahnya kasar. Ia sangat menyesal karena lupa membawa ponselnya ke ruang meeting.
"Tenanglah. Moa pasti baik-baik saja."
"Dia sedang hamil!! Dia....Fuckk!!"
Zhen lebih dulu meninju salah satu pohon di dekatnya meluapkan rasa panik dan emosi.
Yoshep paham perasaan Zhen sekarang. Noah juga hanya diam tak tahu apa yang harus mereka lakukan.
"Tunggu!" Zhen sadar ia memasang pelacak di ponsel Moa.
"Kau hubungi Gregor dan kirim lokasi ponsel Moa padaku! Cepaaat!!"
Yoshep buru-buru melakukan perintah Zhen yang menahan emosinya memikirkan semua ini.
"Aku ingin bertemu dengannya. Jangan bilang dia tahu soal ini," Geram Zhen pergi menuju mobilnya.
Noah tak berniat mengganggu Zhen karena ia hanya akan jadi beban. Alhasil Noah menunggu Yoshep tengah bicara dengan Gregor.
.....
Sementara itu, di sebuah gedung tua bekas pabrik tebu yang cukup jauh dari area perkotaan. Ada dua mobil yang terparkir utuh di depan halaman yang di tumbuhi rumput liar itu dengan separuh pagar yang rusak telah berkarat.
Namun, fokus tentu saja teralihkan pada dua sosok wanita berwajah menawan tapi pandangan sama-sama menakutkan tengah berdiri di atas lantai 3 pabrik yang tak lagi beroperasi.
"Tempat ini tepat. Kau suka?"
"Dimana putriku?" Tanya Moa dan hanya itulah yang ia katakan selalu.
Senyum santai Alice muncul. Ia salut pada Moa karena tak ada takut atau gelisah di bawa ke tempat terbengkalai dan seram seperti ini.
Di sekeliling mereka banyak karung-karung ampas tebu dan lagi ada botol-botol minum yang bertebaran disetiap sudut.
Sepertinya tempat ini di jadikan tongkrongan malam oleh anak muda. Pikir Moa dengan mata menyapu dinding tersorot cat dengan kata-kata kotor dan gambar yang random tak beraturan.
"Disini kau bisa memilih. Mati atau memohon ampun. Kau bebas menggunakan alat apapun untuk mengalahkan ku!" Berucap seraya mendorong sebuah kotak di dekatnya hingga pisau, gunting, beling dan pistol itu ada di sana.
Gila. Wanita ini bahkan lebih tak waras dari yang Moa kira. Ntah apa yang membuatnya sampai ingin berkelahi seserius ini tanpa kenal satu sama lain.
"Untuk apa kau ingin bertarung denganku?" Tanya Moa tegas.
"Jangan berpikir terlalu jauh. Aku tahu kalian sedang diincar oleh orang yang menginginkan putramu tapi aku jamin, aku tak sama dengan mereka. Aku hanya ingin menguji kekuatanmu."
Moa terdiam. Jadi wanita ini ada hubungannya dengan ayah Noah. Pasti dia tahu banyak soal itu.
"Jangan banyak berpikir. Waktumu hanya 30 menit. Jika kau kalah aku akan membunuh putrimu!" Menyadarkan Moa dalam lamunannya.
Alice sengaja meletakan ponselnya yang sudah di stel di lantai. Jika waktu habis maka ia akan berbunyi.
"Mulai?"
"Hm," Gumam Moa melempar tasnya ke samping.
Alice melesat dengan cara bertarung yang buas. Tendangan dan tinjunya begitu lincah melayang di udara tapi Moa juga bisa mengimbanginya.
Keduanya sama-sama memakai heels tapi tak ada yang terganggu akan hal itu. Moa punya kelebihan dari segi tangkisan dan kekuatan sedangkan Alice sangat unggul dalam kecepatan.
Wanita ini seperti kilat yang melesat kemana saja bahkan bisa memukul bahu Moa beberapa kali lalu menendang paha Moa sampai terbentur ke dinding.
"Sudah?" Desis Alice tak puas.
Moa diam merasakan sakit di bahunya bahkan benturan itu benar-benar menciptakan lebam di tulang bahu Moa.
"Apa yang kau tahan? Aku tahu kau bisa melakukan lebih dari ini!!" Mulai tak sabaran.
"Aku tak bisa menghindar terus. Janinku akan dalam bahaya membiarkan dia menyerang berulang kali," Batin Moa berdiri dengan normal.
Alice tersenyum puas kembali meningkatkan kewaspadaan.
"Ayo mulai!"
Ia kembali melancarkan dua pukulan ke arah wajah Moa tapi kali ini Moa tak menghindar. Kecepatan tangan Alice ia patahkan dengan sekali terjangan kaki jenjangnya pada perut wanita itu lalu mengambil langkah cepat ke belakang tubuh Alice yang tadi terhuyung dan menghadiahkan pukulan telak ke punggung wanita itu sampai terjerumus ke depan.
__ADS_1
Debu berhamburan dengan karung berisi ampas tebu di tabrak Alice yang terpental cukup keras membentur lantai.
"Yaah!! Ini yang-ku mau," Senangnya bersorak gembira kembali berdiri.
Pandangan Moa tak berubah. Dingin, datar dan waspada mempertahankan perutnya tetap aman.
"Aku ingin bermain kasar denganmu," Desis Alice menendang karung berisi ampas tebu
Itu ke arah Moa hingga serbuknya bertaburan.
Moa mundur tapi sialnya Alice begitu cepat mengambil botol kaca di dekatnya lalu melesat ke arah Moa.
"Aku yang pertamaa!!" Soraknya menghantamkan benda itu ke arah kepala Moa tapi lengan jenjang Moa sigap menghalanginya.
Prankkk..
Pecahan kaca dimana-mana. Moa tak peduli akan darah di lengannya karena sekarang Alice menyerang brutal dengan setengah botol yang masih ia peggang.
Wanita itu semakin bringas kala Moa berhasil meninju wajahnya keras dan menarik tengkuk Alice dengan hantaman kuat ke arah dinding.
Bughh..
Suara yang beradu nyaring kian terdengar. Alice memeggangi kepalanya berdarah lalu menatap membunuh Moa yang menjaga jarak dengannya.
"Kau memang sangat menantang!"
"Sudahi kekonyolan ini. Dimana putriku??" Tanya Moa tak mau membuang-buang waktu.
Alice tertawa jahat seperti kehilangan akal. Darah di pelipisnya menetes tapi ia lebih tertarik pada lengan kiri Moa yang juga robek akibat hantaman botol tadi.
"Aku tak akan berhenti sebelum berhasil membuktikan padanya jika aku yang terbaik."
"Dia siapa?" Tanya Moa waspada kala Alice berjalan mendekatinya.
"Dia yang menganggap mu KEKASIHNYA!" Desis Alice melayangkan tamparan ke wajah Moa yang tak sempat menghindar.
Kecepatan Alice memang ia akui sangat gila sampai sudut bibirnya sobek berdarah. Emosi Moa di uji. Sekuat tenaga ia tak mau banyak melukai Alice karena tujuannya hanya Zoe tapi wanita ini mencari musuh yang salah.
"Kau tahu?" Desis Moa mengusap darah di sudut bibirnya dengan sorot mata berubah bak pisiko.
"Belum pernah ada yang menampar pipiku sebelumnya."
"Lalu?" Santai Alice walau ia cukup ngeri dengan hawa Moa sekarang.
"Aku menginginkan nyawamu!" Desis Moa kembali membalas Alice dengan tamparan keras darinya.
Tak hanya itu, Alice yang tak siap dengan serangan Moa segera merasakan sakit di kepalanya kala Moa menjambak rambut Alice lalu menampar untuk kedua kali lebih sadis.
Kepala Alice terasa pusing tapi ia tak akan menyerah. Moa harus menerima lebih dari ini.
Karena keduanya berkelahi dengan niat membunuh, jadilah Alice lebih serius. Ia berulang kali terpental karena terjangan kaki jenjang Moa tapi ia berhasil membuat luka di bahu dan lutut Moa.
Keadaan mereka benar-benar kacau. Saat Moa mencekik leher Alice maka tangan dan kuku wanita itu langsung merobek atasan Moa hingga separuh bahunya sampai ke pertengahan perut terlihat.
"Kau mencari mati denganku!" Geram Moa menghantamkan berulang kali kepala Alice ke dinding lalu mendorong tubuh wanita itu keras jatuh diatas permukaan lantai.
Serpihan kaca yang berserakan di sana melukai punggung Alice tapi Moa belum puas. Ia naik ke tubuh wanita itu lalu meninjunya dengan sekuat tenaga.
Terkadang Moa juga terkena tamparan dari Alice yang juga mendorong Moa lalu membalas serangan beruntun tadi dengan pukulan tak kalah sengit.
Keduanya saling baku hantam dan botol-botol di sepanjang lantai sudah pecah hingga tubuh Moa ataupun Alice terluka akibat beling itu.
Namun, Moa sudah gelap mata. Alice memulai perkelahian dengannya dan itu adalah masalah besar.
"K..kau ingin membunuhku?" Desis Alice masih kuat bergerak padahal Moa sudah berulang kali menjatuhkannya ke lantai.
Moa diam. Luka di tubuhnya memang terlihat parah tapi Alice lebih dari itu. Bagian wajah Alice dipenuhi darah dan pakaian wanita itu juga sobek karena Moa tarik asal.
"Kali ini aku akan melenyapkan mu!!"
Alice kembali menyerang Moa ganas. Kecepatan tendangan dan tinjuan tangannya terkadang membuat Moa kewalahan tapi Moa sangat pandai membaca pergerakan lawan.
Tahu Alice ingin menyerang perutnya, Moa membalikan keadaan dengan memukul bahu Alice dan mengiringnya ke tangga di belakang.
"Kita mati berdua!!" Geram Alice sudah gila menarik tangan Moa bersiap terjun ke tangga tapi tiba-tiba saja ada dua tembakan keras di arah bawah mengenai perut Alice tapi juga melukai bahu Moa.
Tubuh Alice tersungkur ke lantai sementara Moa memeggangi bahunya yang ditembus peluru.
Mata mereka menatap sosok pria bermasker yang ada di depan sana.
"Akhirnya kau mempermudah jalanku, Alice!"
..
Vote and like sayang
__ADS_1