
Pagi itu siska di bawa pulang ke rumah raynand. saat itu siska kembali melancarkan aksinya dengan pura-pura jatuh pingsan kedalam pelukan raynand.
ingin rasanya raynand menghempaskan tubuh siska, namun ia urungkan mengingat saat itu siska tengah hamil.
kanaya menatap suaminya yang kini tengah menggendong siska untuk di bawa kedalam kamarnya.
sesaat kanaya berpikir, mungkin raynand masih mempunyai pwrasaan terhadap siska yang memang dulu adalah wanita yang sangat raynand cintai.
Namun segera kanaya menepis pikirannya itu dan kembali membantu raynand untuk membaringkan siska. setelah beberapa saat akhirnya siska membuka matanya.
"nay berikan imi padanya" rayhan mengulurkan segelas air untuk siska melalui kanaya.
tok tok tok..
mendengar ketukan dari balik pintu rumahnya, raynand segera membukakan pintu. bukan salam yang ia dapat namun sebuah pukulan keras melayang tepat di pipi kananya dan membuat raynand terhempas ke lantai.
mendengar keributan tersebut, rayhan dan kanaya berlari ke arah ruang tamu. melihat keadaan suaminya yang terkapar kanaya segera membantu raynand untuk bangkit.
"ada apa ka, kenapa kamu tiba-tiba memukul ray?"
saat arka mau menjawab agas dan bastian menyusul.
"ka jangan emosi dulu.." ucap agas dengan nafas yang terengah-engah.
"nay, kenapa kamu tetap disini? ray udah khianatin kamu dengan membuat wanita lain mengandung anaknya." arka terlihat marah setelah mengetahui raynand menghamili siska yang notabene nya mantan calon istrinya.
suasana mencekam tidak ada satu orang pun yang mengatakan sesuatu hingga saat siska keluar dari kamar dan mulai membuka suara.
"itulah wanita yang tidak tau malu, sudah tau suaminya menyukai perempuan lain. dia tetep kekeh tidak berpisah dari ray!" ucap siska dengan entengnya .
"gue gak salah dengar? gue rasa lo sendiri yang gak tau malu. sudah tau ray punya istri masih aja jadi parasit. pakek ngaku-ngaku hamil anak ray lagi" bastian tersenyum miring setelah puas memaki siska yang seketika raut wajahnya berubah pucat pasih karna terskak oleh kata-kata bastian.
"siapa yang ngaku-ngaku, ini emang anak ray kok!"
"elo.." agas menghentikan ucapannya sejenak dan membali mengingat sesuatu. "bukannya lo cewe yang biasa ada di club, dan lo cewenya Daniel kan?"
"apaan si gue gak kenal sama yang namanya daniel" jawab siska.
Arka kembali mendekati kanaya "nay kita pulang sekarang! wanita sebaik kamu gak berhak di permainkan oleh ray" arka menatap tajan raynand.
"apa yang lo maksud ka, kita temenan udah lama, seharusnya lo mengenal gue dengan baik!"sargah raynand membela diri.
__ADS_1
"justru gue kenal lama makanya gue tau sifat lo ray. dari dulu lo selalu mempermainkan cewe-cewe yang suka sama lo!"
"oke gie akuin dulu emang gue sering permainin mereka, tapi gue tau batasan. bahkan gue gak pernah sentuh mereka sedikitpun ka"
"Hentikan perdebatan kalian. dari pada kalian sibuk menghakimi ray seperti ini, lebih baik kita tanyakan langsung keputusan kanaya." ucap rayhan menengahi.
semua mata tertuju kepada kanaya, berharap mendengar jawabab yang ingin mereka dengar.
"untuk saat ini naya percaya dengan ray, tapi..untuk membuktikan kebenarannya kita akan lakukan tes dna setelah bayinya lahir."ucap kanaya.
"itu terlalu lama nay, aku punya teman dokter kandungan. kita bisa lakukan tes dna bahkan sebelum bayi itu lahir. kita akan lakukan saat landungan wanita itu cukup besar." tegas arka.
"kali ini gue setuju sama ucapan lo ka" sahut raynand.
"gue gak minta persetujuan lo ray. gue sering salah dengan mempercayai lo!"
suasana semakin panas, untuk meredamnya agas dan bastian mengajak arka untuk pergi.
☆☆☆☆☆
Siang itu kanaya mengajak siska untuk berbelanja kebutuhan bayi. meskipun kanaya tidak menyukai siska, namun hati nuraninya tidak akan tega dengan bayi yang tengah siska kandung jika saat bayi itu lahir tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.
"sepertinya ada yang gak beres"lirih kanaya.
"kenapa nay, apa kamu menyesal mengajakku kesini? apa kamu iro karna saat ini kamu harus mengurus calon anak suamimu dari wanita lain?" ucap siska tersenyum licik.
"berhenti beromong kosong, aku hanya kasian denganmu. kamu rela mengganggu rumah tangga orang lain hanya untuk anakmu yang mu gkin ayah kandungnya mencampakkannya bahkam sebelum dia lahir." ucap kanaya sambil memilah perlengkapan bayi.
"ayah siapa yang kamu maksud, ayah anakku adalah ray bukan yang lain!" nada suara siska meninggi sehingga membiat beberapa orang yang ada di tempat itu sempat menatapnya heran.
"udah gak usah ngegas, nati bayi kamu lahir sebelum waktunya lagi!"
mendengar ucapan kanaya siska semakin kesal dan memilih keluar lebih dulu.
saat siska tengah berjalan menuju eskalator, kanaya yang baru keluar denga beberapa kantung belanjaan melihat seseorang berjalan menuju siska dengan pisau di tangannya.
kanaya berlari sekuat tenaga dan..
brugh...
para pengunjung berkerumun melihat seseorang tumbang dengan luka tusukan di perutnya dan darah yang terus mengalir.
__ADS_1
____
"bgaimana keadaan istri saya dok?" ucap raynand yang terlihat sangat cemas.
"istri anda sudah melewati masa kritis tuan silahkan jika anda ingin menemani istri anda di dalam".
raynand duduk di samping kanaya yang belum sadar dan memegang tanyannya.
saat itu siska masuk dan perlahan mendekat ke arah raynand dan kuga kanaya.
"kanaya tadi nyelamatin aku ray, orang utu ingin mencelakaiku dan naya yang menghalangi orang itu."
Raynand hanya melirik sekilas siska yang berdiri di sampingnya.
"nay, kenapa kamu membahayakan diri kamu hanya untu seseorang yang mau merusak rumah tanggamu?" raynand semakin mengeratkan genggamannya.
"karna bayi itu tidak berdosa ray!" ucap lemah kanaya yang baru saja tersadar.
"nay kamu udah sadar" raynand menciumi tangan kanaya beberapa kali.
"tapi nay, aku gak mau kehilangan kamu hanya karna kamu menyelamatkan siska"
"iya aku tau ray, tapi kamu lihat kan sekarang? aku baik-baik aja. dan bayi itu juga akan selamat. dan satu lagi jangan beri tau masalah ini sama orang tua kita ray, kita akan selesaikan ini sendiri karna ini masalah rumah tabgga kita"
"iya sayang, tapi sekarang lebih baik kamu istirahat ya. aku gak mau kamu kelelahan"
melihat hal itu siska memilih untuk keluar dari ruang rawat kanaya dan duduk di bangku yang ada di depan ruangan itu.
"aku tadi sempat ingin pergi dari kehidupan kalian. tapi ini gak bisa di biarain. maaf nay, walaupun kamu sudah baik dengan menyelamatkan aku dan anakku. aku akan tetap merebut suamimu demi masa depan anakku"
siska menyeka airmata yang semoat mengalir di pipinya.
.
.
.bersambung.
terus like coment vote dan tambbah jadi favorite kalian ya guys..
. bikin author semakin semangat lanjutinnya. .
__ADS_1