
Bastian membuka pintu ruangan Raynand tanpa mengetuk pintu hingga membuat Raynand terkejut. saat itu ia tengah membahas beberapa poin penting dengan karywannya.
"lo kemana aja Ray, gue udah ngubungin lo berulang kali lo malah nggak angkat telfon gue? " protes Bastian yang datang dengan panik.
"kalian bisa keluar sekarang, kita bahas ini besok" Titah Raynand dan segera dituruti oleh karyawan-karyawannya.
Raynand menatap Bastian sembari menggeratkan giginya dan memejamkan matanya singkat.
"ada apa si Bas, harusnya lo tadi ketuk pintu. apa nggak bisa can ketuk pintu doang hmm? "
"nggak ada waktu untuk ketok pintu Ray, karena ini menyangkut nyawa Naya"
"apa maksud lo Bas? " kedua alis yang bertaut dan terangkat sebelah menambah kegarangan diwajah Raynand. "katakan dengan jelas" sambungnya lagi menginterupsi Bastian.
"lo lihat berita di hap lo"
Dengan segera Raynand menuruti ucapan Bastian. matanya membulat sempurna ketika sebuah pantai yang sedang dijadikan tempat pemotretan terjadi ledakan, dan tidak hanya sekali melainkan beberapa kali. bahkan banyak orang yang menjadi korban ledakan adalah anggota crew yang mengadakan pemotretan.
"bukannya itu tempat Naya pemotretan kan Ray? lo tadi bilang dia lagi pergi ke pantai itu kan?"
Raynand meraih kunci mobilnya dan berlari keluar ruangannya. sementara Bastian yang terlihat bingung segera mengejar Raynand. dan ketika menuruni tangga, Bastian tidak sengaja bertabrakan dengan Rayhan yang baru tiba dan ingin berbicara dengan Raynand.
"ada apa Bas, kenapa Ray berlari seperti itu?"
"begini kak, tadi aku memberitahu Ray kalo tempat pemotretan Naya terjadi ledakan"
Rayhan terperanjat seperti apa yang Raynand lakukan, Ray sangat terkejut mendengar apa yang dikatakan eh Bastian kali ini.
"bagaimana bisa? dimana Naya melakukan pemotretan? "
"di sebuah pantai kosong, dimana disana jarang sekali orang yang mendatanginya kak Han"
"kalau begitu aku harus kesana"
"mari kak"
Raynand menempuh perjalanan sekitar satu jam. tempat itu memang tidak terlalu jauh, namun karena terkenal dengan keheningannya membuat banyak orang enggan untuk datang ke pantai tersebut.
Rayannd berlari mendekat ke tempat terjadinya ledakan. namun seorang polisi menghentikannya.
"pak, tolong jangan menerobos. tempat ini sedang dilakukan penyelidikan dan evakuasi jenazah"
"maka dari itu aku harus memastikannya karena istriku ada disini pak"
"jadi bahwa adalah anggota dari salah satu korban? "
__ADS_1
"tidak, aku harap istriku tidak menjadi korbannya, aku hanya memastikan saja! "
"baiklah, mari ikut saya untuk melihat beberapa jenazah yang masih utuh. sedangkan yang lain harus kami lakukan identifikasi karena bagian tubuh yang terpisah akibat ledakan itu pak"
Raynand mengikuti polisi tersebut untuk melihat apakah Kanaya menjadi korbannya. Langkah kaki Raynand semakin dekat dengan kumpulan jenazah yang sudah di kumpulkan. matanya sempat terpejam sekilas karena melihat banyak pot*ngan anggota tubuh disekitarnya.
Kali ini Raynand berdiri di salah satu korban yang ditutupi kain, perlahan tangannya mendekat untuk membuka kain penutup.
"fuh, ini bukan Naya" Raynand membuang nafas kasar. ia melakukannya hingga selesai. ia bersyukur bahwa istrinya tidak ada di barisan jenazah yang Raynand periksa.
Namun pandangannya tertuju pada tumpukan benda yang dikumpulkan oleh polisi. ia menemukan pakaian yang semula dikenakan oleh Kanaya.
tangannya bergetar ketika pot*ngan tangan berada di balik pakaian tersebut.
"nggak nggak mungkin, Naya nggak mungkin"
sebuah tangan mendarat dipundak Raynand.
"kak Han" matanya begitu sedih menangkap bayangan sang kakak. Raynand bangkit dan memeluk Rayhan yang datang bersama dengan Bastian.
"itu pakaian Naya kak, dan disana.. disana ada tangan kak"
"tenanglah Ray, kita tunggu hasil identifikasi. kita doakan saja bahwa itu bukanlah milik Naya! "
Saat itu Bastian tiba-tiba berlari ke arah hutan didekat lantai Tersebut hingga membuat Raynand dan juga Rayhan mengerutkan dahinya. selang beberapa saat Bastian kembali dengan nafas yang terengah.
"ada seseorang didalam hutan yang membawa senjata, aku merasa jika itu adalah oelaku dari terjadinya ledakan ini"
"kalau begitu kita harus pergi dari sini, tempat ini berbahaya" ucap Rayhan"
"tapi Naya gimana kak? " ujar Raynand.
"kita akan cari Naya, tapi kita harus mempunyai persiapan Ray"
_
brakk
seseorang melempar kursi hingga menghantam tembok. amarahnya meluao ketika mendengar kabar jika Bryan tidak menjadi salah satu korban ledakan.
"kalian ini bodoh, bagaimana bisa kalian meledakkan tempat tanpa melihat sasaran Ha" pekik orang yang melempar kursi.
"maaf bos ini salahku"
"ini memang slaahmu. aku sudah melakukan penyerangan ini dan membuatnya seolah ******* yang melakukannya, tapi kalian masih gagal menghab*si orang itu. apa kalian tidak tau konsekuensi yang ku ambil sangat besar. salah-salah aku bisa menjadi buronan jika polisi mengusut hal ini"
__ADS_1
"tidak bos, aku pastikan meskipun polisi mengusut ledakan ini, mereka tidak akan tau karena aku sudah mempersiapkannya dengan sangat matang. dan meskipun Bryan belum menjadi korban, dia masih didalam hutan bos. salah satu anak buah kami pernah melihatnya bersama dengan seorang perempuan dan juga seorang laki-laki. dan akan ku oastika mereka tidak akan selamat kali ini bos"
"kalau begitu tunggu apa lagi, hab*si mereka, baru aku akan tenang"
"baik"
Tangan kanan seseorang yang ingin menghabisi Bryan pun kini kembali ke pantai tersebut dan mencari keberadaan Bryan.
"kalian harus lebih waspada. banyak polisi di pantai tersebut, dan mereka tidak boleh tau kalau Bryan ada didalam hutan. kita harus membereskan mereka sebelum seseorang mengetahui ada orang yang masih hidup didalam hutan"
Anak buah Aron terus menyusur tiap sudut hutan untuk mencari keberadaan Bryan. tetapi tanpa mereka sadari jika saat ini Bryan justru mengelabui mereka dengan membuat api disudut yang berbeda ketika mereka meninggalkan hutan tersebut ketika ada beberapa polisi, dan hanya menyisakan dua orang untuk mencari Bryan.
"kalian ikuti aku, menurut yang aku tau jika kita bergerak ke utara, kita akan segera bertemu kota" ucap Bryan menginteeupsi.
"pak Bryan, keadaan bu Kanaya sudah sangat lemah. sudah tiga hari kita tidak memakan apapun selain meminum air. bahkan bu Kanaya pasti sangat letih pak"
"kalau begitu kau tinggalah dengannya disini jika kau tidak ingin selamat"
"enggak Dimas, aku nggak pa-pa. kejadian ini pasti bisa kulalui sekali lagi"
"sekali lagi? maksud bu Kanaya? "
"aku pernah dalam keadaan yang hampir tiada ketika aku kecelakaan, dan aku koma. dan aku bisa melewati hal itu, dan aku yakin sekarang aku bisa melewatinya"
"Aaaa.. "
Kanaya dan Dimas meboleh ke arah Bryan yang tiba-tiba berteriak. seekor ular terlihat meninggalkan Bryan yang terduduk sembari meemgangi tangannya.
"astaga, pak Bryan digigit oleh ular. Dimas tolong kamu carikan kayu dan kain, aku akan berusaha menghambatnya"
Tanpa berpikir panjang, Kanaya menghisap tangan Bryan yang terdapat luka gigitan ular.
"cuh"
Kanaya melakukan hal itu hingga beberapa kali hingga Dimas datang membawa kain dan juga batang kayu.
"apa yang kau lakukan bu, ini berbahaya" Dimas segera mengeluarkan air dari dalam tas yang ia bawa.
"berkumurlah bu" sambungnya lagi.
"nanti saja Dimas, aku akan mengikat tangan pak Bryan dengan kain dan kayu ini"
kali ini Bryan melihat sisi lain dari Kanaya yang tidak pernah ia lihat selama ini.
'apa yang aku dengar dari Naura kenapa berbeda dari perlakuan Arya kali ini?'
__ADS_1