
Keesokan harinya Kanaya bersikeras meminta pulang, dan akhirnya Raynand mau tidak mau harus menuruti Kanaya yang memang keras kepala.
Raynand sengaja membawa pulang Kanaya ke rumah Rayhan agar ketika ia meninggalkan Kanaya ke kantor, Kanaya ada yang menemani.
"Sayang, aku harus keluar untuk mencari makan. kamu nggak apa-apa kan aku tinggal dulu? "
"aku bukan anak kecil Ray, kamu bisa pergi sekarang" balas Kanaya
Raynand mengukir senyumnya dan mengecup puncak kepala Kanaya dengan lembut, namun ketika Raynand hendak membuka pintu, sudah lebih dulu pintu tersebut di ketuk dari luar. ada juga yang membunyikan bel rumah.
"Siapa Ray? " tanya Rayhan sembari menggendong baby Carel menuruni tangga dengan di ikuti oleh Ilona di belakangnya.
"aku belum tau kak Han"
Raynand pun bergegas membuka pintu. dan saat itu ternyata Agas dan juga Bastian lah yang datang dengan seorang gadis bersamanya.
"kalian? ada apa kalian kesini?" tanya Raynand.
"kita mau jenguk Naya lah Ray, ya kali gue mau jenguk lo yang galaknya minta ampun" selorohan Bastian membuat yang lain terkekeh.
"gue..(Raynand mengepalkan tangannya) baru tau rasa lo Bas"
"eits, jangan Kdrt lah Ray."
"emang gue suami lo apa? "
"udah Raynand, Bastian jangan berantem. lebih baik kalian ke kamar buat Tengokin Naya" sambung Rayhan.
Disaat Bastian dan Agas pergi menuju kamar Kanaya, mereka melupakan mereka membawa sorang gadis bersamanya.
"Bastian, lo ninggalin gue? "
"oh ya lupa gue. ya udah ayok ikut kita ke kamar Naya" ajak Bastian dan dituruti oleh Moana.
Usai menjenguk Kanaya, kini mereka berbincang di ruang tengah sembari menikmati makanan yang di bawa oleh Moana. namun saat itu tangisan Baby Carel membuat orang-orang disana memperhatikan Carel.
Moana sangat suka dengan anak kecil, saat itu ia pun bergegas untuk menggendong baby Carel. dan benar saja, saat itu men Baby Carel begitu nyaman di gendongan Moana.
Setelah baby Carel tertidur, Moana menidurkan Carel di kamarnya.
"wah Moana, lo udah pantes jadi ibuknya Carel"
Ketika Bastian mengucapkan hal itu, Agas langsung menyikutnya karena melihat raut wajah Rayhan yang seperti tidak suka. sementara Moana langsung terhenyak sembari menuruni tangga.
__ADS_1
"gue becanda Moana, ya kali lo jadi mamanya Carel kan" Bastian menyengir kuda karena tidak ada yang tertawa selain dirinya.
Sementara itu di tempat lain kini Bryan terus menatap layar ponselnya. "dari pada menghubunginya, lebih baik aku menanyakan perkembangan tentang bagaimana mereka memberi pelajaran kepada Aron, atau aku sendiri yang akan memberinya pelajaran karena sudah berani menyerangku! "
Akhirnya Bryan menghubungi orang-orang nya untuk melakukan apa yang sudah ia rencanakan sejak lama. bukan tanpa alasan Bryan memiliki rencana tersebut, ia berjaga-jaga untuk ketika Aron mencuranginya. dan ternyata semua itu benar.
"kau pikir aku akan diam saja Aron? karena kau yang memulai dengan cara licik bahkan ingin menghabisiku, maka jangan salahkan aku jika aku membalasmu dengan cara yang tidak pernah kau duga Aron."
Untuk melancarkan rencananya, Bryan langsung terpikir dengan adiknya.
"kali ini aku tidak bisa meminta Naura melakukannya, lebih baik aku meminta bantuan denganya. lagi pula tidak ada yang tau jika dia adalah adikku, maka aku rasa rencana ini akan sukses melihat ketertarikannya dengan wanita"
Akhirnya Bryan menghubungi sepupu jauhya itu.
"ada apa kau menghubungiku? aku yakin kau ada maunya kan? "
"jangan marah-marah Ana, nanti kau akan cepat keriput"
"iya habisnya kakak nggak pernah ke rumah, mami itu kangen tau kak.".
" iya maaf Ana, tapi kakak sibuk kerja Ana. dan kemarin kakak hampir saja terbunuh "
"apa? siapa yang melakukannya? "
"Aron"
"kakak mau minta bantuan untuk menanganinya Ana"
"tapi apa yang bisa aku lakukan kak?"
"nanti kakak beritahu, yang penting kau setuju"
"ya, baiklah"
Selang beberapa menit Bryan bertemu dengan adiknya di sebuah kafe tempat biasa mereka bertemu.
"kenapa nggak datang ke rumah si kak? mami itu juga pengen ketemu sama kak Bryan tau!"
"kamu tau apa alasan kakak nggak ke rumah kan Ana? "
"kenapa? karena papi? "
"dia bukan papi Ana, papi udah meninggal dan itu semua karena dia"
__ADS_1
"kak, aku yakin bukan papi Hans yang lakuin itu? aku yakin papi meninggal Karena serangan jantung seperti yang dokter katakan! "
"sudahlah, kita bertemu untuk membahas hal lain. dan satu lagi, jangan beritahu rencana kakak kepada mami ataupun orang itu"
"iya.. iya.. rencananya apa? "
Bryan mulai mengatakan apa yang sudah ia rencanakan. mendengar rencana Bryan membuat kedua bola mata adiknya membulat sempurna.
"kak Bryan tega banget si bikin aku buat umpan, nanti kalo aku kenapa-kenapa gimana? aku ini cantik lo kak, nanti kali dia benar-benar jatuh cinta sama aku gimana?"
"justru itu bagus Ana, dengan dia jatuh cinta Aron akan kehilangan fokusnya untuk pekerjaannya. asalkan kamu tidak jatuh cinta dengannya"
"oh kalo itu si nggak bakal kak, aku udah punya cowok yang aku taksir" dengan entengnya Ana mengatakan jika dia punya laki-laki yang dia sukai. padahal selama ini Bryan selalu protektif dengannya, apalagi jika mengenai laki-laki.
"siapa dia? kakak mau tau"
"no, aku nggak bakal kasih tau kakak sebelum dia cinta sama aku. nanti kakak malah bikin dia kabur kayak yang sebelumnya" balasnya sembari memakan makanan yang sudah ia pesan.
"jadi laki-laki itu belum jatuh cinta denganmu? " Ana langsung menggeleng, dan hal itu semakin membuat Bryan tidak percaya jika adiknya bisa bucin dengan laki-laki yang bahkan bukan siapa-siapa nya.
"kakak mau tau dia siapa, katakan?! "
"nggak, kalo kakak maksa aku nggak bakal bantuin kakak"
Akhirnya Bryan sudah tidak memaksa Ana u tuk memberitahu nya tentang pria yang membuat adiknya jatuh hati.
"ya sudah, kakak pergi dulu. kamu habiskan makananmu udah kakak bayar semua. dan ini buat kamu jajan"
Bryan memberi beberapa gepok uang untuk Adiknya. setelah itu Bryan segera meninggalkannya untuk mengurus hal lain.
Bryan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, tanpa ia sadari saat ini mobilnya sudah berhenti di depan pintu gerbang rumah Rayhan. yang artinya ada Kanaya di rumah itu.
Pandangan mata Bryan terpagut dengan sosok yang ia cari yang tengah menggendong bayi dan juga ditemani dengan seorang anak kecil.
"apa suaminya gila? Area baru saja pulang dari rumah sakit, tapi dia sudah menjaga dua anak sekaligus? "
Perhatian Bryan kembali terpagut ketika melihat Kanaya yang begitu menyayangi keponakan-keponakannya dengan sangat tulus. hal itu bisa di lihat dari Kanaya yang rela mengurus keduanya ketika Kanaya masih butuh istirahat lebih.
Vrrooomm
Kedatangan seseorang yang menaiki motor membuat Bryan mengerutkan dahinya. "itu Valdo, kenapa dia kesini?" dan saat itu kedua mata Bryan membulat ketika melihat Valdo memeluk Kanaya dengan erat.
"jadi mereka selingkuh? "
__ADS_1
.
. bersambung