Istri Antikku, Istri Cantikku

Istri Antikku, Istri Cantikku
Melayangkan Banding


__ADS_3

Bryan memikirkan keadaan Kanaya yang saat ini masih berada di rumah sakit. ia harus kembali ke rumahnya lebih dulu karena ia harus mengganti pakaiannya yang sudah sangat kotor.


"kenapa aku merasa semakin tidak yakin dengan ucapan Naura? "


Pikirannya berkecamuk antara ucapan Naura tempo hari dengan sikap Kanaya yang berbanding terbalik dengan apa yang ia dengar selama ini.


"apa Arza sudah sadar? "


_


Sementara itu Bastian dan juga Agas membesuk Arka yang ada di tahanan. mereka mengatakan keadaan Kanaya yang tengah berjuang hidup setelah keracunan oleh bisa ular.


"bagaimana bisa Naya terkena bisa ular? dimana dia di gigit ular? " Arka menjadi cemas dan mencecar kedua sahabatnya dengan beberapa pertanyaan yang ada di benaknya.


Agas dan Bastian saling menatap karena Arka terus bertanya sebelum mereka menjawab satu pertanyaan pun dari Arka. keduanya menarik nafas dalam dan menghentikan Arka bersmaan.


"Ka, kalo lo nyata terus kayak gini kapan kita jawabnya? " ujar Bastian.


"oke, sekarang kalian jelasin semuanya dengan detil"


Arka begitu antusias ketika Agas dan Bastian bergantian menceritakan kejadian yang menimpa Kanaya hingga membuat Arka mengerutkan dahinya. ia tidak menyangka jika Kanaya rela mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain.


"baiklah, kalo gitu cariin gue pengacara yang handal buat nanganin kasus ini. kalo gue terus didalam sini entah apa yang bakalan terjadi sama Naya kalo Ray cuman sibuk sama kerjaanya"


"tapi itu nggak kayak yang lo bayangin kok Arka. Ray udah nyuruh adik temennya yang bernama Dimas buat jadi bodyguard Naya. dia jago bela diri dan sangat bertanggung jawab"


"apapun itu gue tetep harus lindungin Naya. gue tau ada yang gak beres sama orang yang bernama Bryan itu"


"kalo itu gue juga sependapat sama lo Ka" sahut Bastian.


Setelah menemui Arka, Agas dan Bastian bergegas pergi menuju rumah sakit untuk menjenguk Kanaya. sesampainya disana, mereka mendapati Raynand yang tengah menyuapi Kanaya yang sudah sadarkan diri.


"akhirnya kamu udah sadar Naya, gue khawatir bangett sama kamu Nay" ucap Bastian sembari meraih telapak tangan Kanaya.


Raynand yang melihat hal itu langsung menepis tangan Bastian dari tangan Kanaya.


"yaelah, sama temen sendiri gitu amat Ray" ucap Bastian cengegesan.


"walaupun lo temen gue, tapi lo itu pernah naksir sama istri gue. jadi gak menutup kemungkinan lo kumat kan Bas? "


"kalian, udah dewasa masih aja kayak anak abg" selorohan Kanaya membuat Bastian dan Raynand terkekeh.

__ADS_1


"oh ya gimana sama keadaan kami sekarang Nay? " tanya Agas sembari meletakkan buah di atas nakas.


"aku baik Gas" balas Kanaya dengan senyum di wajahnya yang masih terlihat pias. namun saat itu Kanaya justru terus mengedarkan pandangannya mencari sesuatu hingga membuat Raynand segera bertanya kepada Kanaya.


"kamu cari apa Nay? "


"Dimas, bagaimana dengan keadaannya. dia bahkan tidak memakan apapun ketika di dalam hutan Ray"


"Dimas sudah kusuruh pulang. tapi kenapa kamu begitu mencemaskannya? tanya Raynand penuh selidik.


"ayolah Ray jangan menatapku seperti itu, aku sudah menganggapnya seperti adikku sendiri. dia bahkan menjagaku dengan sangat baik kemarin"


"iya Ray, sensi amat si lu" lagi-lagi Bastian memancing Raynand hingga membuat Raynand bangkit.


Tatapan yang begitu tajam membuat Bastian terkekeh kembali. Bastian memang sangat senang jika ia berhasil menggoda sahabatnya itu. sementara Kanaya dan Agas hanya bisa tersenyum melihat tingkah Raynand dan Bastian yang seperti anak kec.


"oh ya, ada yang mau gue samperin sama lo Ray. ini soal Arka! "


wajah yang tadinya tersenyum berubah menjadi datar ketika mendengar Agas membahas tentang Arka.


"kita bicara di sofa"


"sebenarnya mereka membahas apa? " liriknya. namun Kanaya yang tidak ingin ambil pusing pun segera meraih ponselnya.


saat itu panggilan dari Bryan masuk dan Kanaya segera mengangkatnya.


"iya halo pak Bryan? "


"ya sudah aku matikan telfonnya" ucap Bryan diseberang telfon.


Kanaya menautkan kedua alisnya. entah kenapa dengan bosnya yang sangat aneh. dia sendiri yang menghubungi Kanaya, dia juga yang mematikannya setelah mengucapkan hal yang tidak penting bagi Kanaya.


Sementara itu Bryan membuang nafas lega dan meletakkan ponselnya di atas meja.


"kalau kau sudah bisa mengangkat telfonan, itu berarti kau sudah siuman. dan aku tidak perlu merasa bersalah.


" tapi apa dia sudah benar-benar pulih? ah sudahlah, itu tidak penting yang terpenting dia sudah sadar. jadi orang tidak akan mengalahkanku jika terjadi apa-apa dengannya.


Karena merasa bosan di dalam rumah, Bryan memutuskan untuk berjalan keluar. ketika di depan rumah, ia melihat sebuah sepeda sehingga ia menggunakannya untuk berkeliling komplek perumahannya. tanpa sengaja Bryan bertemu dengan Rayhan yang tengah keluar dari sebuah toko bunga.


"tuan Bryan, apa kau sudah membaik? "

__ADS_1


"aku sudah sangat baik tuan Han. kenapa anda berada disini? "


"aku ingin pergi ke makam istriku tuan Bryan"


"ah aku turut berdukacita cita atas kepergian istrimu tuan Han. tapi kenapa? "


"istriku mengalami kecelakaan, dia meninggal karena orang yang menabraknya tidak segera menolongnya. orang itu justru meninggalkan istriku"


sebuah emosi terlihat jelas ketika Rayhan mengepalkan tangannya. dan hal itu di sadari oleh Bryan.


"kelihatannya kau masih sangat membenci orang itu tuan Han?"


"tentu saja tuan Bryan, karna orang yang menabrak istriku adalah orang yang sudah ku anggap seperti adikku sendiri. meskipun dia berselisih dengan Ray, tapi aku masih menganggapnya seperti adikku. tapi dia justru menghancurkan semua rasa peduliku terhadapnya."


"maaf tuan Han, aku tidak bermaksud"


"tidak apa"


"ya sudah kalau begitu aku harus segera pergi." ucap Bryan dan segera menggoes Sepedanya meninggalkan Rayhan sendiri di tepi jalan.


"kau orang yang baik dan perasa. tapi kenapa mereka bilang kau bukan orang baik? " saat itu Rayhan mengingat perkataan Raynand dan juga Dimas yang mengatakan Bryan memiliki maksud lain terhadap Kanaya.


Triiiiiing


Ketika Rayhan hendak menarik handle pintu mobilnya, ponselnya berdering. tatapan matanya penuh selidik ketika kuasa hukumnya yang menghubunginya.


"iya halo, ada apa?"


"begini tuan Han, saudara Arka melayangkan banding"


"baiklah, kita bertemu setengah jam lagi"


klik


Rayhan segera mengakhiri panggilannya dan bergegas bertemu dengan pengacaranya. ia mengurungkan niatnya untuk ke makan istrinya. mobilnya melaju begitu cepat da mengemudikan dengan wajah yang sangat dingin.


"beraninya kamu Arka. kau bahkan tidak tahan mendekam selama masa beberapa hari disana setelah apa yang kamu lakukan kepada istriku. lihat saja Arka, aku tidak akan membiarkanmu bebas semudah itu. kau harus membayar atas kematian Siska! "


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2