Istri Antikku, Istri Cantikku

Istri Antikku, Istri Cantikku
Jatuh Ke Danau


__ADS_3

Bryan menghentikan mobilnya didekat danau. saat itu Kanaya yang sudah lumayan reda dari menangisnyapun mengikuti Bryan yang berjalan didekat danau.


"Kenapa kau mengajakku kesini? "


"duduklah"


Bryan mendudukkan Kanaya di bawah pohon yang ada di dekat danau. ia pergi meninggalkan Kanaya. tetapi sesaat ia datang dengan membawakan Kanaya sebotol air minum dan juga kotak obat untuk mengobati lutut Kanaya yang berdarah.


"Lo ceroboh banget, untung aja lo nggak parah. kalo sampek lo mati tadi, bisa-bisa gue yang kena masalah" Bryan terus mengomel ditengah aktifitasnya mengobati luka Kanaya.


"maaf, aku tidak sengaja" Kanaya tertunduk lesu dan mengingat kembali perkataan yang keluar dari mulut Rayhan. seseorang yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri sangat tega mengatakan hal seburuk itu padanya.


Perasaan Kanaya saat ini sangat kecewa terhadap Rayhan, sehingga ia melupakan kekesalannya terhadap Bryan tempo hari. karena rasa kecewanya, saat itu membuat Kanaya kembali menitikkan air matanya.


dan tanpa sengaja jatuh mengenai lengan Bryan yang tengah mengobati luka di tangannya.


"benar-benar payah!" ucap Bryan sembari memeberika kapas di tangannya kepada Kanaya.


"kalo lo nggak bisa nahan sakit karna gue obatin, lebih baik lo obatin sendiri" imbuhnya.


Biasanya Kanaya akan menjawab setiap perkataan Bryan, namun kali ini berbeda. tanpa perdebatan, Kanaya mengambil alih dan mengobati lukanya.


Memperhatikan hal tersebut membuat Bryan mengernyit 'nggak biasanya Arza kayak gini. apa permasalahannya kali ini? ah tapi bukannya gue harusnya seneng, gue nggak perlu repot-repot buat bikin dia sengsara. dan kali ini dia udah menderita'


"ya udah ini udah malem, gue mau pergi. terserah lo mau kemana"


Bryan memang sengaja berbahasa seperti itu karena ia tidak akan menghormati Kanaya. ia hanya akan menggunakan bahasa sopan jika ia berada di kantor dan juga banyak orang. lain halnya jika hanya berdua, Bryan tidak segan dengan memanggil Kanaya dengan LO.


Bukannya mengantarkan Kanaya untuk pulang, namun Bryan meninggalkannya begitu saja di tepi danau di tengah malam seperti saat ini.


Dengan perasaan kalutnya, Kanaya beranjak pergi dari Danau tersebut. namun saat itu ketika ia hendak memakai alas kakinya, salah satunya justru terjatuh kedalam air sehingga Kanaya memutuskan untuk pergi tanpa alas kakinya.


"aku tidak membawa uang, aku juga tidak membawa ponsel"


Kanaya menarik nafas panjangnya dan melanjutkan perjalanannya. Danau tersebut lumayan jauh dari pusat kota sehingga susah untuk mendapatkan kendaraan untuk ia pulang. akhirnya Kanaya terus menyusuri jalanan dengan kaki yang sedikit terpincang.


Ketika melewati jalanan yang cukup gelap, Kanaya bertemu dengan seorang wanita tua yang terlihat susah membawa barang bawaannya.


"permisi bu, kenapa ibu malam-malam begini berada di sini dan membawa ini semua?"


'wah sepertinya dia akan laku sangat mahal, lebih baik aku mengganti target. dibanding dengan gadis tadi, perempuan ini juga cukup muda dan jauh lebih cantik. pasti dia akan laku sangat mahal di pasaran'


"aku menunggu taksi nak, tapi aku sangat susah membawanya"


"kalau gitu biar aku bantu bu"


"baiklah, terimakasih nak"


Kanaya membawa beberapa barang milik ibu-ibu yang ia temui. mereka menunggu cukup lama sembari berjalan. hinga setelah 30 menit, sebuah mobil berwarna hitam mendatangi mereka.

__ADS_1


Kanaya pun memasukkan barang milik ibu itu kedalam bagasi mobil.


"nak, kau mau kemana"


"aku hmmppphh"


Ketika ibu itu mengajaknya bicara, seorang laki-laki membekapnya dari belakang dengan obat bius. dalam waktu beberapa detik Kanaya sudah tidak sadarkan diri dan mereka bawa untuk di perdagangan kepada lelaki hidung belang untuk keluar negeri.


Sementara itu di tempat lain Raynand tak henti mencari keberadaan Kanaya, tetapi ia tidak menemukannya sama sekali.


Akhirnya Raynand kembali ke rumah Rayhan.


Brugh


Raynand menjatuhkan badannya tepat di sofa dimana saat itu Rayhan baru saja keluar dari kamar Carel dan Ilona. ia duduk di samping Raynand yang terlihat letih.


"maaf Ray, aku tidak bermaksud menghina Naya. aku hanya cemas melihat keadaan Carel"


"huh" Raynand duduk dengan tetap dan membuang nafas beratnya.


"aku tau itu kak. tapi perkataan kakak benar-benar membuatku terluka melihat Naya yang jauh lebih terluka dariku dan hingga detik ini aku tidak bisa menemukan Naya kak"


Rayhan terkejut mendengar jika Kanaya belum kembali. sejarah apapun Kanaya, Kanaya tidak akan pergi selama ini.


"apa Naya ada dirumah orangtuanya Ray?"


"tidak kak, aku sudah memeriksanya. bahkan Naya tidak ada di tempat kesukaannya kak"


Keesokan harinya pagi-pagi sekali Raynand sudah bersiap untuk mencari Kanaya, saat itu Rayhan memanggilnya.


"Ray, kakak ikut mencari Naya"


"kak Han apa nggak jagain Carel? "


"Carel sudah membaik Ray, pengasuh Ilona juga sudah bisa datang hari ini"


"ya sudah, ayo kak Han"


Raynand dan Rayhan terus mencari Kanaya, namun hingga siang hati mereka belum menemukannya sama sekali. hingga akhirnya Rayhan dan Raynand memutuskan untuk berpencar.


"lebih baik aku mencari Naya ke perusahaan bossnya"


Ketika Raynand sampai di depan perusahaan milik Bryan, ia bertemu dengan Rayhan yang juga datang kesana.


"kak Han, kakak juga kesini? "


"iya Ray, aku pikir dia ada di sini. lagi pula ini jam pulang kantor. pasti semuanya sudah bergegas pulang bukan? jadi kita harus segera kesana atau Naya bisa pergi"


Dan saat itu Bryan sudah keluar dan melihat Raynand dan Rayhan yang berjalan ke arahnya.

__ADS_1


"Sore Bryan" Rayhan berjabat tangan dengan Bryan karena sudah lama mereka tidak bertemu.


"aku ingin menemui istriku" tanpa berbasa basi Raynand langsung mengatakannya.


Raut wajah Bryan seketika berubah. bukan karena ketidak dolanan dari Raynand. hal itu tentu saja Bryan sudah terbiasa karena hubungan mereka memang tidak terlalu baik, tetapi ada yang menganggu pikiran Bryan. pasalnya Bryan semalam meninggalkan Kanaya sendiri ditepi danau dengan keadaan yang kalut.


"tunggu sebentar, Arza adalah istrimu. tapi kenapa kau menanyakannya kepadaku?"


"karena dia bekerja di tempatmu" suara Raynand sedikit meninggi karena Bryan tak kunjung mengatakan dimana istrinya saat ini.


Dengan segera Rayhan memegangi pundak Raynand agar Raynand tidak terbawa emosi. dan untuk meredam emosinya, Raynand melepas kancing atas kemejanya.


"maaf sebelumnya Bryan, sebenarnya Kanaya tidak pulang sejak kemarin. apa dia ada disini untuk bekerja denganmu? "


'Astaga, jadi Arza semalam benar-benar tidak pulang'


Kecemasan seketika terlihat di wajah Bryan. dan ia juga ingat jika Danau didekatnya cukup dalam.


"sebenarnya semalam aku tidak sengaja bertemu dengannya"


"dimana?"


"semalam aku hampir menabraknya karena dia berlari dan terjatuh didepan mobilku. saat itu aku mengajaknya ke tepi danau agar pikirannya sedikit tenang. dan setelah aku mengobati lukanya, aku meninggalkannya di sana"


Tanpa mengatakan apapun ketiganya bergegas ke mobil mereka masing-masing untuk ke danau. dan setelah menempuh waktu beberapa saat Bryan berlari ke tempat mereka terakhir bertemu.


"semalam dia ada disini"


"tapi dimana Naya sekarang?"


Tidak ada seorangpun di tempat itu. namun tiba-tiba perhatian Raynand tersita oleh sebuah sepatu yang ia kenal.


"ini sepatu milik Naya, kak Han"


Rayhan dan Bryan pun mendekat melihat sepatu yang dipegang oleh Raynand.


"bukankah itu sepatu yang sama" ucapan Bryan berhasil membuat Raynand terperangah.


"Naya kak, dia pasti terjatuh"


Raynand tidak berpikir dan hendak terjun ke danau, namun segera Rayhan mencegahnya.


"jangan Ray, belum tentu Naya jatuh kedalam danau. untuk memastikannya lebih baik kita hubungi tim sar untuk mencari Naya"


"Nya kak Han, aku gak mau kehilangan Naya lagi kak"


Raynand berlutut dengan air mata yang mulai jatuh.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2