
Ilona tertidur dipangkuan Kanaya yang saat itu duduk di sofa ruang tamu. Jujur saja pemandangan itu membuat hati Rayhan sedikit tenang karena putrinya tidak lagi mempertanyakan kapan ibunya akan pulang.
Namun hal itu juga memunculkan kekhawatiran. Pasalnya Rayhan takut hal itu akan membuat Ilona tidak bisa lepas dari Kanaya yang tidak mungkin ada ubtuknya selama mungkin seperti di kala ia bersama ibunya.
Sebuah tangan besar menyentuh pundaknya dan mengalihkan pandangannya tepat disebelahnya. Tanpa Rayhan sadari, saat itu bukan hanya yang merasa tenang melihat kedekatan Ilona dengan Kanaya. Melainkan Raynand pun sama. Ia juga merasa Ilona sangat cocok dengan istrinya sehingga yang sedari tadi merengek ingin bertemu ibunya, justru sekarang Ilona tidur lelap dipangkuan istrinya.
" Apa yang kau pikirkan kak? Kau kelihatan cemas? "
"Aku hanya mencemaskan Ilona Ray. Aku khawatir dia akan merepotkanmu dan juga Naya."
"Repot? Tidak akan kak! Aku yakin Kanaya sangat senang bisa mengurus Ilona seperti tadi"
"Oh ya, dan untuk malam ini aku tidak bisa menginap. Karena ada berkas yang harus segera aku selesaikan kak" Rayhan mengangguki ucapan Raynand. Sebagai seorang CEO di perusahaan Agara Group, ia tau apa yang saat ini dilakukan oleh Raynand selalu CEO di RK Corporation. Meskipun terbilang masih sangat baru, tetapi saya saing yang diberikan oleh perusahaannya tidak bisa diremehkan. Bahkan satu tahun terakhir Raynand sudah membuat lima pesaingnya yang melakukan tindakan kecurangan bangkrut.
Kini keduanya bersama mendekat kearah dia perempuan yang sedang terlelap. Rayhan segera mengangkat tubuh mungil putrinya, sementara Raynand menyandarkan kepala istrinya tepat dipundaknya agar tidak merasa pegal.
Karena merasakan pergerakan Raynand, Kanaya segera membuka kedua matanya. Saat itu ia mencari keberadaan Ilona yang sejak tadi tertidur dipangkuannya.
Kanaya mengedarkan pandangannya dan mendapati suaminya duduk disampingnya dengan senyum yang tersungging.
"dimana Ilona Ray? "
"Kak Han sudah memindahkannya dikamarnya. Yasudah lebih baik kita pulang, besok kita kembali kesini"
"Baiklah"
Setelah mempunyai perjalanan pulang, kini Kanaya tidak langsung tidur. Ia memilih untuk membersihkan diri, dan setelah itu ketika ia berada dikamarnya ponsel yang ada diatas nakas berdering.
Pandangan matanya langsung tertuju pada ponsel yang sejak tadi berdering.
"Ponsel siapa? Lebih baik aku angkat, siapa tau penting! "
Dan benar, ketika Kanaya mengangkatnya panggilan tersebut berasal dari beberapa orang yang bekerja sama dengannya untuk pemotretannya untuk produk-produk yang mereka miliki.
__ADS_1
Ceklek
Raynand masuk dengan pakaiannya yang masih sama. Ia baru akan jadi setelah Kanaya. Namun langkah kakinya terhenti ketika Kanaya memanggilnya.
"Ray, sebenarnya pekerjaan apa yang membuat orang-orang menelfon dan memanggilku Arza? Bahkan mereka memintaku pemotretan"
Raynand menyunggingkan senyumnya dan kemudian duduk di sebelah Kanaya. Ia mulai menjelaskan bahwa pekerjaannya adalah seorang model. Dan saat ini ia tengah bersinar diantara model lainnya.
"Benarkah? Mana mungkin aku bisa menjadi seorang model Ray? Aku bahkan tidak memiliki bakat kearah sana! "
"Tapi kenyataannya kamu model terkenal Nay. Dan karena pekerjaan mu itulah aku bisa menemukanmu. Karena perusahaanku mengontrakmu menjadi model tetap"
Mulut Kanaya terbuka. Ia sendiri terkejut bahwa dirinya adalah seorang model seperti saat ini.
Darimana bisa ia menjadi seorang model yang terkenal ketika ia mengalami amnesia. Dan bukan itu saja, ia bahkan menjadi model yang sangat terkenal sehingga tidak ada orang yang menghinanya terkhusus pada penampilannya. Bahkan dulu Raynand sering mengatasinya wanita antik. Tetapi memang setelah ia melihat foto-foto yang ditunjukkan oleh Raynand, penampilannya jauh berbeda ketika ia memakai kacamata besar yang menutupi sebagian wajahnya karna wajah mungilnya harus termakan oleh kaca mata yang besar.
"Sudahlah, kita bahas ini besok. Ini sudah larut malam,lebih baik kamu istirahat"
"Lalu kau mau kemana Ray? "
"Baiklah, tapi kau jangan terlalu lelah Ray."
"Tentu" Sebelum pergi keruangan kerjanya, Raynand mengecup kening istrinya dan setelah itu ia baru meninggalkan kamarnya.
Meninggalkan Raynand dan Kanaya. Saat ini ka merasa sangat bersalah. Pasalnya ia merasa menabrak seseorang, tetapi ia tinggalkan begitu saja karena keadaannya yang kacau sehingga Arka tidak berpikir panjang.
"Siapa orang yang ku tabrak tadi? Apa dia selamat? Arghh..." Arka mengacak rambutnya. Ia sudah berusaha keras untuk memejamkan matanya, namun bayangan saat ia menabrak seseorang kembali menguasai benaknya.
"Sepertinya aku menabrak seorang perempuan. Lebih baik besok aku bertanya orang di sekitar situ untuk menanyakan keadaannya." Bahkan karena masalah penabrakan, Arka sampai tidak membahas Kanaya lagi. Ia saat ini lebih fokus untuk mengetahui keadaan korban yang biasa tabrak.
Meskipun saat ini Arka sudah memejamkan matanya, namun dalam tidur pun ia masih merasakan kegelisahan. Tidurnya tak nyenyak, bahkan beberapa kali ia bermimpi tentang seseorang yang menyalahkannya.
Deruan nafas yang terengah membuat Arka kembali terjaga. "Kenapa, kenapa anak kecil itu meminta ibunya kepadaku? "
__ADS_1
Karena tidak kunjung tenang, saat itu yang masih pukul tiga pagi memaksa Arka untuk berjalan menyusuri sepinya jalanan. Ia berlari kecil dan mendengarkan musik untuk menenangkan pikirannya. Bahkan ia berjalan sangat jauh hingga sampai ditempat kejadian dimana ia menabrak seseorang.
"Kenapa aku ada disini? Ini benar-benar jauh dari rumah! Lebih baik aku menghubungi Bastian, karna biasanya anak itu jam segini masih di klub"
"Halo Bas, jemput gue. Gue ada dijalan xx"
Selang beberapa saat akhirnya Bastian datang menjemput Arka. Dan ketika didalam mobil, Bastian siap mengintrogasi Arka.
"Lo jangan tanya-tanya gue dulu Bas, gue mau tidur bentar. Nanti setelah gue bangun, gue bakal cerita."
Itulah Arka yang sudah sangat mengenal Bastian. Bahkan sebelum Bastian mengatakan pertanyaan, ia sudah lebih tau dan melarang Bastian untuk tidak bertanya-tanya.
Sesampainya di klub milik Bastian, Bastian langsung membangunkan Arka. Dan saat itu didalam ruangan Bastian Arka langsung menjatuhkan badannya diatas tempat tidur.
"Lo tadi bilang mau cerita Ka, emang apa yang bikin lo sepagi ini berada di tempat itu? "
Arka menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Ia menatap Bastian yang masih memperhatikannya dengan lekat.
"Gue nabrak orang Bas"
"Apa? Nabrak orang? "
"Dan gue gak tau korbannya selamat atau enggak. Kemarin gue kacau banget dan pergi gitu aja ninggalin orang yang gue tabrak Bas"
"Ini masalah besar Arka! "
Keduanya saling menatap setelah Bastian mengatakan hal itu adalah masalah besar.
"gue tau itu Bastian, makanya gue pengen tau gimana keadaan korbannya"
.
. Bersambung
__ADS_1
.