
Raynand mengangkat tubuh Kanaya kedalam mobil. disepanjang jalan, Raynand mengemudi dengan satu tangan terus memegangi Kanaya yang ia dudukan dikursi samping kemudi.
hingga ia sampai di sebuah persimpangan jalan terjadi kecelakaan sehingga membuat laju pengendara menjadi sedikit terhambat. Raynand yang merasa cemas, terus membunyikan klakson mobilnya beberapa kali.
"ayolah.. come on, sabar ya Nay, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit" Raynand mengusap lembut wajah Kanaya yang terlihat pucat.
hingga akhirnya ketika jalanan sudah benar-benar lancar, Raynand menginjak pedal gasnya dengan kecepatan tinggi. dan setelah menempuh perjalanan lima belas menit, kini ia sudah sampai diarea rumah sakit.
Raynand lalu turun dari mobilnya. dua orang perawat sudah datang membawa brankar. dengan cepat Raynand membawa istrinya ke ruang IGD.
Selang bebrapa menit dokter sudah memperbolehkan Raynand untuk menemui Kanaya didalam sana.
Raynand meraih tangan Kanaya yang masih terbaring diatas ranjang rumah sakit. ia melihat wajah seorang istri yang sangat ia rindukan sejak dulu.
"wajah ini, wajah yang selalu aku rindukan ketika aku bangun tidur selama dua tahun terakhir."
perlahan netra Kanaya mengerjap-erjap, pandangannya yang masih kabur berulang kali ia memejamkan matanya. hingga ia menangkap seseorang yang terlihat cemas memegangi tangannya.
"Raynand.. "
begitu mendengar Kanaya Memanggilnya seperti itu, Raynand justru tertegun dengan kedua mata yang melebar.
"panggil aku sekali lagi Nay"
"Raynand.. "
seketika Raynand memeluk Kanaya yang masih berbaring. "aku siapa Naya? "
"Raynand, apa aku harus mengulangnya lagi? harus berapa kali lagi hmm?" ujar Kanaya dengan suaranya yang lemah.
"siapa aku bagimu Nay? "
"Ray, kenapa kami tanyakan hal itu? kau suamiku! "
"akhirnya Nay, akhirnya setelah dua tahun kamu mengingatku" air mata lolos begitu saja dari pelupuk mata. sontak hal itu membuat Kanaya segera mengusapnya dengan lembut.
"apa maksudmu Ray, Dua tahun? mengingat?"
"nanti aku akan cerita semuanya, tapi yang terpenting untuk saat ini kau harus pulih terlebih dulu. aku yakin kepala masih sakit kan Nay? " Kanaya mengangguk ucapan Raynand.
sementara itu ditempat lain Orangtua Kanaya mencari keberadaannya, namun mereka tidak menemukannya sama sekali.
"yah, ayah tau dimana Arza? "
__ADS_1
"mungkin saja dia sedang bersama Arka bun" enteng Malik sembari menyesap secangkir teh buatan istrinya.
"justru ini Arka yang menanyakan Arza yah, karena dari dua jam lalu Arka mengantar Arza pulang."
seketika Malik meletakkan tehnya dan bangkit dari duduknya. ia kemudian memerintahkan orang-orangnya untuk mencari keberadaan Kanaya. ia khawatir penculikan yang baru menimpa Kanaya terulang kembali.
dan kini Arka juga ikut mencari kemana Kanaya pergi. saat ini ia menghubungi kedua sahabatnya untuk membantu mencarinya.
"memang terakhir kau melihat Naya kapan Ka? " tanya Agas
Arka melirik tajam ke arah Agas yang salah menyebut nama panggilan Kanaya. dadar akan kesalahan yang ia lakukan, Agas segera mengulang pertanyaan nya.
"maksudku kapan terakhir ki kau melihat Arza mu itu Arka? "
"dua jam lalu aku mengantarnya pulang dari luar kota. tapi tante safira bilang kalo Arza tidak ada dirumah. dan setelah melihat CCTV yang ada di halaman rumah, Arza terlihat langsung pergi. "
"tapi itu membuktikan kalau Arza tidak di culik kali ini Ka" sambung Bastian.
kini ketiganya kembali fokus kesakitan untuk mencari keberadaan Kanaya. dan saat itulah Arka teringat pembicaraannya dengan Raynand ketika masih diluar kota.
"coba kamu lacak dimana lokasi Arza sekarang biar lebih cepet kita nemuinnya"
"ponsel Arza ada di aku, dan aku tadi menelfon rumah karna mau balikin ini"
"sok tau lu Gas. aku itu mau ke klub biasa mau nemuin gadis-gadis manis disana. kan lumayan buat hiburan"
"taik ni anak, udah tau Aeza ngilang malah masih mikir kesitu"
sementara Agas dan Bastian masih berbincang, Arka justru terfokus dengan satu nama yang mengganggu pikirannya. dengan mendadak Arka memutar balik dan melajukan mobilnya dalam kecepatan tinggi.
"woi.. woi.. ini lu mau kemana si Ka? ngebut amat" ucap Agas seraya berpegangan pada Bastian.
"bukannya ini jalan ke arah rumah Raynand? " celetukan Bastian membuatnya dengan Agas saling adu pandang.
Raka menghentikan mobilnya dan langsung turun dari dalam mobil.
"permisi pak, dimana Raynand? "
"tadi den Ray nganterin istrinya yang pingsan. sekarang den Raynand sedang di rumah sakit xxx"
tanpa menanyakan apapun lagi, Arka kembali melakukan mobilnya dan menuju rumah sakit yang dimaksudkan oleh satpam rumah Raynand.
"kita mau kemana Arka? "
__ADS_1
tanpa menjawab pertanyaan Agas, Arka masih fokus melakukan mobilnya. dan selang beberapa saat mereka sampai di basement rumah sakit. hal itu semakin membuat kedua sahabat Raka bingung.
"ini kita ngapain ke rumah sakit Arka?"
lagi-lagi Arka tidak menjawab. ia justru langsung bertanya kepada reseptionis dimana Kanaya dirawat. dan saat itulah Agas dan Bastian mulai paham kecemasan yang dirasakan oleh Arka.
mereka berjalan menapaki lorong rumah sakit, dan saat ini mereka berhenti tepat diruang rawat milik Kanaya.
cewek
Arka membuka pintu perlahan, namun saat itu ia tengah melihat Raynand yang tengah memeluk Kanaya dengan erat. seketika hal itu membuat Arka meradang dan menariknya.
bug
bug
bug
"Arka hentikan! " pekik Kanaya
"aku harus memberinya pelajaran Arza. "
bug
bug
Arka menghujani Raynand dengan pukulan di wajah dan juga tubuhnya.
"hentikan Arka, jangan pukulin Raynand! "
"iya Arka, tenang" Agas dan Bastian pun berusaha melerainya namun tidak berhasil.
"hentikan memukuli suamiku Arka"
dar
mendengar ucapan Kanaya bagai tersambar petir. itulah yang dirasakan Arka saat ini. sementara Agas dan Bastian ikut tertegun mendengarnya.
.
. bersambung
.
__ADS_1