
Bryan membaringkan Kanaya di atas ranjangnya yang ada di apartemen miliknya. apartemen itu sangat jarang di tempati oleh Bryan, namun masih sangat bersih karena ia selalu memperkerjakan seseorang untuk membersihkan apartemen miliknya meskipun jarang sekali ia tempati.
Lagi-lagi tatapannya terpaku pada wajah Kanaya yang tidak bisa dipungkiri, jika seorang lelaki melihatnya akan langsung jatuh hati.
"sebenarnya apa yang di maksud oleh Valdo, kenapa dia bilang tidak semuanya yang diucapkan Naura itu benar? "
Bryan memikirkan ucapan Valdo hingga ia tidak bisa terlelap. ia justru hanya menunggui Kanaya yang pingsan karena pengaruh obat yang di campur
ke dalam minumannya.
"lalu, siapa orang tadi yang mau ngelecehin Arza? apa dia salah satu pekerjaku? jika memang benar dia pekerjaku, aku tidak akan membiarkan orang sepertimu bekerja ditempatku.
ting tung
" siapa yang datang malam-malam begini ? " Bryan bergegas membuka pintu apartement nya.
ceklek
seseorang berperawakan tinggi berdiri di depan pintu apartemen nya. pandangannya penuh selidik meniti tiap sudut ruangan.
"kau siapa? malam ini tidak ada jadwal meeting dengan siapapun. jadi kau bisa pergi" Tangan Bryan hendak menutup pintu apartement, namun tangan Rayhan menahannya lebih dulu.
"ada apa? "
__ADS_1
"dimana Kanaya? "
"kau ini siapa? kenapa kau mencari Arza? atau.. Jangan-jangan kau ini komplotan orang-orang yang mau ngelecehin Arza! "
ucapan Bryan berhasil membuat Rayhan tersentak, terlebih seseorang berniat buruk untuk melecehkan Kanaya.
"apa maksudmu? siapa yang berani melakukan itu pada Naya? "
"huh, aku yakin saat ini kau berpura-pura. kau pasti salah satu dari mereka kan? "
"sudahlah! dimana Naya? aku akan mengajaknya pulang karena dia adalah adikku."
"adik? kau bercanda? aku tidak akan percaya begitu saja denganmu. lebih baik kau pergi atau aku akan melaporkannya atas tindakan mengganggu ketenangan"
Rayhan menerobos melewati Bryan. ia langsung membuka satu persatu ruangan. dan akhirnya ketika membuka yang ke tiga kalinya, ia mendapati Kanaya yang tengah berbaring tidak sadarkan diri.
"kau apakan Naya? kenapa dia pingsan? "
"aku sudah katakan, tadi ada yang ingin melecehkannya."
Akhirnya Bryan sudah tidak menentang Rayhan. karena ia mengingat apa yang di ucapkan oleh Naura, jika Raynand mempunyai kakak laki-laki bernama Rayhan. dan karena itulah, Bryan membiarkan Rayhan membawa pergi Kanaya.
selang beberapa saat, Rayhan tiba di rumahnya dan menidurkan Kanaya tepat di kamar milik Raynand.
__ADS_1
"papa, ante cantik kenapa? kenapa ante malah bobo duluan? padahal Lona mau di celitain lo sama Nate cantik"
Rayhan berjongkok di hadapan anaknya. dan membeli rambutnya lembut. "Ilona.. Ilona harus bobi dulu ya.. tante Naya nya harus istirahat"
"iya pah.. "
Ilona pun pergi kamarnya ditemani oleh Sutser yang juga mengurusi baby Carel.
_
Usai menyelesaikan pekerjaannya, Raynand hanya mondar-mandir dihadapan kaca yang ada di kamar penginapannya. ia merasa resah karena Ponsel Kanaya yang tidak bisa ia hubungi. sekalipun tersambung, tidak sekalipun Kanaya mengangkatnya.
"ada apa dengan Naya? tidak biasanya dia mengabaikan telfon dariku? "
Raynand lalu berinisiatif untuk menghubungi Rayhan, hingga setelah panggilan kedua Rayhan memgangkatnya.
"halo kak Han"
"iya ada apa Ray? apa kau baik-baik saja? "
"aku baik kak, tapi ada yang tidak baik kak. Kanaya sudah kuhubungi beberapa kali tidak mengangkatnya"
awalnya Rayhan ragu untuk menceritakannya, namun akhirnya ia menceritakan semuanya yang menimpa Kanaya di tempat kerjanya.
__ADS_1
"brengs*k siapa yang berani ingin melecehkan Istriku? lihat saja, jika aku menemukan orangnya, aku pastikan dia akan sangat menyesali pekerjaannya! " ucap Raynand dengan tatapan tajamnya.