Istri Antikku, Istri Cantikku

Istri Antikku, Istri Cantikku
Pengantin Karena Insiden


__ADS_3

Seseorang membawa Kanaya kesebuah kamar, dimana disana orang tersebut sudah membaringkan Kanaya yang sudah tidak sadarkan diri karena pengaruh obat.


"kau memang sangat cantik nona Arza. malam ini kau akan menjadi milikku"


Perlahan tangan lelaki itu membelai wajah Kanaya. ia lalu hendak menurunkan resleting gaun yang dikenakan oleh Kanaya.


resleting itu mulai turun hingga memperlihatkan sebagian buah dad*nya. pandangan lelaki itu semakin dalam. ia semakin menarik resleting dan,


Brak


pintu di dobrak begitu saja dari luar. Valdo menghajar orang yang berniat buruk kepada Kanaya.


bug


bug


bug


"berhenti Val, biar orang ini ditangani sama pihak yang berwajib" Bryan menghalangi Valdo agar tidak kalap, Bryan yang sudah membawa petugas keamanan, menyuruhnya untuk membawanya ke kantor polisi.


"Naya, bangun Nay.." Valdo berusaha membangunkan Kanaya, namun karena pengaruh obat, Kanaya tetap terpejam.


"Valdo sepertinya Arza dalam pengaruh obat. dan kenapa lo panggil dia Naya? setauku hanya orang yang mengenalnya sejak lama saja yang memanggilnya dengan sebutan itu."


"aku memang sudah mengenalnya lama jauh sebelum aku mengenal Naura"


Pernyataan dari Valdo berhasil membuat Bryan terdiam sesaat. namun kini ia sudah kembali dengan kesadarannya.


"lo ngapain si Bryan bantuin Naura buat jahat sama orang?" tanya Valdo dengan mata yang sedikit menajam.


"Karena perempuan ini Keponakan gue sakit hati. dan gue mau bales semua itu"


"apa kamu tau penyebab asli dari sakit hati yang dirasain oleh Naura, Bryan? "


"dia di khianati oleh laki-laki yang dia cinta gara-gara perempuan ini kan? jadi karena itulah aku mau ngebales semuanya"


"huh" Valdo tersenyum menyeringai.


"kamu pikir yang dikatakan Naura semuanya benar? aku bahkan jauh mengenal Naya sebelum Naura." tukas Valdo.


Bryan mengerutkan dahinya ia lalu menatap Valdo penuh selidik. "apa Jangan-jangan lo ngomong kayak gini karena lo cuman dijadiin pengantin karena insiden? "

__ADS_1


"jujur saja kalo lo itu sebenarnya emang suka kan sama Naura? dan lo gak Terima kalo Naura masih mencintai laki-laki lain makanya lo bilang kaya gitu kan? "


"sekedar cerita aja yang harus kamu tau Bryan, sebenarnya aku mengenal Kanaya sejak kami masih SMA. dan saat itu Kanaya yang selalu bantuin aku, hingga aku jatuh hati dengannya. dia seorang anak pemilik sekolah namun mau berteman dengan seseorang sepertiku yang dulu aku hanya seorang anak dari keluarga sederhana. hingga suatu ketika kami berpisah saat menempuh pendidikan kuliyah dan aku bertemu dengan Naura. dan sejak itulah aku bisa melupakan Kanaya, karena aku melihat kebaikan yang sama di diri Naura. dan aku ingin Naura yang dulu, bukan Naura yang egois seperti saat ini'


"oh gue tau, jadi lo ngebelain Arza karena lo masih cinta sama dia? " Kini Bryan tersenyum menyeringai.


"terserah apa yang kau pikirkan Bryan, yang jelas Kanaya adalah orang baik dia gak pantes mendapat perlakuan seperti apa yang baru aja terjadi dan juga apa yang sudah kamu lakukan beberapa kali terhadapnya."


Setelah berkata banyak, Valdo hendak mengangkat tubuh Kanaya untuk ia bawa. namun Bryan mencekal lengan Valdo dan menghentikan Valdo untuk membawa Kanaya.


"dia adalah model di perusahaanku, lebih baik lo pulang sebelum Naura kecewa mengetahui bahwa lo datang kesini cuman mau bantuin seseorang yang sangat ingin di hancurkan oleh Naura! atau dia akan bertindak nekat jika tau lo nolongin Arza."


"tapi inget Bryan, kalo sampe terjadi sesuatu terhadap Naya, gue gak akan tinggal diem"


Akhirnya Bryan membawa Kanaya pulang ke rumahnya. karena ia tidak mungkin mengantar Kanaya pulang dalam keadaan seperti sekarang yang tidak sadarkan diri karena pengaruh obat.


sesampainya di rumah, Bryan membaringkan Kanaya di tempat tidurnya. saat itulah ia menyadari bahwa pakaian Kanaya hour saja terbuka karena ulah laki-laki yang memberinya obat.


tidak dipungkiri bahwa bagian itu sangat menarik perhatian kaum adam dengan susah payah Bryan menelan salivanya. dan dengan segera Bryan membenarkan pakaian Kanaya, saat itulah tanpa sadar Kanya menggamit tengkuk Bryan hingga jarak wajahnya dengan Bryan sangat dekat.


deru nafas Kanaya yang harum berhasil membuat Bryan memejamkan matanya, ketika ia membuka mata, hanya bibir ranum yang ada di pandangannya.


Bryan segera melepas tangan Kanaya dan berdiri dari posisinya. "fuh, hampir aja. sial, kenapa dia justru lebih menggoda saat tertidur seperti ini?"


di tempat lain kini Rayhan tengah membacakan buku dongeng untuk Ilona, namun saat itu Ilona tak kunjung tidur.


"pa, ante cantik mana? Ilona mau ante cantik yang baca dongeng buat Lona" dengernya sejak tadi. dan hal itu membuat Rayhan bingung. ia ingin meminta bantuan kepada Kanaya, namun ia juga tidak enak karena Raynand saat ini yang ada di luar kota.


"papa, Ilona mau ante cantik. Ilona gak mau papa yang baca dongengnya.. hiks hiks" kini Ilona mulai menangis.


Rayhan lalu meminta babysiter Carel untuk membantunya membujuk Ilona, namun babysiter itupun tidak berhasil. Rayhan mulai kuwalahan untuk membuat putrinya diam.


"mau tidak mau aku harus menghubungi Kanaya."


Rayhan mencoba menghubungi Kanaya namun hingga beberapa kali panggilannya tidak mendapat jawaban. "kamu dimana Kanaya? kenapa telfon tidak kamu angkat? apa lebih baik aku tanyakan Raynand saja? ah tidak.. tidak, aku tidak boleh membuat Raynand terganggu. lebih baik aku datang saja kerumahnya.


Rayhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. setelah memakan waktu sekitar dua puluh lima menit, Rayhan kini berada di depan gerbang rumah Kanaya.


" maaf Pak, apa Kanaya dirumah? "


"maaf tuan, non Kanaya belum pulang dari kerjanya tuan"

__ADS_1


"oh ya sudah terimakasih pak" Rayhan kembali melakukan mobilnya. namun saat itu ia tidak langsung pulang. ia berpikir dimana Kanaya saat ini.


"lebih baik aku bertanya dengan Raynand kemana Kanaya bekerja"


Rayhan meraih ponselnya dan hendak menghubungi Raynand, namun ia urungkan. "tidak bisa, aku harus mencarinya sendiri. saat ini sudah malam, dan Ray sedang di luar kota. aku tidak boleh membuatnya cemas"


"ah iya, lebih baik aku lacak saja nomor Kanaya! "


"kenapa dia ada disana?"


Akhirnya Rayhan langsung meluncur ke tempat dimana posisi menunjukkan dimana Kanaya berada.


"kenapa Kanaya datang ke klub ini?"


Rayhand masuk ke dalam klub dan mencari keberadaan Kanaya, namun ia tidak menemukannya. ia justru melihat ponsel Kanaya berada di meja bartender.


"maaf ini ponsel milik adikku! "


"oh begini pak, tadi saya menyukainya di kolong meja"


"baik Terima kasih" Rayhan hendak keluar dari klub, namun ia mendengar perbincangan beberapa pemuda.


"asal lu tau pada ya, untung aja gua gak ikut ketangkap. tadi Gio ketangkep gara-gara mau lecehin si model itu yang tadi disuruh jadi pelayan sama bos kita pak bryan! "


"Dimana Kanaya sekarang? " tanpa menunggu lama Rayhan menarik kerah baju pemuda tersebut dengan mata yang menghunus tajam.


"eh apaan lu narik-narik gua? "


"saya bilang dimana Kanaya? perempuan yang kalian bicarakan! atau kalian mau ikut dengan teman kalian yang di tangkap oleh polisi?"


"eh jangan lah kita gak ikut-ikutan, model cantik itu dibawa sama bisa kita pak Bryan"


"dimana rumahnya? "


"dijalan Armada nomor xx"


"itu sangat jauh, tapi aku harus tetap kesana. semoga tidak terjadi apa-apa dengan Naya!" raut kecemasan terlihat jelas di wajah Rayhan.


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2