Istri Antikku, Istri Cantikku

Istri Antikku, Istri Cantikku
Ancaman


__ADS_3

Bryan semakin mengembangkan senyumnya. ia terus mendekati Kanaya. tangan meraih rambut Kanaya dan ia tarik, kemudian ia membent*rkannya di tepian kolam renang hingga dahi Kanaya terluka.


"kau pikir aku akan menyentuhmu? huh, kau jangan terlalu percaya diri Kanaya Azra Malik.! aku hanya ingin memberi pelajaran terhadapmu karena kamu berani membuat seseorang yang aku kasihi hidupnya menjadi kacau dengan menikahi orang yang tidak dia cintai."


Kanaya meringis kesakitan, ia menatap Bryan penuh tanya. pasalnya Kanaya tidak pernah merasa membuat seseorang seperti itu.


"apa maksudmu tuan Bryan, aku tidak pernah melakukannya sama sekali. dan siapa yang kau maksud?"


"kau tidak perlu tau, yang aku mau kau merasakan kesakitan yang dirasakan adikku karena cintanya harus bertepuk sebelah tangan gara-gara dirimu"


Kanaya semakin bingung, dia tidak tau siapa yang dimaksud oleh Bryan saat ini. dan Kanaya tidak pernah memalukan hal-hal seperti itu sehingga dia tidak bisa menerima tuduhan dari Bryan.


"dengar tuan Bryan, apa yang anda tuduhkan itu tidak benar. aku tidak pernah membuat seseorang seperti itu. kalau memang adik anda cintanya bertepuk sebelah tangan, itu semua bukan kesalahanku. lebih baik anda lepaskan aku"


"huh, baiklah kali ini aku akan melepaskanmu, tapi jika kau berani mengatakan tentang ini ke siapa pun, nyawa suamimu akan menjadi taruhannya."


"jangan mengancamku! suamiku tidak boleh kau sakiti! "

__ADS_1


"kalau begitu jangan pernah mengatakan hal ini ke siapa pun mengerti!" Bryan pergi begitu saja meninggalkan Kanaya. sementara Kanaya masih tertegun di dalam kolam. ia sangat syok dengan perlakuan Bryan.


dan saat itu Kanaya segera keluar dari dalam kolam dan segera mengganti pakaiannya dan mengobati lukanya. ketika Kanaya keluar dari ruang gantinya.


semua crew yang bertugas sudah ada di are kolam renang.


"Area, ada apa dengan keningmu?" tanya kiki


"tidak apa kiki, tadi aku hanya terpeleset karena licin dan akhirnya kepalaku terbentur."


ponsel Kanaya berdenting, di sana ia mendapati sebuah pesan dari nomor yang tidak dikenali.


namun ketika membaca pesan dari nomor tersebut Kanaya langsung tau bahwa nomor tersebut adalah milik Bryan.


pemotretan pun usai. kini Kanaya tidak langsung pulang melainkan langsung pergi ke ruangan Bryan yang ada di lantai tiga.


Kanaya terlihat begitu was-was. ia khawatir jika kejadian di kolam renang akan terulang. namun karena ancaman dari Bryan, mau tidak mau Kanaya harus menemuinya.

__ADS_1


ceklek


Kanaya memutar handle pintu dan masuk kedalam ruangan milik Bryan. netranya menelisik tiap sudut ruangan, dan saat itu pandangannya berhenti kepada sosok tinggi yang berdiri menatap keluar jendela dengan tangan yang ada di saku celana.


"ada apa kau memanggilku kesini tuan Bryan?"


mendengar suara Kanaya, Bryan menarik sebelah ujung bibirnya memebentuk senyum menyeringai. Bryan memutar badannya dan menatap Kanaya yang berdiri didekat mejanya.


"aku mau kamu setiap hari datang ke kantorku dan membersihkan semua ruangan yang ada dikantorku selama kontrak kita berakhir"


"mana mungkin bisa seperti itu? kontrak kita bahkan masih tiga bulan lagi, dan aku justru kau suruh menjadi tukang bersih-bersih di kantormu? itu bukan perjanjian yang ada di dalam kontrak pak"


"itu terserah kamu Kanaya Arza malik, kalau kamu mau ancamanku terjadi, maka lakukanlah dan terus membuatku kesal sehingga hari dimana kamu melawanku itu, maka itu juga hari terakhir bagi suamimu. mengerti! "


.


. bersambung

__ADS_1


__ADS_2