
seperti bulan-bulan sebelumnya, Rayhan selalu menemani istrinya untuk chek kandungan. terlebih perut Siska yang sudah lumayan besar mengharuskan Rayhan ekstra lebih hati-hati untuk menjaganya. apalagi saat ini ia juga harus memperhatikan anak pertama mereka yang sudah sangat aktif.
ketika diperjalanan pulang dari rumah sakit, Siska meminta Rayhan untuk berhenti di sebuah warung penjual makanan dipinggir jalan. entah kenapa ia sangat ingin makanan dari warung tersebut.
"Siska, apa kamu yakin mau makan di tempat itu? " dengan wajah seperti bayi, ia mengangguki pertanyaan Rayhan. karena melihat raut wajah istrinya seperti itu membuat Rayhan tersenyum dan mengajak Siska untuk makan di warung tersebut.
"tunggu sebentar, aku harus mencari parkiran. disini sangat sulit mencari parkiran Mobil"
setelah mengedarkan pandangannya, akhirnya Rayhan menemukan tempat untuk dia memarkirkan mobilnya.
dan dengan tidak sabar Siska pergi begitu saja menuju warung yang ia incar tanpa menunggu suaminya.
****
brak
seketika Rayhan menoleh kearah sumber suara. namun saat itu sudah banyak kerumunan sehingga Rayhan tidak bisa melihat siapa orang yang menjadi korban tabrak lari.
"nanti saja aku melihatnya, lebih baik aku menyusul Siska. dia pasti sudah sangat kesal karna menungguku parkir."
Rayhan memasuki tenda rumah makan, ia mengedarkan pandangannya. namun ia tidak mendapati keberadaan istrinya didalam sana. sontak ia teringat dengan kecelakaan yang terjadi tidak jauh dari tmpat itu.
Rayhan berlari menuju kerumunan, dimana saat ia mencoba melihat korban ia terhalang banyak orang. karena itulah ia memutuskan untuk bertanya dengan seseorang yang baru saja melihatnya.
"permisi, bagaimana keadaan korban yang tertabrak?"
"oh itu korbabnya meninggal di tempat mas. kasian banget dia sedang hamil"
deg
"terimakasih pak, aku akan langsung melihatnya" mendadak perasaan Rayhan sudah tidak enak. terlebih saat ini istrinya tidak ada di tempat yang ia cari.
perlahan Rayhan membelah kerumunan dengan susah payah. ia melihat kaki dari korban yang mengenakan alas kaki yang familiar baginya.
"ini gak mungkin"
Rayhan membuka penutup dari korban meninggal akibat tabrak lari.
jedar
hatinya bagai tersambar petir ketika melihat istrinya lah yang menjadi korban tabrak lari. nafasnya menderu mengusap darah yang keluar dari belakang kepala Siska.
"Siska.. bangun sayang.. apa kamu tidak ingin makan makanan kesukaanmu hmm?" pandangan matanya menyapu wajah Siska yang tadinya begitu berseri, kini menjadi pias tak berseri. pandangannya turun dan berhenti diperut istrinya yang mengandung sekitar delapan bulan.
keputus asaan terlihat jelas dimatanya, namun matanya melebar ketika melihat perut istrinya yang bergerak. "sayang, anak kita.." dengan segera Rayhan mengangkatbtubuh istrinya.
selang berapa menit ia sampai di rumah sakit terdekat. Dengan segera perawat membawa brankar dan saat itu juga Rayhan menjelaskan apa yang dialami istrinya. setelah itu Dokter segera menangani Siska.
cukup lama Rayhan menunggu Siska ditangani di dalam.
__ADS_1
perasaannya begitu carut marut. apalagi ia sempat memeriksa keadaan istrinya yang memang denyut nadinya sudah tidak terasa. namun ia. asih memiliki secerca harapan ketika Rayhan melihat perut istrinya yang bergerak.
ting
lampu operasi padam dan disusul dengan dokter yang kelur dari ruang operasi.
"keluarga pasien? "
"iya saya dok"
"bapak yang tabah ya"
"maksud dokter apa? "
"kami tidak bisa menyelamatkan istri bapak. tapi, kami berhasil menyelamatkan anak bapak." lalu dimana anak saya dok? "
"dia sedang berada dalam perawatan dokter dan berada didalam inkubator karena masih prematur pak. baiklah saya permisi"
Rayhan langsung memasuki ruangan dan melihat keadaan Siska saat ini. netra Rayhan menyapu dan memandangi istrinya yang sudah tidak bernyawa.
-
seusai pemakaman, Rayhan sengaja membawa Kanaya menemui Rayhan. aat itu ia mendapati Rayhan yang duduk di ruang tamu dengan memandangi foto Siska.
"kak Han"
"Raynand.. Kanaya? "
Raynand lalu duduk disebelah Rayhan.ia menepuk punggung Rayhan. ia tahu kesedihan yang dirasakan kakaknya.
"papa.. "
sontak semuanya melihat kearah anak kecil yang berlari menghambur ke dalam pelukan ayahnya.
"papa.. kenyapa mama di tutupin cama tanah? nanti kayok mama gak bica nafas gimana pah? " ucap
seketika airmata terjatuh begitu saja dan Rayhan langsung menyekanya. ia tidak ingin anaknya mengetahui kelamahan ayahnya.
"dengar sayang, Tuhan sangat menyayangi mama mu. jadi Tuhan tidak akan membiarkannya kesulitan bernafas."
"teyus mama kapan puyang pah? biasanya mama yang bikin calapan buat Lona. dan cikarang Lona kapel pah"
"nanti dimasakin sama papa ya sayang"
"Ilona.. mau tante masakin? " tawar Kanaya yang menghampiri Ilona. dengan segera Ilona melihat ayahnya. pasalnya ia belum mengenal sosok Kanaya.
"iya Lona, kamu dimasakin sama istri om ray ya.. ' sahut Raynand yang berusaha mengenalkan Kanaya kepada keponakannya yang berusia sekitar dua tahun.
" jadi tante cantik ini istrinya on Le? "
__ADS_1
"ayok sayang ikut tante, nanti tante masakin apa aja yang Lona suka ya" dengan semangat Ilona meraih uluran tangan Kanaya dan dengan senang hati mengikuti Kanaya ke arah dapur.
"lalu bagaimana dengan keponakan ku yang satunya kak Han? "
"dia masih ada di rumah sakit Ray, dia harus alam pengawasan dokter karena lahir dalam keadaan prematur"
"aku bahkan tidak tau kalau selama ini ucapan Siska yang mulai aneh adalah pertanda dia akan pergi meninggalkanku dengan anak-anak Ray"
_Flashback On
"Han.. tolong bantu aku memandikan Ilona. kamu tau kan aku sengaja tidak memakai jasa babysitter agar kita bisa merawatnya dengan full. tapi kali ini aku butuh bantuanmu agar nanti kamu terbiasa merawat Ilona tanpa aku"
ucapan Siska membuat Rayhan menggeleng. ia tau saat itu Siska mengatakan hal itu karena ia yakin Siska tidak akan sempat mengurus Ilona karna mereka akan memiliki seorang bayi tidak lama lagi.
"lalu bagaimana aku bisa memandikan Lona Siska, lihatlah Ilona "
Siska terkekeh melihat Ilona yang begitu aktif bahkan hingga didalam kamar mandi Ilona begitu aktif dengan membawa mainannya untuk mandi.
"dan kamu harus terbiasa Han. aku tidak mungkin bisa membantumu nanti"
"baiklah aku akan berusaha. tapi jangan salahkan aku jika nanti Ilona kurang bersih ya mandinya"
"eh gak boleh gitu dong, harus bersih dong. Ilona itu perempuan, dia gak boleh jorok kaya papanya kan"
"hei sejak kapan aku jorok Siska, lihatlah kulitku yang putih bersih. itu berarti aku tidak jorokkan.. "
Siska kembali terkekeh mendengar ucapan dari suaminya yang membanggakan warna kulitnya yang memang sangat putih dan bersih.
"sejak kapan warna kulit memperlihatkan tingkat jarang orang Han"
Rayhan hanya menyengir kuda dan lanjut mengerjakan misinya untuk memandikan putrinya.
_Flashback Off
"aku tidak tau itu secara langsung Siska berpesan untukku merawat Ilona sendiri Ray."
"kau tidak sendiri kak, ada aku dan juga Naya. "
Rayhan lalau menatap Raynand dengan tatapan yang sulit diartikan. ia melihat ke arah dapur dan saat itu melihat putrinya yang sangat gembira memasak dengan Kanaya.
"lalu bagaiaman dengan om Malik Ray? bukankah dia masih marah denganmu! juga dengan Arka, bagaimana dengannya? " Raynand belum bisa menjawab pertanyaan dari kakaknya.
sementara itu Orang yangereka bicarakan saat ini mengurung dirinya didalam kamar. Raka terlihat sangat kacau.
"apa yang aku lakukan tadi? kenapa aku meninggalkannya. apakah orang yang ku tbarak selamat? atau justru.. " Raka mengadakan rambutnya frustasi.
.
. bersambung
__ADS_1