
"Akhirnya aku bisa menghirup udara segar" racau Naura yang baru saja terbebas karena bantuan Bryan.
Naura memutuskan untuk menemui Bryan ke kantornya, ia begitu marah dengan Valdo karena tidak menemaninya.
tap
tap
tap
"Bryan" teriak Naura yang berlari menghambur kedalam pelukan Bryan.
"akhir nya kamu terbebas Nau"
"ini semua karna berkat kamu Bryan, tapi.. "
Bryan mengerutkan dahinya ketika terlontar kata tapi di ujung kalimat yang Naura utarakan.
"tapi apa Nau? "
"tapi kenapa Valdo nggak nemuin aku Bryan, apa kamu tau dimana Valdo "
Mendengar ucapan dari Naura, ingin rasanya Bryan mengatakan jika Suami sepupunya itu bersama dengan wanita lain. namun hatinya tidak ingin melihat kebahagiaan sepupunya hancur dan memilih mengubah topik pembicaraan.
_
Sudah satu minggu semenjak kebebasan Naura. Valdo yang baru kembali dari luar kota hendak berbaring di atas ranjang di kamarnya.
Seolah seperti mayat hidup, Valdo tidak ingin memeriksa selimut yang menggembung dan ia tiduri saja. sebuah pergerakan ada di bawah selimutnya sehingga membuatnya terjingkat.
"siapa? " tanyanya penuh waspada.
Ketika selimut mulai tersibak, Valdo bersiap dan memasang kuda-kuda untuk melawan jika ada perlawanan dari orang yang menyusup kedalam kamarnya.
"ini aku Valdo"
Suara itu berhasil membuat kedua mata Valdo membulat sempurna begitupun dengan mulutnya. ia tidak menyangka jika Naura bebas secepat itu.
Ada rasa bahagia didalam hatinya, namun ia juga merasa heran, bagaiman bisa Naura bebas sedangkan Arka belum mencabut tuntutannya.
Dengan segera Valdo memeluk Naura dengan erat. ia mengutarakan kebahagiaan nya untuk vebasnya istrinya.
"seneng si seneng, tapi jangan memelukku seperti ini Valdo. ingat! kita menikah hanya karena terpaksa, jadi kamu jangan berlebihan"
Sebuah kenyataan menampar Valdo, dimana dia begitu mencintai Naura. tetapi Naura justru mencintai orang lain. bahkan karena cintanya terhadap Arka, membuat sisi Naura hilang sebagian dan berubah hingga Valdo sulit mencari sosok Naura yang membuatnya jatuh hati.
__ADS_1
"aku tau kamu cinta sama aku, tapi aku tau kamu hanya menganggapku seperti Kanaya. dan aku tidak menerima itu. jadi Valdo, jangan pernah halangi aku untuk mendapatkan Arka. dan setelah itu, kita akan bercerai. terserah kamu jika kamu mau merebut Kanaya dari Raynand, yang jelas kita harus berpura-pura menjalani pernikahan, agar semuanya tidak mencurigai jika akau masih menginginkan Arka. jadi kita akan bercerai setelah Arka menerimaku"
Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Naura membahas Arka didepan suaminya sendiri. entah apa yang ada didalam pikiran Naura, yang jelas ia berhasil membuat perasaan Valdo tak karuan sekaligus marah. Tanpa mengatakan apapun, Valdo meninggalkan rumah.
"kenapa Valdo, apa dia marah?" Cinta benar-benar merubah Naura yang lembut menjadi perempuan tidak punya hati. yang ia tau ia hanyalah menginginkan cintanya. entah sejak kapan cinta yang ia agungkan berubah menjadi sebuah obsesi.
Sementara itu saat ini Kanaya merasa cemas karena kali ini suaminya akan menghukumnya. padahal selama ini setelah Kanaya mengingat dan kembali menjalani hidup bersama Raynand, Raynand tidak pernah memperlakukannya buruk seperti saat mereka belum saling mencintai. Namun kali berbeda, setelah Kanaya memutuskan untuk jujur dengan apa yang ia alami hati ini, Raynand justru akan menghukumnya.
"baiklah, jika kejujuranku membuatmu terluka. aku akan menerima apapun hukuman dari mu Ray"
Benar-benar menggemaskan mendapati wajah Kanaya seperti anak yang akan dihukum setelah ketahuan memakan permen. karena tidak tahan, Raynand justru terkekeh dan mencubit hidung istrinya hingga memerah.
"itu hukuman dariku"
"Ray.. "
"Kenapa, apa masih kurang? "
Kanaya terlihat bingung, ia belum menyadari jika suaminya hanya mempermainkannya. mana mungkin Raynand tega menghukumnya seperti yang ada dibayangannya.
"kau tidak menghukumku Ray?”
" untuk apa aku menghukum istriku yang menggemaskan ini hmm? "
Meskipun sudah lama menjalin hubungan rumah tangga, Kanaya masih saja tersipu ketika ucapan manis terlontar dari mulut suaminya.
"ante...
Mendadak Raynand dan Kanaya mendengar suara Ilona yang berteriak memanggil Kanaya.
Kanaya dan Raynand segera berlari dan melihat Ilona ke kamarnya. dan bear saja, saat itu Kanaya mendapati Carel yang terjatuh dari tempat tidur Ilona yang lumayan tinggi.
Dahi yang membiru membuat Kanaya cemas dan sesaat setelah Kanaya menggendongnya, Carel menangis kencang.
Bisa diyakini jika anak sekecil Carel baru saja pingsan karena terjatuh. dan hal itu benar-benar membuat Rayhan marah.
"apa yang kamu lakukan sehingga Carel seperti ini Naya? " Rayhan mengambil alih Carel dari gendongan Kanaya.
Sorot tajam terlihat jelas di mata Rayhan yang saat itu baru pulang dari kantornya. ketika itu ia baru saja sampai di rumahnya dan mendengar suara tangisan CarelCarel yang menggema diseluruh rumah.
"kak Han aku-"
"jika kau sibuk dengan Raynand, harusnya kau tidak meninggalkan Carel bersama dengan Ilona yang masih sangat kecil. pantas jika kau tidak punya anak, karna kau memang tidak becus" Rayhan mengatakannya dengan nada suara yang keras hingga Kanaya tersentak, begitupun dengan Rayanand.
"kak Han hentikan" sentak Raynand
__ADS_1
Kanaya berlari dengan berderai air mata, ia tidak menyangka sama sekali jika kakak ipar nya mampu mengatakan hal yang sangat menyakitkan baginya.
"ssshhhh" Raynand berlari mengejar istrinya yang berlari keluar rumah. Namun Rayhan yang tidak merasa bersalah sedikit pun dan segera membawa Ilona bersamanya.
Ketika Rayhan hendak menuju ke mobilnya, saat itu Suster yang bertugas menjaga Ilona dan Carel keluar dari dalam dapur.
"tuan, ada apa ini? "
"aku harus ke rumah sakit Sus, Carel jatuh dari ranjang"
"maaf tuan. tadi waktu saya membuatkan susu untuk non Lona, den Carel sedang tidur jadi saya tidak tau kalau akan seperti ini tuan"
"jadi kau yang menjaga Carel? lalu Naya? "
"mba Naya tadi seharian bersama dengan den Carel bersama dengan mba Moana, tuan. setelah den Carel tidur mba Naya berbincang dengan adik tuan"
"astaga, apa yang sudah kukatakan tadi"
_
"Terima kasih pak, kita akan lebih sering bertemu karna kerja sama ini"
Bryan meninggalkan kliennya yang baru saja membuat kesepakatan dengannya.
karena ia akan mengurus sesuatu, Bryan melajukan mobilnya cukup kencang, hingga seseorang yang tiba-tiba melintas didepan mobilnya, membuat Bryan tidak sempat menginjak remnya.
shiittt
"astaga, aku menabrak seseorang"
Bryan keluar dan melihat seorang wanita yang memegangi kakinya yang berdarah. dengan segera Bryan hendak membantunya.
"maaf, aku tadi tidak melihatmu menyebrang"
Seorang yang ia tabrak menoleh ke arahnya. dan tanpa Bryan duga, seorang yang ia tabrak adalah Kanaya. orang yang sangat ia benci.
"Arza? kenapa kau sangat ceroboh? kenapa mnyeberang tiba-tiba? "
"heu... heu... marahi saja aku. memang akau Ormas yang tidak becus, aku orang yang ceroboh, makanya kalian semua memarahiku" Kanaya menangis gisteris hingga membuat semua orang yang melintas mulai berhenti dan memperhatikannya.
'astaga, semua orang akan memganggapku yang bersalah. lebih baik aku membawanya ke rumah sakit.'
Dalam keadaan menangis, Bryan mengangkat Kanaya kedalam mobilnya. sesaat setelah mobil itu pergi, Raynand baru saja melintas di sekitar tempat itu.
"Naya, kamu dimana? aku tidak mau kejadian itu terulang kembali."
__ADS_1
.
. bersambung