
"Aku harap dengan aku menyuruh Dimas bekerja denganmu, kau lebih aman dari Bryan Nay. Mungkin saat ini hatiku sudah milik Naura, tapi aku masih perduli denganmu. Karena kamu orang yang sangat baik denganku Nay"
Valdo lah yang menyuruh adik dari temannya untuk bekerja di tempat Raynand.
"Sekarang lebih baik aku melihat Naura, apa dia masih belum menyadari kesalahannya? "
Valdo menginjak pedal gasnya cukup dalam hingga membuat laku mobilnya semakin kencang. Setelah beberapa menit, akhirnya Valdo sampai ketempat tujuan.
Netranya menatap cemas melihat keadaan Naura yang semakin hari semakin terlihat kurus. Langkah kakinya semakin mendekat ke arah Naura. Meskipun mereka terhalang oleh jeruji besi, namun itu tidak menghalangi Valdo untuk menyentuh wajah mungil istrinya.
"Naura.. "
Naura yang tidak menyadari kehadiran suaminya tersentak dan menatapnya dengan lekat.
"Kenapa kamu kesini Valdo? Kenapa kamu tidak mengurusi seseorang yang kamu anggap penting! Bahkan kamu menyukaiku karena dia kan?"
Saat itu polisi datang untuk membukakan pintu sel, namun Naura melarangnya. Ia mengatakan jika Valdo ingin berbicara dengannya, Valdo harus berbicara di luar sel tahanan.
"Ayolah Naura, jangan seperti ini. Dimana Naura yang dulu? Jujur saja aku sangat merindukan dirimu yang dulu Nau" Valdo
"Dan aku sangat membenci diriku yang dulu! Yang tidak bisa melakukan apapun untuk kebahagiaanku sendiri" Pelik Naura.
Melihat Naura yang terus memekik, akhirnya polisi pun memerintahkan Valdo untuk meninggalkan Naura.
_
Drrtttt Drrrrtttt
Pagi itu ponsel Raynand berdering, Kanaya yang tengah menyiapkan sarapan pun ikut mendengarkan Raynand yang tengah berbicara di dalam telefon.
"Nay, apa hari ini kamu ada pemotretan? "
__ADS_1
"Ada tapi masih nanti sore Ray, ada apa? "
"Nanti sore? Kenapa harus sore? "
"Karena mereka butuh view yang berbeda Ray. Dan nanti sore aku harus pemotretan didekat pantai"
Raynand mengerutkan dahinya, ia merasa ada yang aneh kali ini. Pikirannya mulai terganggu, namun Raynand harus mengizinkannya karena itu adalah pekerjaan Kanaya.
"Tadi kamu mau bilang apa Ray, kenapa sekarang kamu diam? "
Ucapan Kanaya akhirnya mengingatkan Raynand tentang pembicaraannya di telefon.
"Emm itu Nay, hari ini kak Han meminta tolong untuk membantu menjaga Lona, Karena baby Carel sedang sakit jadi suster yang menjaganya harus fokus menjaga Carel"
"Baiklah, setelah aku mandi aku akan langsung kesana" Balasnya sembari mengulas senyum tipis diwajahnya.
Usai menghabiskan makanannya, Raynand beranjak pergi ke kantor miliknya. Sementara Kanaya, ia segera membersihkan diri dan pergi ke rumah Rayhan. Dan tentunya Dimas pun akan salalu ikut kemanapun Kanaya pervi, termasuk ke rumah Rayhan.
Sesampainya disana, Ilona yang melihat kedatangan Kanaya pun berlari dan menghambur kedalam pelukan Kanaya yang bahkan a
"Ante Cantik, Lona kangen cama ante.. " Ucap Ilona di tengah pelukannya.
Ilona mengendurkan pelukannya dan menelisik seseorang yang ada di belakang Kanaya saat itu. Seseorang yang asing yang bahkan belum pernah ia temui.
"Ante cantik, ciapa olang itu? "
"Oh perkenalkan sayang, dia adalah om Dimas bodyguard tante"
"Halo om Dimad, kenalin nama aku Ilona"
Ilona mengulurkan tangannya dan menatapnya ramah, dengan segera Dimas pun meraih ukuran tangan Ilona dan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Nama om, Dimas. Senang berkenalan denganmu Ilona" Balasnya.
"Om Dimad, Boliyad itu apa? "
"Sayang, bo-dy-guard bukan boliyad sayang"
"Ih ante, cucah tau"
Kanaya memang sangat senang menggoda keponakannya yang memang masih belum fasih mengucapkan huruf-huruf tertentu, sehingga ia menggoda dengan membenarkan ucapan Ilona.
"Oh iya sayang, dimana adik kamu?
Dengan segera Ilona mengajak Kanaya untuk kekamar Carel dan menyuruh Kanaya untuk menggendong adiknya.
Tidak terasa kebersamaan mereka begitu cepat, hingga ketika Ilona ingin pergi, Ilona sempat ingin meminta ikut. Namun saat itu suster berhasil membujuknya dan membuat Ilona tidur.
"Baiklah Dimas, sekarang kamu antar aku untuk pergi ke lokasi ini" Kanaya menunjukkan tempat yang harus mereka datangi.
Sementara itu Arka yang berada di penjara pun hanya terdiam.
"Ka, apa lo mau diam kayak gini? Kenapa lo gak ngubungin pengacara lo? Atau biar gue aja yang ngubungin pengacara keluarga gue?" Tawar Bastian.
"Tidak perlu Bas, ini emang hukuman yang harus gue Terima"
"Lo kenapa si Ka, ini bukan sepenuhnya salah lo kan? Dari cerita lo gue bisa nyimpulin kalo Siska itu nyebrang mendadak kan? " Tambah Bastian
"Udah-udah Bas, jangan maksa Arka. Kita kasih waktu biar Arka bisa berpikir" Agas lalu menatap Arka yang saat itu ada di hadapannya. "Saran gue lo harus mikirnya mateng-mateng kalo mau bikin keputusan Ka. Inget Arka, lo itu pemimpin perusahaan. Dan banyak karyawan yang bekerja di perusahaan lo. Itu berarti banyak kepala keluarga yang bergantung sama perusahaan lo. Dan perusahaan lo bisa bertahan hanya jika pemimpinnya juga bertahan Ka. Jadi lebih baik lo pertimbangan lagi apa yang lo pikirin sekarang"
Agas memang lebih tenang dan berpikir dewasa dibandingkan Bastian yang selalu grusah grusuh dalam mengambil keputusan.
.
__ADS_1
.
. Bersambung