
Kicauan burung mulai bersautan sinar sang surya mulai menyilaukan pandangan tapi tak sedikitpun membuat gadis berselimut itu membuka mata bahkan masih tetap larut dalam mimpinya. Suara alarm bagaikan melodi mengiringi tidur sang gadis hingga tak lama kemudian dikejutkan suara keributan diluar.
Duaarrr braaakkkk
"ampun pak saya mohon beri saya waktu lagi"
"ga bisa dari kemarin kemarin juga itu terus alasan kamu"
"saya mohon pak paling tidak beri saya kelonggaran sampai anak sulung saya lulus SMA"
"Kapan anak kamu lulus SMA"
"3 bulan lagi pak saya mohon beri saya kelonggaran agar anak saya bisa fokus ujian dulu saya mohon pak hiks hiks" ujar ibu Andini sambil terisak berharap anak buah pak Randi mau mengabulkan permintaannya
Tut tut tut
"halo bos ini gimana dia minta waktu lagi sampai anaknya lulus SMA sekitar 3 bulan lagi bos"
"...."
"baik bos" telepon terputus
__ADS_1
"baiklah kamu saya kasih waktu 3bulan jika dalam waktu 3bulan kamu nggak bisa lunasin hutang-hutang kamu rumah ini saya sita"
Braaaakkkk
Akhirnya sang anak buah pun pergi dengan membanting pintu rumah Andin dengan tubuh gemetar Lastri pun bangkit sambil menyeka air matanya seketika pandangannya beralih ke Andini yang terduduk lemas dibelakang pintu ruang utama, sambil mengusap air matanya Andini bangkit memeluk ibunya, mengusap punggung ibunya agar lebih tenang walaupun sebenarnya dia juga ketakutan.
"maafin Andini ya buk karena Andini belum bisa melunasi hutang kita hiks hiks" ujar Andini sambil terisak
"nggak nak kamu sudah bekerja sambil sekolah lebih baik kamu fokus sama ujian kamu biar dapat nilai bagus trus bisa lanjut kuliah dapetin beasiswa nak"
Ya walaupun hidup dibawah himpitan ekonomi tak membuat Andini patah semangat dia tumbuh menjadi anak yang cerdas bahkan setiap kenaikan kelas dia selalu mendapat juara I setidaknya ada kelegaan dihati Lastri karena anaknya bisa sekolah di SMA favorit tanpa harus mengeluarkan biaya karena semua ditanggung beasiswa yang dimiliki Andini di SMA.
Hari demi hari berlalu Andini masih sama dengan rutinitas nya sepulang sekolah dia masih bekerja demi membantu ibunya yang hanya penjual kue keliling sedang sang adik masih duduk di bangku SMP juga ikut menjajakkan kue tanpa rasa malu. Itulah yang membuat Andini tak patah semangat hingga akhirnya ujian pun digelar.
"iya bu doain yang terbaik ya"
"pasti nak ibu slalu doakan yang terbaik untuk anak ibu udah sana berangkat"
"iya Bu assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
__ADS_1
Sepeninggal Andini sekolah Lastri pun bergegas ke dapur membuat kue dan menjualnya keliling. Tak kenal lelah diusianya yang sudah kepala 4 tak membuat Lastri patah semangat dia ingat akan hutangnya dulu untuk pengobatan sang suami meski takdir berkata lain tapi dia tidak menyesal pernah berhutang.
***
Hari berganti hari pengumuman kelulusan pun telah digelar dengan harap-harap cemas menanti hasil yang akan keluar. Kini Lastri dan Andini sudah berada di sekolah, acara pun dimulai dengan wajah penuh ketegangan akhirnya sang kepala sekolah pun memulai pembicaraan.
"mohon perhatian hadirin sekalian, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kehadiran bapak ibu wali murid, hari ini saya akan menyampaikan kabar gembira bahwa sekolah ini mendapat juara 1 se ibu kota" {Prok prok prok tepuk tangan semua yang hadir disana}
"Dan saya juga sangat bahagia sekali akan hal ini, saya juga berterima kasih kepada juara bertahan karean usaha kalian bisa mengharumkan sekolah kita ini. Tepuk tangan yang meriah untuk Andini Pratiwi yang telah berhasil menjadi juara 1 se-ibu kota. Mari naik disamping saya saudari Andini Pratiwi"
Andini pun naik ke atas podium menjabat tangan sang kepala sekolah.
"selamat ya nak atas keberhasilan kamu, ini ada sedikit hadiah dari pihak sekolah semoga bisa bermanfaat untuk kamu dan keluarga kamu gunakan sebaik-baiknya"
"baik pak terimakasih hiks hiks" ujar Andini sambil menangis haru
***
"buu Andini gak nyangka bu"
"sudah nak ini memang hasil kerja keras kamu ayo kita pulang sepertinya adik kamu sudah pulang"
__ADS_1
"iya bu"