Istri Kecil Sang Duda

Istri Kecil Sang Duda
Bab 86


__ADS_3

"temui aku di gudang XX besok jam sepuluh pagi jika kau ingin teror ini berakhir. Datanglah sendiri jangan membawa pasukan satupun. Kalau tidak kupastikan kakakmu Kinan akan berakhir ditanganku"


Merasa kakaknya terancam Papi Banu pun mengalah memilih menemui sang pengirim pesan misterius itu.


Keesokan harinya, sebelum berangkat papi Banu berpesan kepada mami Latifa


"mih, mami jangan kemana-mana papi harus menemui peneror itu, jangan keluar tanpa pengawalan. Ingat musuh kita berkeliaran diluar sana. Di depan sudah banyak penjaga mami akan aman dirumah" ujarnya


"iya pi, tapi ko perasaan mami ngga enak gini ya apa sebaiknya papi ngga usah berangkat aja" ujar mami Latifa


"papi harus berangkat mi, kasihan kalau mbak Kinan sampai terseret masalah yang papi ngga tau apa motifnya. Mami berpikir yang positif ya. Papi pasti baik-baik saja" ujar papi menenangkan


"ya sudah pi, papi hati-hati dijalan cepat pulang" ujarnya sambil mencium tangan sang suami


"pasti mi, papi berangkat dulu ya assalamualaikum"


"waalaikumsalam"

__ADS_1


Papi Banu pun pergi sendirian sesuai permintaan sang peneror. Namun Papi Banu tidak bodoh, ia tetap memasang beberapa anak buah yang menyamar sebagai orang biasa di dekat komplek gudang tempat mereka bertemu. Agar tidak dicurigai sang peneror. Orang-orang nya telah ia persiapkan semalam sehingga walaupun ia berangkat sendirian ia tetap aman pikirnya. Namun manusia hanya bisa berencana selebihnya yang kuasa yang menentukan.


Setengah perjalanan papi Banu mengirim pesan kepada Delon.


"susul aku di gudang xx sepuluh menit lagi, aku sedang dalam perjalanan kesana, jangan membuat curiga aku ingin tahu apa motif mereka hingga membawa nama kakak kita Kinan, bawalah alat pelindung diri kita harus berhati-hati"


Selang beberapa menit Delon pun membalas pesannya.


"baiklah kak, jangan lupa pakailah jam tangan hitammu itu, sudah aku pasang gps disana agar kakak terdeteksi kemanapun kakak berada, aku akan segera menyusul, kakak berhati-hatilah"


Sesampainya di komplek gedung itu. Papi Banu melihat sekelilingnya tampak anak buahnya telah berjaga walaupun tidak ketara, Papi Banu memberi isyarat agar tak mendekat. Papi Banu pun melangkah menuju gedung yang dimaksud. Perlahan tapi pasti Papi Banu memasuki gedung berlantai dua tersebut.


"selamat datang anda sudah ditunggu Mister dilantai dua" ujar salah seorang penjaga disana. Papi Banu pun naik ke lantai dua sambil melihat arlojinya, "Delon pasti sudah hampir sampai" gumamnya.


Ceklek, pintu dibuka nampak lah sosok bertubuh tegap membelakangi papi Banu di dalam ruangan.


"tunjukkan wajahmu dasar pengecut" ujar papi Banu

__ADS_1


"hahaha akhirnya kau datang juga" ujarnya kemudian berbalik


"lepaskan topengmu itu brengsek, beraninya main petak umpet apa kau mempunyai wajah yang cacat sehingga kau menutupi wajahmu dengan topeng sialan itu, tak perlu kau memakai topeng itu aku sudah tau kau adalah Arya, aku tau kau awalnya bagian dari kehidupan ayahku kau masih dendam rupanya"


"tutup mulutmu, asal kau tau karena ayahmu yang bodoh itu aku kehilangan anak dan istriku bahkan aku harus mendekam dipenjara arrrrgh"


"bukankah itu kesalahanmu sendiri, jangan bermain api jika kau tak ingin terbakar. Kalau kau tidak mengusik ketenangan keluargaku maka ayahku pun tak sudi mengotori tangannya hanya demi sampah sepertimu itu cih" papi Banu meludah. "sekarang apa maumu katakan" tanya papi Banu


"aku ingin harta kekayaan Utomo juga istrimu kau harus mati lalu aku akan menikahinya hahaha kau sudah menyembunyikan Kinan dariku sebelum aku menjadikannya pelayan dirumahku" ujar Arya


"dasar brengsek berani kau menyebakku dengan nama kakak Kinan. langkahi dulu mayat ku tak akan ku biarkan kau mengambil apa yang aku miliki" ujar papi Banu geram.


"aku tau kelemahan mu ada pada Kinan, hanya dengan itu maka kau akan menampakkan dirimu hahaha" ujar Arya terbahak


"dasar brengsek" bugh bugh bugh


Pertengkaran pun tak terelakkan lagi.

__ADS_1


__ADS_2