
Perbincangan ketiganya berlanjut tak sadar waktu menunjukkan pukul 10 malam "sudah malam sebaiknya kamu istirahat nak, Vann ajak istri kamu istirahat" tanpa jawaban Revan hanya mengangguk kemudian menggandeng Andini menaiki tangga ke lantai atas.
"mulai sekarang kamu harus terbiasa tidur sekamar dengan saya walaupun saya tau kamu masih canggung, kamu bisa tidur diranjang biar saya tidur di sofa"
"biar saya aja pak yang tidur disofa bapak tidur diranjang aja" protes Andini
"kamu nurut atau saya tidurin diranjang mau" ancam Revan membuat pipi Andini bersemu merah
"iii..iiya deh saa..saya tidur diranjang selamat malam pak" buru-buru Andin naik ke ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut takut jika Revan benar-benar menidurinya.
Sedang Revan tersenyum geli "polosnya istri kecilku takut ditidurin beneran apa ya rupanya kalau digoda manis juga, saya akan bahagiain kamu saya akan buat kamu mencintai saya menjadi milik saya seutuhnya saya nggak mau terluka kedua kalinya" gumam Revan kemudian mematikan lampu.
***
Sayup sayup terdengar kicauan burung diluar pertanda sang fajar telah menampakkan sinarnya. Gemericik air membuat Revan terbangun dilihatnya jam dinding baru pukul lima tak berselang lama sang istri keluar hanya mengenakan handuk sebatas paha memperlihatkan sebagian kemolekan tubuhnya tak sadar diamati sang suami akhirnya "ehmm kamu sengaja godain saya ya" sontak membuat Andini kaget pasalnya seingatnya si empu masih terlelap "mmm nggak pak saya nggak godain bapak tadi saya lupa bawa baju ganti yaudah saya balik lagi ke kamar mandi mau ganti baju" namun dengan sigap Revan melingkarkan tangannya dipinggang sang istri membuat deru nafasnya tersengal ada sensasi lain yang dirasakan keduanya "pak lepasin saya mohon"
"panggil saya mas baru saya lepasin"
"mm.. maas le..lepasin"
"tapi ada bayarannya kamu hadap saya" cuuuppppp Revan memberi sedikit kecupan pada bibir Andini, Andini hanya diam karena memang ini kali pertamanya dicium seseorang "manis,, sudah sana ganti malah bengong mau saya lanjutin nanti saya kasih yang plus plus biar kamu ketagihan" sontak membuat Andini kabur ke kamar mandi. Di dalam Andini berusaha menetralkan detak jantung nya karena perlakuan Revan.
__ADS_1
"lama banget sih Ndin mau saya susulin di kamar mandi"
duh mati ni jantung kenapa malah makin dag dig dug si "bentar pak" Andini merapikan pakaiannya kemudian keluar. "udah pak kalau bapak mau mandi saya mau ke dapur bapak dibuatin sarapan apa"
"kamu panggil saya apa"
"bapak eh maaf mas saya kurang terbiasa, mas Revan jangan marah ya nanti gantengnya ilang" Revan mendekat direngkuhnya pinggang Andini kemudian mencuri ciumannya lagi "ini hukuman buat kamu karena berani panggil saya bapak lagi lain kali saya hukum lebih dari ini saya mandi dulu katanya mau ke dapur minta tolong buatin nasi goreng buat saya ya" pintanya dengan wajah memelas
"iya mas yaudah sana mandi" Andini pun bergegas ke dapur sebelun Revan kembali mencuri kesempatan menciumnya lagi *duuhhh jantunggg lu kenapa sii dag dig dug muluu malu kan gue sama mas Revan duh dia denger nggak ya jangan jangan nanti dia pikir gue ketagihan lagi sama ciumannya" monolognya sambil melihat sekeliling dapur mencari bahan nasi goreng.
"non cari apa biar bibi aja"
"ooh ini non kalau den Revan sukanya nasi goreng irisan sayur sama atasnya satu telor ceplok non, nasi nya kan udah ada itu di rice cooker kalau sayurannya ada dikulkas, kalau bumbu bumbunya ada di rak atas yang pintu nya dua ya non atau biar bibi aja yang buatin"
"eh ngga usah bik biar saya aja bibi kebelakang aja saya bisa kok saya biasa masak"
"yaudah kalau perlu apa apa panggil bibi ya non"
"iya bik" Andini pun melanjutkan kegiatan memasaknya membuka kulkas diambilnya wortel tomat daun bawang tak lupa ia mengambil telur. Tak perlu waktu lama akhirnya nasi gorengnya pun jadi.
"harumnya masak apa nak"
__ADS_1
"eh mama udah bangun ini tadi mas Revan minta dibuatin nasi goreng katanya"
"kayaknya enak banget nak"
"ayo kita sarapan ma Andin panggil mas Revan dulu ya"
"maas nasi goreng nya udah jadi" tanpa mengetuk pintu Andini masuk terlihat Revan sedang memakai dasinya "mulai besok kamu harus pasangin dasi buat saya kerja ya"
"eh iya mas nanti Andin belajar sama mama dulu deh sekarang ayo turun sarapannya udah jadi" mereka pun turun Revan berbinar melihat nasi goreng didepannya "kok kamu tau saya suka nasi goreng sayur telor ceplok"
"tadi bibik yang kasih tau" mereka pun sarapan
"enak Ndin kamu pinter masak juga ya rupanya" puji sang mertua Revan hanya mengacungkan kedua jempolnya setelahnya hening hanya ada dentingan sendok dan garpu memenuhi ruangan. Akhirnya sarapan pun tandas Andini merapikan meja hendak mencuci piring namun dihentikan oleh sang mertua "biar dilanjutin bibi kamu antar Revan ke depan"
"baik ma" kini keduanya telah sampai teras depan rumah diciumnya punggung tangan sang suami penuh hormat kemudian dikecupnya kening sang istri "hari ini kamu temani mama jalan-jalan ya ini buat kamu kalau ada yang diinginkan nanti" ujar Revan sambil memberikan black card tanpa limit miliknya "pinnya tanggal nikah kita kamu nurut sama mama ya, mas jalan dulu"
"iya mas terimakasih mas hati-hati dijalan"
"assalamualaikum"
"waalaikumsalam"
__ADS_1