
Revan mengemudi secepat kilat beberapa pengemudi kendaraan bahkan mengumpat ketika Revan menyalip dengan kecepatan tinggi. Sesampainya dirumah sakit Revan berlari menuju IGD dimana Dev dan ketiga teman Andini berada. Nampak keempat wanita itu berwajah pucat khawatir akan keselamatan Andini. "gimana Dev apa dokter sudah keluar?" tanya Revan seketika membuat teman Andini melongo. Bagaimana mungkin mereka bisa berteman dengan istri pejabat nomor satu senusantara ini.
"dokter belum keluar tuan, maaf tuan saya lengah menjaga nona ampuni saya tuan saya siap dihukum tuan" ujar Devita sambil bersimpuh dihadapan Revan.
"bangun Dev ayo duduk ceritakan sebenarnya yang terjadi" pinta Revan pada Devita kemudian mengajaknya duduk dikursi tunggu.
"sebenarnya saya tidak tahu pasti tuan karena tadi nona menyuruh saya ke perpustakaan mengambil bukunya yang tertinggal disana saya tidak menyadari kalau Rania berada dikampus, ketika saya kembali nona sudah bertengkar dan didorong oleh Rania tuan, saya minta maaf hiks hiks" terang Devita sambil menangis
"kalian bertiga pasti tahu apa yang terjadi katakan pada saya" tanya Revan sekaligus perintah kepada teman Andini.
__ADS_1
"emmmm maaf tuan saat kejadian Andini meminta kami menunggu ditaman tapi sebelumnya si nenek lampir datang meminta berbicara berdua dan sepertinya si nenek lampir meminta Andini untuk bercerai dari tuan" ujar Yuli yang memang memperhatikan Andini dan Rania saat berbicara.
"kurang ajar beraninya dia, lalu dimana ja°°°g itu Dev kau pasti sudah memberinya pelajaran bukan?" tanya Revan menginterogasi Devita.
"saya menyerahkan wanita itu kepada Diego tuan sepertinya Diego membawanya ke markas" terang Devita pada Revan. Tak berselang lama Mama Kinan dan Bu Lastri datang. "gimana Andini Van?" tanya mama Kinan.
"iya nak bagaimana keadaan Andini" sambung Bu Lastri. Belum sempat Revan menjawab dokter keluar. "dengan keluarga pasien?" tanyanya.
"baiklah mari ikut saya keruangan" dokter pun berlalu Revan, mama Kinan dan Bu Lastri mengekor dibelakang. Sesampainya diruangan.
__ADS_1
"apa yang terjadi dok kenapa istri saya bisa pendarahan" tanya Revan.
"begini pak, bu, sebenarnya pasien sedang mengandung kira-kira usianya baru tiga mingguan namun karena dorongan nya terlalu keras membuat pasien terjatuh dan pendarahan. Tapi mohon maaf janinnya tidak bisa terselamatkan karena masih terlalu kecil dan benturan nya cukup kuat kami tim dokter minta maaf sebesar-besarnya" ujar sang dokter tulus.
Tangis mama Kinan dan Bu Lastri pun pecah. Bagaimana tidak belum sempat mengetahui kalau ada calon cucu mereka dengan cepat Tuhan telah mengambilnya sebelum ia sempat dilahirkan. Tak berbeda dengan Revan ia sangat terpukul. Terlihat gurat kemarahan diwajahnya. "ini semua gara-gara wanita ja°°°g itu ma, bu, awas aja Revan bakal bikin perhitungan sama dia, dia udah membunuh dan menyakiti anak istri Revan. Revan pastikan dia akan membusuk dipenjara" ujar Revan berapi api.
"maksud kamu Rania sialan itu yang bikin cucu mama meninggal" tanya mama Kinan.
"iya ma, kata Dev dia sempet menemui Andini dikampus dan terlibat keributan hingga wanita ular itu mendorong Andini ma" terang Revan.
__ADS_1
"jangan ampuni dia pastikan dia terjerat hukum seberat beratnya. Telepon Delon Van suruh dia mengakhiri bisnis keluarga nya" titahnya pada Revan.
"baik ma, mama dan ibu keruangan Andini saja ya Revan mau urus sesuatu kabari Revan kalau Andini sudah sadar ya ma" ujarnya kemudian pergi meninggalkan rumah sakit.