Istri Kecil Sang Duda

Istri Kecil Sang Duda
Bab 82


__ADS_3

"baik bos" ujar mereka serempak.


Tepat pukul enam sore, Revan dan Dafa telah berada di lokasi. Revan melihat sebuah mobil keluar dari markas. Ia pun meminta Remon untuk mengikuti kemana perginya mobil hitam tersebut. Sementara Papi Banu dan Paman Delon menyusup, mereka membawa beberapa anggota polisi yang menyamar.


Ting


Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponsel Revan. Revan membukanya nampak paman Delon memberi sinyal. Segera ia mengajak Dafa mendekati gedung itu. Dengan pistol, pisau lipat di saku jas serta beberapa serbuk mematikan yang dibutuhkan mereka perlahan menuju kesana mengingat anak buah Toni sangat banyak. Melihat jam ditangan "waktunya lima menit lagi" ujar Revan. Segera mereka mengarahkan pistol yang berisi peluru bius ke penjaga depan. Tak sampai satu menit merekapun tumbang.


Dooooorrrrrr duuuuuaaaaarrrrrr..


Suara ledakan menggema di kebun belakang. Reflek semua anak buah Toni berhamburan keluar melihat keadaan belakang. Toni yang begitu panik tak menyadari keberadaan papi Banu dan paman Delon yang berusaha melepaskan tawanan mereka. Dibantu beberapa pengawal mereka berhasil membebaskan tawanan Toni. "Boy, John kalian bawa mereka ke rumah sakit Prayoga, sepertinya mereka sering dianiaya dan tidak diberi makan. Kalian lewat sana Revan sudah mengamankan penjaga" titah papi Banu


"baik tuan" ujarnya seraya membawa para tawanan keluar ruang.


"saatnya kita ke ruang bawah tanah kita gerebek ruangan tersebut" ajak papi Banu


"baik ayo kak"

__ADS_1


Mereka pun menuju ruang bawah tanah yang sangat gelap, hanya ada lampu di beberapa titik, mereka berjalan masuk ke sebuah ruangan seperti kamar. Mereka tercengang melihat isi kamar tersebut. Berbagai obat terlarang berjejer rapi diruangan tersebut. Ada sesuatu di bawah meja. Paman Delon menatap penuh selidik. Sebuah peti berukuran sedang. Ia pun mengangkat nya.


"kak coba lihat peti ini" ujar paman Delon


Papi Banu mendekat dan membukanya. Mereka terkejut di dalam peti tersebut terdapat berbagai jenis senjata ilegal, tapi ada yang janggal, terdapat juga serangkaian kunci didalam peti tersebut. Papi menerka-nerka kunci apakah itu. Saat sedang larut dalam pikirannya tiba-tiba...


Aaauuuuuuuummmmm..


Sontak membuat keduanya kaget. "kak kau dengar itu?" tanya paman Delon


"sepertinya dari arah sana kak, ayo kita selidiki" ajak paman Delon


Mereka pun masuk lebih dalam, tiba-tiba kreeeekkkkkkk... Paman Delon menginjak sesuatu. "hei siapa disana" tanya penjaga di dalam.


"hati-hati Del, kita harus bagaimana" ujar papi Banu berbisik


"kita hadapi saja kak, lebih cepat lebih baik bukan? Bukankah Revan sudah membawa beberapa Intel?" tanyanya berbisik

__ADS_1


"kau benar, ayo kita serang"


...----------------...


Sementara Toni yang tengah kebingungan menganalisa bagaimana bisa laboratorium nya meledak padahal tidak ada eksperimen di dalam bahkan tak seorang pun yang masuk kesana. Di tengah kebingungan nya, alarm ponselnya berbunyi. "ada apa diruangan bawah tanah? Oh astaga apa binatang-binatang itu lepas dari kandang, aku harus kesana" ujarnya lirih.


Sebelum ia kedalam ruangan, ia berpapasan dengan Bagas. "Gas, kalian selidiki penyebab laboratorium meledak ini aku harus mengecek keadaan bawah tanah" ujarnya.


"baik bos"


Dengan langkah seribu Toni menuju ruangan bawah tanah, saat melewati kamar dilihatnya kamar itu sudah kosong. "sial aku kecolongan" umpatnya. Ia kemudian berlari menuju bilik bawah tanah. Terdapat dua orang berpakaian serba hitam nampak memunggunginya.


"siapa kau?" Tanyanya


"hai apa kabar Toni?" jawabnya


"kkk...kaa...kkaaaauuu..." ujar Toni terbata-bata

__ADS_1


__ADS_2