
Revan pov.
Aku melihat dengan jelas gurat kesedihan diwajah ayu milik istri kecilku, aku yakin dia masih merasa terluka yang amat mendalam atau mungkin saja dia kini menyimpan dendam besar kepada Rania yang telah berani menghilangkan nyawa bayinya yang tak berdosa itu. Aku telah gagal menjadi suami, aku telah gagal menjadi pelindung anak dan istriku, aku lengah menjaga mereka berdua hingga kehilangan yang menyakitkan ini bagai tamparan keras untuk diriku. Namun tak ada seorang pun dari kami yang menginginkan kehilangan ini terjadi. Aku tahu istriku memendam amarah yang teramat dalam dihatinya.
Aku tidak bisa membalas kematian anakku dengan kematian Rania. Meskipun itu hal mudah yang dapat aku lakukan jika aku bersedia. Bayangkan saja jika aku membunuhnya tapi apa bedanya diriku dengannya jika aku melakukan itu semua? Tapi ini Indonesia bukan negara lainnya maka aku memilih menyeretnya ke jalur hukum daripada membunuhnya. Kubiarkan polisi yang menanganinya, aku dan paman telah menghancurkan keluarganya walau tidak impas namun tak apalah setidaknya keluarga nya mengalami kesulitan yang tak mudah mereka lewati. Bahkan jika jatuh miskin menjadi gelandangan pun aku tidak peduli lagi.
Author pov.
Setelah drama tangis menangis didepan makam sang anak usai, kini Andini dan Revan akhirnya masuk ke rumah.
Andini merebahkan tubuhnya diatas ranjang menghela nafas sejenak menikmati suasana kamar yang sudah semingguan ini ia tinggal dirumah sakit. "mas sibuk banget ya?" tanyanya pada Revan yang tengah mengutak atik laptop nya.
__ADS_1
"ngga kok cuma lihat email doang kenapa mau jalan-jalan ngga? Mas pengen beli jagung bakar yuk keluar" ajak Revan
"serius? Bentar Andini ganti baju dulu" ujarnya berganti kostum "ayo mas" ajaknya kemudian.
"yuk" mereka kemudian turun dilihatnya sang mama tengah bersantai diruang tengah. "mau kemana sayang sore sore gini?" tanya sang mama.
"mau jalan-jalan bentar ma pengen beli jagung bakar mama mau ngga?" tanya Revan
"nggak ah kamu hibur Andini aja ajakin keliling kota biar ngga suntuk, hati-hati dijalan ya, Ndin ntar kalau Revan ngga bisa senangin hati kamu bilang sama mama nanti mama hukum dia" ujar mama Kinan
"waalaikumsalam".
__ADS_1
Mereka memasuki mobil. Dilihatnya pemandangan disekitar jalan. Lampu belum menyala karena belum terlalu sore. Hingga tiba di taman pinggiran kota nampak pedagang jagung tengah mengipasi jagung bakarnya. Revan menepikan mobil memarkirkannya kemudian turun dengan sang istri. "pak jagung bakarnya dua ya" pinta Revan kepada penjual
"iya den tunggu dulu ya" sahut sang penjual. Revan dan Andini pun menunggu di kursi dekat gerobak jagung. Tak berselang lama jagung pun datang "ini den jagungnya" ujarnya.. "terimakasih pak" ucap Revan kemudian menikmati jagung bakar.
"mas besok ke kantor ngga?" tanya Andini disela-sela makan jagung
"ke kantor besok ada meeting kamu mau ikut?" tanya Revan pada Andini
"emangnya boleh? Ngga ganggu mas kerja nanti?" sahut Andini balik bertanya
"ya enggak nanti kalau mas meeting, kamu diruangan mas kalau takut bosen besok Dewi mas suruh naik biar nemenin kamu sekalian biar lebih akrab juga" jawab Revan.
__ADS_1
"mama ijinin nggak ya? Besok Andini tanya dulu deh. Tapi pengen mampir ke Yayasan Peduli arah kampus itu mas kayaknya udah lama banget Andini ngga berbagi apa karena itu ya calon anak kita diambil sebab aku ngga pernah sedekah lagi setelah menikah" ujar Andini berkaca-kaca
"loh nangis lagi kan udah jangan diinget inget mulu ingat perjalanan kita masih panjang, anak kita juga udah tenang disana dijagain para nabi dia pasti sedih kalau lihat kamu lemah begini, yaudah besok ke yayasan sekalian minta doa buat anak kita ya tapi kamu jangan nangis terus entar kalau drop lagi gimana? Abisin jagungnya ntar mas ajak ke pasar malam"ujar Revan