
"Dwi Maharani" ulangnya Rani baru tersadar.
"lo kenapa si Ra panggil nama gue lengkap banget" kesal Ara.
"lagian lo ngelamun" ujar Yuli
"habis ini ke rumah gue yuk, gue semalem download drakor terbaru" ajaknya. "sebaiknya gue cerita dirumah aja kampus udah ngga aman" batin nya
"ini nih yang gue sukaa" celetuk Yuli.
"yaudah buruan ayo Ran, lo bawa mobil?" tanya Ara
"ngga tadi gue dianter, mobil gue kemaren dibawa kakak gue belum balik"
"kalau lo Yul?" tanya Ara.
__ADS_1
"ga usah ngejek gue Ra, lo kan tau gue masih trauma kalau harus nyetir sendiri" ujar Yuli..
"hehe ya udah naik mobil gue yuk cabut" ajak Ara, mereka pun otw ke rumah Rani
Sepanjang perjalanan Rani terdiam, lebih tepatnya ia melamun. Ara menerka-nerka kejadian di kampus tadi. Dengan berat hati Ara memendam kegundahannya mencoba berpikir positif. Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kencang, Ia sengaja mengemudi dengan kecepatan sedang agar cepat sampai di kediaman Ara dan menanyakan hal yang sebenarnya dan apa alasan orang tadi mencari Andini.
Ara pov
Aku bingung, mengapa secara tiba-tiba raut wajah mba Devita berubah sedikit tegang, baru saja aku menghilangkan pikiran burukku tiba-tiba di kantin seseorang bertubuh kekar menghampiri mencari Andini. Sebenarnya apa yang terjadi pada Andini apakah ia terancam bahaya lagi. Tapi Rani juga banyak melamun apa yang mereka bicarakan tadi. Ya Tuhan lindungilah Andini dia orang baik.
Aku tak dapat membayangkan jika hal buruk terjadi pada Andini. Ingin rasanya aku menelepon nya dan menanyakannya, namun hal itu aku urungkan. Ada Yuli yang tidak dapat menjaga rahasia. Satu-satunya orang yang bisa ku percaya hanya Ara, haruskah aku cerita kan sekarang. Tapi dia sedang mengemudi. Aku takut dia syok dan hilang kendali. Sebaiknya aku bersabar dulu. Nanti sampai rumah baru aku ceritakan.
......................
Sementara Devita yang sedang di perjalanan pulang nampak gelisah. Ia takut keselamatan nonanya terancam. Perasaan gelisah nya kian menjadi. Akhirnya ia memberi tahu Beary dan anak buah nya lewat ponsel khususnya agar mengikutinya dari belakang. Benar yang ia duga sebuah mobil box dari belakang mengikuti nya. Ia mencoba sedikit tenang, Beary telah menerima pesannya dan langsung menuju lokasi yang ia kirimkan melalui ponsel khususnya. Ia mencoba mengecoh sang pengemudi mobil box namun sayang seribu sayang. Tttiiiiiiiiiinnnnnnnnn.. Suara klakson dari belakang semakin menggema. Andini yang sudah panik mencoba menenangkan diri melihat Dev yang berusaha melarikan diri dari kejaran mereka.
__ADS_1
Doooorrrrrrr... Sialnya mereka menembak ban mobil yang dikendarai Devita. Mau tidak mau Devita menghentikan laju mobilnya. Tok tok tok. Mereka mengetuk kaca mobil. "keluar" namun Dev masih setia di dalam mengulur waktu menanti Beary agar sampai didekat lokasinya berhenti. "nona jangan panik tetap di dalam mobil, nona tolong pakai jam ini, ingat pesan saya nona, apapun yang terjadi nanti nona tetap memakai jam ini jangan sampai terlepas" terang Devita kepada Andini.
"tapi mbaa, mereka siapa? Apa salah kita?" tanya Andini
"mereka orang suruhan Arman, adik Doni dia tidak terima Doni dipenjara. Nona tetap di mobil saya akan keluar sebentar lagi Riry datang, dia akan mengantar nona sampai rumah. Nona segera pakailah jam ini jangan sampai terlepas" ujar Dev kemudian ia turun menghadapi komplotan didepan mereka.
"keluar juga lo rupanya" ujar salah satu dari mereka
"sebenarnya apa mau kalian?" tanya Devita mengulur waktu. "deekk kamu sampai dimana sih, nona sudah panik didalam cepatlah datanggggg" batinnya
"tidak usah berbasa basi, serahkan wanita didalam mobil itu kalau tidak.."
"kalau tidak apa?"
"cari mati kau rupanya"
__ADS_1
"saya rela mati asal nona saya selamat. Buughhhh" satu tonjokan Dev layangkan di muka si gendut.