
Mobil yang dikemudikan Beary terus melaju menuju markas sang ayah, namun anak buah Arman masih belum juga menyerah, ia masih mengikuti Beary. Beary mencoba mengecohnya, namun dari belakang dooooorrrrrrr... Sebuah tembakan berhasil ia loloskan untungnya mobil milik Beary dilengkapi dengan berbagai pelindung sehingga peluru tak mampu menembusnya. Andini yang berada disampingnya mencoba meredam ketakutannya namun tetap saja gurat kecemasan nampak di wajah ayu nya itu. Menyadari gelagat Andini, Beary pun menenangkannya,
"Mommy jangan khawatir kita pasti aman, kita akan menuju markas Ayah Delon, Mommy pasti aman disana nanti Daddy Revan juga akan menyusul kesana" ujar Beary
"benarkah? Tapi kenapa kamu memanggilku Mommy dan mas Revan kau panggil Daddy? Kamu siapa?" tanya Andini
"ceritanya panjang Mommy, yang jelas saat ini kita harus sampai di markas dulu baru nanti Riry ceritakan disana. Mommy jangan takut Mommy aman sama Riry"
Riry tetap melanjutkan perjalanan dengan tenang dilihatnya dibelakang sudah tidak ada yang mengikutinya. Riry pun bernafas lega. Namun beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan silver menyalipnya dan menghentikan kendaraannya di depan mobil Riry, mau tidak mau Riry menghentikan kemudinya. Tampak beberapa orang berbadan kekar mengenakan topeng turun dari sedan, dari luar mereka terus menggedor jendela mobil Riry. Riry mencoba menenangkan Andini agar tidak panik. "mommy tetap dimobil jangan sampai keluar kecuali jika Daddy yang meminta, Riry harus keluar..."
"tapi..."
__ADS_1
"sudahlah mom, Mommy tenang saja semuanya akan baik-baik saja jika mommy tetap berada di mobil" pungkasnya sebelum mendengar jawaban dari Andini.
Riry pun keluar. Pertarungan pun tak terelakkan. Riry melemparkan serbuk gatal kepada mereka namun nihil mereka memiliki penangkalnya sehingga tidak merasakan apa-apa. Sekuat tenaga Riry menghajar mereka, Riry kewalahan kedua anak buahnya sudah terkapar. Namun mereka masih terus menghajarnya. Riry tersungkur saat seseorang menendangnya dari belakang. Darah segar mengucur di kepala Riry membuatnya tak sadarkan diri. Andini yang melihat Riry tersungkur bersimbah darah sontak keluar dari mobil ia tak menghiraukan perkataan Riry tadi.
Andini berlari menghampiri Riry, dipeluknya, "nak sadar nakkk, sadar lah ku mohooonnnn" ujar Andini sambil terisak. "jangan sakiti dia lagi, dia tidak ada hubungannya dengan ini semua, bawa saja aku. Bukankah aku yang kalian inginkan" ujar Andini lantang.
"rupanya kau keluar juga"
"baiklah asal kau ikut dengan kami"
"aku akan ikut dengan kalian tapi tolong antarkan dulu anakku ke rumah sakit hiks hiks"
__ADS_1
"Roy, bawa dia"
Belum sempat mereka membawa Andini dan Riry, dari belakang rombongan Revan beserta polisi datang. Mereka kalang kabut, polisi dan anak buah Revan lebih banyak daripada jumlah mereka. Dengan mudahnya polisi menangkap mereka. Revan segera berlari menghampiri Andini dan Riry.
"kamu nggak kenapa-napa kan sayang?" tanya Revan
"ayo ke rumah sakit mas kasihan dia terluka hiks hiks hiks aku takut masss"
"kamu tenang sayang kita ke rumah sakit sekarang"
Dengan dibantu Jack, Revan membawa Andini dan Riry ke rumah sakit. Dev yang baru sampai segera menyusul mereka. Sepanjang perjalanan Andini terus menangis "ya Allah tolong selamatkan anak ini dia telah menolongku aku mohon ya Allah hiks hiks hiks" ujar Andini terisak
__ADS_1
"kamu tenang sayang, Riry pasti baik-baik saja percaya sama mas, dia anak yang kuat. Bahkan dia lebih tangguh daripada mas" setitik air mata pun lolos membasahi pipi Revan