
Kabar kelulusan Andini pun terdengar ke telinga sang dept colector apalagi ditambah hadiah uang yang diberikan kepada Andini membuat sang penagih hutang buru-buru menghampiri rumah mereka.
Sesampainya ditempat rupanya rumah mereka kosong mereka pun kembali dengan tangan kosong.
Sementara dilain tempat terlihat Lastri dan kedua anaknya sedang berkunjung ke panti asuhan Cempaka, mereka datang dengan sejumlah barang yang akan mereka sumbangkan sebagai rasa syukur karena anaknya lulus sekolah dengan nilai terbaik.
"ini ada sedikit rejeki dari kami bu mohon diterima" ujar Andini kepada bu Yanti kepala panti
"terimakasih banyak nak atas bantuan kamu semoga impian kamu bisa terwujud dan keluarga kalian selalu dalam lindunganNya" ucap bu Yanti tulus kepada Andini, sebenarnya ada keraguan karena bu Yanti sendiri tau mereka dikejar hutang tapi atas desakan Andini dengan embel-embel mohon doa untuk mendiang ayahnya akhirnya bu Yanti pun menerimanya.
***
Keesokan harinya dengan penuh semangat Andini kembali bekerja setelah beberapa hari izin karena ujiannya. Tiba-tiba dijalan ia melihat ibu-ibu dihadang orang berbadan kekar hendak mencopet tas sang ibu-ibu itu sang ibu hanya pasrah memberikan tasnya karena ditodong senjata tajam.
"tolong saya dijambret toloooongg tolooonggg" Andini yang berada dibalik tembok mengamati sang pencopet dilihatnya sekeliling terdapat balok kayu diambilnya, sengaja menggunakan kaki kanannya untuk menjegal sang pencopet
Bruuukkk
Sang pencopet pun terjatuh tersungkur Andini lalu memukul sang pencopet
Bugh bugh bugh "dasar beraninya sama perempuan balikin tasnya nggak"
"ampun ampun iya ini tasnya ambil" sang pencopet pun berlari "badan aja gede dipukul gitu doang kabur dasar pencopet kaleng-kaleng eh tapi ada baiknya juga sih gue ga perlu capek-capek hajar dia gitu doang udah pergi, oh iya tasnya" Andini pun mengembalikan kepada ibu tadi "ini bu tasnya dicek dulu ada yang hilang atau engga"
__ADS_1
"iya nak terimakasih udah nolongin ibu ini ada sedikit hadiah dari ibu" sambil mengeluarkan beberapa lembar seratus ribuan
"nggak usah bu saya ikhlas nolongin ibu, uangnya ibu simpan saja ya, yaudah ibu hati hati saya ngga bisa lama lama soalnya mau kerja bu"
"eh masa kamu udah kerja nak kayaknya kamu seumuran anak sma ya"
"iya bu saya kerja paruh waktu bantuin iby saya"
"lah bapak kamu kemana nak"
"bapak saya udah lama meninggal bu"
"maaf nak ibu ngga bermaksud mengingatkan, ini kartu nama ibu, ibu harap kamu bisa berkunjung ke rumah ibu atau nggak kamu kerja diperusahaan milik anak ibu aja nanti ibu bantu"
"iya nak"
***
Gubraaaakkkkk
"Lastrii mana janji kamu"
"iiii...iiiya pak bentar saya ambilkan" Lastri pun bergegas kedalam kamarnya ia ingat amplop yang diberikan Andini semalam kalau ada rentenir datang menagih "ini pak uangnya sudah lunas ya hutang saya, saya mohon jangan ganggu keluarga saya lagi"
__ADS_1
"baik saya tidak akan ganggu kamu lagi"
***
"lu kelihatan bahagia banget ya Ndin setelah beberapa hari lu izin kerja"
"iya San akhirnya utang ibu gue lunas juga ga ada lagi tekanan kasian tau San gue tu ya sebagai anak belum bisa bahagiain orangtua gue"
"lah kan lu masih sekolah bambaaaang lagian tu utang juga udah lunas kan lu dapet darimana"
"itu hadiah kelulusan gue dapet amplop dari sekolah 100juta"
"hah serius lo"
"iya karna gue jadi lulus terbaik seibu kota, bukan maksud gue sombong ya San tapi emang gitu kenyataan"
"widiiiih selamat ya Ndin gue ga nyangka disela-sela sekolah sambil kerja lu bisa semaksimal itu"
"ya gitu San tapi gapapa penting utang ibu gue 70juta udah lunas sisanya nanti buat ibu gue buka usaha daripada keliling jualan kue"
"kalian kerja apa ngobrol dari tadi saya perhatikan kamu ngobrol terus mau saya aduin pak Restu" tegur Rudi manajer restoran
"maaf pak" mereka pun bergegas ke depan mencari barang yang bisa dibersihkan
__ADS_1