
Keesokan harinya Revan benar benar menepati perkataannya, beberapa bodyguard telah siaga didepan rumah termasuk sopir baru Andini, Devita seorang sopir yang merangkap bodyguard, Revan sengaja mengandalkan Devita karena kemampuan bela dirinya tak tertandingi apalagi dia anak didik papi Banu sehingga tak perlu ditakutkan kalau ada masalah dia bisa dengan sigap mengatasi.
Hari ini Revan tak mengantar Andini ke kampus karena sepenuhnya percaya pada Devita. Revan berangkat ke kantor dengan Dafa karena memang sengaja mempercepat penyelesaian pekerjaan mereka sehingga tak perlu khawatir pada saat Dafa menikah urusan perusahaan telah selesai. Revan berjalan didepan meninggalkan Dafa yang tengah apel ke bagian keuangan menghampiri Dewi sang kekasih hati.
Namun sesampainya Revan didepan ruangan tampak Ardila dengan wajah pucat tengah mondar mandir didepan pintu ruangan. "kamu kenapa Dil wajah kamu pucat kalau kamu sakit kamu izin saja saya bisa urus sama Dafa" ujar Revan spontan membuat Ardila menoleh karena tak menyadari kedatangan sang Presdir.
"em a..anu pak sa..saya ngga sakit tapi diruangan bapak ada mba Rania saya udah coba mengahalangi dia tapi dia nekat masuk pak, dia mengancam akan menyuntikkan obat bius kalau saya tidak mengijinkannya masuk" terang Ardila pada Revan.
"kamu kembali kerja biar Rania saya dan Dafa yang urus" ujar Revan lalu menelepon Dafa "halo Daf lu cepetan ke ruangan gue tunggu didepan pintu ada masalah besar lebih parah daripada perang dunia ke II"
(....)
"udah ga usah lebay pake sayang sayangan buruan kesini atau gaji lu bulan ini gue potong" pungkas Revan kemudian menutup sepihak teleponnya.
__ADS_1
Tak berselang lama Dafa muncul setengah berlari. "lu ngapain kaya abis dikejar setan aja" tanya Revan
"lu bilang suruh cepetan kesini lu gimana sih ya gue lari biar cepet sampai" terang Dafa
"kenapa ngga naik lift udah ada lift khusus juga kebanyakan bucin lu sampai otak gagal fungsi hahaha" tawa Revan pecah merutuki kebodohan Dafa yang memilih lari daripada naik lift khusus Presdir
"ketawa aja lu terus, udah masalahnya apa" tanya Dafa
"yuk masuk masalahnya ada didalam" ajak Revan. Mereka berdua pun masuk. Tampak Dafa terkejut melihat penampakan didepannya sementara Revan biasa saja.
"Van gue mau bicara berdua sama lu" ujar Rania ngga tahu malu
"alah mau ngomong aja segala pake berdua duaan lu ngomong disini juga gue ngga bakal ngurusin lu buang buang waktu" seloroh Dafa sambil menatap tajam Rania.
__ADS_1
"gue ngga ada urusan ya sama lu wakil kampret" ujar Rania balik menatap sinis kepada Dafa
"gue juga ngga mau berurusan sama lu kuntilanak jadi jadian" jawab Dafa
"kalau tidak ada kepentingan silahkan keluar dari ruangan saya dokter gadungan Rania yang terhormat pintunya ada disebelah sana" ujar Revan seraya tangannya mengarah pada pintu keluar.
"tapi gue mau bicara sama lu Van" protes Rania
"saya rasa saya sudah tidak ada lagi urusan sama kamu silahkan keluar dari sini jangan pernah menginjakkan kaki kamu disini lagi atau kamu mau profesi abal-abal mu itu saya hancurkan seperti kertas ini"ancam Revan sambil merobek robek kertas didepan Rania sementara Dafa tengah menelepon satpam dengan bahasa kode sehingga Rania tak mebyadari gelagat Dafa. Tak berselang lama satpam yang ditelepon Dafa datang. "pak tolong seret kuntilanak ini keluar dan jangan pernah lagi kasih dia akses masuk kesini." perintah Dafa pada Pak Satpam.
"baik tuan" ujarnya.
"sekalian bikin poster wanita ini pak supaya semua orang tahu kalau dia ngga boleh masuk kawasan perusahaan sini lagi" ujar Revan menimpali
__ADS_1
"baik siap laksanakan tuan, ayo ikut saya" ujar satpam sambil menyeret paksa Rania sampai kedepan kantor