
"menyerahlah Ton, bertobatlah selama kau berada dipenjara. Tinggalkan dunia hitam mu itu. Lepaskan dendam mu pada keluarga Septian mereka tidak bersalah, justru mereka adalah korban keserakahan kakakmu itu" terang papi Banu lagi
"maafkan aku Banu, Delon, terima kasih telah menyadarkan aku"
"ku harap dengan kejadian ini kau bisa berpikir jernih dan bisa menjadi pribadi yang baik" ujar papi Banu
"bawa dia pak, jeratlah dengan hukum undang-undang yang berlaku di negara kita" ujar pamab Delon
"baiklah kami permisi terimakasih kerjasama nya" ujar kepala Intel
Mereka pun membawa Toni ke tempat seharusnya ia berada.
"tunggu pak" ujar papi Banu menghentikan langkah mereka.
"iya tuan? Ada yang perlu dibicarakan lagi?" tanya kepala Intel
"saya ada satu permintaan lagi kepada saudara Toni, apakah boleh saya mengatakan nya sebentar?" ujar papi Banu
"silahkan tuan"
Papi Banu pun mendekat, menghampiri Toni merangkul pundak nya.
__ADS_1
"Ton, ada satu hal yang ingin aku minta"
"katakanlah aku akan menurutinya sebagai permintaan maafku untuk keluarga besar mu yang tekah kuusik kedamaiannya"
"ku minta kau menarik semua anak buah mu yang masih kau perintah untuk menculik Andini dan keluarganya, Revan mungkin tidak melaporkan nya ke pihak kepolisian dan mereka bebas kasihan anak istri mereka perlu makan" ujar papi Banu
"tentu saja, aku akan menariknya dan membebaskan nya dari masalah ini. Biar aku saja yang menanggung semua ini. Setelah ini tolong kirim mereka ke luar negeri bersama keluarganya Nu, ku mohon padamu awasilah mereka jadikanlah mereka orang baik sepertimu" sahut Toni
"pasti akan aku lakukan, terimakasih, ku harap setelah kau keluar dari penjara kita bisa bersahabat dan menjalani masa tua kita dengan kedamaian" ujar papi Banu penuh harap
"tentu saja Nu, kau dan Delon adalah orang yang telah menyadarkan aku dari genangan kesalahan. Aku malu, aku hanyalah seorang pendosa, aku tak pantas mengenal orang baik seperti kalian." tesss setitik cairan bening keluar dari pelupuk mata Toni
"aku tahu, kau sebenarnya orang yang baik. Hanya saja keadaan mempermainkanmu sehingga kau terjerumus dalam ambisimu itu. Pergilah Ton, jalani harimu dengan baik di tahanan. Aku yakin jika tingkah lakumu baik pasti pihak kepolisian bisa mengurangi masa tahananmu" titah papi Banu
"tenang kan dirimu Ton, ada aku dan Delon untukmu"
"baiklah ayo pak antarkan aku ke penjara. Aku sudah siap menjalani konsekuensinya" ajak Toni
"baik, kami permisi tuan, terima kasih atas kerja sama nya" pamit sang Intel
Mereka pun berlalu meninggalkan papi Banu dan paman Delon yang berdiri mematung.
__ADS_1
"ku harap kau benar-benar kembali ke jalan yang benar seperti semula Ton, semoga hukumanmu diringankan" lirih papi Banu
"sudahlah kak, aku yakin dia pasti berubah" ujar paman Delon
Derrrttt derrtt deeerrrttt. Ponsel papi Banu berdering. Tertera nama Revan disana.
"iya halo nak, semua sudah beres, Toni sudah diamankan pihak Intel, ia akan bertobat selama berada dipenjara. Bagaimana klub terkutuk itu?".
(...)
"baiklah kita bertemu dirumah"
Klik sambungan dimatikan.
"ayo kita tinggalkan tempat ini" ajak papi Banu. Paman Delon hanya mengangguk.
...----------------...
Sementara itu Revan dan Dafa sedang menunggu papi Banu dan paman Delon di rumah sang papi, tampak gurat keceriaan di wajah keduanya.
"lega ya kak, semua berakhir damai" celetuk Dafa
__ADS_1
"iya Daf, gue ngga nyangka, gue pikir akan terjadi pertumpahan darah lagi, ternyata hati Toni tak sekeras batu" sahut Revan
"kau benar kak, dia hanya tertutup ambisi dan pernyataan palsu dari mulut saudaranya. Beruntung kakak ipar tidak kenapa-napa, ya walaupun anak angkat lu harus jadi korbannya" ujar Dafa