
Mobil memasuki pelataran rumah sakit. Beberapa tenaga kesehatan yang melihat kehadiran sang pemilik rumah sakit menghampiri dengan membawa brankar. Mereka membawa Riry ke IGD disusul Revan dan Andini yang masih terus menangis. "kamu tenang sayang Riry pasti baik-baik saja, kita doakan dia, dia anak yang kuat" ujar Revan menenangkan.
Beberapa detik kemudian Dev masuk dengan membawa dua paperbag untuk Revan dan Andini. "tuan, nona, sebaiknya makan dulu dari tadi siang nona belum makan, ini saya bawakan makanan dan teh hangat" ujarnya sambil menyerahkan paperbag.
"terimakasih Dev, apa kamu terluka?" tanya Revan
"tidak tuan, saya baik-baik saja, lalu nona apakah mereka sempat menyakiti nona? Maafkan saya tuan"
"tidak Dev, Andini baik-baik saja mereka belum sempat menyentuh nya saya sudah berada di tkp"
"mbaa Dev Riry terluka gara-gara Andini hiks hiks" ujar Andini di sela tangis nya
"nona jangan menangis, tenangkan diri nona, Riry anak yang kuat bahkan sebelum diadopsi oleh tuan Revan..." Dev menghembuskan nafas dalam "Maaf tuan saya lancang" lanjutnya
"tidak Dev, Andini memang harus tahu kejadian itu, lebih baik kamu istirahat saya tahu kamu juga berusaha keras menjaga Andini" ujar Revan.
__ADS_1
"tidak tuan, saya akan menunggu Riry disini" jawab Dev
Andini terlihat bingung. Revan memahaminya. "sekarang kamu makan dulu setelah itu baru mas akan cerita"
"tapi aku ngga lapar mas"
"kamu tetap harus makan, kamu ngga mau kan Riry tambah sedih melihat kamu tidak mau makan, kamu pasti merasakan dia sangat menyayangi kamu sekarang makan ya"
Akhirnya Andini pun mau makan walau sedikit setidaknya ada sebagian yang masuk mengisi perutnya. Tiga puluh menit berlalu namun dokter belum juga keluar. Nampak gurat kecemasan di wajah Andini. Bolak balik ia melihat ke pintu berharap dokter segera keluar memberinya kabar gembira. Lima menit kemudian dokter keluar dengan wajah lelahnya. "keluarga pasien?" tanya dokter seketika membuat mereka berdiri mendekat.
"beruntung pasien segera dibawa kemari, dia anak yang kuat lukanya tidak begitu dalam kami sudah menanganinya, pasien masih dalam pengaruh obat bius saya harap jangan mengganggu pasien untuk sementara waktu karena pasien harus istirahat total" terang Dokter ber name-tag Andreas.
"baik dokter, apakah kami boleh menjenguknya?" tanya Andini
"saya minta maaf nyonya, namun pasien harus istirahat, dua jam ke depan kalian boleh menjenguknya saya permisi" pungkas dr.Andreas
__ADS_1
Revan menatap Andini yang tampak kecewa, Revan tau Andini sangat mencemaskan Riry. "sabar sayang dua jam lagi kamu bisa menjenguknya" ujar Revan. Tak lama berselang ponsel Dev berbunyi tampak Diego yang menelepon
"Diego menelepon tuan"
"biar saya yang bicara Dev"
...----------------...
Sementara di sebuah gedung, nampak Arman sedang uring-uringan. Pasalnya sebagian anak buahnya telah tertangkap aparat, belum lagi orang yang ia perintahkan di mall milik Revan hilang tanpa jejak. "aaarrrrggghh, benar-benar tidak berguna" ujarnya sambil mengusap kasar wajahnya. Tok tok tok. "masuk", nampak sang asisten masuk dengan wajah lesu. "apa yang kau dapatkan"
"tidak ada petunjuk apapun tuan, sepertinya mereka bekerjasama dengan ElangHitam pasalnya gerak gerik mereka sangat rapi bahkan tak tersisa apapun" ujar Galang
"ElangHitam bukankah organisasi mereka telah bubar, bahkan petinggi nya telah berpisah dan tinggal di sebuah pedesaan bagaimana mungkin mereka bisa muncul lagi?"
"mungkin mereka ada ikatan keluarga tuan, jadi mereka menampakkan diri lagi untuk membantu keluarganya"
__ADS_1
"mana mungkin.. Septian itu anak tunggal, sedangkan istrinya hanya sebatang kara bagaimana bisa mereka berhubungan, walaupun besan Septian adalah Prayoga, tapi setahuku Prayoga telah lama meninggal dan saudaranya tak diketahui keberadaannya"