Istri Kecil Sang Duda

Istri Kecil Sang Duda
Bab 71


__ADS_3

Di belahan bumi yang lain nampak seseorang tersenyum bangga di kursi kebesarannya karena berhasil memasukkan orangnya ke dalam WP Group. "sebentar lagi kalian akan hancur, aku akan membalas kalian lihat saja. Aku tidak terima kakakku menderita di negara A, tega-teganya kalian mengasingkan kakakku disana dan membiarkan mereka menjadi petani walaupun kalian masih memfasilitasi mereka, namun itu tidak cukup. Lihat saja kejutan yang akan aku berikan untuk kalian" ujarnya seorang diri sambil tersenyum smirk.


Tak berselang ponselnya berdering, tertera nama John disana. "bagaimana tugas kalian"


(....)


"kerja bagus, lanjutkan tetap waspada jangan sampai mereka curiga"


Tut. Telepon dimatikan sepihak.


...****************...


Revan telah kembali ke kantor. Dilihatnya berkas di meja, dibacanya dan ia tanda tangani. Tak banyak namun tetap menguras waktu untuk memeriksanya. Ditengah kesibukannya ponselnya berdering, dilihatnya Paman Delon menelepon. "halo paman assalamualaikum"


(...)


"apa? Jadi apa yang akan kita lakukan paman? Revan sangat sibuk dikantor hingga tak sempat mengawasi perkembangan mall dan baru saja Indra menemui Revan ada masalah di WP Group."


(...)

__ADS_1


"baiklah paman, Revan percayakan kepada paman, tapi Revan ingin Diego mengawasi WP Group paman, Revan curiga mereka satu komplotan yang sengaja ingin menjatuhkan Revan, mengingat adik Doni masih menyimpan dendam pada Revan."


(...)


"terimakasih paman assalamualaikum"


Revan mengusap kasar wajahnya. Entahlah jebakan ataukah apa ini. Ditengah kebingungan nya Ardila datang.


Tok tok cklek


"permisi pak , ini berkas-berkas yang harus bapak tanda tangani" ujar Ardila dengan membawa setumpuk berkas ke hadapan Revan.


"untuk seminggu ini tidak ada pak, memangnya kenapa pak?"


"kosongkan jadwal saya sepuluh hari ke depan, saya ada masalah di mall dan WP Group. Saya harap kamu juga berhati-hati mengingat kamu adalah orang kepercayaan di kantor ini. Oh iya kamu bisa bela diri kan?"


"bisa pak, saya rasa mereka telah mengawasi kita dan sengaja menggunakan kesempatan ketika Pak Dafa keluar negeri pak, jadi biar pak Revan lengah ditengah kesibukan bapak"


"ya kamu benar, mereka pasti sudah memata-matai kita, setidaknya jika penyusup itu berusaha mendekati kita kamu bisa melindungi diri kamu sendiri, kamu tenang saja mulai besok saya akan perketat penjagaan disini saya minta kamu bersikap biasa saja seolah belum mengetahui masalah ini"

__ADS_1


"baik pak, kalau begitu saya permisi"


Ardila pun keluar ruangan, tiba-tiba Revan teringat keselamatan Andini. Lagi-lagi Revan dipermainkan keadaan. Revan pun menelepon Devita.


Tutttt.. "ya halo Dev, perketat penjagaan nona, saya menemukan sesuatu yang tidak beres kamu harus lebih waspada"


(....)


"oke, urusan itu biar saya yang melakukannya"


Tut telepon dimatikan oleh Revan. "sebaiknya aku keluar dulu" ujarnya sambil membereskan berkas, menutup laptop. Ia pun melangkah keluar, menghampiri Ardila yang tengah berkutik dengan laptop didepannya. Menyadari kehadiran sang bos Ardila pun menghentikan kegiatannya.


"Dil, kamu jaga kantor saya segera kembali, oh iya makan siang kamu gofood saja jangan keluar kantor sebelum saya kembali"


"baik pak, bapak dipesankan sekalian?"


"tidak usah kamu saja, saya pergi dulu"


Revan pun meninggalkan kantor menuju mall, diperjalanan Revan merasa aneh pasalnya mobil sedan hitam sedari tadi membuntutinya hingga ia membelokkan ke pelataran mall. Revan pura-pura tak menghiraukannya, ia terus memasuki mall diam-diam dia mengirim pesan kepada pak Bejo untuk menukar mobilnya dengan mobil rumah dan memberitahukan alasannya agar pak Bejo berhati-hati saat pulang nanti tak lupa ia menyuruh Jack mendampingi pak Bejo.

__ADS_1


__ADS_2