
"beraninya kauuu.. Harusnya kau yang mati akan kupastikan kau membusuk dipenjara" ujar Delon lalu membopong papi Banu membawanya menuju rumah sakit. Darah terus mengalir dari tubuh papi Banu. Papi Banu ia baringkan di kursi belakang Delon mengemudi.
"bertahanlah kak aku mohon".
Keadaan papi Banu sangat mengenaskan
"la..tii...faaa... maaa..afff...kan aa...ku" lirihnya.
Delon mengemudi ugal-ugalan tak peduli omelan dan klakson dari beberapa pengguna jalan yang ia salip yang paling penting kakaknya harus segera tertolong
Tiga puluh menit kemudian Delon sampai pelataran rumah sakit. Ia turun menggendong sang kakak menuju IGD, "tolong selamatkan kakak saya" ujar Delon kepada dokter
"akan kami lakukan sebaiknya anda menunggu diluar"
Delon pun pasrah "ya tuhan selamatkan kakakku" setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya. Ia benar-benar rapuh melihat kakaknya terbaring tak berdaya
Pintu terbuka nampak Dokter dengan wajah pias
"bagaimana dok?"
"pasien kehilangan banyak darah dan pelurunya menembus kepala belakang kita harus melakukan tindakan operasi"
"lakukan yang terbaik untuk kakakku dok saya mohon"
"baik silahkan tanda tangan"
Delon pun menandatangani nya. Tak berselang ponselnya berdering. Tetera nama Latifa.
"ha..halo kak"
__ADS_1
(...)
"kaa..kakak ajak lah Leo dan datanglah ke rumah sakit sentosa akan aku jelaskan disini"
(...)
**
Tap tap tap derap langkah semakin mendekat ke arah Delon yang tengah berada di kursi tunggu. Delon mendongak ekor matanya menangkap siluet sang kakak ipar dengan wajah pucat berderai air mata. Delon pun tak kalah kacaunya. Di dampingi Leo yang terus menguatkan nyonya nya. "katakan yang sebenarnya Del hiks hiks" ujar mami Latifa sambil menggoyangkan bahu Delon
"duduklah dulu kak" titahnya "minumlah agar kakak bisa sedikit tenang" imbuhnya, Latifa hanya menurut. Diteguknya air mineral pemberian Delon hingga tinggal setengahnya.
"sudah sekarang katakanlah"
"sebenarnya.."
Cklek. Pintu ruangan terbuka. Menampakkan dokter dengan nametag Chandra itu. Keringat masih membasahi wajah sang dokter yang sedikit pucat.
"operasi berjalan lancar, pelurunya sudah berhasil kami keluarkan tapi mohon maaf pasien mengalami koma kami sudah melakukan yang terbaik"
"tidaaaaakkkkk mas Banuuuuuuu hiks" teriak Latifa
"boleh kami menemui nya dok?" ujar Delon
"silahkan"
Delon pun masuk dengan merangkul sang kakak yang terlihat begitu lemas setelah perkataan dokter. Setibanya di dalam, Latifa berhambur memeluk tubuh lemah tak berdaya sang suami..
"mana janjimu piiih, katamu akan pulang dengan baik-baik saja tapi apa hiks hiks kau tega padaku pih, padahal aku ingin menyampaikan kabar gembira untukmu tapi kenyataannya kau terbaring tak berdaya disini pih hiks hiks hiks'
__ADS_1
" sabarlah kak"ujar Delon mengusap bahu sang kakak ipar
" aku benci keadaan ini Del, disaat aku telah mengandung anak kami tapi mas Banu terbaring lemah seperti ini apakah aku bisa kuat menjaga keduanya hiks hiks" ujar mami Latifa.
"jadi kakak hamil"
"iya baru tadi siang aku mendapatkan hasilnya disaat mas Banu berangkat menemui kesakitannya hiks hiks"
"sabarlah kak, maafkan aku, aku yang salah aku datang terlambat untuk menyelamatkan kakak, kau boleh memukulku kak aku memang adik tidak berguna" ujar Delon
"jika memukulmu bisa membuat mas Banu kembali seperti sedia kala maka akan aku lakukan Del, namun itu semua tidak akan bisa hiks hiks"
"aku harus bicara dengan kak Kinan kak, dia harus tau keadaan kak Banu saat ini"
"tidak Del, ku mohon jangan aku tidak ingin mba Kinan terjerat dengan dunia hitam pasti banyak mata-mata disekitar sini"
"baiklah kak, aku akan menjagamu selama kak Banu belum bisa menjaga mu, jagalah kandunganmu kak aku yakin kak Banu pasti segera sadar"
***
Waktu berlalu, sudah delapan bulan Banu terbaring koma, perut Latifa sudah mulai membesar Delon masih setia menjaga keduanya. Mami Latifa sudah cukup kuat ia tak lagi menangis kasihan dengan bayi dikandungannya.
"mas bangunlah, sudah delapan bulan kau terbaring diranjang ini, apa kau tidak rindu padaku, apa kau tidak ingin bermain bersama anak kita, tak lama lagi dia akan lahir, bangunlah mas ku mohon"
Papi Banu merespon setiap ucapan Latifa, air mata pun keluar dari sudut matanya walaupun ia koma. Tak lama berselang Delon masuk ia juga turut berbicara kepada kakaknya, Latifa masih setia disana menggenggam tangan sang suami meletakkannya diperut berharap dengan gerakan sang buah hati bisa merespon Banu untuk kembali.
"bangunlah kak, aku benci padamu kau tidak sayang lagi dengan keluargamu, bangunlah apa kau rela kak Latifa direbut oleh Arya melihat keadaanmu seperti ini sungguh mudah bagi Arya untuk memboyong kak Latifa menjadi istrinya dan kau tidak akan pernah bisa melihat darah daging mu sendiri karena Arya pasti akan membuatnya membencimu"
Ajaibnya setelah Delon mengatakan hal tersebut jari tangan Delon bergerak membelai sang buah hati, sontak membuat kakak beradik itu tersenyum lega usahanya tidak sia-sia
__ADS_1
Flashback off