
Setibanya di perpustakaan mereka mencari beberapa buku setelah mendapatkannya mereka menuju taman. "aduh ketinggalan lagi" ujar Andini.
"apa yang ketinggalan nona?" tanya Devita
"itu mba tadi saya ambil buku XYZ tapi kayaknya tertinggal waktu saya ambil buku ini deh mba bisa tolong ambilin?" pinta Andini
"baik nona, nona tunggu ditaman jangan kemana-mana" pungkas Devita kemudian berlari ke perpustakaan.
Tak diduga saat berada ditaman.
"Andini berhenti mba mau bicara" ujar Rania menyetop sambil acting ngos-ngosan didepan Andini
"ada apa mba, kok mba disini?" tanya Andini
"mba ada perlu berdua sama kamu" ujar Rania
__ADS_1
"kalian bisa tunggu dikursi taman? Bentar doang kok ngga papa dia kakaknya Renata gue kenal kok sama dia" ujar Andini
"tapi Ndin" protes Ara
"udah ngga papa beneran" ujar Andini meyakinkan
"yaudah lu jangan lama-lama ya gue sama temen-temen nunggu dipojokan" ujar Ara
Andini hanya mengacungkan jempol kemudian menghampiri Rania. "ada apa mba?" tanyanya
"mba minta kamu segera cerai dari Revan atau mba akan ganggu bude Lastri dan Adik kesayangan kamu Angga" ancam Rania
"berani ya kamu sama mba" ujar Rania kemudian menjambak rambut Andini, Andini yang tidak terima balik menjambak rambut Rania hingga akhirnya Rania mendorong Andini hingga jatuh tersungkur.
Devita yang baru saja kembali segera mencekal tangan Rania yang telah berani mendorong nona nya. "lepasin saya ngga ada urusan sama kamu" ujar Rania seraya melepaskan diri dari cekalan tangan Devita. Namun emosi Devita seketika naik melihat nona nya jatuh.
__ADS_1
Ara, Rani dan Yuli yang mendengar ketibutan segera menghampiri Andini. "mba Devita ini Andini kenapa dan ini kenapa berdarah?" Tanya Ara membuat panik Devita seketika Devita melayangkan bogem mentah ke wajah Rania tak peduli wajahnya memar sebulan. Tak sampai disitu Devita terus menghajar Rania hingga tak berdaya. "ayo kerumah sakit mba tolongin bawa kemobil" ujar Devita. Tak lupa ia memanggil Diego untuk mengurus Rania melalui ponsel khusus.
"Ndin sadar dong Ndin jangan buat kita panik" ujar Rani sambil mengolesi minyak angin ke hidung Andini berharap dia bisa segera sadar. "mba Dev apa suami Andini sudah tau hal ini" tanya Ara kemudian.
"astaga iya mba saya lupa bentar saya telepon tuan dulu" ujar Devita kemudian menelepon Revan. Tuuuuutttttt..
"haloo tuan gawat tuan nona pingsan dan disela pahanya keluar banyak darah ini saya dan teman-teman mba Andini sedang dalam perjalanan menuju RS Prayoga"
(...)
"baik tuan ceritanya disana saja tuan segera ke RS saja"
Sementara Revan yang tengah meeting dengan beberapa koleganya langsung ngacir setelah memberitahu Dafa perihal Andini.
"mohon maaf sebelumnya saya harus segera pergi karena istri saya masuk rumah sakit untuk kelanjutan meetingnya akan disambung oleh Pak Dafa silahkan Pak Dafa sekali lagi saya minta maaf" ujar Revan berpamitan.
__ADS_1
"silahkan Pak Revan lebih penting istri bapak dahulu silahkan kami tidak apa-apa" ujar salah satu koleganya.
Akhirnya Revan pun keluar ruangan menuju rumah sakit tak lupa ia menelepon sang mama. "haloo ma, mama bisa ke RS ngga sekarang, barusan Dev telepon Andini dibawa ke RS ini Revan perjalanan kesana Revan tunggu mama di RS ya ma jangan lupa kabari Ibu Lastri ya Assalamualaikum"