Istri Kecil Sang Duda

Istri Kecil Sang Duda
Bab 54


__ADS_3

Dewi kembali ke kamar dengan membawa secangkir kopi dan sepiring cookies. Dilihatnya sekeliling belum nampak suaminya keluar dari kamar mandi. Dewi pun meletakkan kopi di atas meja. Ia kemudian mengambil ponsel. Keasyikan bermain ponsel Dewi tak menyadari kehadiran Dafa yang telah merangkulnya dari belakang. "mas ngagetin aja itu kopinya keburu dingin" ujar Dewi. Dafa pun beranjak menyeruput kopinya. "kamu ngga mandi?" tanya Dafa


"iya deh Dewi mandi dulu" ujarnya kemudian meninggalkan Dafa sendirian yang tengah menikmati kopinya.


Tak lama berselang Dewi keluar hanya memakai handuk sebatas paha seketika membuat Dafa ingin menerkam istrinya itu.


"ehem kamu sengaja godain mas ya" ujar Dafa sambil memeluk Dewi dari belakang.


"e..enggak tadi kelupaan ngga bawa baju ganti" sahut Dewi. Tapi Dafa telah terbakar pesona Dewi yang berbalut handuk yang hanya menutupi sebagian paha mulusnya akhirnya terjadilah yang seharusnya terjadi. Dafa menggempur Dewi habis-habisan hingga keduanya terkulai lemas diranjang. Mereka pun terlelap karena kelelahan bahkan mereka melupakan makan malam mereka karena pergulatan panas mereka.


**


Keesokan paginya Revan tengah asyik sarapan bersama Andini dan mama Kinan namun dikejutkan teriakan Dafa dari depan. "maaaa..mamaaaa where are you?" teriak Dafa dari depan.

__ADS_1


"kebiasaan punya anak teriak teriak inget ini rumah bukan hutan" protes mama Kinan. "istri kamu mana? Jangan bilang kamu sendirian" tanya mama Kinan.


"hehe ngga sendirian kok ma itu Dewi di mobil baru ambil oleh-oleh buat mama" ujar Dafa. Tak lama berselang Dewi datang membawa berbagai bingkisan di tangannya. "assalamualaikum ma" ucap Dewi kemudian salim kepada mama Kinan,


"waalaikumsalam Wi ngga usah repot-repot bawa bingkisan segala trus itu kenapa jalannya aneh banget Dafa kasar ya sama kamu" tanya mama Kinan karena dari awal melihat Dewi jalannya agak berbeda seperti menahan sakit


"eh anu iya itu ma (Dewi kemudian mendekat berbisik kepada mama Kinan) perih banget ma dibawah" bisiknya pada mama Kinan


"astagfirullah udah sana kamu duduk dulu nanti mama kasih salep, yuk ikut sarapan" titahnya. Dewi pun mengekor. Sesampainya di meja makan Dewi dan Dafa pun ikut sarapan. Dewi menatap Andini mengulas senyum padanya. "selamat datang ke rumah mba Dewi semoga betah ya, nanti kalau mba ngga sibuk Andini ajak ke supermarket mau ngga" ujar Andini


"iya mba yaudah mba lanjutin sarapannya Andini mau anter mas Revan dulu keluar keburu telat ngantor soalnya" pamitnya kemudian beranjak menuju halaman depan mengantarkan sang suami hingga memasuki mobil tak lupa ia mencium tangan Revan. "mas hati-hati dijalan ya" ucapnya sambil mencium tangan.


"iya sayang kamu baik-baik dirumah ya kalau mau keluar minta pak Bejo anterin jangan nakal" ujar Revan kemudian mencium kening Andini sebelum berangkat.

__ADS_1


"siap yang mulia" ujar Andini sambil berpose hormat bendera.


"yaudah mas berangkat ya assalamualaikum"


"iya mas waalaikumsalam"


Andini menunggu didepan hingga mobil Revan keluar pagar membelah jalanan ibu kota yang padat kendaraan ini. Walaupun masih pagi tak mengurangi polusi udara kota ini. Banyak kendaraan laju lalang karena memang hari kerja tak sedikit yang kebut kebutan mengejar waktu agar cepat sampai tujuan namun tak memikirkan keselamatan nya sendiri. Andini pun masuk ke dalam dilihatnya Dewi masih duduk di meja makan seperti menahan sakit.


"loh mba, mba Dewi kenapa? Mba sakit? Dafa udah tahu?" tanyanya bertubi tubi


"eh ngga kok cuma agak perih aja itu nya tapi mama udah otw kok ambilin salep mba" ujar Dewi


"oh yaudah mba atau ngga kita ke dokter aja yuk takutnya kenapa-napa" ujar Andini khawatir

__ADS_1


"ngga ngga usah mba nanti aja kalau ngga berkurang sakitnya baru ke dokter cobain salep mama dulu aja" pungkasnya


__ADS_2